Mertuaku Sayang

Mertuaku Sayang
Berubah 180°


__ADS_3

"Iya bu, Rania hamil, sudah jalan 8 minggu usia kehamilannya, ibu akan punya cucu" mas Galih nampak berharap ibu akan menyambut baik kabar ini.


"Hamil?" tanya ibu tak percaya.


"Iya bu" jawab mas Galih.


"Rania, beneran kamu hamil" ibu melihat ke arahku, masih tak percaya.


"Iya bu, Rania sekarang sedang hamil" jawabku membenarkan.


"Lhoo lho lho, piye to lih, kok Rania dibiarin hamil. Kalian ini lulusan sarjana tapi kok bodone nemen. Mau dikasih makan apa nanti anak kalian? Sementara Galih kerjaan aja g punya, beli rokok aja minta uang ke ibu" ibu melirik mas Galih dengan tajam.


Mas Galih hanya terdiam mendengar perkataan ibu. Dia sadar semua yang keluar dari ucapan ibu memang benar adanya.


"Yang menentukan Rania hamil atau g itu kan Alloh bu, bukan kami" sahut mas Galih.


"Iya ibu tahu, tapi setidaknya kalian tuh dengerin ibuk kemarin-kemarin. Kan sudah dibilangin sementara mbok pasang KB dulu, biar aman" ibu semakin menjadi saja.


Aku pikir kabar kehamilanku ini akan disambut suka cita oleh keluarga ini, tapi aku salah. Ibu malah menyalahkan kami. Aku sedikit kecewa. Apa nanti kalau baoak tahhu kabar ini juga akan bersikap sama seperti ibu? Entahlah.


"Yang namanya mau punya anak itu ya dari awal harus persiapan. Duit apalagi, itu penting yo lih. Lah ini makan numpang, tidur numpang, beli rokok minta, beli bensin minta. Trus nanti kalau mau periksa tiap bulannya gimana? lahiran gimana? Kalau lahiran normal masih mending, nanti kalau lahirannya operasi? Duit dari mana? G cukup 5 juta lih buat operasi" kali ini mata ibu melirik padaku, tajam kaya pisau.


Akupun hanya diam, aku tak berani membantah ibu di depan mas Galih. Bisa berABe nanti masalahnya.


"Buuu.... Omongan itu adalah doa. Harusnya ibu doain semoga kehamilan ini baik-baik saja sampai nanti waktu melahirkan, lancar semuanya. Ini kok malah doain yang aneh-aneh" sahut mas Galih kesal.


"Bukannya doain lih, tapi kan buat jaga-jaga. Kita kan g tau nanti ke depannya akan seperti apa. Kalau misalnya anaknta nnati g mau lahiran normal gimana" ibu tak mau kalah menimpali sanggahan maa Galih.


"Galih akan cari kerja bu, kemarin ada teman yang nawarin pekerjaan, mudah-mudahan jadi rejeki Galih".


"Iya bu, doain aja supaya mas Galih lekas dapet kerja ya" aku menimpali.


"Owh bagus lah kalau mau nyari kerja, mau jadi orangtua harus mikir, kudu punya uang yang cukup, nanti keperluannya banyak. Beli baju, beli peralatan mandinya, beli ini beli itu, kalian harus pikirin itu. Kalian pikir gampang apa jadi orangtua" ibu kembali nyerocos bak burung beo yang kelaparan saja.


Duud duud duuddd 🏍️🏍️🏍️🏍️🏍️🏍️


"Ya sudah itu Ran belanjaanmu di beresin, sepet mata ibu lihat barang-barang semrawut di atas meja, dibersihin trus masukin kulkas" perintah ibu kepadaku.


"Iya bu bentar lagi Rania ke dapur" jawabku.


Dia pikir aku nih anak SD, hal kaya gitu aja pakai di perintah. Aku juga udah tahu kali bu. Dasar nini-nini rempong.


Ibu berlalu dengan gurat kekesalan di wajahnya. Aku bisa melihat itu. Aku ingin menangis menerima keadaan ini. Kenapa seakan kehadiranmu tak diterima lagi nak, kali ini oleh nenekmu sendiri.


Mas Galih paham akan perasaanku, dia mendekatiku memegang tanganku erat. Dia seolah meyakinkanku semua akan baik-baik saja.


