Mertuaku Sayang

Mertuaku Sayang
Pakdhe Ardi


__ADS_3

Kekecewaanku terhadap sikap mas Galih membuatku semalaman mendiamkannya. Aku tidur memunggunginya. Tapi sepertinya dia tidak lah terlalu ambil pusing atas sikapku ini. Toh dia juga cuek-cuek saja, tak berusaha bertanya kenapa sikapku berubah ketus terhadapnya. Aku bertekad tetap akan memeriksakan kondisi kehamilanku ini, apapun rintangannya. Mama ingin kamu tetap baik-baik saja nak. Malam ini kami habiskan dengan diam dan tidur saling memunggungi.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Pagi ini, semua urusan rumah telah aku bereskan. Selesai sarapan seperti biasa bapak segera menuju kantornya di sawah, ibu pergi arisan, sedangkan mas Galih sepertinya kembali ke kamarnya lagi. Tidur lagi tidur lagi. Enak sekali hidupmu mas.


Aku menuju dapur, membuka kulkas dan mencari sesuatu yang bisa menyegarkan dahaga. Hanya ada stok sayuran, air es, dan es batu. Busyett batinku, kulkas segede gini g ada bahan makanan yang lebih berkelas apa. Aku memutuskan mengambil air es. Oke lah air es pun jadi. Aku mengambil gelas di tatakan, perlahan aku tuang air ke dalam gelas. Aku menepi ke sudut dapur, duduk di lantai menyandarkan bahu.


Aku memutar otak, berusaha mencari cara bagaimana bisa aku keluar dari sini dan pergi memeriksakan calon anakku. Aku berdiri, menuju kamar dan mengambil tas selempang yang aku gantung di dekat lemari pakaian. Aku mengambil sesuatu di dalamnya. Dompet, aku membuka isi dompetku, hanya ada 1 lembar uang hijau dan 1 lembar uang coklat, ditambah ada beberapa recehan. Aku menghela nafas panjang. Mana cupuk uang segini aku bawa ke dokter, belum untuk beli bensin dan lainnya. Haisshhh. Aku terus berpikir keras.


Kreettt....


Pintu belakang terbuka, aku melongok memastikan siapa yang datang, ternyata ibu baru saja pulang dari arisan. Segera ibu menuju ke kamarnya. Tiba-tiba muncul ide brilian. Aku akan meminjam uang dulu sama ibu, masak g di kasih. Mantu satu-satunya gitu. Akhirnya aku memberanikan diri. Aku menuju ruang tengah, menunggu ibu keluar dari kamarnya. Cukup lama aku duduk di sofa ruang itu, hampir putus asa menunggu ibu keluar. Ibu pasti tidur pikirku. Hampir aku beranjak meninggalkan tempat itu, tapi namanya rejeki g akan kemana, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam, yesss pucuk di cinta ulampun tiba, ibu keluar.


"Eh Rania, sudah lama di situ? Kenapa tv nya g dinyalain, jam segini tuh ada sinetron kesukaan ibu lho?". Ibu menuju ke kursi dimana aku duduk. Mengambil remot dan menyalakan tv nya.


"Owh ibu mau nonton sinetron azab ya?" Tanyaku basa basi. Itu memang sineteon terfavoritnya ibu, hampir tiap hari selalu mantengin tuh tv cuma untuk nonton sinetron yang menurutku si kurang bermutu.


"Iya Ran, seru itu sinetronnya". Tambah ibu.


Sinetron di chanel tv ikan terbang favorit emak-emak. Ceritanya kalau g pelakor ya seputaran mertua yang jahat sama menantu. Kaya gitu aja terus di ulang-ulang, bedanya cuma diganti pemainnya saja.Dasar nini-nini, mau aja di kadalin tv. Trus sound tracknya juga dari aku SD sampai detik ini g di ganti-ganti, kalau di itung-itung lumayan itu royalti yang di dapet sama penyanyinya. Tiba-tiba aku jadi tukang itung pendapatan si artis, kurang kerjaan banget. Soalnya mau ngitung duit sendiri juga g punya kan.


Ibu nampak asyik menonton, tanpa basa basi lagi aku membuka percakapan dengan ibu.


"Buuu.... ".


"Iya Ran, kenapa?". Jawab ibu tanpa menolehku karna saking asyiknya nonton.


"Aku mau pinjam uang 50.000, ada g bu?" Pintaku dengan nada suara yang hati-hati.


