
3 bulan sudah aku berada di rumah ini, tepatnya si menumpang hidup di rumah mertua. Walaupun tak sepenuhnya, tapi tetap saja kami ini numpang. Untungnya mas Galih juga sudah bekerja di tempat Satriya. Kini kami tak sepenuhnya mengandalkan harta orangtua mas Galih. Setidakanya untuk membeli bensin dan dan kebutuhan dapur aku mengandalkan uang gaji mas Galih. Kalau untuk beras memang kami masih menikmatinya dari hasil jerih bapak di sawah. Aku tak henti-hentinya bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan kepada keluarga kecil kami. Walaupun hubunganku dengan ibu makin hari makin tak bisa dijelaskan lagi. Ada saja kesalahan yang selalu ibu cari-cari dariku.
Jujur keadaan yang terus menerus seperti ini sungguh tak membuatku nyaman berada di rumah ini. Ibu mertua yang selalu sewot terhadapku. Bapak mertua yang lama kelamaan juga sepertinya sudah menunjukkan gejala tak suka padaku. Kami memang jarang mengobrol tapi sesekali aku menyapanya, tak jarang aku memandang ke arah matanya yang mengisyaratkan rasa tak suka.
Tak jarang pula setiap aku pergi kontrol kehamilan bulanan, bidan selalu menanyakan kenapa tensi darahku selalu tinggi, 150, 160. Di kisaran angka itu. Bagaimana tak naik, setiap hari aku selalu mendengar omelan-omelan receh sari ibu. Belum sempat nyapu atau ngepel aja suaranya sudah dumbrang dumbreng bak suara drumband. Dapur belum dibersihin sebentar saja juga pasti sudah ngomel-ngomel.
Belum aku yang merasakan kalau bapak memang tak menyukaiku, memang tak terang-terangan tapi dari gerak geriknya sudah kelihatan. Dan itu rasanya lebih sakit dibandingkan dengan segala omelan ibu. Mungkin ini yang namanya sakit tapi tak berdarah.
Kehamilanku masuk tri semester kedua ini aku memang semakin merasakan tekanan-tekanan yang membuat pikiran jadi tak tenang. Atau memang akunya sajanyang terlalu baper karena bawaan bayi? Entahlah. Setiap aku mencoba berbicara dengan mas Galih, dia nampaknya tak percaya begitu saja. Dia menganggap itu karena bawaan bayi jadinya aku mudah tersinggung.
Apa salahku? Apa karena aku disini terus-terusan menumpang. Tapi kan aku juga ikut sedikit-sedikit membantu membeli keperluan di rumah ini. Dari urusan dapur, bayar listrik, bayar sampah, sampai uang jimpitan untuk rondapun semuanya dari uang mas Galih.
Pernah aku meminta untuk misah rumah dengan ibu, tapi mas Galih menolaknya. Entah apa yang ia pertimbangkan, tak pernah di utarakan secara langsung. "Belum siap" itulah jawaban yang selalu mas Galih katakan. Padahal kalau dilihat dari finansial, gaji mas Galih akan cukup untuk hidup kami berdua saja. Dan tentunya juga tak akan memangkas uang bulanan untuk ibu yang biasanya disetorkan mas Galih setelah gajian. Lagi-lagi aku tak mengerti jalan pikirannya.
Hari ini adalah tanggal 5, tentu hari dimana mas Galih akan menerima gaji bulanannya. Aku sangat bahagia, biasanya mas Galih akan memberikan 60% uangnya kepadaku untuk aku simpan dan juga membeli keperluan yang dibutuhkan, 20% tak lupa di berikan kepada ibunya, lalu 10% dia simpan untuk jaga-jaga membeli bensinnya. Sisanya aku tabung untuk keperluan mendadak dan juga untuk jaga-jaga lahiran besok.
Sore ini aku akan memasak ikan bumbu kuning. Pasti mas Galih akan senang. Entah sudah berapa lama kami tak makan seenak ini. Aku berkutat di dapur milik ibu mertuaku. Dengan semangat dan penuh cinta tentunya aku memasak makanan untuk suamiku dan juga untuk keluarga. Ikan bumbu kuning, sambel tomat terasi, pete goreng dan tak lupa tempe goreng asin kesukaan bapak mertua. Setiap hari harus ada menu yang satu ini. Sampai-sampai aku beneran bosan melihat yang namanya tempe di rumah ini. Begitu melihat wajah bapak rasanya seperti aku melihat tempe disitu, hehehe.
