Mertuaku Sayang

Mertuaku Sayang
Kerukunan Galih dan Rania


__ADS_3

"Ran... Rania sini sebentar." teriakan terdengar dari dapur.


Aku dan mas Galih saling menatap, terlihat raut kecewa di wajah kami. Baru juga sebentar mau istirahat, alarmnya udah bunyi aja.


"Mas.... Tuh alarmnya bunyi." dengan menunjukkan ekspresi wajah kecewa kepada mas Galih.


"Iya Ran. Biar mas aja ya yang kesana, kamu istirahat aja." ucap mas Galih mencoba menenangkanku.


"Itumah namanya cari gara-gara mas. Jelas-jelas yang di panggil itu aku bukan kamu, pie sih mas. Udah lah aku ke dalam sebentar ya, keburu keluar tanduknya hehehe."


"Raannnnn....." ibu teriak lagi.


"Tuhhhh. Udah ah."


Aku bangkit dari kursi dan segera menuju ke dapur. Ku jumpai wajah ibu yang sepertinya sedang kesal.


"Iya bu ada apa?" tanyaku khawatir, takut aku melakukan kesalahan apa lagi yang membuat ibu tak suka.


"Rania, coba jawab pertanyaan ibu dengan jujur ya, awas kalau bohong." ucap ibu sambil melihat mataku dengan sinis.


"I-iya bu. Mau tanya apa?" jawabku dengan perasaan yang campur aduk.


****** kamu Rania. Membuat kesalahan seperti apa sampai ibu se kesal ini wajahnya. Siap-siap kamu Ran. Ucapku dalam hati.


"Ini gelang, kalung sama cincin ibu menurut kamu bagus gak? Jawab yang jujur." tanya ibu dengan ketus.


"Emm ba-bagus bu, itu kan keluaran terbaru belum ada satu orangpun di RT sini yang punya. Baru ibu yang punya." jawabku dengan jujur.


"Masak? Tapi kenapa tadi bu Esih kaya biasa aja ya Ran, gak kepanasan gitu." ucap ibu penasaran.


"Ya mana Rania tahu bu. Mungkin luarnya aja bu yang kelihatan baik-baik aja cuma dalamnya pasti kebakaran, dia kan belym sempat beli eh kedulyan ibu yang beli duluan." sahutku mencoba menenangkan ibu sekaligus jadi kompor.


"Owh gitu ya Ran." ibu mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum. "Jadi sebenarnya dia gengsi kan hahaha dasar Esih gak bakalan bisa kamu nyaingin koleksi emas-emasan yang aku punya, kawus kon." ucap ibu dengan puas.


"Iya begitu mungkin bu." jawabku singkat.


"Ya sudah sekarang ini beresin, cucian piring numpuk kaya gini, mata ibu sudah gatel lihat barang-barang kotor berserakan kaya gini. Ibu mau istirahat dulu." perintah ibu kepadaku lalu diapun pergi menghilang ke dalam kamarnya.


"Ya ampun, dipanggil buru-buru cuma ditanyain kaya gitu. Sebegitu pentingnya kah bu urusan kaya gitu tuh. Lomba-lomba ngoleksi emas, mbok ya kalau lomba itu ya berlomba-lomba dalam kebaikan. Itu ada pahalanya, kalau ini? Dosa yang didapet mah iya." aku menggerutu sendirian di dapur sambil mencuci piring kotor dalam wastafel.


"Hehh gedumel sendirian istriku tercintah, kenapa sayang?" tiba-tiba mas Galih sudah ada dibelakangku mengagetkan.


"Hih ngagetin aja mas. Itu lho ibumu manggil aku cuma suruh jawab pertanyaan gak mutu." jelasku pada mas Galih.


"Lhah pertanyaan apa sih?" tanya mas Galih penasaran.


"Tanya itu perhiasannya bagus gak? Soalnya bu Esih kemarin kaya yang biasa aja gitu melihat ibu pakai emas-emasan baru, biasanya kan kalau ibu beli-beli dia suka kebakaran jenggot." terangky lagi pada mas Galih.


"Haduhhh belum kelar juga urusan emas, heuhh bikin puyeng nini-nini. Sebegitu rumitkah dunia pernini-ninian."


"Hahahah ya begitulah mas dunia pernini-nian." aku tertawa melihat tingkah suamiku yang sepertinya masih shock mengetahui mengenai dunia ibu-ibu.


"Untung kamu gak kaya gitu ya Ran hehehe."