Nampaknya ibu sedikit kaget. Tidak biasanya aku berani meminjam uang kepadanya.


"Buat apa?". Ibu menengok ke arahku.


"Aku mau ke Puskesmas bu, badanku dari kemarin g enak. Aku cuma ada uang 25.000, nanti buat naik angkot pp saja udah 15.000, belum administrasi di puskesmas nanti". Jawabku.


"Emang harus ke Puskesmas ya? Kan minum jamu aja bisa Ran, malah lebih sehat daripada minum obat-obatan. Itu ada kunyit diparut saja, di peras airnya trus diminum. Kalau g kuat bisa ditambah dengan gula merah. Ibu kalau badan g enak suka minum itu, dipake istirahat sebentar udah hilang, badanne seger lagi". Ibu menjabarkan dengan panjang kali lebar.


"Gitu ya bu. Jadi ibu g punya ya uangnya?". Tanyaku lagi.

__ADS_1


"G ada, Tadi udah buat arisan e Ran, udah habis". Ibu menjawabnya dengan enteng.


"Owh ya udah bu kalau g ada, maaf ya Rania merepotkan hehe". Aku sedikit bergurau.


Ibu tak menjawab. Fokus pada layar tv di depannya. Mau nolak aja pake acara panjang kali lebar, ini lah itu lah. Mana mungkin cuma uang 50.000 saja g punya, padi di gudangnya aja bertumpuk-tumpuk kaya gitu. Perhitungan banget, gerutuku dalam hati.


"Ya sudah bu kalau gitu Rania ke depan dulu ya, mau nyapu". Pamitku meninggalkan ibu yang tengah asyik menonton sinetron kesayangannya itu. Padahal tadi sudah ku sapu sekalian juga dipel, tapi ini hanya alasanku aja supaya bisa pergi dari ruangan ini.


"Iya Ran, sekalian ya itu dipel juga". Perintah ibu.


"Iya bu". Jawabku singkat.


Aku pergi ke depan meninggalkan ibu dan sinetron kesayangannya. Sambil berjalan aku terus berpikir lagi. Kemana aku bisa mendapatkan uang 50.000 untuk biaya periksa ke Puskesmas. Aku mengambil gawaiku, lalu menuliskan pesan ke seseorang, aku ragu untuk menekan tanda send, tapi apalah daya, mau tak mau.


[Mas...] Send.


[Iya dek, ada apa?] langsung di balas.


[Bisa minta tolong g?]


[Apa yang bisa mas bantu dek?]


[Mau pinjam uang mas, 50.000 aja]


[Mas Galih kan lagi nganggur mas, kami lagi dalam masa-masa sulit]


[Iya nanti mas transfer, kamu g usah khawatir, yang penting baik-baik disitu ya]


[Iya mas, makasih banyak ya. Tapi mas Ardi jangan bilang ke bapak ibu kalau aku minjem uang ke mas, nanti mereka berpikiran yang tidak-tidak, aku g mau]


[Iya dek, kamu tenang aja]


Aku sudah tak membalas pesan dari mas Ardi lagi. Tiba-tiba ada notifikasi dari MBanking.


[Trx Rek. 664511224355537 : Transfer IBNK ARDI MAULANA TO RANIA MAHESWARI Rp. 300,000.00 5/06/20 11:40:09]


Betapa kagetnya aku melihat jumlah nominal yang begitu banyak bagiku, dalam kondisi yang sekarang ini, uang 5.000 saja susah untuk aku dapatkan. Mas Ardi, tadi kan aku cuma minta 50.000 kok malah di kasih segini si, aku senang sekaligus terharu. Mas ku yang satu ini memang paling pengertian. Tiba-tiba terlihat nitifikasi pesan WA masuk.


[Buat jaga-jaga kalau kamu perlu sesuatu yang lain ya dek, maaf mas g bisa kasih lebih, tangal tua ini hehe] Pesan dari mas Ardi.

__ADS_1


[Iya mas, makasih banyak ya. Tapi ini kok banyak banget mas? Aku kan cuma minta 50.000]


[Gpp, buat jaga-jaga kalau ada keperluan tambagan lain. Nanti kalau abis mas gajian mas transfer lagi]


[Halah, g usah mas, ini tuh udah banyak banget, bisa buat jaga-jaga sebulan]


[Shiapppp]


[Iya mas, sekali lagi makasih banget ya] Aku membalasnya.


