
Selamat membaca ceritaku kembali readers yang baik hati. Semoga kalian suka dan tetap setia membaca karya ini
ππππ
Pagi ini setelah selesai sarapan kami rencananya akan segera pergi ke Malang. Dengan ragu-ragu akupun masih berusaha mencegah keberangkatan ini.
"Mas... Apa kita cancel aja pulang ke Malangnya ya?".
"Apa Ran? Cancel? Kita udah capek-capek packing semaleman sekarang mau di cancel?". Jawabnya sedikit terkejut dicampur kesal.
"Aku ragu mas... Aku...". Suaraku sedikit melemah.
Mas Galih menghentikan kunyahannya. Matanya langsung tertuju kepadaku. Sorot mata yang sedikit mengisyaratkan kekesalan. Segera dia menyerobot pembicaraan sebelum aku selesai bicara.
"Ran... Kamu lihat uang kita? Tinggal 500.000, itu g akan cukup untuk makan 1 bulan ke depan. Belum lagi biaya kontrakan, belum buat aku beli bensin, rokok dan lain-lain. Ini kita aja udah makan versi ngirit lho Ran. Kamu pikir aku tega melihat kamu setiap hari makan mie instant sama soto? G ada asupan gizinya".
Suara mas Galih sedikit meninggi. Akupun segera menyadari dan lagi-lagi aku memilih untuk tidak berdebat. Padahal kan bisa saja sementara kami tinggal di rumah bapak ibuku. Mereka tentu akan menerimanya dengan senang hati. Toh dari awal juga sebenarnya orangtuaku menahan kepergian kami untuk misah rumah. Mereka lebih senang kalau anak-anaknya ngumpul. Kalau saja suamiku ini tidak mengedepankan egoisnya, lebih-lebih gengsinya itu, pasti g akan serumit ini. Makan itu gengsimu mas.
Kalau g tega melihatku hanya makan mie instant sama soto tiap hari, ya berpikir lah gimana caranya dapet kerja. Gimana caranya menafkahi istri. G cuma monta minta jatah aja masalah ranjang. Bukannya enak-enak terus di kontrakan sambil kebal kebul rokokan. Oiya itu duit udah nipis tapi masih saja sempat mikir buat beli rokok, dimana pikiranmu mas mas.
Kemarin ada panggilan dari pabrik penjualan mesin foto coppy, tapi g mau berangkat. Dengan alasan jadi marketing itu susah, pasti ada target perbulan yang harus mencapai sekian-sekian. Belum lagi ini belum juga itu. Banyak banget alasannya.
Ya iya lah bambang, namanya kerja ya g ada yang gampang. Bilang aja kamunya aja yang males kerja sama orang. Maunya jadi bos. Trus kalau g ada modal, g ada usaha, jadi g mau kerja? Kaya gitu aja sampai lebaran kuda. Istri sama anaknya dibiarin kelaperan. Turunkan gengsimu mas, aku dan anakmu ini butuh nafkah lahir darimu. Aku sebenarnya capek tiap hari harus berdebat masalah pekerjaan. Lagi-lagi aku harus ngalah karena aku malas ribut. Tolonglah, gantilah mengerti kami. Kekesalan yang aku luapkan cuma di dalam hati.
Aku g habis pikir sama pola pikir suamiku ini. Entah dimana jalan pikirannya itu. Sebenarnya aku cukup tahu karakter dia. Dia ini lulusan S1. Jadi g akan menerima pekerjaan yang notabennya bisa dikerjakan oleh lulusan di bawahnya. Paling g ya sejajar lah sama tingkat pendidikannya. Karena dia sering sekali gedumel g jelas. Masak aku yang lulusan S1 kudu sama kerjaannya sama yang lulusan SMA. Kurang lebih seperti itulah yang akan dia ucapkan sekalinya ada panggilan kerja. Dan dia memilih untuk tidak berangkat. Tapi sekarang keadaannya kan sudah beda, ada anak orang yang harus dia kasih makan. Ingat bambang, kasih makan! Lagi-lagi cuma luapan emosi yang tersimpan dalam hati. Mana berani aku mengumoat di depannya langsung.
