Merebut Tunangan Bibiku

Merebut Tunangan Bibiku
bab 26


__ADS_3

Ara menatap bibinya bingung, dia pikir pertanyaannya itu akan membuat bibinya marah atau tersinggung. Tetapi diluar nalar, justru malah membuat Nuri tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. Seakan habis mendengar lelucon yang begitu lucu. 


" Bibi kenapa ketawa?" 


" Ups … sorry …" Nuri menyeka air matanya lalu mencoba untuk menghentikan tawanya itu. Dia mengambil nafas lalu menghembuskannya. Kemudian dia menatap keponakannya.


" Kamu itu ya bener-bener …" Sambil mencubit gemes pipi Ara. 


" Jadi itu yang kamu khawatir, hem?" Kemudian mengacak-acak rambut Ara seraya terkekeh kecil.


" Apa semua ini karena ucapan nenek?" Tanyanya.


Ara mengangguk pelan, ucapan nenek Susi sangat mengganggu pikiran nya. Terkadang ada perasaan takut, khawatir jika bibinya itu memiliki perasaan pada suaminya. 


" Hey, liat Bibi." Nuri mengangkat dagu Ara. Keduanya kini sama-sama bertatapan.


" Aku memang memiliki perasaan pada Varo, Ara." Nuri berkata jujur, mungkin awal mulanya tidak memiliki perasaan terhadap laki-laki itu, namun lama-lama kelamaan perasaannya tumbuh dengan sendirinya.


Ara sontak terkejut, dia memasang wajah waspada terhadap bibinya sekarang. 


" Maksud Bibi siapa yang tidak menginginkan laki-laki seperti Varo. Dia laki-laki sangat tampan, tipe ideal sekali di kalangan wanita dan yang paling penting dia kaya raya memiliki segalanya. Siapa yang tidak menginginkan nya, bahkan termaksud kamu sendiri bukan? Saat Varo masih berstatus tunangan Bibi, kamu dengan susah payah untuk menggodanya," Ujar Nuri menyindir Ara.


Ara yang tadinya masang wajah waspada kini menunduk malu, karena apa yang di ucapkan oleh Nuri semuanya benar. Sekarang kenapa dia harus waspada terhadap bibinya itu padahal dulu dirinya sendiri dengan tidak punya perasaan sama sekali selalu menggoda Varo di belakang bibinya. Sementara Nuri berkata terang-terangan tentu Ara sangat malu sekali sekarang.


" Kami bertunangan sudah lima tahun lamanya, Bibi berusaha untuk menjadi yang terbaik agar supaya dia mau melihat Bibi sebagai tunangan nya. Tapi sayangnya semuanya sia-sia." Nuri tersenyum tipis. Lalu dia berdiri sambil menatap dirinya sendiri di depan cermin.


" Dia bahkan tidak pernah melihat, Bibi. Walaupun dia bersama dengan Bibi tetapi hati dan pikirannya di tempat lain. Di tempat mu," ucap Nuri kini menatap Ara. Ara hanya diam saja.


" Dia laki-laki yang menyebalkan, saat kami berduaan saja dia bersikap acuh, dingin dan datar sekali. Saat bicara dan bersikap manis itu jika ada kamu di tengah -tengah kami." Nuri bercerita tentang sikap Varo jika sedang bersama dengannya. 


" Dia tidak pernah menganggap Bibi sebagai seorang wanita, karena yang hanya ada di hatinya adalah kamu, sayang. Yang dia cintai hanyalah kamu, sehingga Bibi tidak ada tempat lagi di hatinya." Kini Nuri kembali duduk lalu menggenggam tangan itu.


" Jangan khawatir Ara, Bibi memang memiliki perasaan padanya. Tetapi Bibi tidak memiliki ruang untuk bisa masuk ke dalam hatinya. Maka sebab dari itulah Bibi akhirnya menyerah, toh tidak ada gunanya untuk tetap mempertahankan perasaan ini padanya," ucap Nuri sembari tersenyum tulus.