"Yang sabar ya Ran, ibu memang seperti itu. Luarnya aja yang kelihatannya keras, tapi aslinya ibu baik kok"


"Iya mas aku tahu" jawabku singkat.


"Ya sudah sekarang kamu ke dapur beresin belanjaan ya"

__ADS_1


"Iya mas"


Aku berlalu ke dapur mencuci sayuran dan buah-buahan. Belum selesai aku beberes mas Galih menyusulku. Nampaknya dia ingin membantuku. Kok jadi perhatia gini sih suamiku, hatiku berbunga-bunga.


"Tak bantuin ya bumil, hehehe" suara mas Galih memecah keheningan.


"Tumben mau bantuin, biasanya juga mendingan molor" jawabku sedikit mengejek.


"Kan sayang istri"


"Masak?"


"Iya doooonnkk"


"Ya udah nih selesaiin ya, nanti langsung dimasukkin ke dalam kulkas aja ya mas" perintahku ke mas Galih.


"Siap bu bos" mas Galih gantian meledekku.


Sementara mas Galih menyelesaikan tugasnya, aku juga membereskan piring-piring kotor sisa sarapan dan makan siang tadi. Semenjak aku disini semua oekerjaan rumah memang dibebankan ke aku, ibu sekarang enak, tinggal leyeh-leyeh sambil nonton tv, kalu bosan di rumah ya dia akan oergi ke tetangga sebelah rumah, ghibab berjamaah. Enak sekali hidupmu bu.


Kadang aku pun merasa kesal, ibu selalu menyuruh ini itu g jelas. Belum selesai perkerjaan yang satu sudah nyuruh ngerjain yang lainnya. Dipikirnya aku ini robot apa. Aku juga punya rasa capek bu. Coba ibu sendiri yang ngerjain pasti juga bakalan sambat capek.


>>>>>>>>>>>>>>>>>>


Selepas isya' aku sengaja membuat teh hangat dan menuju ke teras depan. Melihat lalu lalang kendaraan hilir mudik tak henti-hentinya. Ini adalah malam minggu. Banyak anak-anak muda yang pastinya merayakan hari kebesaran mereka yang diperingati seminggu sekali itu. Itu akan menunjukkan kalau mereka tidak sedang menjomblo.


Seteguk demi seteguk aku menikmati teh hangat manis yang aku buat sendiri. Tadinya si mau ngajak mas Galih duduk berdua di teras depan tapi sepertinya dia belum pulang dari masjid.


Aku mencari kontak ibuku, segera aku hubungi beliau dengan penuh bersemangat.


[Assalamualaikum] ibu menjawab telponku.


[Waalaikumsalam bu] aku menjawab.


[Rania, kemana aja kamu nduk? Sehat to?] ibu langsung menjawab.


[Maaf bu, Rania sibuk jadi belum sempat ngabarin ibu bapak, hehe]


[Walah nduk, ya wes gak papa, yang penting sehat-semua. Ibu mau ngubungin kamu duluan takutnya ganggu, jadi ya bisanya cuma nunggu kamu dulubyang telpon ibu. Galih mana Ran?]


[Iya bu gak papa, sehat alhamdulillah. Ibu juga yang penting jaga kesehatan ya. Mas Galih sih tadi isyaan di masjid, ini belum pulang mungkin ada acara yang lain jadi belum sampai rumah]


[Yo syukur nduk, yang rukun sama suami ya]


[Iya bu. Oiya bu gimana mas Ardi udah bawa pulang anak orang belum?]


[Halah Ardi mah boro-boro, g tau itu ibu sampe judek mikirin itu anak. Maunya tu apa lho ya. Karir udah jelas, muka yo ganteng gitu kok belum mau nikah. Wes jan]


[Hehehe mas Ardi kan pemilih bu, nyari kriteria ceweknya kebangetan, yang harus sama pendidikannya lah, harus yang tinghi, yang putih, lah macem-macem aja kriterianya. Kalau kaya gitu ya susah bu]


Kami asyik ngobrol sampai lupa perihal tujuanku menelpon ibu adalah untuk memmberi kabar bahwa aku sedang hamil.

