Merebut Tunangan Bibiku

Merebut Tunangan Bibiku
bab 37


__ADS_3

" Aku serius Johan! Jika kau hanya menganggap semuanya main-main maka lupakan saja." Nisa begitu sangat marah dia hendak bangkit dan pergi meninggalkan Johan tetapi dengan cepat Johan langsung mencegahnya.


" Aku minta maaf tolong jangan pergi." Jangan menahan Nissa agar kembali duduk. 


Gadis itu menetap judes laki-laki yang bisanya hanya menggombal saja ini. Nisa tidak suka lantaran tidak ada sosok dewasanya sama sekali pada laki-laki di hadapannya ini. Akan tetapi mau tak mau dia akan hidup bersamanya karena kecewa yang ia rasakan dan juga kesuciannya yang telah hilang.


" Aku serius Johan. Jika kau bermain-main, lupakan saja!" Tegas Nisa mengatakan sekali lagi. 


" Baiklah maafkan Aku aku tidak akan mengulanginya lagi," cicit yang menyesal ia takut Nisa akan pergi, Johan menjadi anak yang penurut bak seekor kucing. 


Nisa menghembuskan nafasnya kasar ia pun mengalah dan menetap Johan yang tengah menundukkan kepalanya. 


" Baiklah, aku akan menikah denganmu." Kemudian ia langsung mengutarakan maksud pertemuan ini. 


Johan yang tadi murung dan sedih kini berubah langsung berseri-seri menatap Nisa. 


" Ehem …" Kembali ke mode serius. " Apa kamu yakin?" Tanyanya. sebenarnya Johan ingin melompat kegirangan namun ia mencoba untuk menahannya..


" Ya, tapi dengan satu syarat." Kata Nissa.

__ADS_1


" Apa itu?" Apapun syaratnya Johan pasti akan penuh asal Nisa bisa menjadi miliknya.


" Tanpa sentuhan fisik." 


" Bukannya sudah?" Jawab cepat Johan, Nisa pun langsung melotot tajam ke arahnya. Sontak membuat Johan langsung menciut. 


" Tidak untuk yang kedua kali, ingat pernikahan ini karena terpaksa bukan karena cinta," ucapnya tegas. 


" Baiklah, aku mengerti." 


Setidaknya untuk sekarang turuti saja dulu apa kemauannya. Dan untuk seterusnya ia tidak bisa berjanji toh jika sudah menjadi miliknya istrinya itu tidak akan bisa berkutik Johan adalah laki-laki licik yang sejuta memiliki rencana. Kelihatannya saja dia seperti lugu dan polos, namun nyatanya di balik kepolosannya itu, dia adalah psikopat yang sangat mengerikan. Tidak ada yang tahu bahkan termasuk keluarganya. 


" Aku antar kamu pulang ya," tawarnya. 


" Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri," tolak Nisa toh nyatanya memang dirinya membawa mobil sendiri. 


" Nggak apa-apa mampir kamu nanti sopir aku yang mau mengantarkannya. Aku ingin bertemu dengan orang tua kamu," ucapnya memohon dengan menampilkan ekspresi melas. 


" Malam ini?" Johan mengangguk. " Tapi ini sudah hampir jam 9 loh." Nissa memperlihatkan jam tangannya. 

__ADS_1


" Tidak lama kok, cuman mau bertemu dengannya sebentar lalu kemudian menyelimi tangannya setelah itu memperkenalkan diri, kemudian pulang," ucapnya. 


" Boleh ya," lanjutnya memohon kembali dengan ekspresi melas. Nisa kembali menghembuskan nafasnya kasar laki-laki hatinya luluh oleh laki-laki yang kanak-kanak di hadapannya ini. 


" Baiklah," ucapnya mengalah. 


" Yes …" jangan bersorak girang bagaikan habis menang lotre sambil mengepalkan tangan di udara. 


Nisa geleng-geleng kepala melihatnya, benar-benar seperti anak-anak. 


Di dalam mobil sekarang Nisa sudah berada di dalam mobil Johan yang sekarang ini sedang dalam perjalanan menuju rumah Nisa. Mobil Johan lebih mewah ketimbang mobilnya, Nisa yakin jika laki-laki ini lebih kaya dari dirinya.


" Mama pasti seneng deh," ucap Johan tiba-tiba. 


" Senang kenapa?" Tanya Nisa menoleh ke arahnya. 


" Karena aku akan menikah dengan wanita yang sangat cantik," jawabnya sambil tersenyum kan tak segan-segan menggenggam sebelah tangannya Nissa lalu mengecupnya.


Nisa merasa merinding akan sentuhan fisik itu. " Bukannya tadi aku sudah mengatakan untuk tidak bersentuhan fisik?" Nisa mengingatkan.

__ADS_1


" Hanya berpegangan tangan dan mengecupnya cuma dibagikan tangan saja. Apa itu juga tidak boleh?" Katanya dengan nada sedih. 


__ADS_2