[Ashiappp]


Tanggal 6 adalah tanggal tua versi mas Ardi, karena tanggal gajiannya adalah tanggal 10. Hatiku lega, pusing di kepalaku mendadak hilang. Alhamdulillah Ya Rabb, kau memberikan pertolonganmu lewat mas Ardi.


Tanpa pikir panjang aku segera masuk ke kamar. Berganti baju, segera siap-siap menuju ke Puskesmas sebelum tutup, karena jam kerja di puskesmas hari ini hanya sampai jam 12.00. Mengambil gamis kembang-kembang warna hijau wardah, dipadukan dengan jilbab senada. Aku sedikit berlama-lama di depan kaca, melihat penampilanku sendiri, memujinyapun sendiri, daripada g ada yang memuji sama sekali. Aku menengok ke arah kananku, melihat suamiku sedang enak-enakan tidur, lagi.


Seketika aku tersadar, aku sedang diburu waktu. Segera aku meninggalkan mas Galih dan kamar. Ternyata ibu sedang di depan teras entah lagi apa. Haduhhh nini-nini ngapain disini, pasti tanyanya belibet. Ibu melihatku yang sudah berdandan rapi, lalu menegurku seperti sedikit tak suka.


"Mau kemana Ran?". Tanya ibu agak ketus.


"Mau ke Puskesmas bu". Jawabku singkat.


"Jadi periksanya, katanya tadi g punya uang, mau pinjem ibu, lah itu berangkat juga". Ibu nyerocos mengintrogasi.


"Iya bu, Rania g biasa minum jamu-jamuan, jadi Rania memilih pergi ke Puskesmas aja". Jawabku.


"Dapet duit darimana?" Tanyanya lagi.


"Tadi Rania ingat-ingat ternyata masih punya simpanan bu". Jawabku sekenanya. Kepo banget nih orang.


"Halah Ran, manja bener to, kaya gitu aja ke Puskesmas. Wong minum jamu aja nanti sembuh sendiri kok, buang-buang duit saja. Kalau g suka jamu kan bisa disiasati cara minumnya, di campur gula merah itu, enak kok". Geremeng ibu.


"Sudah kepalang dandan bu, tanggung. Ya sudah bu, Rania berangkat ya". Aku menyalami ibu dan segera berlalu pergi. Tak menghiraukan ibu. Bodo amat, duit duitku sendiri. Dasar nini-nini pengiritan. Sebenarnya si hampir sama antara irit dan medit itu, beda tipis.


Aku segera keluar, jalan ke pertigaan di depan menunggu angkot. Tak lama beselang terlihat angkot biru nomer 9 berhenti tepat di hadapanku. Tak buang waktu, aku segera masuk dan duduk di kursi depan sang kemudi. Kebetulan sekali angkotnya belum banyak penumoangnya. Ingin rasanya segera sampai di Puskesmas.


Keluarga aneh, punya banyak harta tapu kok sepertinya mereka nih g mau ngeluarin hartanya kalau g benar-benar mendesak. Simpanan padi bertumpuk-tumpuk, belum lagi sebentar lagi musim panen. Lihat aja makan tiap hari cuma pake asin, pete, jengkol, tempe. Sampai aku bosan. Selama aku disinipun belum pernah rasanya ibu masak daging ayam. Jangankan daging ayam, anaknya ayam aja jarang. Iya... Anak ayam alias telor. Tapi harusnya aku bersyukur, masih bisa makan dan tanpa dipungut biaya di tempat ibu. Maafkan menantumu yang kurang bersyukur ini bu, tapi memang ibu juga keterlaluan si, ngiritnya gitu amat.


Aku mulai memegani perut lagi, merasa bersalah dengan si jabang bayi di dalam. Maafkan mama nak, kamu g pernah dapet asupan yang cukup bergizi. Tapi tenang aja nanti abis periksa mama bakalan beli makanan yang enak-enak buat kamu. Tadi pakdhemu udah kirim uang buat kita. Kita beli sayur, daging ayam, sama buah-buahan ya. Nanti kalau kamu sudah lahir sayangilah pakdhe seperti orangtua kandungmu sendiri ya. Pakdhe itu orangnya baik. Baik banget nak.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Konflik antara menantu dan mertua akan segera dimulai gaes. Pantengin terus ya... Thanks all πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


__ADS_2