
20 Juli 2016, hari bersejarah di dalam hidupku, lebih tepatnya hidup kami. Memulai hidup baru, Awal pertarungan hidup kami dalam dunia perumahtanggaan.
Kata orang-orang si awal kehidupan yang sesungguhnya. Aku dan mas Galih telah melangsungkan pernikahan. Bahagia sekali rasanya bisa bersanding dengan orang yang kita sayangi.
Menatap indahnya mahligai pernikahan, berjanji akan saling setia, akan mengarungi segala suka duka bersama sebagai pasangan suami istri, akan membesarkan anak-anak kita kelak, ikut momong cucu cicit sampai tiba ajal memisahkan kami. Indah sekali bukan?
Mas Galih Pratama, pria yang sangat penyayang, dia bisa sangat pengertian terhadapku, ngemong aku banget. Usia kami terpaut cukup jauh, 5 tahun. Tapi itu tak menyurutkan tekadku untuk terus bersamanya.
Bahwa kami sudah siap lahir batin membina bahtera rumah tangga. Dengan usiaku yang kini sudah menginjak 25 tahun sedangkan mas Galih 30 tahun. Sudah sangat cukup matang usia kami ini.
4 tahun kami menjajaki sebuah hubungan hingga akhirnya dipersatukan dalam pelaminan. Dia memang bukan pria tajir. Tapi dia tipe lelaki pekerja keras.
Aku yakin dia akan membahagiakanku seperti saat kami pacaran dulu. Bertanggung jawab penuh atasku. Walaupun kenyataannya mas Galih sampai saat ini belum juga mendapat pekerjaan.
Tapi aku yakin semuanya akan berlalu, akan kami lewati berdua. Rezeki bisa dicari bersama. Itu motto kami saat bertekad akan melangsungkan menikah.
Aku sudah cukup mengenal keluarga mas Galih, bapak, ibu aku sudah dekat dengan mereka. Mas Galih adalah anak satu-satunya alias tunggal. Enak sekali bukan mendapatkan calon suami anak tunggal, pastilah hidupku nanti juga g akan susah-susah amat.
Tapi itu bukan prioritasku, karena aku memang sangat mencintai mas Galih. Untuk masalah materi itu nomer sekian.
Keluarga mas Galih bisa dikatakan keluarga yang berada, walaupun bapaknya hanya berprofesi sebagai petani, tapi beliau adalah petani ulung, tanahnya berhektar-hektar dan selalu serentak ditanami padi olehnya.
Jadi jangan heran, kalau cuma beras aja g perlu khawatir, melimpah ruah, tidak akan kekurangan. Sedangkan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga, tapi soal managemen keuangan jangan ditanya, beliau jagonya.
Bisa sampai punya emas bergram-gram hanya dengan menyisihkan sisa uang belanja tiap harinya. Semoga kelak aku bisa menirunya.
Selain itu juga keluarganya tak pernah berhutang, seberapapun uang yang mereka punyai ya hanya uang itu yang akan dipakai, cukup tidak cukup.
Mereka terbiasa hidup semampunya, tak pernah memaksakan keinginan, walaupun sebenarnya dengan menjual beberapa kantong padi di gudang mereka bisa mendapatkannya. Mereka tidak mau, mereka terbiasa irit.
Pernikahan kamipun juga diadakan sangat meriah, uang panaik 30 juta, emas 21 gram. Seserahan yang beraneka macam tak terhitung jumlahnya. Itu jumlah yang fantastis untuk kalangan di desaku.
Bakalan jadi trending topik orang sekampung. Mertuaku ini memang royal sekali, beruntungnya aku jadi menantu mereka, batinku.
3 hari pasca resepsi, aku langsung di boyong ke kontrakan mas Galih. Kami beralasan ingin mandiri. Disamping itu juga mas Galih tidak mau 1 atap dengan orangtuaku, apalagi aku masih ada 1 kakak laki-laki yang belum menikah dan juga 1 adik perempuan lajang.
