Mertuaku Sayang

Mertuaku Sayang
Kabar Kehamilan Rania


__ADS_3

Suara adzan subuh membangunkan tidur kami, kebetulan kontrakan ini dekat sekali dengan masjid. Mas Galih bangun dan segera siap-siap untuk sholat subuh berjamaan di masjid.


Sedangkan aku masih selimutan di kasur tapi dengan mata yang sudah terbuka.


Akhirnya pagi juga, batinku. Tak sabar aku mau ngecek kehamilanku ini. Tepatnya calon kehamilan, karena belum pasti juga, hehehee.


Tapi sejenak aku berpikir kembali, mengurungkan niatku, karena nanti kalau mas Galih sampai kontrakan masih melihatku belum juga sholat subuh, bisa habis aku di marahinya.


7 hari 7 malam g bakalan slesei dia nyerocos tanpa henti menasehatiku. Baiklah, akan kutunaikan kewajibanku dulu. Baru setelahnya akan aku cek kepastian ini.


Selesai sholat subuh, aku segera bergegas ke kamar mandi yang dari tadi menahan buang air kecil, segera aku ambil wadah kecil untuk menampungnya.


Lalu pelan-pelan akupun mulai membuka isi dari plastik kotak kecil warna biru itu. Sensitif, begitu tulisannya. Benda bahan kertas yang bentuknya kaya lidi dan panjangnya sekitar 7cm.


Pelan-pelan aku mulai memasukkannya ke dalam wadah yang berisi air seniku tadi, menunggu 1 menit lalu aku angkat sesuai instruksi yang tertulis dalam kemasannya.


Lalu aku masih menunggunya, mulai kelihatan garis merah bermunculan, samar samar lalu mulai terlihat tebal. Dua garis merah terlihat jelas. Itu artinya aku positif, mulutkupun menganga, terkejut sekali melihat hasilnya.


Senang, bingung, terharu semua campur jadi satu. Harapanku akan jadi kenyataan Tuhan.


Aku akan segera punya anak. Terima kasih atas berkahMu yang tak ternilai ini. Baru 3 bulan menikah sudah dikasih kepercayaan ini.


Semoga saja pasangan suami istri di luar sana yang belum mendapatkannya segera mungkin Alloh kasih kepercayaan itu. Aamiin.


Aku segera keluar menuju kamar, dan ternyata sudah ada mas Galih yang baru saja pulang dari masjid. Mataku berbinar-binar tak sabar untuk memberitahu kabar gembira ini padanya.


"Massss, aku udah cek ini, tahu g hasilnya apa?".


"Apa?" tanyanya pendek.


"Taraaaaa, aku hamil mas, nih ada 2 garis disini" aku menunjukkan tespek itu ke mas Galih.


"Alhamdulillah Ran" jawabnya tanpa ekapresi yang membuatku kecewa.


"Lhoh mas, kok gitu si. Mas g senang mau punya anak?" tanyaku cemberut.


"Bukannya g senang Ran, ya pasti senang lah. Cuma kan mas ini kan belum dapet kerja juga, nanti dikasih makan apa anak kita setelah lahir? Belum juga kamu pasti butuh makan-makanan bergizi kan selama hamil ini. Duit dari mana?"


"Iya makanya mas harus tetep berusaha terus nyari kerjaan ya mas, kalau sungguh-sungguh pasti Alloh kabulkan kok".


"Trus menurutmu aku ini g pernah sungguh-sungguh nyari kerja apa?" nada bicaranya mulai meninggi.


Sepertinya mas Galih merasa tersinggung atas ucapanku. Mas Galih memang tak pernah semangat kalau masalah nyari kerjaan. Dia ini ideologis sekali.


Dia inginnya berbisnis, berdikari. Dia tipe orang yang g mau di dikte, g mau di atur orang lain. Maunya dia yang mengatur. Tapi kalau g punya modal, mau diapain? Mau nunggu anak istri kelaparan? Egois sekali sih.


Harusnya dia bisa lebih berfikir lebih dewasa lagi. Sekarang dia mempunyai tanggungan seorang istri dan calon anaknya. Apapun kerjaannya yang penting halal, dan pastinya anak istri pun tak kelaparan.


Kemarin-kemarin sempat dia berbisnis, bermodalkan uang dari bapaknya sebesar 100 juta, tapi sayangnya belum beruntung. Mas Galih bangkrut, karena ternyata rekan bisnisnya itu penipu, uangnya di bawa kabur semua, tak ada modal yang tersisa.


