
" Kita mampir ke toko roti itu dulu ya Mas ya." Arah menunjuk toko roti tak jauh dari jarak mereka.
" Untuk apa?" Walaupun bertanya namun dia tetap saja memutar arah mobilnya untuk masuk ke parkiran toko tersebut.
" Dibawa ke rumah mama lah nggak mungkin kan bertemu dengan mertua tidak membawa apa-apa, apa nanti katanya," ujar Ara dia tidak ingin dong dicap sebagai menantu tidak baik dia harus mencari muka dari mertuanya itu.
" Tapi pasti di rumah roti sudah banyak Ara, nggak bawa apa-apa pun nggak masalah, toh Mama hanya ingin ketemu sama kamu," kata Faro laki-laki mana mengerti. Walaupun di rumah sudah begitu banyak roti bahkan yang mahal sekalipun tetap saja seorang mertua pasti sangat mengharapkan menantunya membawa sesuatu.
Bukan hanya tangan kosong saja, Ara sudah banyak membaca buku untuk mengambil hati mertua dan salah satunya adalah membawakan sesuatu untuk dihadiahkan jika berkunjung ke rumah mertuanya tersebut.
" Iisssh, kamu mana paham. Sudahlah aku mau turun dulu kamu mau ikut apa enggak?" Arah keluar dari mobil dia tetap ingin membelikan roti yang paling enak di toko tersebut untuk mertuanya.
Varu hanya menggeleng-geleng saja kemudian dia ikut keluar dari mobil sementara istrinya sudah masuk lebih dulu.
Di dalam toko roti itu cukup luas dan besar banyak pengunjung di sana ada yang makan langsung ada juga yang sedang milih-milih dan meminta bungkus. Arab pun juga memilih roti yang terbaik di toko tersebut dia meminta karyawan untuk membantunya memilihkan. Taro hanya duduk dan menunggu istrinya saja biarkanlah arah yang memilih sesuka hatinya dia tidak ingin ikut campur sambil memainkan HP ternyata banyak mata yang memandang ke arahnya tanpa Varo sadari.
" Duh ada cowok ganteng banget artis bukan sih?" Ucap heboh seorang gadis melihat Faro.
" Dia kayak artis Korea. Duh pengen foto, pengen kenalan siapa tahu dapat nomornya."
Bukan hanya mereka saja gadis-gadis muda yang sangat kegirangan saat melihat paruh ternyata emak-emak pun juga tak mau kalah mereka bahkan tidak memiliki rasa malu sama sekali dengan terang-terangan duduk di samping paruh kemudian meminta foto dengannya.
" Oppa, saya mau berfoto ya," ujarnya dengan mata genit.
Paruh menaikkan sebelah alisnya namun dia tidak menolak karena sudah dikerumuni oleh para emak-emak tersebut yang meminta foto dengan dirinya bahkan sampai rebutan. Varo kepusingan sendiri.
" Hey, pergi sana. Heboh banget sih." Tiba-tiba seorang gadis dewasa mengusir para emak-emak yang sibuk minta foto dengan Varo.
" Eh situ siapa? Kalau mau foto gantian dong," ujar salah satu emak-emak tidak terima.
__ADS_1
" Ya memang bukan siapa-siapanya dia. Tapi kalian apa nggak lihat tuh dia sampai keringetan gitu gara-gara kalian, dasar emak-emak rempong, norak!" Ucapnya. Dia adalah salah satu pelanggan yang sering membeli roti dia sangat tertarik dengan Varo akan ketampanannya karena melihat emak-emak yang heboh membuatnya kesal karena dia ingin berkenalan dengan Varo.
" Hei di sini terlalu berisik gimana kalau kita keluar aja yuk!" Ajaknya sok kenal pada Varo.
" Sorry …" Varo menolak tegas. Tentu saja membuat para emak-emak ketawa mengejek pada gadis itu.
" Hahahaha, kalau saya malu Neng mending pulang sono."
Gadis itu begitu kesal dia sampai menghentakkan kakinya namun tidak pergi karena urat malunya sudah putus mungkin dia mengebaskan rambutnya kemudian duduk tak jauh dari tempat duduk Varo.