Nuri pada akhirnya menyerah akan perasaannya terhadap Varo, dia tidak ingin membuang waktu dan tenaga karena hanya akan sia-sia saja. Nuri tahu jika yang ada di dalam hati laki-laki itu hanyalah keponakannya saja sehingga dia tidak memiliki ruang untuk masuk ke dalam hatinya. Nuri tidak ingin menjadi wanita serakah dan juga tidak ingin menjadi egois hanya karena mementingkan perasaannya yang ingin memiliki tetapi tidak pernah bisa dimiliki. 


Nuri menggenggam tangan keponakannya erat, dia tersenyum dengan begitu tulus dan mengatakan pada Ara jika tak perlu ada yang dikhawatirkan karena dirinya tidak akan pernah merebut suaminya itu.  


Ara meneteskan air matanya dia benar-benar sangat malu ternyata bibinya begitu sangat tulus, Ara sudah mencari kebohongan dari pancaran mata Nuri tetapi yang dia temui hanyalah kejujuran hingga arah benar-benar seperti orang bodoh karena hanya memikirkan perasaannya sendiri dan terlalu takut untuk kehilangan paru sehingga pikiran buruk tentang dirinya yang ingin merebut suaminya itu. 


" Ara minta maaf Bi, Ara bener-bener bodoh karena sudah berpikir buruk tentang Bibi. Maafin Ara ya Bi." Ara menangis, dia benar-benar tidak memiliki muka untuk menatap bibinya itu.


" Sssstttt, jangan menangis sayang. Bibi tahu kamu begitu sangat mencintai Varo. Bibi mengerti, jadi berhentilah menangis, oke." Bujuk Nuri dia memeluk keponakannya sambil membelai sayang.


" Bibi begitu baik, sementara Ara begitu jahat pada Bibi. Bahkan memiliki pikiran buruk." 


Ara menangis sesenggukan, dia menutup wajahnya karena malu. 

__ADS_1


Nuri hanya tersenyum sambil mengusap punggung keponakannya dan membiarkan gadis itu menangis hingga puas dan sampai pada akhirnya berhenti dengan sendirinya. Biarlah dia mengeluarkan semua unek-uneknya, Nuri mengambil hpnya di atas nakas di samping tempat tidur lalu dia mengirim pesan pada Varo.


" Datanglah ke rumah, istrimu menangis tidak mau berhenti dari tadi. Mungkin dengan adanya kamu dia mau berhenti." 


Setelah mengirim pesan tersebut Nuri meletakan kembali hp nya lalu dia kembali mengusap punggung Ara dengan lembut. Nuri tidak marah sama sekali mengenai Ara yang memiliki pikiran buruk terhadap dirinya. Nuri memang mencintai Varo tetapi cintanya terhadap Ara jauh lebih besar.  Mamanya memang memintanya untuk tidak menyerah Varo kepada Ara, tetapi dia tidak memiliki hak karena dirinya hanyalah tunangan palsu nya saja sehingga Nuri akan menyimpan dalam-dalam perasaan itu asal dua manusia yang dia cintai hidup dengan bahagia.


" Minumlah dulu." Nuri menyodorkan segelas air putih. Ara meminum nya sedikit.


" Terima kasih," ucapnya pelan. Lalu dia kembali menundukkan kepalanya. 


" Apa sekarang sudah mulai tenang?" Nuri menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah keponakannya dan menyelipkannya di telinga. 


" Lihat siapa yang datang." Nuri melihat seseorang sudah berdiri diambang pintu kamarnya. Nuri sengaja membuka pintu kamarnya saat mengambilkan air putih untuk Ara tadi karena dia tahu pasti Varo akan segera tiba.


Dan benar saja, laki-laki itu terlihat ngos-ngosan. Nuri yakin jika Varo melajukan kecepatan mobilnya dan berlari dari parkiran ke kamarnya. Nuri tersenyum pahit dapat melihat betapa besarnya cinta laki-laki itu terhadap keponakannya itu.


