Mertuaku Sayang

Mertuaku Sayang
Rencana ke Dokter


__ADS_3

I am back...


Selamat menikmati hasil karyaku lagi ya readers...


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Setelah rebahan sejenak, aku ingat dengan si jabang bayi ini. Aku belum sempat menjenguknya lagi. Aku melihat di sampingku mas Galih sudah tertidur lelap. Sepertinya dia kecapekan. Parjalanan 13 jam, mengendarai sepeda motor tanpa bergantian, bisa dibayangkan rasa remuk redam si empunya badan. Aku menatap wajahnya lekat-lekat lelaki di sampingku ini, memandanginya dengan seksama, wajah yang begitu teduh, putih juga bersih. Sangat mempesona. Pantas saja aku dulu terkagum-kagum dengan orang ini. Senyum tipis mengembang di bibirku. Tapi sampai sekarang aku masih tak habis pikir, kenapa dia bisa seolah tak peduli dengan keadaanku sekarang, menghiraukan kehamilanku ini.


Segera aku bangun, mengambil tespek yang aku simpan di tas ransel warna coklat muda milikku. Ransel tua yang selalu aku bawa kemana-mana, usianya sudah sekitar 4 tahunan, warnanya sudah agak memudar, tapi aku enggan melepasnya. Terlalu banyak kenangan dengan ransel ini. Kembali ke tespek, walaupun tertulis anjuran menggunakannya di pagi hari, tapi aku tak peduli. Aku ingin segera tau keadaan jabang bayiku. Segera aku masuk kamar mandi dan melakukan ritual langkah-langkah menggunakan si sensitif ini.


1 detik, 30 detik, 60 detik. Garis merah berjumlah 1 begitu nyata, disusul garis merah satunya yang samar-samar, perlahan mulai menebal terlihat jelas. Aku menarik nafas panjang, tanda kalau kamu masih ada di perut mama, aku sangat lega. Tak hentinya aku bersyukur, Allohu akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar, itu yang keluar dari bibirku. Begitu dahsyat kuasamu Ya Rabb. Kau tetap membiarkannya berada dalam rahimku. Kamu kuat anakku. Nanti ketika kamu lahirpun Insya Alloh akan menjadi anak yang kuat, seperti mama, tidak.... Bahkan kamu akan lebih kuat dari mamamu ini nak.


"Haiii sayangnya mama, ternyata anak mama nih kuat ya, diajak jalan-jalan pakai motor berjam-jam g kenapa-kenapa kamu nak, kamu sungguh hebat". Sambil mengelus-elus perut aku berbicara sendiri. Perlahan butiran air mata mulai menetes dari ujung mataku, aku terharu, saking bahagianya.


Aku kembali ke kamar dengan berbinar-binar, inginku membangunkan mas Galih, memberi tahu kabar gembira ini, tapi rasa-rasanya itu tak perlu, toh mas Galih juga g begitu peduli dengan semua ini. Aku kembali naik ke ranjang, masuk ke dalam selimut dan ikut terlelap bersama suamiku tercinta, dengan harapan esok hari akan jauh lebih baik dari hari ini.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


7 hari sudah kini aku berada di rumah mertua. Aku sudah terbiasa sebenarnya disini, karena dulu sewaktu masih pacaran aku pernah beberapa kali datang berkunjung kesini. Tentunya tanpa sepengetahuan orangtuaku. Tapi jangan ditiru ya, tidak baik. Hehehee. Jadi kurang lebih aku sudah hafal dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di rumah ini. Tak perlu adaptasi terlalu lama lah.


Aku sedang duduk-duduk santai di teras depan, sambil melihat lalu lalang kendaraan yang hilir mudik tak ada henti. Tiba-tiba bapak menepuk pundakku dari belakang, mengagetkanku.


"Ran, apa kabarnya?". Suara bapak menyapaku.


"Eh bapak, Alhamdulillah baik pak. Semalem pas kami datang bapak g ada di rumah, kata ibu si ke sawah ronda belalang hehe. Bapak apa kabar juga?". Sambutku pada bapak.