Mendengar keributan ada yang tadinya masih sibuk mencari roti yang terbaik di kotoko ini dia menoleh ternyata suaminya ya sudah dikerumuni oleh banyak wanita ada yang emak-emak ada yang tante-tante bahkan ada yang anak-anak remaja tentu saja membuat hatinya menjadi panas. Apalagi melihat Faro yang tersenyum manis seakan tidak menolak ketika emak-emak minta foto.
" Dasar laki-laki, tebar pesona terus maunya ya." Mengerucutkan bibirnya kemudian dia menghampiri suaminya yang sudah kewalahan.
"Misi-misi, maaf ya ibu-ibu suami saya bukan artis yang harus kalian minta foto." Keselnya.
" Iih apaan sih," kesal Ara. " Kamu juga lagian kenapa mau-maunya di ajak foto-foto masa mereka. Mana pake tebar pesona segala lagi, seneng ya," omelnya pada Varo.
" Ayo pulang sekarang!" Arah menarik lengan suaminya dan mengajaknya keluar dari kerumunan para wanita tersebut dan keluar dari toko.
Sesampai di luar toko Ara menghempaskan tangan suaminya kemudian dia masuk ke mobil dengan wajah yang cemberut dengan bibir yang manyun lebih dari 5 cm. Varo tertawa melihatnya.
" Cie ada yang cemburu nih." Varu malah menggoda istrinya sambil mencolek dagu Ara.
" Siapa yang cemburu," bohongnya padahal hatinya sangat panas sekali tadi melihatnya. Apa namanya jika bukan cemburu. Tentu saja membuat paruh tidak terpercaya dia semakin menertawai istrinya itu.
" Tadi bilangnya jangan cemburu cemburuan tapi sekarang Kamu sendiri yang malah cemburu," sindirnya dengan nada mengejek.
" Iih apaan sih, aku gak cemburu kok," kilahnya.
__ADS_1
" Masa …" harus senang membuat istrinya cemburu karena semakin gemes wajah cemberut istrinya itu dan dia semakin suka melihatnya.
" Nggak jadi beli roti nih ceritanya, terus sekarang kita ke mana, pulang?"
" Jadilah, tapi tempat lain aja di situ nggak ada yang enak." Vero tertawa kencang dia tahu istrinya berbohong kemudian dia menjalankan mobilnya mencari toko tempat yang lain.
Setelah sampai di tujuan Ara membuka sabuk pengamannya, begitupun juga dengan Varo.
" Eit, mau ke mana kamu?" Tanya Ara.
Varo mengerutkan keningnya heran. " Ya mau turun lah nemenin kamu di dalam," ujarnya.
" Nggak perlu, kamu tetap di sini, di dalam mobil ini awas kalau kamu sampai turun."
" Loh kok gitu, kalau kamu kenapa -napa gimana?" Varo khawatir. Ara memutar bola matanya malas.
" Jangan lebay deh, atau jangan-jangan kamu keasikan ya di kerumunin kayak tadi sama para emak-emak itu, pake pegang-pegang lagi."
" Ya mau bagaimana lagi, resiko memiliki suami yang tampan." Varo menjadi narsis sekali.
" Oh ya udah, sana turun. Tapi jangan harap bisa dapat jatah selama sebulan."
Cara membulatkan kedua matanya lebar tidak mendapatkan jatah sebulan yang benar saja. Dirinya baru saja merasakan enaknya surga dunia tadi malam dan berencana ingin melakukannya lagi malam ini eh tiba-tiba ancaman tidak dapat sebulan langsung membuatnya menciut tidak berani membantah.
" Hehehe, sepertinya di dalam mobil lebih enak, aku mau istirahat dulu sebentar. Sekarang kamu silahkan pilih roti yang terbaik di toko ini, pasti Mama sangat senang. Tapi kamu harus berhati-hati ya sayangku, cintaku," ucap Varo dengan senyum manisnya.
Ya tidak ingin kehilangan jatahnya, makanya dia bersikap manis agar hati istrinya itu baik supaya malam ini dia bisa kembali menikmati surga duniawi.
Ara keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata istrinya jika sedang di mode cemburu sangat berbahaya sekali. Tidak nanggung-nanggung jatah sebulan hilang begitu saja, tentu Varo hari ekstra hati-hati lain kali.
__ADS_1