
" Aku tidak percaya dia tidak mempercayai ku, Jadi untuk apa kau menikahiku jika tidak ada kepercayaan sama sekali." Ara benar-benar kesal dia pergi menaiki. Air matanya terus menetes seakan tak ingin berhenti rasa sakit karena bentakan dan rasa sakit karena tidak dipercayai.
" Kita mau ke mana non?" Tanya sama sopir lantaran dari tadi dirinya hanya kota ini saja belum tahu arah tujuan ke mana penumpangnya akan pergi.
Ditambah lagi melihat wanita muda Tengah menangis di dalam taksinya ia takut tidak akan bisa membayar apalagi tarif nominal semakin bertambah.
" Antar saya ke pemakaman Pak," Pintanya sambil mengusap air matanya.
Arah tidak mungkin kembali pulang ke rumahnya karena pasti Nuri bakalan bertanya. Dia malas untuk menjelaskan. Dan terlebih lagi Varo akan datang menemuinya, untuk sementara saat ini dirinya ingin seorang diri.
" Apa nanyakin ingin ke sana?" Tanya sama sopir memastikan apalagi ini malam hari untuk apa seorang wanita pergi ke pemakaman. Sopir itu diam-diam melirik dari kaca spion Apa betul yang ia bawa ini adalah seorang manusia atau manusia jadi-jadian.
" Saya ingin pergi ke makam kedua orang tua saya Pak. kalau saya sedang bersedih, hanya pergi ke tempat mereka yang mampu menenangkan saya," jelaskan dengan nada serak.
" Tapi hari semakin gelap non, berbahaya jika pergi sendirian. Apalagi Non ini adalah seorang wanita," nasehat sang sopir mengingatkan jika berat sangat berbahaya pergi di malam hari seorang diri. Bukan karena hantu melainkan seseorang yang berniat jahat.
__ADS_1
" Tidak apa-apa Pak saya ini sebentar saja kok." Ara memaksa.
Sang sopir menghela dia tidak bisa mencegah niat seseorang yang keras kepala. " Baiklah, tapi apa perlu saya menunggu saja Non. Saya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di sana." Begitu baik sekali hati sang sopir yang sangat mengkhawatirkan keselamatan Ara karena sang sopir teringat anak gadisnya.
Ara tersenyum. " Baiklah jika Bapak tidak keberatan mau menunggu saya."
Saat ini dirinya benar-benar membutuhkan ketenangan mungkin dengan mendatangi makam kedua orang tuanya hatinya akan jauh merasa lebih tenang ketimbang pulang ke rumah karena akan semakin kesal.
Sementara itu Varo melajukan kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah Nuri. Dia melakukan kebodohan seharusnya dirinya membela sang istri, bukan malah diam saja melihat istrinya terpojok. Tentu saja Ara sangat marah kepada dirinya.
" Sit, lampu merah." Varo memukul setir mobil lantaran terjebak oleh lampu merah yang cukup lumayan lama.
" Astaga mau sampai kapan dia terus berwarna merah?" Benar-benar tidak sabaran lagi padahal hanya 120 detik saja lampu merah itu menyala. Tetapi Faro merasa sangat lama sekali.
Setelah lampu berubah menjadi warna hijau Varo langsung menancap gasnya kembali dengan kecepatan. Setelah sampai di halaman depan rumah laki-laki itu bergegas turun dari mobil tanpa mempedulikan mobilnya belum tertutup rapat. Dia berlari begitu saja memasuki rumah.
__ADS_1
" Ara …" teriaknya.
" Al, kamu kenapa?" Nuri baru saja membuat susu untuk dirinya sendiri dan dikejutkan dengan adanya Faro di rumahnya. Kemudian Nuri celingak-celinguk mencari keberadaan keponakannya.
" Dimana Ara?" Tanyanya.
" Ara? Ara tidak ada disini, memangnya kenapa sama dia?" Tanya Nuri heran.
" Jangan berbohong Nuri. Tolong cepat katakan di mana Ara!" Tentu tidak percaya dengan ucapan Nuri. Faro yakin jika dia sedang berbohong dan ini tentu atas permintaan istrinya.
" Untuk apa aku berbohong? Ara tidak di sini sebenarnya apa yang terjadi, dan ke mana dia?" Nuri pun balik bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada keponakannya itu sehingga Faro mencari keberadaannya.
" Tidak mungkin …" Varo bergegas mencari istrinya di setiap sudut ruangan maupun kamar. Tak lupa terus memanggil namanya.
" Aku aku sudah katakan Ara tidak di sini, kamu nih gimana sih sebagai seorang suami. Jangan bilang kalau keponakanku kabur dari rumahmu?" Tebak ya.
__ADS_1
" Nanti saja ngocehnya sekarang bantu aku mencari keberadaannya."