"Ya gak lah, apanya yang dicari mas? Kepuasan? Sesaat doang."

__ADS_1


"Istriku emang paling juara deh, makasih ya sayang."


"Istrinya siapa dulu, Galih Pramudya."


"Halah udah udah, sini mas aja yang nyuci piringnya. Kamu duduk sana." perintah mas Galih padaku.


"Ciee perhatian banget sama istrinya ya sekarang hehehe." ledekku kepada mas Galih.


"Gak tega aku Ran lihat kamu kecapean gitu. Sudah sana buruan duduk. Keburu ibu keluar kamar." perintahnya lagi.


"Siap bosku hehehe."


Aku menuruti perintah suamiku untuk duduk dan menungguinya mencuci piring. Coba setiap hari kaya gini gak bakalan capek banget. Tapi kan mas Galih harus kerja, berangkat pagi pulang seringnya malam. Udah di kantor capek eh pulang-pulang bantuin istrinya beresin pekerjaan rumah. Kan kasihan juga.


"Oiya mah hampir lupa, hari ini aku ada kontrol dede bayinya. Nanti anterin ya." pintaku ke mas Galih.


"Emang masih buka?"


"Ya masih lah mas, nanti sampai jam 20.00, kan budannya praktek di rumah."


"Owh begitu." mas Galih manggut-manggut.


"Makanya sering-sering ikutan kontrol biar paham."


"Hehehe, kan ayah kerja sayang, pulangnya malam terus hehe, maaf ya."


"Iya ayahku sayang. Tapi hari ini aku pengen dianterin ayah ya" pintaku manja.


"Siap sayang. Nanti ayah anterin. Kalau mau sekalian jalan-jalan juga boleh, ayah turutin kemanapun anak ayah mau pergi."


"Siap lah pokoknya mah."


Hari ini aku sungguh bahagia, suamiku kini sudah banyak berubah. Sehabis isya nanti aku akan kontrol kandungan ke bidan lanjut jalan-jalan ke taman kota. Lumayan lah untuk membuang pikiran-pikiran suntuk selama berada di rumah.


"Mas." aku memulai percakapan lagi, kali ini agak serius.


"Hem."


"Apa gak sebaiknya kita ngontrak aja mas hehe. Ya itung-itung buat mandiri mas." ucapku tak yakin.


Mas Galih menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menengok ke belakang menatapku serius.


"Kamu capek ya sayang? Dengan semua pekerjaan di rumah ini, dengan segala omelan ibu yang setiap harinya kamu dengarkan?" wajahnya terlihat sendu menatapku penuh arti.


Akupun hanya bisa menatapnya sendu, aku yakin suamiku itu tahu apa yang aku rasakan. Mas Galih berjalan kearahku, lalu dia memegang kedua lenganku.


"Apa uang kita sudah cukup Ran?" tanya mas Galih.


"Ya belum si mas. Tapi kan kita bisa pinjem dulu ke bapak ibu Jogja, pasti dikasih kok mas."


"Kalau itu mas juga tahu Ran. Tapi kan mas malu, gak enak juga sama bapak ibu. Tar mereka malah berpikiran yang macem-macem sama mas kan. Tar dikiranya selama ini mas gak tanggung jawab nafkahin kamu, sampai-sampai untuk hidup kitapun harus minjem uang ke mereka. Malu sayang."


"Kalau gitu pinjem ke mas Ardi aja mas, kalau cuma 10 jutaan pasti dia punya, gimana mas?" tawarku lagi ke mas Galih.


"Rania, dengerin mas ya. Mas juga ingin membahagiakanmu seperti janji mas kepada keluargamu tapi maafkan sampai saat ini mas belum mampu juga. Masalah uang memang bukan hal yang rumit untuk keluargamu, tapi taruhannya harga diri mas, mau ditaruh dimana mula mas nanti Ran. Lagian gak mungkin juga ibu mau izinin kita pergi dari sini. Kamu paham betul kan sifat ibu. Nanti kalau uang kita sudah cukup mas pasti bawa kamu pergi dari rumah ini, mas janji sayang." mas Galih mengecup keningku lalu memelukku dengan erat.

__ADS_1


"Iya mas makasih ya. Cuma aku sekarang jadi cepet capek, apalagi sejak hamil ini. Sebentar-sebentar istirahat, sampai-sampai ibu kudu ngomel baru aku paksakan beresin pekerjaan rumah lagi. Kadang perutku juga sampai kram mas, sakit banget. Tapi aku bisa apa." perlahan air mataku jatuh tapi segera aku menyekanya. Aku gak mau mas Galih jadi kepikiran.


