
" Nisya, tunggu."
Nisya menoleh kemudian dia memutar bola matanya malas melihat siapa yang memanggil dirinya. Seorang laki-laki sedang bersandar di mobil seolah menunggu kedatangannya di gerbang kampus.
" Ada apa lagi?" Tanya Nisa nada malas. Laki-laki itu selalu saja mengganggu dirinya.
" Kita harus bicara," ujarnya maksa.
Bisa menghembuskan nafasnya kasar dia benar-benar membenci laki-laki di hadapannya ini. " Apalagi yang harus dibicarakan apa jawabanku kemarin masih belum cukup hah?" Kesalnya.
" Kamu harus tanggung jawab Nisya. Aku nggak bisa begini, Aku punya harga diri tahu nggak sih," ucapnya diam sambil menarik tangan Nisa agar gadis eh wanita itu tidak pergi lagi.
Nisa kembali memutar bola matanya malas kenapa dia harus bertemu dengan cowok yang benar-benar lebay seperti ini aneh bin ajaib dan membuatnya semakin ilfil saja.
" Apaan sih … aku aja yang jadi korban tidak perlu meminta pertanggungjawaban dari kamu? Sudahlah, lupakan aja semuanya. Anggap kita tidak pernah saling bertemu dan semua itu tidak pernah terjadi, oke!"
Nisa tidak ingin membicarakan hal yang memalukan yang terjadi kepada dirinya Nisa ingin melupakan semuanya karena memang semua itu terjadi karena kesalahannya juga akibat mabuk.
" Nggak bisa, mana mungkin kamu bisa mengatakan untuk melupakan semuanya? itu pengalaman pertama aku Nisa."
Ke
Tentu saja Johan tidak terima, seumur hidup dia belum pernah melakukan hal yang belum pernah terjadi dalam hidupnya dan sekalinya dia menyukainya tiba-tiba wanita itu mengatakan dengan begitu mudahnya untuk melupakan semua kejadian tentang malam itu. Hati Johan tiba-tiba merasakan sakit bagaikan ditusuk mendengar ucapan Nisa, dia sudah berusaha untuk meminta pertanggungjawaban dan segera menikah, namun lagi-lagi wanita itu selalu menolaknya.
" Terus …" ujar Nisya acuh, dia melihat jam di tangannya.
" Kita harus menikah!" Tegas Johan.
" Kamu gila ya," kesal Nisya, dia berusaha melepaskan tangannya yang digenggam oleh Johan itu. Tetapi tenaga laki-laki itu begitu kuat bukannya lepas malah dirinya tertarik hingga terbentur ke tubuh Johan.
" Iya aku memang sudah gila dan ini semua gara-gara kamu kamu yang udah buat aku seperti ini Nisa. Aku tidak bisa melupakan kejadian malam itu kamu sudah mencuri sesuatu yang berharga dari diriku bukan hanya tubuh melainkan hati." Johan menatap dalam wajah bisa yang begitu sangat dekat jaraknya.
" Kita harus menikah aku akan meminta kedua orang tuamu untuk melamar mu dalam waktu dekat." Johan bener-bener serius ingin menikah dengan Nisya.
" Nggak bisa Johan, aku sudah punya pacar! Dan lagi pula kita tidak saling mencintai. Kejadian itu hanya kecelakaan saja, Johan. Please … lupakan semuanya."
Sontak Jahan langsung menggeleng cepat dia tidak terima dengan penolakan apapun yang dia inginkan pasti akan selalu dia dapatkan bagaimanapun caranya.
" Aku tidak peduli kau punya pacar atau tidak. Yang jelas sekarang kau adalah milikku, dan aku akan mengatakan padanya jika kita sudah memiliki hubungan bahkan sampai melakukan …"
" Stop …" dengan cepat bisa membekap mulut Johan karena laki-laki itu nyaris saja mengungkapkan tentang kejadian itu apalagi banyak siswa-siswa lalu lalang di belakangnya.
" Jangan coba-coba kau mengancamku Johan! Aku mencintainya. Aku tidak tidak mungkin meninggalkannya apalagi sampai menikah denganmu."
" Dan dia mencintaimu?"