Sehingga membuat bapaknya murka sejadi-jadinya. 100 juta hasil menjual kebon, yang diharapkan akan berbuah manis untuk bisnis mas Galih. Tapi ternyata takdir berkata lain.


Bapak pun kapok memberikan uang lagi untuk modal awal. Takut akan bangkrut lagi. Tapi kalau namanya bisnis ya memang seperti itu, ada kalanya dapet untung, ada kalanya merugi.

__ADS_1


Tapi bapak mana tahu soal itu. Dia itu jiwa petani, jadi tidak tahu bisnis itu seperti apa, bagaimana. Tahunya ya kalau usaha ya akan dapet untung. Wong udab keluar duit banyak buat modal kok.


Sejak kabar kehamilanku itu, itulah awal muasal aku dan mas Galih jadi sering ribut. Hal sepelepun bisa jadi berkepanjangan. Apalagi kalau bukan masalah uang.


Pelan-pelan simpanan kami mulai menipis. Mas Galih memang sepertinya tidak berniat cari kerjaan. Lelaki macam apa ini, apakah aku salah telah menikah dengannya.


Lelaki yang 4 tahun aku kenal ternyata seperti ini. Sungguh ini diluar dugaanku. Sungguh, dulu dia tak seperti ini.


Hingga akhirnya satu persatu kami harus menjual barang-barang berharga kami. Tas seserahan yang cukup mahal akhirnya kami jual. Semuanya demi menyambung hidup kedepan.


Sepatu mahal seserahan, koper yang jarang kami pakai, juga dispenserpun tak luput dari barang-barang yang masuk di list penjualan kami. Uang menipis, sedangkan pemasukam sama sekali tak ada. Mau gimana lagi.


Malam itu, seminggu setelah aku memberitahu kabar kehamilanku pada mas Galih. Tapi nampaknya mas Galih belum juga mendapat kerjaannya.


"Mas udah ada panggilan kerja?" tanyaku tiba-tiba.


"Belum, sabar lah. Orang nyari kerja g semudah membalikkan telapak tangan" jawabnya ketus.


Deggg... Astaghfirullah. Suamiku ini kenapa si. Ditanya kaya gitu aja jawabnya g enak gini. Tau gitu kan g usah tak tanya. Nyari penyakit aja.


"Owh iya maaf, aku cuma nanya. Tetap semangat ya mas, adek yakin mas bisa".


Aku mencoba menguatkan mas Galih, padahal aku sendiri sedang rapuh. Dan mencoba menguatkan diri sendiri.


"Ya udah mas, makan yuk, aku udah laper banget ini" aku mencoba mencairkan suasana.


"Ayok Ran, mas juga udah laper. Beli lauk apa kamu tadi ke depan?".


Semenjak keuangan kami terus menipis, sedang pemasukanpun tak ada, kami harus benar-benar memanage nya dengan baik. Setiap malam kami selalu membeli soto di depan kontrakan 1 porsi saja.


Iyaa, itu cukup untuk kami makan berdua. Karena di rumah aku sudah memasak nasi. Itu sudah cukup membuat kami kenyang. Soto seharga 5.000 sudah alhamdulillah.


Malam ini berlalu tanpa adanya perdebatan. Semenjak aku hamil aku g bisa mengontrol emosiku, begitu juga dengan mas Galih. Diapun sering kalap kalau berdebat denganku, tak mau kalah.


............


Pagi ini aku sedang menyiapkan sarapan, masak nasi dan masak mie rebus 1 bungkus untuk berdua. Mi rebus ditambahkan nasi yang cukup banyak, tentu akan membuat kami kenyang.


Selesai makan akupun menanyakan hal yang sama seperti kemarin. Tentang pekerjaannya.


"Alhamdulillah kenyang ya mas" aku memulai basa-basi.


"Iya Ran, mas juga kenyang banget ini".


Sambil mengambil rokok di atas meja, menyalakannya, kemudian kebal kebul membuang asapnya. Mas Galig adalah perokok parah. Padahal aku sedang hamil, taolpi dia seakan g perduli.


Dasar lelaki, egois sekali. Disaat keuangan lagi susah kaya gini masih sempat mikirin rokok, padahal daripada beli rokok 20.000 kan mending uangnya buat beli lauk.


Trus bagaimana nasib janin yang ada di dalam perut sini. Dia butuh makan makanan sehat, butuh energi positif dari ibunya terutama. Ini jangankan makanan, energi positifpun tak aku dapatkan.


