Merebut Tunangan Bibiku

Merebut Tunangan Bibiku
bab 27


__ADS_3

Pagi-pagi buta sekali Ara bangun dari tidurnya, dia merasakan sakit di bagian pinggang dan juga area miliknya. Ara membayangkan kejadian semalam dimana dirinya sudah menjadi seorang istri sempurna untuk Varo. Ara tersenyum malu mengingat rasa aneh yang dia rasakan dalam dirinya, ingin rasanya dia mengulang kembali kejadian semalam seakan sudah membuatnya candu. Ditambah lagi dengan suaminya yang benar-benar sangat perkasa sampai - membuat dirinya begitu merasakan kenikmatan yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya. Suaminya bahkan tidak berhenti bermain hanya untuk satu kali saja. Tentu membuat arah begitu sangat menyukainya dan dia pun menginginkan kejadian itu kembali di pagi ini tetapi saat melihat wajah suaminya yang kelelahan rasanya tidak tega untuk membangunkan.


" Aku mencintaimu suamiku, terima kasih atas surga dunia yang kau berikan tadi malam aku sungguh benar-benar menikmatinya dan sangat menyukai semua permainanmu.  Cup …" Ara mengecup sekilas bibir suaminya, lalu dia tersenyum sambil mengusap lembut pipi Varo yang masih terlelap itu.


" Tidurlah yang nyenyak, akan ku bangunkan nanti jika aku sudah menyiapkan sarapan pagi yang spesial untukmu." 


Ara bangkit dari tempat tidur, dia berjalan tertatih menuju kamar mandi. Ara meringis merasakan sangat perih sekali, yakin jika di bawah sana lecet dan bengkak akibat perbuatan suaminya itu namun ada tidak menyesali justru dia sangat senang dan bangga karena sudah membuat suaminya begitu puas dan bahagia karena mendapatkan kesuciannya. 


Sesampai di dalam kamar mandi Ara mengisi bak mandi dengan air hangat kemudian dia merendamkan tubuhnya sejenak untuk menghilangkan rasa lelah akibat pertempurannya semalam. Tidak seperti pada pasangan umumnya yang di mana seorang suami yang terbangun lebih dulu dan menyiapkan mandi untuk istri tercintanya, bahkan menggendong istri nya ala pengantin sampai ke kamar mandi. Tapi Ara tidak ingin merepotkan suaminya itu karena merasa kasihan melihat wajah suaminya yang begitu lelah akibat kurangnya tidur. 


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian Arab mengoles wajahnya dengan make up agar terlihat fresh pagi ini kemudian dia keluar dari kamar dan perlahan menutup pintu agar tidak mengganggu suaminya yang masih tidur nyenyak di dalam mimpi. Ara berjalan menuruni tangga menuju arah dapur.


" Non Ara?" Para pembantu rumahnya begitu kaget melihat majikan mereka di pagi-pagi buta sekali sudah berada di dapur sambil membongkar isi dalam kulkas.


" Mbak Minah kenapa? Kayak habis melihat hantu begitu," heran Ara melihat ekspresi wajah pembantu nya.


" Kaget saya Non, kirain Mbak kunti mana yang lagi di dapur." 

__ADS_1


" Sialan, memangnya wajah gue kurang cantik apa sampai -sampai disamakan dengan Kunti," gerutunya sambil membawa bahan-bahan masakan.


" Hehehehe ya maaf, kan kaget Non soalnya tidak biasanya bangun pagi dan mau masak," ujarnya. 


" Kamu ini Minah, makanya cepetan punya suami biar paham." Salah satu rekannya menyela.


" Apa hubungannya?" Minah hanya garuk-garuk kepala saja tidak mengerti. Ara hanya tersenyum malu saja, tentu dia berbuat seperti ini untuk menyenangkan suami tercintanya tersebut.


" Saya bantuin ya Non." Sambil mengambil bawang laku membuka kulitnya, dia takut majikannya nanti keperihan matanya oleh si bawang jahat tersebut.


" Makasih ya Mbak Tuti." Ara memang butuh bimbingan karena dia masih belum bisa masak sepenuhnya.


" Non, leher Non Ara kenapa merah - merah begitu?" Tanya Minah polos. 


Sontak Ara menutup lehernya dengan satu tangan sambil nyengir, wajahnya merona.


" Emmm, itu … " Ara bingung gimana mau jelasinnya.

__ADS_1


" Udah anak kecil gak perlu tau, sana kerjakan yang lain saja." 


Ara merasa lega karena mbak Tuti menyelamatkan pertanyaan maut dari gadis muda yang masih polos. Minah masih berusia 16 tahun, dia memang belum terlalu lama bekerja di rumah Ara tetapi sudah begitu sangat akrab dengan yang lainnya. 


Setelah sarapan sudah siap di meja makan, Ara bergegas membangunkan suaminya. 


" Selamat pagi, suamiku." Membangunkannya dengan kecupan bertubi-tubi diwajah ganteng suaminya itu.


" Ayo bangun pemalas, aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu."


Varo membuka matanya, dia tersenyum melihat istrinya yang sudah sangat cantik. Lalu Varo menarik tangan Ara dan memeluknya erat.


" Istriku cantik sekali sih, rasanya malas mau ngapa-ngapain. Ingin berduaan aja sama kamu di dalam kamar." 


" Dasar mesum." Ara mencubit perut suaminya.


" Kerjaan tetap harus diurus biar semakin kaya, dah ayo bangun nanti sarapannya keburu dingin." 

__ADS_1


" Sun dulu." Sambil menunjuk bibirnya. Ara hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepalanya.


" Dasar manja, sudah tua juga." Tetapi dia tetap menuruti permintaan suaminya itu dan mengecup bibirnya lembut.


__ADS_2