" Ara …" Dengan cepat Varo menghampiri istrinya, dia berjongkok melihat wajah Ara yang sudah begitu basah oleh air mata dan mata yang sudah bengkak mungkin karena kelamaan menangis.


" Ara kenapa?" Tanyanya, dia melihat ke Nuri. Dan gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya.


" Paman …" Ara bukannya berhenti menangis dia malah justru semakin menambah tangisan menjadi semakin kencang. 


"Hey, ada apa?" Varo kebingungan, dia menarik Ara kedalam pelukannya sambil mengusap kepala Ara berharap istrinya itu diam.


" Sepertinya aku harus pergi, sudah waktunya aku bertemu dengan klain. Tapi aku harus berganti pakaian, jadi sebaiknya aku yang pergi keluar atau …" .


Nuri menghembuskan nafasnya dalam, dia bersandar di depan pintu sambil memejamkan matanya. Mungkin ini adalah pilihan yang terbaik, karena cinta tak harus memiliki. Dia tidak ingin menuruti ucapan ibunya, biarlah dia mengikuti isi hatinya saja yang akan merelakan laki-laki yang dia cintai itu pergi ke wanita yang tepat yaitu keponakannya sendiri.


" Aku hanya bisa berdoa semoga kalian hidup bahagia selamanya." 


****


Sementara itu, Varo merebahkan tubuh Ara di tempat tidur lalu dia menatap wajah istrinya tersebut yang masih dalam keadaan menangis. Perlahan Varo mengusap air matanya dia tersenyum lalu mengecup lembut keningnya itu. Varo tidak tahu apa penyebabnya, dia sangat ingin bertanya tetapi tidak terucap. Mungkin untuk tidak bertanya akan lebih baik, karena setiap orang pasti memiliki privasi sendiri. Biarlah nanti istrinya itu mengatakan nya sendiri padanya, dan jika tidak dia juga tidak akan bertanya dan menganggap masalah ini tidak pernah ada.


 " Sampai ketiduran seperti ini." Varo tersenyum sambil mengusap lembut pipi Ara yang kini sudah tertidur pulas karena lelah akibat menangis.


" Lihatlah matamu sampai bengkak seperti ini, nanti jangan terkejut jika kedua kelopak matamu terlihat seperti bola." 


Varo menarik Ara ke dalam pelukannya. Dia pun ikut memejamkan mata dan tidur di samping Ara sambil berpelukan.


Tanpa terasa hari sudah berganti malam. Ara merasakan berat di bagian perutnya, dia pun membuka matanya dan melihat sekeliling jika dirinya berada di dalam kamarnya sendiri. Kemudian Ara menoleh ke samping dimana laki-laki tampan tengah tidur nyenyak sambil memeluknya. 


Ara memutar tubuhnya menghadap ke Varo. Dia tersenyum lalu perlahan mengangkat tangannya dan membelai pelan wajah suaminya itu.


" Sejak kapan kamu disini?" Ucapnya pelan, suara agak sedikit serak akibat menangis tadi.


Varo tidurnya merasa terusik, dia membuka matanya dan melihat senyuman wanita cantik ada dihadapannya membuat serasa masih di alam mimpi. Varo kembali menutup mata lagi.

__ADS_1


" Jangan tidur lagi kalau sudah bangun, dasar pemalas." Ara mencubit hidung mancung suaminya.


" Auw, tulang hidung ku kayaknya patah," candanya. 


" Lebay, tidak akan sampai seperti itu. Berhentilah berbohong." Ara menjitak kepala suaminya karena sok kesakitan padahal tidak kuat sama sekali. 


" Ini benar-benar penyiksaan. Baru satu hari aku menjadi suami sah mu tapi kamu sudah melakukan KDRT, sungguh kejam," rajuknya, Ara memutar bola matanya malas. Kemudian dia menyingkirkan tangan Varo yang memeluknya hendak bangkit. 