" Tentu saja, kami saling mencintai." Nisa begitu meyakinkan jika dirinya dan pacarnya saling mencintai agar Johan mengerti dan berhenti mengganggu dirinya apalagi meminta pertanggungjawaban karena Nisa benar-benar tidak mau lagi membahas tentang kejadian malam itu dia benar-benar sudah melupakan semuanya seolah tidak terjadi apapun.
__ADS_1
Johan menyeringai seolah tidak begitu yakin dia semakin merapatkan tubuhnya dan juga tubuh Nisa hingga jarak diantara keduanya benar-benar begitu dekat sampai-sampai hembusan nafasnya menyentuh kulit Nissa.
" Apa kau yakin dia masih mencintaimu setelah tahu jika kau sudah tidak perawan lagi?" Bisik Johan.
Nisa terdiam kali ini dia tidak bisa lagi untuk membantah dia masih belum memikirkan hal itu. Johan tersenyum melihat tak Ada jawaban dari Nisa dia merasa menang.
" Aku beri waktu kau seminggu untuk mengatakan semuanya pada pacarmu. Jika dia masih mau menerimamu apa adanya, fine. Aku mundur, dan aku tidak akan pernah lagi muncul di hadapanmu. Akan tetapi jika dia menolak dan menganggapmu sebagai wanita murahan, jangan menangis dan datanglah padaku, kita akan menikah saat itu juga."
Setelah mengatakan itu Johan dengan begitu lancangnya dia mengecup bibir Nissa sekilas, dengan senyum smirk nya laki-laki itu pergi meninggalkan area kampus tanpa harus menunggu jawaban dari wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
Nisa bengong dia benar-benar tidak percaya apa yang dia dengar dan apa yang dilakukan oleh Johan. Nisya melihat kepergian mobil Johan hingga tanpa sadar jika ada sahabatnya yang melihat.
" Siapa dia?" Tanya Ara sudah berdiri di belakang Nisya.
" Kyaaaa … ya Allah Ara kenapa kamu tiba-tiba ada di belakangku? Bikin kaget tauk gak," kaget Nisya dia memegangi dadanya.
" Aku kan dari tadi memang sudah di sini, kamu nya aja yang gak nyadar," gerutu Ara, lalu dia menatap sahabatnya itu penuh selidik.
" Dia siapa? Kok pake cium segala. Kamu gak lagi selingkuh kan?" Selidik Ara. Tentu Ara mengetahui jika sahabatnya itu sudah memiliki kekasih, tetapi laki-laki tadi mencium bibir Nisya tentu perlu dipertanyakan soalnya sahabatnya itu tidak mengatakan apapun.
" Tidak, dia bukan siapa-siapa. Aku duluan ya, mau mencari Daniel." Dengan raut wajah yang gugup Nisya kabur dari pertanyaan Ara.
" Heeemmm, mencurigakan." Dengan mata menyipit Ara memandang punggung sahabatnya yang sudah pergi menjauh itu.
Nisa berlari mencari kekasihnya di tempat tongkrongan yang biasa kekasihnya itu ngumpul bersama teman-temannya. Nisa merasa lega karena bisa lolos dari pertanyaan sahabatnya itu untuk sekarang dia masih belum berani menceritakan apa yang terjadi terhadap dirinya dan juga laki-laki itu biarlah semua ini menjadi rahasia pikir Nisya karena dia tidak ingin membahas dan mengingat hal memalukan tersebut.
" Di mana Daniel kok nggak ada sih tumben?" Melihat jika kekasihnya tidak ada di tempat tongkrongan. Nisa mencari ke sana sini kemudian dia menghampiri teman-teman dari kekasihnya itu.
" Emmm, nggak tau." Jack begitu terlihat sekali sedang berbohong bisa tentu saja tidak percaya dia pun menarik kerah baju laki-laki itu.
" Katakan dia lagi di mana? Jangan berbohong Jack, atau kutampar mukamu." Dengan sedikit ancaman dan nada dingin Jack akhirnya mengatakan, dia tidak terlalu pandai bisa berbohong. Laki-laki berkacamata yang culun itu salah satu teman Daniel walaupun Daniel tidak pernah menganggapnya sebagai sahabat hanya mau memanfaatkannya saja tetapi Jack begitu bodohnya masih mau berteman dengan laki-laki itu.
" Daniel ada di belakang kampus, jika dia masih ada di sana. Jika dia sudah pergi aku tidak tahu lagi," ucapnya jujur.
