
Selamat membaca kembali, semoga masih setia sama cerita disini ya gaes. Happy reading 😘
🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲
Setelah berbelanja cukup lama di warung sayur bu Yanti, akupun memutuskan pulang. Aku sengaja hanya berjalan kaki karena jarak rumah ke warung hanya beberapa menit saja. Kata bu bidan aku harus sering-sering jalan kaki supaya nanti persalinanku bisa lancar dan normal.
Baru aku melangkah keluar beberapa meter dari warung bu Yanti. Aku berpapasan dengan bu Esih.
"Eh mbak Rania, sudah mau pulang ya, kok buru-buru." suara bu Esih mengagetkanku.
"Iya bu, udah dari tadi disini. Nih udah dapet belanjaannya trus mau pulang. Baru dateng bu?" tanyaku basa-basi.
"Tumben itu belanjaannya banyak ya hehehe." sindir bu Esih.
"Buat stok sama besok juga bu, daripada bolak balik belanja kan." jawabku jujur.
"Owh gitu mbak Rania. Eh itu pasti uang dari mertua ya mbak? Jeng Atun suka cerita katanya mbak Rania nih pelit gak pernah keluar uang buat beli sayur, bahkan buat bayar listrikpun ibunya kan yang bayar sama kebutuhan yang lainnya juga, padahal kan dikasih uang sama suaminya. Kasihan lah mbak mertuanya udah tua malah ditambahi beban kaya gitu." cibir bu Esih panjang lebar.
"Hem masak sih bu mertua saya bicara kaya gitu ke ibu?" tanyaku menelisik.
"Ya masak saya bohong to mbak, untuk apa. Bahkan gak cuma sama saya ngomongnya, tapi sama ibu-ibu arisan lainnya, jadi ya sudah jadi rahasia umum itu semua mbak hehehe." ejek bu Esih.
Aku mengernyitkan kening mendengar pernyataan bu Esih barusan. Masak iya mertuaku berbicara seperti itu? Gak gak pasti bu Esih yang mengada-ada. Dia pasti sengaja pengen bikin aku berantem sama ibu. Dasar provokator. Aku sengaja tak mau menanggapi terlalu serius ucapan bu Esih, yang ada nanti darah tinggiku malah naik. Lebih baik aku segera tingvalkan aja ini nini-nini rempong.
"Maaf bu saya permisi ya, udah siang ini, mari bu." pamitku pada bu Esih.
"Oiya silahkan, hati-hati mbak Rania." balas bu Esih.
Aku melanjutkan langkahku karena aku tak mau juga berlama-lama disini. Tapi baru beberapa langkah ke depan bu Esih memanggilku kembali.
"Eh mbak Ran tunggu sebentar."
"Iya bu ada apa lagi?" aku menoleh ke belakang.
"Eh nanti bilangin ya sama ibu mertuanya, saya sudah beli kalung baru lho ini, 15 gram plus liontinnya 5 gram. Nih lihat bagus kan. Ini keluaran terbaru juga ditambah 24karat hehehe" ucap bu Esih sambil menunjukkan kalung yang melingkar di lehernya.
"Oh iya bu pasti nanti saya sampaikan ya, permisi." pamitku lagi.
Aku segera mempercepat langkahku supaya tak dipanggil lagi sama bu Esih. Ini orang mulutnya tajem amat ya. Amit-amit jabang bayi.
++++++++++
Sesampainya aku di pelataran rumah ternyata sudah ada ibu berdiri di teras depan menyambutku.
"Mana titipan ibu?" tangan ibu menengadah.
"Owh ini bu, tadi kata bu Yanti harganya naik 1000, harganya jadi 26.000 sekilonya." aku mengambil buah jeruk yang masih berada di dalam tas belanjaan.
"Naik? Halah itu paling akal-akalan si Yanti aja mau dapet untung lebih banyak. Padahal 2 hari yang lalu juga sudah naik." ucap ibu sewot.
"Ya mana Rania tahu bu, tanya aja sendiri aja nanti sama bu Yanti." jawabku sekenanya.
__ADS_1
Aku beranjak dan berjalan meninggalkan ibu. Dasar jadi orang kok perhitungan banget sih, duit 1000 perak aja heboh. Masih mending kan tinggal beli lalu makan, daripada nanem sendiri kudu nungguin lama. Upatku dalam hati. Baru beberapa langkah aku menginjakkan kaki masuk ruang tamu, ibu memanggilku kembali.
"Eh eh eh, mana kembaliannya? Tadi kan ibu kasih uangnya 30.000, masih ada sisanya 4.000 kan. Sini kembalikan sama ibu."
