
Pov Ibu
Baiklah Ran, rencana awal sudah selesai dan berjalan lancar. Sekarang aku akan melangkah ke rencana kedua, mengatakan semuanya pada Galih. Nanti ketika Galih pulang aku akan segera memberitahunya, dijamin dia bakalan marah hebat sama kamu, rasain!
Pokoknya aku harus dapatkan uang 500 ribu itu, bagaimanapun caranya. 400 ribu untuk tambahan beli gelang dan yang 100 ribu masuk kantongku, gurihnya. Tak perlu capek-capek minta sama Bapak, minta sama Galih dijamin dikasihnya.
********
Sore ini aku sudah berjaga di teras depan, menunggu anakku Galih yang belum pulang dari bekerja. Aku ingin segera memberitahukan kejadian yang tadi pagi terjadi di rumah ini. ****** kamu Rania!
Nah itu yang di tunggu sudah datang, panjang umur kamu nak, gumamku dalam hati. Galih memasukkan sepeda motornya ke dalam garasi lalu menghampiriku yang masih berdiri di teras depan. Kini saatnya aku beraksi. Rasakan pembalasanku Rania. Kali ini tak ada seorangpun yang akan membelamu, bahkan suamimu sendiri.
"Lhoh bu kok sore-sore masih di depan sini, bentar lagi udah mau maghrib, masuk aja yok!" ajak Galih.
"Le, hiks!" aku pura-pura menangis.
"Lhoh bu kenapa? Ada apa? Sini sini duduk dulu, cerita sama Galih ada apa!" bujuk Galih padaku.
Wah sepertinya actingku bagus juga ini, Galih langsung terlihat khawatir begitu melihatku memasang tangis. Bagus! Ini akan semakin memudahkanku untuk memanfaatkan situasi dengan sebaik mungkin.
"Uang Ibu, uang Ibu hilang, padahal uang itu mau dipakai untuk membeli gelang besok pagi, gimana ini. Uang 500 ribu itu banyak lho Lih." ujarku memelas.
"Lhoh 500 ribu? Kok bisa hilang sih Bu? Ibu lupa nyimpennya mungkin. Coba nanti di cari lagi ya." ujar Galih.
"Ibu sudah nyari kemana-mana tapi gak ketemu. Kayanya sih ada yang nyuri lih. Hiks hiks." jelasku.
"Hah Ibu nih bercanda, mana ada maling yang berani masuk rumah ini. Wong lihat muka Ibu yang galak gitu pasti udah langsung kabur kok hehehe." ledek Galih.
"Ibu serius lih!" bentakku kesal.
"Apa? Beneran Bu?" tanya Galih meyakinkan.
Aku mengangguk meyakinkan anakku yang terlihat polos di depan Ibunya ini.
"Ya sudah sekarang Ibu tenang dulu, jelaskan dari awal kronologinya seperti apa ya!" Galih mulai memasang wajah serius.
"Ibu ingat banget, uangnya Ibu selipkan di baju yang warna kuning itu lalu meletakkannya di ember penampungan baju kotor deket kamar mandi, Ibu lupa belum mengambilnya, pas beberapa jam Ibu baru ingat dan mau ambil sudah tidak ada, hilang semua. Pas pagi tadi kebetulan ada Rania disana, Ibu tidak menuduh suapapun tapi itulah kenyataannya lih."
"Ibu menuduh Rania?" wajah Galih tiba-tiba berubah.
"Ibu tidak menuduh lih, tapi kenyataan berbicara seperti itu!" seruku.
"Ibu jangan asal menuduh. Rania gak mungkin melakukan hal seperti itu Bu, jangan ngaco deh!" Ucap Galih dengan nada sedikit meninggi. Dia tak terima istrinya aku tuduh sebagai biang keladi atas hilangnya uang 500 ribu itu.
"Jadi kamu anggap Ibu yang memfitnah? Tega kamu lih sama Ibu." Elakku mencoba membela diri.
"Bukan begitu Bu, tapi.... "
"Sudah kalau kamu tak percaya sama Ibu, terserah kamu." Suaraku mulai meninggi, pura-pura murka.
"Bukannya begitu Bu! Rania itu anak baik-baik....."