" Oke, thanks." Nisa menepuk pelan pipi Jack kemudian dia pergi meninggalkan laki-laki berkacamata itu untuk mencari kekasihnya yang bernama Daniel.
Nisa dan Daniel sudah hampir 1 tahun berpacaran, keduanya begitu sangat serasi. Nisa sangat mencintai laki-laki itu dan berharap hubungan mereka bisa langgeng sampai ke jenjang pernikahan karena kedua orang tua sudah saling merestui tentu Nisa sangat senang sekali.
" Di mana dia?" Setelah sampai di belakang kampus Nisya tengok kiri, tengok kanan, celingak-celinguk mencari dimana keberadaan kekasihnya.
" Nah itu dia …" dengan senyum lebar Nisya melihat dari balik tembok kekasihnya sedang berdiri dia hendak menghampiri namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ternyata bukan hanya ada kekasihnya saja di sana melainkan bersama seorang wanita dan mereka sedang berciuman sontak membuat kedua bola mata Nisya melotot nyaris keluar dengan mulutnya menganga.
" Daniel!" Sungguh tidak percaya ternyata kekasihnya itu sedang berselingkuh bersama wanita yang dia kenal, mereka sedang berciuman mesra bahkan tangan Daniel begitu nakalnya membuka kancing baju wanita itu lalu menyentuhnya dengan sangat brotual penuh nafsu.
Bisa menggelengkan kepalanya dia ingin pergi dari tempat itu karena tidak sanggup melihat pemandangan yang begitu menyakitkan hatinya. Tiba-tiba dia teringat di mana dirinya dan juga Johan melakukan hal yang sama, tentu seimbang, bukan. Nisa pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi, Nisya menghapus air matanya yang sempat mengalir kemudian berusaha untuk tersenyum dan menghampiri dua sejoli yang sedang bermesraan tersebut.
" Wah-wah, dia siang bolong seperti ini kalian merasa tidak panas?" Sambil bertepuk tangan dengan ekspresi santai bisa menghampiri bahkan sambil tersenyum lebar seolah hatinya tidak terluka sama sekali.
__ADS_1
Sontak dua sejoli itu langsung melepaskan sungguhan mereka dan Daniel begitu terkejut melihat kekasihnya yang sudah memergoki dirinya sementara wanita itu sibuk membenahi bajunya yang sudah dibuka oleh.
" Ni-Nisya, ini tidak seperti yang kamu lihat." Masih ingin mengelak jelas-jelas sudah terbukti jika dirinya itu sedang berselingkuh.
" Memangnya apa yang aku pikirkan? Aku tidak memikirkan apa-apa, aku hanya melihat kau dengannya lagi bercumbu. Wow mesra sekali." Michelle melangkah mendekat kemudian dia berdiri tepat di hadapan wanita itu.
" Selamat ya Melissa, kau berhasil menjadi seorang pelakor." Nisya memberikan selamat.
" Kalian begitu terlihat sangat serasi sekali, kau seorang pecundang, dan dia seorang brengsek." Dengan nada tatapan sinis dia memandang kekasihnya.
" Sayang, kamu salah paham. Aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun, dia duluan yang menggodaku." Masih bersilat lidah Daniel tetap tidak mengakui kesalahannya.
" What's, hey untuk apa lagi kita harus berpura-pura. Toh dia sudah mengetahui semuanya," ucap Melissa kesal. Dia menggenggam tangan Daniel.
" Iya kami memiliki hubungan sudah 3 bulan lamanya di belakangmu. Dan kau tahu, Daniel mengatakan padaku bahwa dia tidak mencintaimu lagi, karena dia sudah bosan denganmu. Daniel belum ada waktu untuk memutuskan hubungan kalian, maka dari itu kami terpaksa harus bersembunyi-sembunyi demi menjaga perasaanmu." Melisa mengakui perselingkuhannya dengan Daniel.
" Tidak sayang, dia bohong. Aku tidak mengatakan itu padanya. Dia yang terus menggodaku, tolong percayalah padaku," ucap Daniel memelas.
" Daniel, apa-apaan sih kamu. Kamu bilang padaku kalau kamu tidak mencintainya lagi, Kamu sudah bosan dengannya dan kamu akan memutuskannya cepat atau lambat. Tapi apa yang kau katakan sekarang?" Mereka sangat marah dia bahkan sampai mendorong laki-laki di sampingnya.