"Oh iya maaf bu, Rania lupa." aku meletakkan tas belanjaan di lantai dan merogoh dompet yang ada di sakuku.
"Lupa lupa apaan, mau di korupsi ya? Enak aja." ucap ibu sewot.
"Astaghfirullah bu, ngapain Rania korupsi duit 4.000 perak, gak ada untungnya." balasku tak kalah sewot.
Aku menyerahkan 2 lembar uang 2.000an ke ibu. Dengan kilat ibu langsung menyautnya.
"Sini. 4000 kalau dikumpulin juga dapetnya banyak, bisa buat beli emas Ran. Uang 1 juta kalau gak ada yang 4 ribu juga gak jadi 1 juta to namanya." sahut ibu.
Aku hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan ibu barusan. Yang ada dipikirannya hanyalah emas emas emas, duit duit duit. Gak kepikiran apa punya duit banyak trus di sodakohin ke orang-orang yang kurang mampu, akan jauh lebih berguna daripada mengoleksi emas gak jelas kaya gitu. Toh nanti kan juga bakalan di hisab sama malaikat, diminta pertanggung jawabannya. Aku mah takut.
Aku meninggalkan ibu yang masih berdiri di teras rumah menuju dapur untuk membersihkan sayuran yang barusan aku beli lalu memasukkannya ke dalam kulkas. Melihat sayuran hijau berdiam diri di dalam kulkas rasanya kok damai banget ya, hijau dan segar. Dengan melihatnya saja bisa membuat pikiran jadi fresh. Memgurangi sedikit rasa jengkel yang bertumpuk gara-gara adu mulut sama ibu.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, kegiatanku adalah menyelesaikan semua pekerjaan dapur, kamar mandi dan lantai sebelum waktu dhuhur, karena setelah dhuhur tentu sudah beda lagi yang harus aku kerjakan. Sebenarnya aku sudah terbiasa, tapi karena saat ini aku sedang hamil dan perut semakin membesar jadi pekerjaanku sedikit lelet dari biasanya. Tak jarang ibu mertuaku mengomel karena disangkanya aku hanya bermalas-malasan di rumah. Padahal dia tahu aku sedang hamil gini, tapi ternyata itu bukanlah alasan. Nanti yangvada aku hanya mencari-cari alasan saja. Ohh ibu aku tak tahu lagi jalan pikiranmu itu seperti apa.
Aku melanjutkan pekerjaanku untuk menyapu lantai di dapur, disitu aku melihat ibu sudah masuk ke dalam danbnampak bolak balik keluar masuk kamarnya, seperti sedang mencari sesuatu. Membuka laci-laci lemari dan mengorak-arik sesuatu disana. Lalu ke kamar mandi membongkar tumpukan pakaian kotornya, memeriksa semua saku yang ada di pakaiannya. Tapi sepertinya ibu tak menemukan apa-apa. Aku mendekati ibu, memberanikan diri bertanya.
"Maaf bu, ibu nyari apa?" tanyaku hati-hati.
"Nyari duit! Duit ibu hilang. Di curi tuyul kali ya." jawab ibu dengan muka kecut.
"Masak ada tuyul bu? Lupa naroh mungkin bu." sahutku.
Eh itu bilang tuyul kok sambil melihatku sih, dipikirnya aku apa tuyulnya. Dasar nininini. Kalau bukan mertuaku sudah aku katain sejak tadi itu orang.
"Coba di cari lagi bu, siapa tabu nyelip, jangan asal nuduh si tuyul, kasihan dituduh tanpa bukti." sanggahku.
"Kemarin itu ibu selipkan di saku baju kuning ini tapi kok gak ada, aneh kan?" ibu melihatku sinis.
Sebenarnya aku sedikit paham arti dari pandangan ibu, seperti menuduhku secara tidak langsung. Pakai acara alasan di curi tuyul segala. Dipikirnya aku bakalan gentar dengan tatapan matanya? Sama sekali tidak bu, karena aku tidak mengambilnya. Aku di didik dengan baik oleh kedua orangtuaku, aku bisa membedakan hal baik dan buruk.
"Lumayan itu uang 500 ribu bisa buat beli emas lagi." ucap ibu masih sinis menatapku.
"Sabar bu, coba di cari lagi ya. Rania bantuin." aku masih mencoba berbicara dengan tenang, tak mau terpancing emosi.
"Ada apa to bu kok ribut-ribut kedengaran dari luar itu lho." sahut bapak yang berjalan menuju tempat keributan kami.