"Masak apa Ran?" terdengar suara ibu mengagetkanku dari belakang.
"Owh masak ini bu ikan patin kuah kuning, mas Galih suka sama masakan ini. Sydah lama aku tak memasakannya makanan kesukaannya ini".
Ibu hanya melongok ke arah wajan, melihat ikan yang sudah matang tapi belum sempat aku masukkan ke dalam wadah.
"Mbok yo jangan boros-boros, itu sudah ada tempe masih aja masak ikan. Ikan ikan aja tempe ya tempe aja" celetuk ibu tak enak.
Aku menghentikan laju tangan yang sedang mengupas bawang merah. Mulai tak enak hatiku. Habis ini apa lagi yang akan dia komentarin. Bersabarlah wahai hati.
"Sesekali aja bu, ini juga g setiap hari kok" aku membatah perkataan ibu.
"Eh kamu ini makin pintar aja sekarang membantah ibu ya" ibu nampak sewot.
Aku hanya diam tak lagi meladeni kata-kata ibu. G akan habis 7 hari 7 malam kena semprotan kata-kata pedanya nanti.
"Galih itu sukanya sama ikan asin, jengkol atau pete" ibu kembali membuka mulutnya yang comel itu.
"Iya bu, dulu waktu di Jogja aku sering masakin itu, dan suka".
"Sudah sudah, kamu ini memang cah ngeyelan kok, dikasih tahu bantah terus. Trus itu kamu mau ngapain ngupas bawang banyak-banyak" lanjut ibu.
__ADS_1
"Mau bikin bawang goreng bu sama bikin sambel" aku jawab singkat.
"Halah pake bawang goreng segala, boros bumbu. Sekarang harga bawang merah lagi tinggi, 45.000 sekilo. Udah g usah dilanjutin, disimpen buat besok aja, buat masak yang lain".
Terpaksa aku mengembalikan bawang-bawang yang belum aku kupas ke dalam wadah lagi, lalu aku simpan kembali ke tempat bumbu. Sedangkan yang sudah terlanjur aku kupas aku gunakan untuk bikin sambel tomat terasi.
"Itu itu banyak banget buat bikin apa lagi?" ibu melihat kupasan bawang merah sebayak 5 biji yang tidak aku kembalikan ke dalam wadah.
"Kan mau buat sambel" jawabku agak sedikit ketus.
"Cuma bikin sambel kok banyak gitu. Pake 2 biji aja" ibu mengambil 3 biji bawang merah lalu ikut memasukkannya ke dalam wadah lagi.
Ya Rabb, manusia macam apa yang ada di depanku ini. Bawang merah 5 biji aja jadi masalah. Lagian kan aku membelinya dari uang mas Galih, bukan minta uang darinya.
"Kurang sedap bu kalau cuma dikit bawangnya, lagian mas Galih sukanya tuh kalau bikin sambel bawang merahnya yang banyak" aku menjelaskan ke ibu.
"Halah, sudah g usah banyak omong. Diajarin berhemat kok malah ngeyel. Pie to Ran kamu itu" ibu tambah kesal sepertinnya menghadapi menantu yang menurutnya ngeyel ini.
Akhirnya aku hanya memakai 2 biji bawang merah untuk bikin sambelnya. Entah nanti rasanya akan seperti apa. Untung bawang putih yang aku kupas cuma 1 biji dan g di potong jadi setengahnya. Dasar medit bin pelit bu ibu.
Setelah puas mengajariku cara berhemat ibu keluar dari dapur. Aku lihat dia berjalan keluar lewat pintu belakang. Mau kemana lagi sore-sore begini kalau g ngerumpi di tempat tetangga sebelah. Sudah hafal aku bu bu. Sudah tua bukannya di kurangin ghibahnya, eh malah tambah menjadi-jadi.
Pukul 17.30
Mas Galih akhirnya pulang, dengan semangat aku menyambutnya. Tapi tak ku temui wajah sumringahnya suamiku. Macam benang kusut ditarik-tarik. Ada apa gerangan?.
"Assalamualaikum" seru mas Galih.
"Waalaikumsalam mas. Baru sampai rumah kok muka udah ditekuk gitu. Kenapa mas?" tanyaku kepo.
Mas Galih hanya menggeleng. Kami berdua berjalan masuk ke dalam kamar. Mas Galih duduk di tepi ranjang sambil melepaskan kemeja yang ia kenakan bekerja seharian ini.