" Gue tidak pernah mengatakan itu, dan lo jangan pernah hubungi gue lagi." Daniel tidak mau mengakuinya dia tetap ingin mempertahankan Indonesia ketimbang selingkuhannya.
Daniel tidak ingin kehilangan Nisya, karena Nisya adalah sumber keuangannya bahkan keluarganya begitu sangat mendukung hubungan mereka. Padahal sebenarnya Daniel memang tidak mencintai wanita itu, karena menurutnya Nisa gadis yang benar-benar sangat membosankan hingga jiwa Playboy nya meronta-ronta lalu berpacaran sana-sini untuk menghilangkan rasa bosannya di belakang Nisa. Dan malisa adalah wanita terakhir yang dia pacari.
" Daniel lu benar-benar laki-laki brengsek." Melisa menampar wajah Daniel karena kesal sudah dibohongi.
" Nisa dia itu adalah laki-laki Playboy cap kapak, sebelum aku dia memang udah pacaran dengan wanita lain di belakangmu jadi jangan pernah percaya dengannya. Dia benar-benar penipu besar, dasar b*******." Sebelum pergi Mellisa menendang tepat mengenai burung kakak tua milik Daniel hingga laki-laki itu meringkuk kesakitan kemudian dia tersenyum puas lalu pergi meninggalkan Nisa dan juga Daniel.
Bisa mencoba menahan rasa sesak di dadanya dan juga air matanya dia pikir selama ini Daniel ada laki-laki yang baik dan bisa menjadi imam untuk masa depannya kelak.
" Mulai sekarang kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi Daniel, kita putus." Dengan nada rak nisyah berucap dia mencoba menahan air matanya yang hendak keluar kemudian dia membalik badan untuk pergi meninggalkan Daniel.
" Tidak Nisya, aku tidak terima kita putus begitu aja. Kamu jangan mau dibohongin sama Melisa, dia memang sengaja supaya hubungan kita menjadi berantakan. Aku mencintaimu Nisya, tolong percayalah padaku. Dan aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi, please," ucapnya memelas sambil menggenggam tangan Nisya.
Nisya dengan cepat menghempaskan tangan Daniel, kemudian dia tersenyum sinis pada laki-laki.
" Sudah terlambat Daniel, aku ke sini mencarimu untuk mengatakan jika minggu depan aku akan menikah dan kau orang yang pertama akan mendapatkan undangannya. Selamat tinggal dan selamat bersenang-senang dengan wanita-wanita lain."
Setelah mengatakan itu dengan nada tegas Nisya pergi meninggalkan Daniel yang dia mematung. Nisya berlari cepat, hatinya benar-benar sakit sekali. Padahal dia berharap Daniel akan mau menerima dirinya apa adanya setelah apa yang terjadi dengannya dan juga Johan. Tetapi semuanya salah, Daniel bukanlah laki-laki yang baik tentu saja dia tidak akan mau menerima dirinya yang sudah tidak suci lagi. Mungkin jika mau menerima, pasti ada alasan lain yaitu kekayaannya hingga membuat laki-laki itu terpaksa mau menerima dirinya dan berpura-pura mencintainya sama seperti selama 1 tahun ini.
Nisa menangis air matanya tidak tahan lagi untuk keluar sambil terus berjalan perlahan dengan hati yang hancur.
" Nisya, ada apa?" Ara sangat terkejut melihat sahabatnya yang menangis.
" Ara …" Nisya terisak lalu dia memeluk erat, menumpahkan segala rasa sakitnya dengan mengeluarkan air mata.
" Apa ini karena Daniel?" Ara bisa dapat menebak karena selama ini dia mengetahui jika Daniel berselingkuh di belakang sahabatnya. Arah sudah berulang kali mengatakan jika Daniel bukanlah laki-laki yang baik, tetapi sah banyak itu tidak percaya jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri sehingga Ara pun hanya bisa mendukung apapun keputusan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
" Kamu benar Ara, ternyata dia berselingkuh selama ini. Aku yang bodoh, aku benar-benar bodoh sampai bisa-bisanya dibohongi olehnya."
" Jangan sia-siakan air matamu hanya untuk laki-laki brengsek seperti dia Nisa. Dia tidak layak, aku yakin kamu pasti bisa melupakannya dan bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik lagi ketimbang dia." Ara menggeleng sambil menghapus air mata sahabatnya itu.