Masak iya aku harus meminta uang sama orangtuaku untuk semua ini. Apa kata mereka nanti. Mereka akan merendahkan suamiku karena tidak mampu menafkahiku.


Aku tidak mau mengorbankan itu. Aku masih punya rasa belas kasian pada suamiku, harga dirinya tentu akan sangat jatuh. Lalu aku harus bagaimana?

__ADS_1


Aku keluar dari kamar guna menghindari pancingan-pancingan keributan yang lebih panjang, menuju ruang tamu. Duduk menyandarkan bahu di kursi kayu milik ibu kontrakan. Mengelus perut yang belum kelihatan ada isinya.


Nak, maafkan mama ya, mama belum bisa membahagiakanmu. Maaf maaf maaf nak. Tak terasa butiran air mata menetes di pipi. Deras bagai air terjun yang mengalir dari puncak ketinggian.


Bukan menyesali kehadiran si jabang bayi ini. Tapi menyesali kenapa aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.


Apa aku sendiri yang harus kerja, kembali ke pabrik tempatku bekerja sebelum menikah dulu. Gajinya lumayan disana, UMR 2jt belum juga ditambah lemburan.


Tapi aku mengurungkan niatku lagi, aku kembali berpikir. Aku kan lagi hamil muda, apa sanggup aku bekerja rodi kaya gitu lagi? Rasanya tidak mungkin, ini akan berbahaya untuk janinku.


Alloh... Berikanlah pertolonganMu untukku. Aku harus bagaimana. Kuat ya nak, yang kuat di dalam sana. Kita berjuang sama-sama. Mama akan berusaha sekuat mama untuk kebahagiaanmu. Mama akan lakukan apapun untukmu, jangan khawatir ya sayang. Aku kembali mengelus perut ini.


Tiba-tiba mas Galih datang menghampiriku ke ruang tamu. Segera aku menyeka pipiku. Aku yakin diapun tahu kalau aku habis nangis. Tapi ternyata dia memilih pura-pura dan menghiraukannya.


"Besok kita pulang aja ke rumah orang tuaku ya Ran" tiba-tiba dia berbicara.


"Hahhh, apa mas? Pulang? Ke Malang?" jawabku kaget.


"Iya, daripada kita disini terlunta-lunta. Besok kita berangkat pagi-pagi pakai motor saja biar irit".


Whaattttt... Ke Malang pake motor? Gila apa ini orang. Aku masih dalam keadaan hamil muda gini diajak motoran. Padahal jarak tempuh ke Malang bisa sampai 12jam perjalanan. Punya hati g sih nih orang.


"Mas kok pakai motor? Kan kasian adeknya ini kegoncang-goncang. Belum kuat mas" aku mencoba menolaknya dengan halus.


"Trus kamu mau kesana pake apa? Kereta? Biaya kereta berapa coba Ran. 1 orang aja 300ribuan, kalau naik motor g sampe 100ribu malahan, isi bensin 3 kali aja, motor mas kan irit itu".


"Ya Alloh mas, pikirin lagi deh, kasian ini yang di perut. Masa uang 300ribu lebih berharga dibanding anakmu sendiri" aku masih tak terima.


Aku masih berusaha menolaknya keras, aku g mau terjadi apa-apa sama anakku. G mau. Ini orang kok mulai perhitungan banget si.


"Ran, kalau janinnya kuat dan Alloh mentakdirkannya untuk kita pasti bisa. Lain juga kalau Alloh belum mentakdirkan untuk kita ya pasti bakalan g ada apapun caranya. Udah deh kamu g usah lebay gitu".


"Ya Alloh mas tega sekali si kamu nih" mulutku mulai meletot - letot, menahan air mata yang udah berada di ujung mata.


"Bismillah Ran" timpalnya lalu berdiri dan pergi meninggalkanku sendiri diruang tamu.


Mau tidak mau aku harus mengikuti juga kata mas Galih, tapi disisi lain aku tetap was-was apa yang akan terjadi nanti. Aku masih tidak bisa membayangkan, akan apa jadinya nanti kalau aku beneran naik motor sampai Malang.


Apakah kamu masih akan setia bersama mama di dalam perut sana nak? Ya Alloh kuatkan kami.


\=


\=


\=


\=


\=


Next 🔜


Jangan lupa like, comment dan tentunya di baca berulang-ulang jangan sampai bosen ya gaess. 💓

__ADS_1


__ADS_2