"Iya sayang, nanti mas akan coba bilang ke ibu ya biar ibu gak terus-terusan nyuruh semuanya ke kamu. Semoga ibu bisa mengerti."


"Iya mas." jawabku singkat.


"Anak ayah yang kuat di dalam ya, sabar ya nak, doakan ayah supaya cepet bisa ngumpulin uang buat kita sewa rumah, buat kita bertiga tinggal nanti ya nak." mas Galih mengusap-usap perutku.


Akupun tersenyum, masih ada suamiku yang masih sangat peduli denganku. Walaupun sebenarnya aku sanksi ibu bakalan mengerti tapi tak apalah biarkan mas Galih mencoba dulu.


"Udah ah mas melow-melownya hehe. Tuh cucian piringnya belum kelar. Buruan sana." perintahku ke mas Galih.


"Astaga iya Ran sampai lupa." mas Galih segera kembali ke wastafel menyelesaikan pekerjaanya.


Alhamdulillah semua pekerjaan sudah selesai, rumah sudah nampak rapi seperti sedia kala, gak bakalan ada omelan-omelan dari ibu mertua yang menggema di telingaku. Sudah mandi tinggal menunggu waktu maghrib berkumandang sambil leyeh-leyeh mainan ponsel di dalam kamar. Terimakasih suamiku, berkatmu hari ini aku bisa istirahat dengan bahagia hehehe.


Aku coba iseng membuka-buka toko online yang ada di salah satu aplikasi belanja warna orange yang aku download di ponsel. Melihat-lihat pernak-pernik perlengkapan bayi yang lucu-lucu. Dari harga yang murah sampai yang mahal sekali, semua lengkap ada di toko itu. Akupun senyum-senyum sendiri melihat pakaian-pakaian, sepatu, bedong yang lucu-lucu disana.


"Heh senyum-senyum sendiri, kesambet nanti Ran hehehe." sapa mas Galih membuyarkan senyumanku.


"Hih mas ni gak bisa lihat istrinya semeng dikit apa." bibirku manyun 5 cm sampai bisa dikuncir karet gelang.


"Waduh, gitu aja ngambek. Emang lagi lihat apaan sih? Sampai senyum-senyum gitu?" tanya mas Galih penasaran.


"Makanya sini mas. Sini cepet lihat nih."


Mas Galih mendekatiku ikut melihat layar ponsel yang ada di genggamanku.


"Oalah lihat baju bayi to. Tapi kan masih 4 bulan Ran, kata orangtua mah pamali. Nanti kalau udh 7 bulan baru bisa beli-beli." terang mas Galih padaku.


"Iya mas ini aku kan cuma lihat-lihat mas. Biar nanti waktunya belanja kita tinggal cus berangkat. Kan udah ada daftarnya apa aja yang kudu dibeli." jelasku pada mas Galih.


"Owh begonoh ya camah, iya deh mas mah ikut aja."


"Kok camah?" tanyaku penasaran.


"Iya camah, calon mamah hahaha."


"Ih jelek banget camah, gak ada kata-kata lain apa mas, garing bercandanya, weeekk."


"Hehehe gak papa garing dari pada gak sama sekali to." kilah mas Galih.


"He em. Eh berarti kita kudu sedia budget 2 jutaan ini mas buat beli-beli baju dan perlengkapan lainnya, banyak juga ya hehe."


"Iya makanya kalau ayah pulang kerjanya sering kemaleman jangan ngambek ya nak, kan lumayan uang lemburan bisa buat beli baju balu."


"Hemm mulai deh lebaynya. Eh mas kamu hari ini beneran lebay lho, serius. Lagi kesambet?" tanyaku penasaran.


"Ya gak lah Ran, masak kesambet. Kan mas juga pengen jadi suami yang so sweet, biar istrinya happy, seneng trus dede bayinya juga kebawa seneng, gitu Ran." jelas mas Galih.


"Dapet ilham dari mana mas?" tanyaku penasaran.


"Hehe abis baca di web." jawabnya malu-malu.


Next 🔜

__ADS_1


Part ini sengaja dibikin indah tanpa campur tangan si mertua ya gaes. Biarkan Rania dan Galih merasakan kebahagian walau sangat singkat. Hehe


__ADS_2