
Siang itu, Ara begitu sangat lega setelah mengetahui jika Varo laki-laki yang selama ini dia inginkan sudah menjadi miliknya, suaminya. Tentu hatinya sangat bahagia sekali. Tetapi ada satu hal yang mengganjal hatinya, apalagi ucapan yang di lontarkan oleh nenek Susi membuatnya sangat kepikiran sekali.
Ara ingin memastikan, dia akan menemui bibinya dan bertanya langsung padanya. Apakah gadis itu memiliki rasa terhadap suaminya tersebut. Jujur saja Ara sangat cemas lantaran dia begitu sangat mencintai Varo dan begitu sangat menyayangi bibi nya. Dan jika harus memilih, apakah dia boleh egois seperti yang selama ini dia lakukan, menggoda Varo yang masih berstatus tunangan dari bibinya tersebut.
Ara ingin egois, karena hatinya tidak bisa di bohongi dan tidak bisa membiarkan Varo milik orang lain selain dirinya bahkan termasuk bibinya itu. Maka dari itulah Ara ingin memastikan supaya tidak ada yang tersakiti disini.
Siang itu Ara baru sampai dirumahnya, dia baru saja pulang dari kampus dan langsung ingin menemui bibinya yang saat ini sedang berada di kamar. Kebetulan sekali Nuri saat ini sedang berada di rumah. Perlahan Ara mengetuk pintu kamar bibinya.
" Bibi apa Ara boleh masuk?" ujarnya sebelum membuka pintu. Tetapi tak perlu menunggu jawaban. Ara sudah membuka pintu tersebut lalu masuk dengan langkah pelan.
" Eh Ara, kok jam segini udah pulang? Emang di kampus tidak ada tugas lagi?" Nuri baru saja selesai mandi, dia sedang bermake up. Nuri tersenyum melihat keponakannya masih berdiri di ambang pintu dari melalui pantulan cermin meja riasnya.
__ADS_1
" Iya di kampus dosennya lagi tidak masuk, dan Ara sengaja cepat -cepat pulang karena ingin menemui Bibi. Ada suatu hal yang ingin Ara tanyakan."
Melihat ekspresi keponakannya yang begitu serius Nuri menoleh dengan kening yang mengkerut, kemudian dia menghentikan kegiatan make up nya lalu menghampiri Ara dan mengajaknya duduk di tempat tidur.
" Apa ada masalah sampai ekspresi wajah kamu kayak bingung gitu?" Tanya Nuri dengan nada lembut dia bahkan menggenggam tangan keponakannya tersebut.
Ara menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap wajah bibinya. Dia takut jika pertanyaannya membuat bibinya itu merasa tersinggung.
" Tapi Bibi janji tidak akan marah?" Ara memberikan syarat. Dia tentu tidak ingin membuat bibinya itu marah padanya atas pertanyaan yang ingin dia tanyakan.
" Baiklah, tapi asal kamu tidak melakukan hal yang tidak benar saja. Tidak pergi ke bar misalnya!" Ujar Nuri dia sedikit bercanda. Ara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum..
__ADS_1
" Oke, sekarang mari kita dengar," lanjut Nuri kembali ke mode serius.
Ara menarik nafasnya terlebih dahulu. " Bibi, Apa Bibi memiliki perasaan pada paman Varo?" Dengan ragu Ara mengajukan pertanyaan yang sudah mengganjal di hatinya.
Tak terduga, Ara pikir bibinya bakalan marah atau tersinggung. Tetapi gadis itu malah tertawa, bingung tentunya memang ada yang lucu pikir Ara.
" Aduh, Ara- Ara." Sambil menyeka air matanya karena keluar sedikit akibat tertawa. " Bibi pikir kamu mau bertanya soal apa sampai serius begitu."
Ara bengong saja menatap bibinya.
****
__ADS_1
maaf kemaren salah salin dokumen 🤦 jadi ke up yang karya satunya akibat mata sudah mengantuk ...