" Kamu mau kemana, kamu harus bertanggung jawab." 


Varo tidak membiarkan Ara bangun, dia bahkan menindihi istrinya dan menatap wajahnya.


" Pa-paman berat, menyingkirkan dari tubuhku." Ara begitu sangat gugup sekali, detak jantungnya seakan mau meledak dia bahkan membuang pandangannya ke samping. Jarak mereka begitu sangat dekat hingga Ara bisa merasakan hembusan nafas suaminya.


" Panggil aku Mas …" 


" Ah, a-apa?" 


" Panggil aku Mas, Sayang. Aku ini sekarang suamimu bukan calon pamanmu lagi, panggilan itu sangat menyebalkan," ucapnya sambil membelai waja Ara lembut, dia bahkan semakin mendekatkan kepalanya.


" Apa aku boleh menciummu?" Ucapannya meminta izin dengan tatapan yang berbeda. Ara mengangguk pelan dia benar-benar gugup bahkan sampai menelan ludahnya kasar. Mungkin malam ini sudah saatnya suaminya itu memint hak.


" Aku ingin menciummu di tempat lain, apa boleh?" Lagi-lagi Varo meminta izin kembali, dia tidak ingin egois walaupun sudah seharusnya. Tetapi fia tidak ingin memaksa jika Ara masih belum siap.


 " A-aku …" Ara benar-benar gugup sampai ingin berkata saja seakan begitu berat.


" Apa kamu belum siap? Jika memang belum siap jangan memaksakan diri, aku tidak akan melakukannya dan akan sabar menunggu sampai kamu benar-benar siap," ucap Varo sembari tersenyum tipis, ada rasa kecewa tetapi dia tidak ingin memaksa. 


Varo bangkit dari tubuh Ara, dengan cepat Ara menarik tangan suaminya.


" Tidak bukan itu, aku- aku belum mandi seharian. Badanku kotor dan lengket," ucapnya pelan dengan wajah yang bersemu merah.


Wajah Varo kembali ceria, dia tersenyum lebar lalu mengangkat tubuh Ara.


" Kyaaaa, apa yang kamu lakukan?" 


" Katanya mau mandi, kalau begitu kita mandi bersama saja biar cepat." Tanpa jawaban Varo membawa Ara ke kamar mandi. 


Di dalam kamar mandi Varo dan Ara berendam dalam bak dengan air hangat. Keduanya sama-sama tidak memakai apapun. Ara begitu sangat malu apalagi di bagian bawahnya ada sesuatu yang menusuk-nusuk dirinya. Saat ini Ara berada di dekapan suaminya yang memeluknya dari belakang, Ara benar-benar gugup antara malu dan takut. Keduanya memang belum melakukan apapun tetapi tangan Varo sudah menjalar kemana-mana.


" Ara, tubuhmu sangat indah," bisiknya, Varo mengecup jenjang leher Ara hingga bulu kuduk wanita itu berdiri.


" Sangat cantik, kamu milikku Ara." Varo mengelus pelan dua bukit kembar itu dan terus mengecup jenjang leher istrinya. Sementara Ara hanya diam menahan suaranya dengan mata yang terpejam merasakan sensasi lain pada tubuhnya.


" Jangan di tahan sayang, aku ingin mendengar suaramu." Kini tangan Varo semakin turun hingga berhenti di tempat area sensitifnya Ara. 


" Aaaah …" Tidak bisa menahannya lagi, suara itu keluar begitu saja setelah sesuatu menyelinap masuk ke tempat benda terlarangnya itu.

__ADS_1


" Begitu lembut, aku menyukainya. Terima kasih karena sudah menjaganya untukku sayang. Akan ku buat dirimu bahagia selamanya, aku mencintaimu Ara. Sangat mencintaimu." 


__ADS_2