Bukan karena mas Galih tidak cocok dengan keluarga, tapi lebih menjaga adab saja. Tidak elok rasanya kalau ipar laki-laki berada 1 atap dengan ipar perempuan. Ditambah juga mas Galih masih segan dengan bapak ibuku.
Ya sudah, sebagai istri aku hanya nurut saja apa kata suamiku. Takut durhaka.
Dan sebenernya juga aku senang-senang aja kalau cuma tinggal berdua sama suami, kan bisa bebas leluasa haha hihinya, Uppsss.
__ADS_1
Karena jujur setelah resepsi itu kami sama sekali belum melalukan ritual malam pertama, karena kamar di rumahku terbatas, kamarku sementara di pakai sama budheku yang datang dari Kalimantan.
Kan g enak juga kalau mau ngusir dia dari kamarku. Sementara ini aku dan mas Galih tidur di depan TV. Iya, 3 malam kaya gitu, mana bisa kami haha hihi di situ.
Kami tinggal di sebuah kontrakan sederhana milik mas Galih dulu sebelum menikah denganku.
Mas Galih tidak mau nyari kontrakan lainnya karena sudah kenal betul sama pemilik kos, sudah seperti keluarga sendiri malah.
2 bulan pasca pernikahan, semua masih baik-baik saja, berjalan normal, harmonis bak pengantin baru lainnya. Semua masih manis, semanis 1 gelas teh hangat di kasih gula pasir 1 kg, manis sekali.
Makan sepiring berdua, suap-suapan tak ketinggalan, ribut-ribut kecilpun nyaris tak pernah ada. Akan tidur tak lupa kecupan hangat akan mendarat di kening ini, begitu juga bangun tidur tak ketinggalan, kecupan mendarat di kening setiap harinya.
Rasanya nikmat sekali menjalani hidup berdua saja dengan suami. Apa2 berdua, setiap hari berduaan terus, nempel-nempel terus. Makan lauk sambel bawang kasih bumbu royc* pun rasanya nikmat luar biasa.
Bulan ke 3 pernikahan kami, tepatnya di bulan Oktober, tiba-tiba aku merasakan hal yang sangat aneh dalam diriku, mulai dari g suka pake parfum, g mau nyium parfum, bahkan nyium kuah bakso aja rasanya pengen muntah.
Pernah suatu sore kami jalan-jalan keluar, melintasi sebuah warung bakso di pinggir jalan, bau kuahnya sampai kecium hidungku, benar saja aku langsung hoakk hoekkk dibuatnya, sampai-sampai aku menyuruh mas Galih berenti menepikan sepeda motornya di pinggiran jalan, aku langsung turun dan terus saja masih hoek hoekkk.
Karena belum tahu dan pengalaman, aku pun tak merasa curiga dengan keadaanku ini. Pikirku hanya masuk angin biasa. Tapi kejadian ini terus saja berulang setiap harinya. Hingga aku memutuskan untuk browsing di internet, gelaja-gejala yang aku alami.
Begitu aku membukanya, aku kaget bukan kepalang, terang saja disana tertulis "ciri-ciri hamil muda". Ada rasa kaget tapi juga senang. Kalau benar ini adalah tanda-tanda kehamilan, wuahhh pasti akan sangat senang keluarga kami.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk segera menimang momongan. Saat itu aku mencoba melihat kalender, benar saja aku sudah telat selama seminggu, aku tak menyadarinya.
"Mas, apa mungkin aku ini hamil ya?" tanyaku pada mas Galih saat kami sedang makan malam di kontrakan.
"Hahh, hamil? Masa si dek, coba deh di tes, nanti abis isya kita ke apotik beli tespek ya biar jelas".
"Iya lah, hehee seneng ya mas bentar lagi kita bakalan punya anak" aku mulai mengandai-andai.
"Hemmmm" sahutnya singkat.
"Kamu kenapa si mas, kok kaya g seneng gitu, g ada ekspresi sama sekali".
"Siapa si yang g seneng, mau punya anak kok".
"Lah itu mukanya datar-datar aja".
