Merebut Tunangan Bibiku

Merebut Tunangan Bibiku
bab 30


__ADS_3

 "Jika masih ada keraguan di hatimu, lalu untuk apa kita bersama. Mumpung belum terlalu jauh, sebaiknya kamu pikirkan lagi untuk menjadikan ku istri dalam hidupmu." 


Ciiiiiitttt … Sontak Varo menginjak rem mobilnya mendadak mendengar perkataan Ara. Untunglah saat itu pengendara di belakang mengerem tepat pada waktunya. Karena jika kalau remnya tidak berfungsi tentu akan terjadi kecelakaan.


" Mas …" Ara sangat terkejut atas apa yang dilakukan oleh suaminya itu yang tiba-tiba berhenti di tengah-tengah jalan, dia menoleh ke arah belakang karena klakson mobil terdengar begitu sangat marah. Akibat perbuatan suaminya nyaris saja nyawa melayang.


" Woi, jika kau ingin mati jangan ngajak-ngajak orang." Marah si pengendara mobil di belakang, dia sampai menggedor-gedorl pintu kaca mobil milik Varo.


Varo acuh boro-boro ingin meminta maaf bahkan membuka kaca jendela mobil saja dia tidak mau malah menyalakan mesin mobilnya kemudian melaju kencang melarikan diri dari tanggung jawab.


Ara benar-benar sangat ketakutan saat ini. 


" Mas berhenti Mas, please jangan begini, aku takut." Ara berpegangan kuat, dia benar-benar sangat takut karena kecepatan mobil Varo melaju begitu sangat kencang. 


Ara menangis, dia tidak ingin mati terlalu cepat. Dirinya masih begitu banyak dosa. Mendengar suara tangisan Ara Varo memperlambat kecepatan kemudian dia menepikan mobilnya. Ara bisa bernafas dengan lega sekarang. 


" Maafkan aku," sesal Varo lirih. Dia benar-benar menyesal karena sudah membuat istrinya menangis, dirinya terlalu mudah dikendalikan oleh emosi gara-gara cemburu dan terlebih lagi perkataan dari Ara yang membuatnya emosi.


Ara menoleh padanya dengan tatapan tajam, dia hapus air matanya. " Kamu benar-benar sangat keterlaluan, Mas. Sudah marah-marah tidak jelas tidak mau mendengar penjelasan aku, sudah mendiam kan aku. Dan sekarang mau membuat aku mati kecelakaan!" 


Ara sangat marah, dia kembali menangis mengeluarkan unek-uneknya. " Kamu bahkan tidak percaya sama aku …" tangisnya pecah.


" Maaf kan aku, aku seperti ini karena terlalu cemburu," sesal Varo.


" Cemburu kamu itu membawa maut, Mas!" Kesal Ara, hanya karena cemburu tetapi nyawa menjadi taruhannya. Ara begitu sangat ketakutan bayang-bayang kedua orangtuanya melintas dalam pikirannya. Dia tidak ingin sama seperti mereka.


" Aku kesal Ara, aku sangat marah melihat laki-laki lain menyentuh tangan kamu. Suami mana yang tidak marah dan cemburu jika ada laki-laki lain menyentuh istrinya," ucap Varo. 

__ADS_1


" Dan perkataan kamu tadi, apa maksudnya? Apa kamu ingin berpisah dari aku, apa karena laki-laki itu?" Varo mencengkram kuat stir mobilnya dia sangat marah jika mendengar kata perpisahan. 


" Aku sudah menjelaskan semuanya tadi kan jika aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun. Aku sudah berusaha melepaskan tangannya, dan aku juga sudah mengatakan padanya jika aku sudah menikah." Ara menarik nafasnya mencoba untuk menenangkan diri.


" Kamu tidak percaya sama aku, lalu untuk apa pernikahan ini dipertahankan lagi. Berumah tangga bukan hanya menikah saja, tetapi harus ada kepercayaan didalamnya. Jika masih ada keraguan di hati kamu sebaiknya kita berpisah saja sebelum terlalu jauh," ucap Ara putus asa. Dia tidak ingin dalam rumah tangganya tidak ada kepercayaan, hanya karena masalah sepele seperti ini saja sudah begitu curiga lalu bagaimana kedepannya nanti, badai pasti akan datang dengan dalam pernikahan mereka jika tidak saling percaya lantas bagaimana cara menghadapinya. 


" Tidak, sampai kapan pun aku tidak akan pernah berpisah sama kamu jika bukan maut yang memisahkan. Jangan berharap bebas dari aku dan bisa pergi dengan laki-laki lain." 


" Kamu masih tidak mempercayai aku?" Tanya Ara intens, air matanya kembali mengalir.