"Sudah Galih, belain saja itu istrimu terus, perasaan Ibu tak usah kau hiraukan!" seruku.
"Bu jangan keras-keras ngomongnya, gak enak di dengar tetangga!" bujuk Galih.
"Biarkan saja, biar sekalian semua orang disini tahu, orang yang sok polos itu ternyata doyan mengambil apa yang bukan jadi miliknya, biar tahu rasa!" pekikku.
"Astaghfirullah! Istighfar Bu!"
__ADS_1
Tidak bisa dibiarkan, Galih kok tidak percaya sama aku ya. Aku harus cari cara lagi supaya Galih benar-benar percaya. Bisa kacau rencanaku kalau cara ini tak mempan untuk mencuci otak Galih.
"Sudah! Berarti kamu menganggap Ibu mengada-ada, Ibu yang memfitnah Rania. Tega kamu Lih sama Ibu!"
"Bu....."
"Ibu tidak mau lagi berbicara sama kamu, kamubsama Rania sama saja!" hardikku.
"Baiklah Bu, aku percaya sama Ibu, nanti aku akan bicara sama Rania ya Bu, sudah jangan marah lagi, nanti tekanan darah tinggi Ibu kambuh lagi." Galih mencoba menenangkanku.
"Kamu pernah lihat Ibumu ini berbohong?" Tegasku pada Galih.
Dia menggeleng, "Tidak bu."
"Pokoknya ibu gak mau tahu, uang ibu harus balik titik! Kalau tidak jangan salahkan ibu kalau semua warga RT sini pada tahu siapa yang sebenarnya mencurinya." Gertakku pada Galih.
Galih terlihat gusar, wajahnya terlihat memerah, memendam amarah. Sepertinya siasatku kali ini juga berjalan dengan mulus.
"Ibu tak usah khawatir, aku akan menggantinya, sudah gak usah marah-marah lagi ya! Malu itu didengerin sama tetangga " Bujuk Galih kepadaku.
Hatiku bersorak riuh, akhirnya besok pagi aku bisa membeli gelang keinginanku lalu akan aku tunjukkan ke semua ibu-ibu disini kalau aku tak akan pernah kalah dengan si Esih.
"Makanya kamu itu didik istri kamu dengan benar, jangan dibiarin kaya gitu nanti lama-lama juga ngelunjak dengan suaminya sendiri." tegurku pada Galih.
"Iya bu, nanti Galih kasih tahu ke Rania. Ya sudah Galih masuk dulu ke dalam ya bu." Pamitnya.
"Iya lih, terimakasih banyak ya, kamu memang anak ibu yang pengertian." Ujarku.
Galih beranjak dari kursi dan sepertinya segera masuk ke kamarnya. Aku yakin dia akan memarahi Rania habis-habisan.
Tak selang berapa lama akupun juga masuk ke dalam menuju ruang tengah. Duduk menyalakan televisi sembari menunggu azan maghrib berkumandang.
Aku mendengar sedikit perdebatan dari kamar Galih, nampaknya memang mereka bertengkar seperti yang aku inginkan.
Krek! Pintu kamar Galih terbuka. Aku melihat Galih keluar dengan wajah yang tak seperti biasanya. Nampaknya dia habis memarahi istrinya. Aku melirik ke arah jari-jari Galih, ada sesuatu warna merah yang digenggamnya, seketika mataku berbinar-binar melihatnya. Rejeki nomplok!
Galih mulai mendekat ke arahku lalu duduk disampingku.
"Bu, maafin Rania ya, ini uangnya Galih ganti sesuai jumlah uang Ibu yang telah hilang. Anggap saja urusan Ibu dan Rania sudah selesai ya, jangan diperlanjang lagi!" pinta Galih sambil menyerahkan uang yang ada ditangannya.
"Galih, gak usah! Yang hilang sudah biarkan, mungkin itu memang bukan rejeki ibu, ibu sudah berusaha mengikhlaskannya kok." Aku memulai actingku lagi.
"Gak Bu, ini uang Ibu, Ibu berhak menerimanya kembali. Rania hilaf bu, mohon dimaafkan ya!" pintanya lagi memelas.
