
Sementara itu, Varo dan Nuri masih kebingungan mencari keberadaan Ara. Mereka menelusuri setiap jalan dan setiap tempat yang sering Ara kunjungi. Tetapi tetap saja mereka masih belum menemukan keberadaan wanita itu.
" Kemana kamu sayang?" Sangat cemas sekali, Varo tidak tahu lagi harus mencari kemana. Seandainya saja dia membela istrinya sudah pasti tidak akan seperti ini kejadiannya.
" Ya Allah, kemana perginya kamu Ara! Semoga baik-baik saja." Tak kalah cemasnya, dia bahkan menyalahkan Varo setelah mengetahui penyebab keponakannya itu pergi dari rumah.
" Ini semua gara-gara kamu, kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, aku tidak akan pernah memaafkan kamu." Melampiaskan kekesalannya, lalu siapa lagi yang harus disalahkan.
Varo menghela nafasnya, dirinya memang pantas disalahkan. Dia tidak membantah dan terus fokus mencari keberadaan istrinya menelusuri jalan di setiap ganggang ia lihat dengan teliti.
" Apa kamu memiliki nomor telepon sahabat-sahabatnya Ara? Barangkali dia berada di rumahnya," kata Varo. Jika memiliki nomornya sebaiknya dihubungi saja melalui telepon daripada jauh-jauh ke rumahnya ujung-ujungnya zonk.
" Ah, aku punya beberapa sebentar aku hubungi dulu." Buru-buru Nuri mengeluarkan handphonenya kemudian ia mencari nomor telepon sahabat-sahabat Ara dan orang yang pertama dia hubungi adalah Nisa sahabat yang paling dekat dengan keponakannya itu.
" Halo Nisa, apa Ara ada bersama kamu?" Panjangnya setelah sambungan telepon terjawab.
" Tidak Bi. Memangnya Ara kenapa?" Tanya balik Nisa.
Nuri menghela nafasnya kecewa. " Ara kabur," cicitnya lirih.
" Hah! Kok bisa sih?" Sangat terkejut sekali karena biasanya jika Nuri kabur dari rumah pasti menemui dirinya, namun malam ini sahabatnya itu bahkan tidak menghubunginya sama sekali.
" Lumayan panjang ceritanya, kalau kamu tahu tempat yang sering arah kunjungi tolong kasih tahu Bibi ya kali aja dia pergi ke sana."
Nisa berpikir sejenak." Apa mungkin dia pergi ke klub?" Tebak Nisa.
" Klub?" Spontan Varo langsung menoleh ke arahnya.
" Iya, kan biasanya kalau dia kabur dari rumah secara diam-diam selalu pergi ke klub," ucap Nisa.
__ADS_1
" Kamu benar, kami akan segera ke sana." Mungkin saja Ara berada di sana untuk menenangkan pikiran.
" Baiklah bisa bakalan tanya ke temen-temen yang lain kali aja arah berada di sana jika di klub tidak ada."
" Oke terima kasih ya. Dan tolong segera hubungi Bibi jika kamu sudah tahu di mana keberadaan Ara."
" Iya Bi, pasti." Lalu sambungan telepon terputus.
Nori tidak perlu menyampaikan lagi ke paru untuk pergi ke klub karena laki-laki itu sudah langsung memutar balik arah setir mobilnya untuk pergi ke klub tempat Ara sering pergi ke sana.
" Dari siapa?" Tanya Johan melihat raut wajah sedih istrinya setelah menerima telepon.
" Bibinya sahabat aku," jawabnya sedih. Karena sudah menelpon ke seluruh teman-teman yang lain tetapi tidak ada satupun di antaranya tahu keberadaan Ara.
" Sahabat kamu itu yang bernama Ara, bukan. Istrinya Varo sahabat aku."
" Emm, dia kabur dari rumah suaminya dan sekarang tidak tahu di mana keberadaannya sekarang. Aku khawatir dia kenapa-napa," lirihnya cemas. Ara bukan hanya sekedar sahabat baginya. Wanita itu sudah melebihi saudara kandung, sebab itulah Nisa begitu sangat khawatir.