"Trus aku kudu gimana si dek, teriak-teriak, jingkrank-jingkrak gitu ya mau kamu, biar seluruh isi kontrakan beserta tetangga tahu kalau kita akan punya anak? kan belum pasti juga".
"Iyalah" jawabku cemberut
__ADS_1
"Udah habisin dulu tuh makanannya, abis itu sholat isya, langsung kita cuss ke apotik, jangan manyun gitu ah, jelek banget kaya nini nini" celotehnya mencoba meledekku.
"Hihhh dasar" gerutuku lirih.
Selesai makan kamipun menunaikan sholat isya, lepas itu kami langsung bergegas ke apotik untuk membeli alat tes kehamilan itu. Tak tanggung-tanggung sekalian aku memborong 10 biji. Biar puas ngetesnya.
Kami kembali ke kontrakan dengan perasaan senang, sudah g sabar rasanya pengen buru-buru tahu hasilnya. Positif ataukah negatif.
Sampai dikontrakan aku langsung masuk ke dalam dan segera mengeluarkan isi bungkusan plastik kecil hitam ditanganku, 10 buah tespek.
Mas Galih yang berjalan dibelakangku pun dibuat melolot matanya saat melihat aku membeli begitu banyak alat tes kehamilan itu.
"Astaga..... Dek, kamu beli sebanyak itu? Mau buat apa? Mau buat dijual lagi?" tanyanya terkejut sambil sedikit kesal kelihatannya.
"Ya buat persediaan mas, buat jaga-jaga juga. Kan ngetesnya g cuma sekali, harus berkali-kali biar akurat" aku membela diri.
"Iya buat jaga-jaga boleh, tp ya g sebanyak itu juga kali dek, separuhnya kan juga udah banyak itu" sanggahnya.
"Halah mas ini tuh harganya murah kok cuma 3.000an perbiji" aq kembali melakukan pembelaan.
"Iya 1 nya 3.000, beli 10 jadi 30.000 kan, kita kan harus berhemat".
Ntah kenapa tiba-tiba mas Galih mengatakan hal itu, kita harus berhemat. Aku lupa kalau mas Galih sampai sekarang belum bekerja lagi, selama ini kami hidup dari uang sisa sumbangan pernikahan kami kemaren.
Lumayan si, ada sekitar 6jutaan, tapi itu sudah kami pakai sebagian buat bayar kontrakan 3 bulan, makan dan lain-lain. Tanpa adanya pemasukan.
Aku mulai melihat-lihat bungkusan plastik kotak warna biru tersebut, aku membaca petunjuk-petunjuknya dengan detail.
Disitu tertulis sebaiknya di gunakan waktu pagi hari, karna air seni pertama kali pagi hari itu yang menunjukkan hasil yang lebih akurat. Aku kecewa, karena g bisa langsung pakai malam ini juga.
"Kenapa mrengut nini Rani?" tanya mas Galih. Dia selalu manggil aku nini kalau melihatku merengut. Mungkin mukaku mirip sama nini nini kali ya kalau lagi g enak hati gitu. Ah biarin aja nini nini juga dia nikahi kan.
"Ini lho g bisa dipakai sekarang mas, pakainya besok pagi pas aku buang air seni pertama" aku menjawab.
"Oalahh, ya udah tinggal tunggu besok pagi kan. Malam ini ditinggal merem besok bangun-bangun udah pagi, gitu aja dibikin ribet".
"Ya g ribet mas, cuma kan aku pengen cepet-cepet lihat hasilnya".
"Hemmm, wanita memang selalu ribet, dibikin susah sendiri. Mending aku tidur aja" gerutu lirih mas Galih, tapi aku masih bisa mendengarkannya.
"Dasar lelaki g peka" balasku menggerutu, tapi entah dia mendengarnya atau tidak akubtak peduli. Aku terlanjur jengkel.
__ADS_1
Akhirnya akupun ikutan tidur, dan berharap akan segera pagi. Dan eng ing engggg, aku akan segera tahu apa hasilnya, apakah aku jadi hamil atau tidak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=