"Kenapa ayah ganteng mukanya kok ditekuk gitu" aku mencoba menggodanya. Berharap akan mencairkan suasana.
"Gak papa Ran, capek banget ini. Mas langsung mandi aja ya"
"Ya udah mas, sana mandi dulu biar seger. Handuknya udah aku taruh di kamar mandi ya".
Mas Galih mengangguk. Lalu dia segera menuju kamar mandi. Aku jadi merasa tak enak hati. Ada apa dengan suamiku. Biasanya sampai rumah hal pertama yang ia tanyakan adalah si jabang bayi ini, dia akan mencium perutku yang makin hari makin terlihat buncit ini. Tapi hari ini tak seperti itu.
__ADS_1
Tak biasanya dia seperti ini. Apa jangan-jangan ada masalah di kantornya. Pikiranku mulai melanglangbuana, berpikiran yang tidak-tidak. Aku khawatir jangan-jangan suamiku ini diberhentikan dari pekerjaannya karena melakukan kesalahan yang fatal. Ya Rabb. Akupun mulai gelisah. Tak sabar menunggu mas Galih menyelesaikan mandinya. Inginku segera bertanya lagi, ada apa sebenarnya.
Kreekkk.... Pintu kamar terbuka.
Mas Galih membuka pintu kamar, dia sudah selesai mandi. Nampak segar sekali mukanya. Aihh ganteng kali wajah ayahmu ini nak, hehehe. Gumamku dalam hati. Ingin ku bertanya kembali tapi segan. Takut dikiranya aku nih cerewet. Tapi aku masih kepo. Tanya gak tanya gak tanya gak.
Allohu Akbar Allhohu Akbar......
Adzan maghrib berkumandang, tandanya mas Galih segera ke masjid untuk sholat berjamaan disana. Ya sudah lah aku mengurungkan niatku. Nanti saja sepulang dari masjid atau sesudah makan malam saja aku lanjut menanyakan hal ini. Nanti aku nyari dulu suasana yang sedikit tenang.
>>>>>>>>>>>>>>>
Segera setelah pulang dari mas Galih nampak sudah kelapara. Belum juga melepas peci di kepalanya dia sudah mengajakku ke meja makan.
"Ran, makan yuk. Udah krucuk-krucuk ini" sambil memegangi perut tanda memang dia sudah lapar.
"Iya mas, bentar ya aku beresin baju-baju lipatan ini dulu, tanggung hehe".
Mas Galih masih menungguku di tengah-tengah pintu kamar. Sedangkan aku tengah membereskan lipatan-lupatan baju yang akan ku masukan ke keranjang untuk di setrika nanti.
"Oke, selesai, ayo mas aku juga sudah laper" kami berjalan menuju dapur. Aku tak melihat bapak ataupun ibu. Biasanya setelah maghrib mereka akan santai menonton tv di ruang tengah.
"Bapak ibu kemana mas? Diajak makan sekalian aja".
"Sudah makan kali, biarin aja lah yang penting kalau beluk makan ya sisain aja buat mereka".
Aku membuka tudung saji yang berada diatas meja, mataku terbelalak melihat pemandangan di depanku. Ikan patin yang tadinya ada 4 potong kini tinggal 1 potong saja. Kemanakah sisanya? Apa jangan-jangan sudah dimakan sama bapak ibu? Tapi aku dan mas Galih kan belum makan, masa iya cuma disisain 1 aja, keterlaluan.
"Lhoh Ran, kok cuma 1?" tanya mas Galihpun heran.
"G tau mas, tadi si ada 4. Udah di makan bapak sama ibu kali".
Tiba-tiba ibu membuka pintu kamarnya, dengan rasa tidak bersalahnya dia menuju tempat duduk kami.
"Itu ikannya di bagi dua aja, kan bisa. Itu ikannya besar gitu kok. Tadi ibu ambil 1 potong buat makan sama bapak, yang 2 potong tak simpan di kulkas, buat makan besok sarapan. Ada lauk banyak itu jangan di makan sekaligus, jadilah istri yang bisa mengatur keuangan, jangan boros".
Aku dan mas Galih hanya saling berpandangan. Lidah kami kelu, tak ada kata yang mampu kami ucapkan.
Next 🔜
__ADS_1
💘💘💘💘💘💘💘💘💘💘💘