" Benarkah?" Bisa kembali bersemangat. Johan mengangguk. Setelah beberapa saat kemudian tak membutuhkan waktu lama Johan sudah langsung mendapatkan informasi dari salah satu bawahannya mengenai keberadaan Ara.
" Dapat," kata Johan puas.
" Hah, beneran sudah ketemu? Dimana?" Bisa menjadi tak sabaran ya harus segera memberitahu Nuri mengenai keberadaan sahabatnya itu.
" Tapi semua ini tidak gratis Nona," kata Johan dengan licik.
" Apa? Kok gitu!" Keselnya. " Berapa yang harus aku bayar?" Bener-bener bikin kesal pada hal sesaat tadi dia ingin memujinya suami yang baik. Untunglah belum terucap sehingga dirinya bisa menarik kata-katanya lagi.
" Aku tidak membutuhkan uangmu, Nona."
__ADS_1
" Jadi apa yang kau inginkan?" Curiga Nisa, tak seharusnya dia percaya pada suaminya itu.
Johan menyeringai lalu mendekatkan wajah ke kuping Nisa dan berbisik. " Aku menginginkanmu malam ini."
Sungguh licik sekali, ada saja ide agar dirinya bisa mendapatkan yang dia inginkan. Apalagi saat-saat mendesak seperti ini, syarat itu tidak akan berlaku baginya. Walaupun sudah berjanji untuk tidak akan menyentuh istrinya, namun jika meminta ini bukan pelanggaran namanya.
Nisa sangat geram sekali, tetapi demi sahabatnya dia tidak bisa menolak keinginan suaminya itu. Toh lagi pula ini bukan yang pertama untuk mereka. Jadi, mau tidak mau Nisa pun merelakan dirinya malam ini.
" Baiklah, sekarang cepat katakan di mana keberadaan Ara sekarang!" Johan tersenyum lebar lalu mengecup bibirnya sekilas sangking senengnya.
" Johan." Masih sempetnya mencuri, laki-laki ini memang tidak mau rugi sama sekali.
" Hehehe, baiklah -baiklah. Sahabat kamu sekarang ada di pemakaman," ucapnya. Nisa mengerutkan keningnya.
" Pemakamannya? Untuk apa dia disana." Wanita itu mengingat-ingat. " Oh benar." Kemudian dia bergegas mengambil hpnya dan kembali menelpon Nuri.
" Hallo Bi, Nisa sudah tahu dimana Ara sekarang."
" Serius kamu, dimana dia sekarang." Varo spontan langsung menepikan mobilnya. Laki-laki itu menoleh ingin tahu cepat keberadaan istrinya sekarang.
" Dia bukan di klub, melainkan di pemakaman orang tuanya," kata Nisa.
" Pemakaman? Dari mana kamu tahu dia ada disana?" Tanya Nuri.
" Suami Nisa memerintahkan orang-orang nya untuk mencari keberadaan Ara, syukurlah salah satu diantaranya menemukan lokasi Ara saat ini."
Varo tidak kepikiran sama sekali untuk mencari keberadaan istrinya dengan mengarahkannya orang-,orangnya untuk mencari lokasi istrinya itu. Varo merutuki kebodohannya untuk kedua kalinya.
" Oh begitu, baiklah katakan terima kasih banyak padanya ya. Kalau begitu kami bergegas ke sana."
__ADS_1
" Jangan katakan terima kasih Bi, masalahnya ini tidaklah gratis," batinnya setelah sambungan telepon sudah terputus. Lalu Nisa menatap suaminya yang kini sedang menatap penuh nafsu. Nisa menelan ludahnya kasar, habis sudah dirinya malam ini.
Sementara itu setelah sudah sampai di pemakaman, Varo dan Nuri melihat ada sebuah taksi disana. Varo tidak mempedulikan taksi itu. Dia langsung saja berlari untuk menemukan keberadaan istrinya.