Aku g berani mengucap sepatah katapun, takut dia tambah emosi, nanti dibanting pula HP di sebelahnya. Bisa kacau semuanya. Entah harus sampai kapan aku bisa menahan semua ini. Pernikahan yang aku impi-impikan ternyata jauh dari kenyataan bahagia. Ini baru usia 3 bulan. Apa aku sanggup bertahan di bulan-bulan berikutnya kalau keadaannya seperti ini terus. Atau sebenarnya aku saja yang tidak pandai mensyukurinya? Apakah aku keterlaluan menuntut semua itu dari suamiku? Entahlah.... Hayati lelah bang.
"Ya udah lah mas, berangkat saja, g apa-apa". Aku mencoba berbicara lagi.
__ADS_1
"Ya emang harus berangkat kan Ran, mau g mau. Sudah lah kamu tuh jangan ngeyel lagi. G akan apa-apa kok, percayalah. Calon anak kita pasti kuat, dia juga pasti ngerti dengan keadaan kita sekarang yang lagi kaya gini".
"Iya mas ya, sudah lanjutin makannya ya, abis ini langsung kita berangkat".
Gustiiiiii, terbuat dari apa hati suamiku ini. Ingin sekali aku membelah isi dada dan kepalanya, melihat isinya. Ada apa disana. Apakah bentuk hati dan otaknya sama seperti punya orang lain ataukah berbeda. Huufffff.... Ingin nangis, ingin teriak tapi jelas g bisa lah. Nanti heboh tetangga kontrakan kami. Disangkanya aku di aniaya lagi sama suamiku. Gini-gini aku masih punya pikiran untuk menjaga harkat dan martabat suamiku.
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Kurang lebih pukul 06.00, setelah selesai sarapan, aku dan mas Galih memutuskan langsung berangkat ke Malang dengan naik sepeda motor. Hatiku gusar tak bisa tenang. Yang ada dipikiran hanyalah nasib si jabang bayi di dalam perut ini. Mas Galih terus meyakinkanku, semua akan baik-baik saja. Tapi aku tetap masih ragu dengan keputusan ini. Tega sekali nak ayahmu seperti ini pada kita. Sama sekali g punya hati. Aku kesal, tapi hanya aku pendam. Akan seperti apa nasibmu nanti nak. Apakah kau masih akan tetap bersama mama ataukah.... Aku tak bisa membayangkannya.
Mas Galih sudah siap berada di atas motornya. Akupun segera menyusul. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim aku melangkahkan kaki naik membonceng sepeda motor. Dengan tetap memegangi perut seraya berkata. Nak kamu kuat. Mama percaya itu. Tetaplah kuat bersama mama ya sayang. Kita akan melewatinya bersama. Perjalanan ini tidak akan lama. Mas Galih segera memacu kuda besinya.
Sepeda motorpun meluncur, melaju pelan tapi pasti. Mas Galih sangat hati-hati membawa sepeda motornya. Sering ia bertanya kepadaku, udah capek belum Ran? Mau istirahat g? Nampaknya diapun sebenarnya khawatir juga. Tapi kalau khawatir kenapa dia memaksakan pergi dengan sepeda motor. Itu yang aku tak mengerti. Sungguh sangat egois kamu mas. Gara-gara duit 300.000 kamu korbanin ini semua, mengambil resiko yang jauh lebih fatal. Kalau sampai terjadi apa-apa, sungguh aku tak akan memaafkanmu. Tapi itulah suamiku, bukan Galih namanya kalau di nasihatin akan menerimanya begitu saja. Sebegitu kerasnya apa yang sudah menjadi keputusannya.
Setiap kurang lebih 1 jam perjalanan, kami menyempatkan berhenti. Istirahat sejenak agar aku tidak terlalu capek. Tapi tetap saja aku tidak tenang selama perjalanan ini. Tak ketinggal bibir ini selalu komat kamit melafadzkan ayat-ayat sebisanya. Berdzikir tak henti-hentinya. Kuatkan kami ya Alloh.
πΌπΌπΌπΌπΌπΌ
"Alhamdulillah Galih Rania, akhirnya kalian pulang juga kesini nak. Ibu sudah kangen sama kalian". Sambut ibu yang sudah berada di teras.
Mas Galih langsung turun dan menyalami ibu, memeluknya erat tanda rindu yang mendalam pada sang pemilik surganya. Aku pun menyusulnya, ikut menyalami dengan ibu mertuaku.
