
Di kediaman Mama Felly, rosella masih belum menunjukkan sifat ketidaksukaannya kepada Ara. Dia masih saja berpura-pura menyukai wanita itu, sampai suatu hari. Ara yang masih menginap di kediaman mertuanya, kini dia sedang menyiram tanaman di waktu sore. Melihat tanaman bunga yang sedang bermekaran membuatnya begitu senang. Rosella pun datang menghampirinya.
" Kakak lagi apa?" Tanya rosella Padahal dia bisa melihat sendiri dan dapat mengetahui Ara sedang ngapain.
" Hey, kamu mau mandi?" Ara sedikit menyiram air ke arah Rosella.
" Kyaaa, basah Kak. Kok aku disiram sih?" Dengan wajah kesal dia berteriak. Ara masih belum menyadarinya dia malah tertawa kemudian menjauhkan selang air karena sudah selesai.
" Kirain kamu datang ke sini mau mandi, makanya aku siram," canda Ara masih jadikan tanpa melihat wajah Rosella yang sudah amat sangat kesal.
" Nyebelin banget sih," geramnya dalam hatinya. Melihat Ara yang hendak menghampirinya siapa langsung mengubah ekspresi.
" Iiih kakak nyebelin banget sih." Pura-pura ngambek, Rosella memang pandai berakting.
Ara duduk di sebelahnya sambil memandang bunga-bunga yang indah. " Cantik banget ya," ucapnya.
Rosella memutar bola matanya malas." Em, cantik banget," jawabnya malas.
__ADS_1
Sangat membosankan. Saat Ara mengelap tangannya mata Rosella tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisnya. Rosella ingat yang di katakan kakak iparnya waktu itu jika cincin yang di pakai oleh Ara adalah pemberian mama Felly, cincin warisan keluarga. Sungguh kesal sekali, seharusnya cincin itu adalah miliknya. Tangan Rosella mengepal kuat.
" Ih, cincin kakak indah banget. Beli dimana?" Tanyanya pura-pura tidak tahu.
" Aku pengen deh beli kayak gini, coba pinjam sebentar deh cocok apa nggak kira-kira." Tanpa persetujuan dari Ara. Rosella menarik tangannya dan mengeluarkan cincin itu secara paksa.
" Sella jangan." Ara ingin mengambil cincin itu, tetapi dijauhkan oleh Rosella.
" Bentar aja Kak, Sella cuma ingin memastikan cocok gak di tangan," ucapnya menolak kemudian memasukan cincin itu ke jari manisnya.
" Tuhkan bener, cocok. Apa aku bilang," hebohnya.
Ara menghela nafasnya, dia pun tidak tega meminta kembali cincin itu melihat Rosella begitu sangat senang. Dia pun membiarkannya, mungkin cuma sebentar pikir Ara tanpa curiga. Dia sudah sangat mempercayai gadis itu, Ara pikir Rosella benar -benar menyesali perbuatannya dan sudah mau menerima dirinya dan menganggap kejadian waktu itu memang hanya sebuah kesalahpahaman saja.
" Ara, Sella ayo masuk sebentar lagi mau magrib," panggil mama Felly.
" Iya Mah," jawab mereka.
__ADS_1
" Kak, aku masuk duluan ya. Mau mandi." Rosella langsung berlari masuk ke rumah lebih dulu tanpa mengembalikannya cincinnya ke Ara lagi.
" Tapi …" Ara kalah cepat, adik iparnya itu sudah masuk ke rumah. " Ya sudah lah, nanti malam saja aku mengambil cincinnya." Ara pun masuk ke rumah.
Saat malam harinya, Ara beranjak dari tempat duduknya hendak mengambil cincinnya kembali dari Rosella.
" Sayang mau kemana?" Tanya Varo.
" Mau ke kamar Sella Mas, mau ngambil cincin aku tadi di pinjam sama dia," ucapnya.
" Kok bisa sih? Yaudah sana cepat ambil, anak itu sangat ceroboh nanti yang ada cincinnya malah hilang." Ara mengangguk kemudian dia bergegas menuju ke kamar Sheila.
" Shella," panggilnya sambil mengetuk pintu. " Boleh kakak masuk."
Rosella menyeringai di dalam kamar." Masuk Kak," teriaknya kemudian.
Ara membuka pintu dengan senyum di bibirnya. " Sella, aku mau ambil cincin yang tadi dong," pintanya dengan nada lembut.
__ADS_1
" Cincin? Cincin yang mana ya?"