"Alhamdullah sehat juga Ran. Iya semalem bapak ke sawah, belalangnya itu lho buanyak banget, semalem bapak sama le Pardi nyuluh sampe dapet 4 botol aq*a yang gede itu".


"Trus dibuang kemana belalangnya pak?". Tanyaku penasaran.


"Ya di bawa pulang sama lek Pardi, mau digoreng, enak banget itu rasanya Ran, udah pernah makan belum belalang goreng?". Tanya bapak.

__ADS_1


"Hah? Digoreng pak? Belalang digoreng? Kaya apa rasanya?" Aku terkejut mendengar pernyataan bapak. Aku mulai membayangkan bentuk belalang yang seperti itu, lalu dimasukkan ke wajan berisi minyak panas, digoreng kering. Seketika perutku meronta-ronta, aku merasakan mual yang sangat hebat. Tapi aku tak enak ada bapak yang ada di sampingku, sedangkan perut terus saja meronta.


"Iya Ran, protein tinggi itu. Kriuk kriuk gurih. Tapi kalau yang g tahan bisa alergi nanti". Kata bapak menjelaskan.


Kali ini aku sudah g bisa nahan perut yang sedang tak bersahabat ini. Akhirnya aku meminta izin bapak untuk ke belakang sebentar.


"Pak, Rania mau ke belakang sebentar ya, itu tadi mas Galih nyuruh buat gorengin ubi, Rania lupa hehe". Alasanku kepada bapak.


"Iya Ran, sana di gorengin dulu nanti keburu mutung anaknya". Bapak terkekeh.


Sepertinya bapak sudah sangat hafal tabiat anak satu-satunya itu. Ya iyalah wong anaknya sendiri. Aku segera pergi, berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Rasanya sudah tidak bisa lagi menahan segala isi perut yang meronta ingin segera keluar.


Hoekk hoekkk hoekkk, tak hentinya aku muntah, semua makanan yang tadi pagi aku makan keluar semua. Keringat bercucuran, terasa lemes badan ini. Ternyata mas Galih yang sedari tadi ada di ruang tengah nonton tv mendengar suara muntahannku dari kamar mandi ini. Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Langkah kaki mas Galih yang segera menghampiriku.


"Ran, Ran, Rania kenapa? Kamu kenapa Ran? Kok kaya muntah-muntah gitu. Kamu masuk angin atau kenapa? Buka pintunya Ran".


Suara mas Galih yang sepertinya dia khawatir aku kenapa-kenapa. Suamiku ada pedulinya juga denganku, batinku. Aku segera membuka gagang pintu kamar mandi, terlihat wajah mas Galih yang menunjukkan rasa khawatir. Benar juga ternyata dia memang khawatir, jelek banget mukamu mas kalau kaya gini, batinku lagi.


"Gak papa mas, aku hanya muntah saja, g ada yang perlu di khawatirkan". Jawabku lemas.


Aku segera keluar dari kamar mandi, mas Galih dengan sigap memapahku sampai ke kamar. Perhatiannya mas Galih, aku jadi meleleh dibuatnya. Andai setiap hari kamu seperti ini mas. Sampai di kamar mas Galih mendudukkanku di ujung ranjang.


"Sudah kamu istirahat aja di kamar, sampai badan enakan ya". Pinta mas Galih.


"Halah mas g usah lebay gitu lah, kaya apa aja. Aku masih kuat kalau cuma buat masak atau nyuci mah". Sahutku


"Sudah g usah ngeyel Ran. Kamu mau apa? Mau mas ambilin teh hangat? Supaya lebih enakan perutnya?"


"G usah mas, aku tuh gak papa, ini cuma karena aku mendengar bapak tadi cerita belalang yang semalem diburunya". Aku menjelaskan pada mas Galih.


"Belalang? Memangnya kenapa belalangnya?". Mas Galih bertanya penasaran.

__ADS_1


"Kata bapak belalangnya di goreng trus di makan mas, kan geli". Aku bergidik.