__ADS_1


[Oiya bu, Rania mau ngasih kabar sama ibu hehe. Bentar lagi ibu bakalan punya cucu]


[Hahh apa Ran? Yang bener kamu. Ya Alloh Alhamdulillah. Rania ibu bahagia dengar kabar ini. Kamu yang baik-baik disana ya, jaga kesehatan, jangan capek-capek]


[Iya bu, g usah kawatir berlebihan gitu. Rania kan udah gede, ada mas Galih juga yang jagain disini]


[Iya, apalagi masih hamil muda, harus bener-bener dijaga ya nduk]


[Iya bu siap. Ya udah bu udahan dulu ya besok disambung lagi. G enak sama mertua udah lama telponan sampe ketawa-ketawa gini]


[Oo ya wes nduk, yang penting dijaga baik-baik itu kandungannya ya]


[Iya bu, salam ya buat bapak. Udah ya bu, Assalamualaikum]


[Waalaikumsaalam]


Aku mematikan layar hp ku, lega rasanyabsudah mendengar suara ibu. Ibu memang menjadi tempat pertamaku dulu sebelum aku menikah. Ibu tempat keluh kesahku. Pembawaan yang lembut ibu membuat aku nyaman berada di sampingnya. Ibu terbaik pokoknya lah.


Nenek Asih seneng banget nak ada kamu di sini, di perut mama. G sabar juga pengen cepet-cepet kamu keluar. Mereka pasti akan sangat menyayangimu. Aku mengelus perutku.


Baru aku merasakan hangat teduhnya pikiran, tak lama kemudian terdengar suara yang memecah keheningan lamunanku. Siapa lagi kalau bukan suara ibu mertuaku horor itu. Hadehhh g bisa lihat orang seneng dikit aja.


"Rania..... " teriak ibu memanggilku.


"Iya bu.... aku di teras, ada apa?"


Suara langkah kaki ibu menuju ke arahku. Suara langkah kaki yang gedebak gedebuk seperti biasanya.


"Ran ini gimana si, kok baju-baju ibu belum pada di setrika sih? Besok kan mau ke kondangan, ke tempat bu haji Ani, kamu ngapain aja seharian ini" ibu mulai mengomel.


"Iya bu maaf nanti Rania setrika ya, tadi Rania capek banget jadi belum sempat di kerjain" aku membela diri. Berharap ibu mengerti dan tak melanjutkan omelannya.


"Capek ngapain, wong dari tadi ibu lihat kamu cuma masak trus nyapu. Jangan manja gitu. Jadi istri itu harus cekatan, harus serba bisa. Harus bisa atur waktu juga" lagi-lagi ibu nyerocos tiada henti.


"Iya bu maaf sekali lagi. G tau kenapa sekarang Rania jadi cepet capek bu. Apa bawaan bayi di dalam ininya bu?"


"Itu cuma akal-akalanmu saja Ran. Ibu dulu juga pernah hamil muda kaya kamu. Tapi ibu tetap bersemangat ngerjain semuanya, pekerjaan rumah bahkan dlu sebelum punya pompa air ibu angkat-angkat air dari sumur ke dapur g ada masalah. Tetep kuat g apa-apa. Itu Galih juga lahir dengan sehat sampai sekarang. Jadi jangan karena kamu lagi hamil jadi bisa malas-malasan kaya gitu" panjang lebar ibu menjelaskan.


"Iya bu, besok Rania pastikan sudah beres semua baju setrikan ibu, tinggal pakai"


"Ya sudah itu baju-bajunya ibu taruh di ruang tengah. Pokoknya besok sudah harus siap, ibu g mau tahu" sambil melengos meninggalkan teras menuju kamarnya.


"Iya bu" jawabku singkat.


Gustiiii, punya mertua kok gini amat ya. Perasaan dulu ibu tak begini. Dulu ibu baik banget denganku. Dia memperlakukanku seperti ratu di rumah ini, tapi kenapa sekarang berubah drastis 180° gini ya. Apa salahku Gusti? Aku menarik nafas panjang.


Next 🔜


🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇


Kira-kira mertuanya di apain ya biar g gitu-gitu amat sama menantu. Siapa disini yang punya mertua kaya gitu 😂😂😂 . Bersyukurlah punya mertua yang baik g semena-mena terhadap menantu.

__ADS_1


__ADS_2