"Iki lho pak duitku ilang, ada yang nyuri." pekik ibu.
"Nyuri? Sejak kapan ada pencuri berani masuk sini bu? Ada-ada saja kamu ini." sahut bapak heran.
"Ya mana ibu tahu, yang jelas sekarang uang ibu gak ada, hilang!" jawab ibu kesal.
"Ya sudah dicari dulu yang teliti siapa tahu jatuh apa lupa naroh gitu bu." ucap bapak mencoba menenangkan ibu.
"Iya bu, di cari lagi dulu ya, siapa tahu ketemu." sahutku ikut menimpali ucapan bapak.
__ADS_1
"Halah gak usah basa basi gitu Ran." sentak ibu.
"Maksud ibu apa?" aku kaget mendengar ucapan ibu.
"Jangan-jangan kamu yang ambil uang ibu. Hayo ngaku kamu Ran. Iya kan?" tuduh ibu kepadaku.
"Ya Alloh ibu, kok bisa ibu bilang seperti itu." aku kaget bukan kepalang, bisa-bisanya ibu mertuaku berpikiran jelek kepadaku.
"Ya mana ada maling mau ngaku, nanti penjara penuh." sewot ibu.
"Demi Alloh Rania gak tahu bu." aku sedikit meninggikan suaraku.
"Gak usah bawa-bawa Alloh, gak takut azab kamu Ran?" pekik ibu dengan suara keras.
"Bu, ibu jangan asal nuduh gitu donk, itu namanya fitnah." kilahku membela diri.
"Trus siapa lagi yang ambil? Baru kali ini lho ibu kehilangan uang, dulu-dulu ibu gak pernah. Dan ini terjadi saat kami tinggal disini. Trus siapa lagi?" tuduh ibu lagi kepadaku.
"Ya sudah kalau ibu tak percaya, terserah ibu. Alloh yang jadi saksi bu, Rania gak ngambil sepeserpun uang ibu." tegasku pada ibu. Aku langsung berbalik badan melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda.
Bapak hanya diam melihat kami berdua beradu mulut.
"Heh sudah sudah ini kok malah pada saling nuduh gini sih. Malu teriak-teriak didengerin tetangga." sentak bapak kesal.
"Ya pie iki pak duitku lho ilang. Awas aja kalau sampai ketemu itu duit, tak bejek-bejek itu yang nyuri." ancam ibu.
"Sudah bu! Wes ndang di cari dulu sana. Rania kamu lanjutkan pekerjaanmu saja." perintah bapak.
"Iya pak." jawabku singkat.
Bapak pergi meninggalkan kami sedang geleng-geleng kepala.
"Lhoh mau kemana pak?" tanya ibu.
"Mau ke sawah nengokin padi. Daripada disini berisik." jawab bapak tetap melaju dengan langkahnya.
"Bukannya bantuin nyari malah ditinggal pergi. Pie to bapak ni." gerutu ibu kesal.
Akupun melanjutkan pekerjaanku, tak lagi mendengarkan segala ocehan ibu. Ini orang masih pagi gini udah cari gara-gara aja. Jujur aku sakit hati di tuduh seperti itu. Kalau cuma masalah diomelin gara-gara kerjaan rumah aku sih masih bisa tahan, lah kali ini udah makin ngelunjak aja, masak aku dituduh mencuri, kan ngeselin. Tapi aku masih mencoba bersabar, karena aku menghormatinya sebagai mertuaku. Aku tak mau ribut dan di dengerin tetangga sebelah, kan malu.
"Nanti Galih pulang dari kantor aku bilang ke dia. Ternyata istrinya yang cantik ini bisa juga berubah jadi pencuri." ucap ibu dengan nada keras.
"Ya silahkan saja bu, bilang aja sama mas Galih. Rania benar-benar gak tahu uang ibu." balasku tak kalah keras.
Ibupun tak kalah kesal, dia juga berbalik badan menuju kamarnya. Dibantingnya pintu kamarnya sekeras-kerasnya tanda dia murka. Tapi sorry ya bu, gak ngaruh. Aku gak takut apapun selama aku memang tak melakukannya. Mau ngadu sama mas Galih ya silahkan itu hak ibu. Mas Galih juga pasti paham, aku tak mungkin melakukan hal sehina itu.
Next 🔜
Kira-kira nanti apa yang bakalan terjadi ya gaes? Apakah Galih percaya sama Rania atau lebih percaya dengan sang ibu tercinta?
Stay terus disini ya readers 😘
__ADS_1