
" Mam, Jo mau nikah," ujarnya seraya tanpa beban.
Johan duduk di sofa, dia berhadapan dengan kedua orangtuanya. Laki-laki itu bersandar sambil menyandarkan tubuhnya kemudian mengangkat satu kaki ke sisi kaki yang satunya. Johan baru saja pulang dari kantor, dia melihat kedua orang tuanya lagi duduk santai sambil menikmati cemilan dan teh hangat di sore hari yang nampak sangat cerah.
Mendengar ucapan sang anak tentu membuat kedua orang tuanya saling pandang satu sama lain. Kemudian keduanya tampak curiga kepada sosok laki-laki di hadapannya ini. Mereka menatap wajah anaknya dekat-dekat.
" K-kalian kenapa?" Sontak membuat Johan memundurkan tubuhnya, dia merasa aneh sekali dengan kedua orangtuanya itu.
" Dia pasti bukan anak kita, Pi!" Ujar Lidya sambil menggelengkan kepalanya.
" Mami benar, mana mungkin anak kita tiba-tiba mau minta menikah, hahaha bikin kaget saja," ujar sang papi, Robert.
" Apa yang kalian bicarakan?Tentu saja aku ini Johan, anak kalian."
Lalu keduanya kembali menatap wajah, memang sangat mirip sekali dengan anak mereka. Lalu Lidya mengangkat tangannya kemudian meletakan di kening Johan, kemudian dia mengecek suhu tubuhnya untuk membandingkan.
" Benar, dia anak kita Pi. Pasti dia sedang tidak enak badan. Ada kemungkinan salah makan," ucap Lidya.
" Oh anakku yang malang, kalau begitu Papi akan segera menelpon dokter secepatnya." Buru-buru Robert mengambil hpnya hendak menelpon dokter pribadi mereka.
__ADS_1
Johan memutar bola matanya malas, beginilah kedua orangtuanya yang selalu berlebihan hingga terkesan lebay sekali memanjakan dirinya. Selalu di lindungi dan di jaga ketat melebihi anak perawan saja.
" Please lah, aku ini baik-baik saja, oke." Dengan nada kesal dia berbicara dengan sedikit nada tinggi karena kesal lantaran ucapannya seperti candaan.
" Aku serius, Mi, Pi. Aku mau nikah," ucapnya dengan sangat serius sekali.
Kedua orang tuanya lalu saling pandang lagi, kemudian tertawa terbahak lagi-lagi menganggap ucapan anaknya itu adalah candaan saja.
" Ini pasti lagi prank," ucap Robert.
" Bener, Pi. Pasti ada kamera tersembunyi di sekitar sini." Johan kembali memutar bola mata kemudian menghela nafasnya dengan sabar.
" Leluconmu cukup bagus kami sampai tertipu hahaha." Robert menepuk pundak anaknya sambil tertawa.
" Tapi aku serius Papi aku tidak berbohong Aku mau menikah!" Tegasnya mengatakan dengan wajah yang begitu sangat serius sehingga robot bungkam melihat ekspresi anaknya yang ternyata bukanlah hanya candaan saja.
" Jo kamu beneran serius mau menikah?" Tanyanya kembali ingin memastikan.
" Iya Papi Johan benar-benar mau menikah ini serius bukan candaan," jawabnya dengan sangat yakin dengan ucapannya.
__ADS_1
Lidya yang sedari tadi terdiam kini dia menatap curiga anaknya dengan mata yang menyerngit.
" Kamu mau menikah dengan seorang gadis kan bukan …"
" Mom, aku ini laki-laki normal oke stop beranggapan Aku ini adalah gay kalian itu kan orang tua aku masa tidak mengenal anaknya sendiri?" Kecewa Johan lantaran kedua orang tuanya malah melebihi umur yang beredar di luaran sana ketimbang dengan dirinya sendiri.
" Jadi kenapa kamu tiba-tiba mau menikah emang kamu udah punya pacar?" Tentu harus dipertanyakan soalnya tidak mendengar kabar soal apapun jika anaknya itu memiliki kekasih apalagi tiba-tiba meminta menikah sungguh kejutan yang luar biasa sekali.
Bukannya tidak bersyukur namun tentu harus dipertanyakan karena anaknya itu berbeda dengan anak lain yang begitu cuek dan acuh terhadap wanita sering kali mereka meminta Johan untuk menikah berapa kali perjodohan dilaksanakan tapi selalu ditolak mentah-mentah oleh anaknya itu.
" Ya Johan memang belum punya pacar sih?" Sambil menggaruk-garuk kepalanya toh nyatanya memang dirinya tidak punya pacar sama sekali.
" Dasar anak nakal." Robot memukul kepala." Terus kamu mau menikah dengan siapa kalau pacar saja tidak ada jangan php-in kami Johan!"
" Jujur sama mami apa yang terjadi Johan?" Dengan sangat serius Lidya mengintegrasi anaknya.
" Emmm, anu … itu …" Johan lagi-lagi menggaruk-garuk kepalanya dia bingung bagaimana cara menjelaskannya.
" Katakan!" Tegas Lidya.
__ADS_1
" Aku sudah di nodai, Mom!"