"Ibu apa kabarnya? Sehat kan bu? Mana bapak kok g kelihatan?" tanyaku basa basi.
"Lah biasa Ran, bapak kalau jam segini lembur di sawah. Lagi banyak belalang musim ini, jadi ya bapakmu ronda nangkepin belalang sama lek Pardi. Padahal sudah ibu ingatkan, jangan terlalu ngoyo, sudah tua. Nanti kalau asam uratnya kambuh baru tahu rasa".
Begitulah ibu, kalau sudah mulai bicara, tak ada hentinya, di tanya 1 hal beliau bisa menjawab sampai kemana-mana.
"Namanya juga orangtua bu, pasti susah di bilanginnya". Tambah mas Galih.
__ADS_1
"Coba kamu lih yang nasehatin bapak, siapa tahu mau mendengar. Ibu capek tiap hari ngomong tapi ndak di dengar, yang ada malah padu nanti ujungnya, ngeyel tenan bapakmu itu, sampe gemes ibu ini, kalau anak kecil itu sudah ibu toyorin kepalane".
Sepertinya ibu mulai kesal. Nyerocos tak henti-henti. Aku hanya senyum-senyum saja.
"Iya bu, In sya Alloh nanti Galih yang ngomong sama bapak". Padahal ibu tahu hubunganku sama bapak kan g seharmonis dulu.
"Ya sudah ayo masuk nak, istirahat dulu, pasti kalian capek banget. Ibu tadi juga udah masak semur jengkol kesukaan kamu lho lih, sama goreng asin peda. Sehabis mandi langsung kita makan bareng-bareng ya".
"Mantapp bu itu lauknya. Galih sama Rania ke kamar dulu ya, bebersih sebentar".
"Iya sana nak, nanti segera susul ibu di ruang tengah ya". Ibu berlalu ke arah dapur.
Kami segera menuju kamar, mandi dan segera menuju ruang tengah untuk makan. Kami memang belum memberitahukan kabar kehamilanku kepada siapapun, termasuk keluarga. Kami pikir tidak mau gegabah, karna masih sangat muda. Nanti saja kalau sudah benar-benar di priksa sama dokter.
Dengan semangatnya mas Galih langsung membuka tudung saji di atas meja makan. Karena tadi mendengar kalau ibu masak semur jengkol dan asin peda, makanan favoritnya.
"Wahhh mantap nih bu, Galih jadi tambah laper".
"Iya lih, tadinya si cuma masak buat bapak aja, eh g taunya kamu pulang. Ya udah to kebeneran".
Segera ia mengambil piring dan menciduk sebukit nasi ditambahnkan lauk pauk yang ibu masak tadu, dan langsung melahab dengan pongahnya. Aku tak pernah mendapati mas Galih makan selahab ini, batinku. Menu semur jengkol dan potongan asin peda 4 biji, lebih tepatnya itu ikan 2 biji yang di potong jadi 4 bagian. Pas lah untuk 4 orang. Hemmm, aku mulai menarik nafas.
Setelah usai makan malam kami berbincang sebentar dengan ibu, karena bapak belum pulang juga, bercerita sedikit tentang kehidupan kami setelah menikah. Menurutku si tidak ada yang menarik, jujur aku sudah tak nyaman berlama-lama diaitu, tapi aku tak enak kalau mau mendahului meninggalkan tempat ini. Karna jujur masih kepikiran dengan si jabang bayi ini. Aku belum sempat menjenguknya, alias mengetes ulang, apakah kamu masih nyenyak tidur di dalam sana nak?
Akhirnya ibu pergi meninggalkan ruang tamu, dan tentu aku dan mas Galih bisa pergi ke kamar dan istirahat dengan tenang. Rasanya badan ini seperti mau lepas satu per satu. Bahasa jawanya itu mritili. Segera aku menuju ranjang, merebahkan badan yang sedari tadi sudah meronta-ronta ingin rebahan. Dan mulai malam ini bahkan malam-malam berikutnya kami akan menetap di Malang.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Readers yang budiman, yuk support terus karya ini ya. Tentu karya yang lain juga. Sempatkan membaca ya dilanjutkan like dan commentnya juga. Trimakasih.
__ADS_1
πππππ