Mendengar kata belalang perut ini meronta lagi. Hoekk hoekkk, segera aku berjalan cepat menuju kamar mandi. Kali ini mas Galih tak se khawatir tadi, dia membiarkanku pergi.


"Walah Ran, Ran. Cuma gara-gara belalang to jadi kaya gitu, dasar wanita itu ada-ada saja. Asal kamu tahu, itu makanan terenak setelah jengkol Ran".


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jujur aku bosan, kerjaanku hanya seputaran, dapur, bantu-bantu ibu masak, mencuci baju, ngepel, nyapu, setiap hari seperti itu. Tak ada kegiatan lainnya. Begitu juga dengan mas Galih, bukannya tetap berusaha mencari kerja, tapi ini malah semakin parah saja kelakuannya. Keenakan tinggal bersama orangtuanya. Makan, tidur sudah ada yang menanggung, tak perlu memikirkannya terlalu keras.


Sejak awal kehamilanku sampai detik ini belum juga aku memeriksakannya ke dokter. Selalu ada saja alasan mas Galih setiap aku ajak dia pergi ke dokter. Yang g ada uang lah, yang g perlu dulu lah, yang sibuk bantu bapak jemur padi lah. Ada saja kilahnya. Sampai aku kesal dibuatnya. Tapi kali ini aku sudah tidak bisa menahan untuk tidak pergi ke dokter. Aku mencoba sekali lagi mengajak mas Galih pergi mengantarkanku, siapa tahu kali ini dia lagi bolong udelnya, jadi bersedia mengantarkanku pergi ke dokter kandungan.


Aku menghampirinya yang sedang duduk santai di teras belakang, dengan gaya khasnya yang sedang menghisap rokok ditemani segelas kopi hitam disampingnya. Enak sekali hidupnya ya, yang penting bisa kebal kebul rokokan, tanpa mikirin tanggung jawabnya sebagai seorang suami sepatutnya.


"Galih Galih, apa si yang ada di dalam otakmu itu, punya pikiran g sih? Sampai detik ini boro-boro mikir kerjaan, niat mencarinya aja aku yakin g ada". Gumamku lirih, sambil berjalan menghampirinya lalu duduk di kursi kayu jati di sampingnya. Tanpa basa-basi lagi aku mengutarakan niatanku.


"Mas, nanti sore kita periksa ke dokter ya. Kemarin waktu aku ke pasar, aku melihat ada dokter kandungan yang buka praktik di Jl. Merdeka itu, sebelum pasar itu mas, ya mas?".


"Berapa kali aku harus bilang, g usah buru-buru. Lagian itu masih muda kan Ran. Belum terlalu butuh penanganan extra juga. Kamu pikir g pake duit juga po ke dokter itu, darimana mas ada duitnya". Tolak mas Galih.


"Ya sudah kalau g mau mas, atau ke bidan saja mas, kan g sampai 50.000 biayanya kalau ke bidan, lebih murah mas. Hemmm kalau g ya besok pagi saja kita ke puskesmas, itu malah gratis mas, gimana? Mau ya mas? Please". Aku masih mengiba, mencoba membujuknya.


"Ran.... ". Mas Galih menatapku, sorot matanya yang begitu tajam, seolah kembali menegaskan, bahwa dia menolak permintaanku.


"Ya udah mas kalau g mau". Aku membalas lirih. Kecewa sekali aku mas atas sikapmu ini. Sama sekali kau tak peduli dengan anakmu. Darah dagingmu.


Aku hanya diam kali ini aku tak banyak menuntut, memang dari awal mas Galih g mau ke dokter. Sampai pantai Pangandaran pindah ke Jogjapun juga dia tetap bakalan kekeh g merubah apa yang sudah diputuskannya di awal. Begitulah suamiku. Baiklah mas kalau itu maumu, aku bisa apa.


Next πŸ”œ


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca karya Humaira ya readers tercinta. Terus support karya ini dan karya lainnya juga. πŸ™πŸ™


__ADS_2