" Aku …" 


" Aku mengerti, kita baru saja bersama setelah lima tahun saling mengenal. Ternyata rasa kepercayaan kamu masih tipis padaku, Mas. Aku seakan wanita murahan di matamu yang bisa dengan mudah nya berpindah kelain hati." Ara benar-benar sangat sakit hatinya, seakan perjuangannya selam lima tahun untuk mendapatkan cinta suaminya tidak dianggap.


" Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik untuk terus hidup bersama ku, aku tidak ingin hidup dengan orang yang masih ada keraguan." Ara membuka pintu mobil kemudian dia keluar dan pergi berjalan kaki dengan air matanya. 


" Aku minta maaf, tolong jangan pergi." Varo memeluk Ara dari belakang. Tentu dia tidak ingin kehilangan wanita yang dia cintai itu. 


" Aku bukannya tidak percaya sama kamu. Aku hanya cemburu saja tidak rela jika ada laki-laki lain yang menyentuhmu selain aku. Aku minta maaf karena terlalu egois, tolong jangan katakan kata pisah, aku tidak suka mendengar nya." 


Ara merasakan basah di bahunya, dia yakin jika suaminya saat ini tengah menangis. 


" Aku minta maaf," sesalnya. 


Ara menghela nafasnya kemudian dia membalikkan tubuhnya menatap sang suami yang tertunduk penuh penyesalan.


" Apa kamu percaya sekarang sama aku?" Tanya Ara sekali lagi.

__ADS_1


" Iya aku percaya, maafkan aku. Jangan pergi," lirihnya seraya menganggukan kepala.


" Di luar sana begitu banyak laki-laki yang menyukai aku, bukan hanya laki-laki itu saja. Tetapi aku selalu menolak mereka dengan tegas karena aku hanya cinta sama kamu. Cuma kamu laki-laki yang aku inginkan, jadi tolong percayalah sama aku, dia menyentuh aku karena dia tidak tahu jika aku sudah menikah. Tapi aku akan pastikan tidak akan terjadi lagi kedepankan," ucap Ara meyakinkan suaminya jika hatinya hanya untuknya seorang. 


" Aku minta maaf, aku salah." Varo kembali memeluk istrinya.


" Kedepannya aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, aku akan lebih percaya sama kamu. kamu .au kan maafin aku dan memulai semuanya dari awal?" Varo menatap wajah istrinya lembut berharap kesalahannya mau di maafkan.


Ara mengangguk, dia tidak ingin egois karena dirinya sangat mencintai laki-laki dihadapannya ini. Dia juga tidak ingin berpisah hanya karena masalah sepele seperti ini, ucapannya tadi hanyalah emosi sesaat saja. Ara memeluk suaminya erat dia tersenyum senang akhirnya berbaikan lagi dengan suaminya.


" Kalau ada apa-apa tolong dibicarakan baik-baik Mas, aku tidak suka jika kamu tiba-tiba marah tidak jelas tanpa tahu kebenarannya. Aku tidak suka jika kamu tiba-tiba mendiamkan aku tanpa mau mendengar penjelasan. Jangan di pendam jika aku memiliki kesalahan, tolong untuk saling terbuka lagi kedepannya." 


Varo mengangguk, dirinya begitu bodoh. Padahal umur sudah tua tetapi kelakuan masih seperti bocah. Akibat terlalu cinta dan terlalu cemburu hingga membuat akal sehatnya tidak bisa berpikir jernih. Varo terlalu takut kehilangannya, Varo tidak ingin ada laki-laki lain yang memandang apalagi menyentuh istrinya. Dia sangat marah hingga nyaris saja membuat pernikahannya yang baru di bangun itu hancur akibat kebodohannya sendiri.


" Iya sayang, aku minta maaf." Keduanya kembali berpelukan, saling memaafkan pilihan yang terbaik ketimbang memilih ego yang akan menghancurkan segalanya.


" Iya Mas, yaudah yuk kita pulang." 


Varo mengangguk keduanya kembali masuk ke mobil. Varo tidak melepaskan genggaman tangan selama dalam perjalanan, dia bahkan berkali-kali mengecup tangan istrinya itu seakan tidak ingin lepas lagi. 


Ara hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan suaminya. Ara tiba-tiba mengerutkan keningnya saat melihat arah jalan pulang berbeda dari biasanya. 


" Kita mau kemana Mas?" 


" Pulang je rumah mamah, mamah ingin bertemu sama kamu katanya sudah kangen dengan menantu." 


Wajah Ara bersemu merah, dia jadi deg-degan bertemu dengan mertuanya. 

__ADS_1


__ADS_2