"Ya sudah kalau kamu memaksa, Ibu akan terima. Terimakasih ya Lih." ucapku lagi-lagi bersandiwara lalu menyaut uang yang masih ada di genggaman Galih.
Ingin rasanya aku segera masuk ke dalam kamar, lalu jingkrak-jingkrak kegirangan. Meluapkan kebahagiaan yang kini sedang aku rasakan. Aku masih menahan diri dan bersikap sewajarnya. Jangan sampai Galih curiga.
"Ya sudah Galih mau mandi dulu ya Bu. Ibu udah gak usah nyalahin Rania lagi ya." ujar Galih.
"Iya tenang aja Lih, Ibu gak akan ungkit-ungkit masalah ini lagi kok." ucapku.
"Lih, Ibu minta ini jadi rahasia kita bertiga saja ya, jangan sampai Bapakmu tahu. Kasihan Rania nanti kalau sampai tahu pasti bakalan tambah gak suka sama Rania." bujukku pada Galih.
"Owh iya Bu. Ibu tenang aja." sahut Galih.
Galih beranjak menuju kamar mandi tanpa kembali ke kamarnya. Dia benar-benar marah dengan Rania. Aku segera masuk ke kamar untuk menyimpan uang yang baru saja Galih berikan.
"Akhirnya besok jadi juga aku ke pasar. Lihat saja kamu Esih, besok aku akan beli gelang yang jauh lebih bagus dari punyamu. Pokoknya gak satupun orang yang boleh menandingi emasku, aku harus jadi satu-satunya orang yang tak terkalahkan dalam urusan emas ini.
__ADS_1
Rasa-rasanya aku sudah tak sabar lagi menunggu hari esok tiba. Aku akan berangkat ke pasar pagi-pagi. Cepatlah berlalu malam ini!
**************
Pukul 20.00
Sedari tadi aku memang tak keluar kamar, aku menikmati kegembiraanku tiada henti sampai-sampai Bapakpun terlihat heran memandangku yang setiap .saat senyum-senyum sendiri.
"Bu, dari tadi Bapak perhatikan kok senyum-senyum sendiri dari tadi? Ada apa?" tanya Bapak penasaran.
"Uangku sudah ketemu Pak, besok Ibu akan ke pasar beli gelang baru hehehe." terangku pada Bapak.
"Lho ketemu to? Dimana?"
"Ibu lupa pak, ternyata Ibu selipin di bawah baju yang ada di lemari hehe." aku berbohong.
"Iya to. Ibu kan pelupa, malah tadi udah nuduh Rania segala." seloroh bapak.
"Namanya lupa to Pak." kilahku.
"Itu tandanya kita udah tua Bu!"
"Iya juga ya pak hehehe."
Kamipun tertawa bersama.
"Pak keluar yo, Ibu mau nonton televisi. Acaranya sudah mulai ini." ajakku pada Bapak mengalihkan pembicaraan.
Kamipun keluar, ternyata sudah ada Galih di depan televisi. Tak biasanya dia mau menonton televisi seperti ini. Aku ingat, dia kan sedang bertengkar demgan Rania.
"Lho tumben Lih nonton televisi." sapaku.
"Lagi pengen aja Bu. Suntuk du kamar terus." jawab Galih.
"Eh Lih, tadi waktu Bapak lagi ngopi di warungnya Jumi, Bapak tidak sengaja ketemu sama Ranti lho." kata Bapak sambil duduk di dekat Galih.
"Ranti? Mantan tunangane Galih itu pak?" tanyaku penasaran.
"Iya, sudah jadi orang hebat dia lho Lih. Kerja di kantor walikota, sudah PNS. Coba dulu kamu jadi nikah sama dia, bisa keangkat derajat keluarga kita sekarang." seloroh bapak.
"Tu Lih dengerin, coba dulu kamu jadi nikah sama Ranti, pasti keluarga kita gak akan di pandang rendah sama si Esih, punya menantu PNS! Lah sekarang menantunya gak ngapa-ngapain di rumah aja ngandalin gaji suami." celetukku.
"Lah dulu kan yang mutusin dia Bu bukan Galih. Lagian itu kan sudah berlalu, gak usah di ingat-ingat lagi. Lagian rejeki orang kan beda-beda." Galih berkilah.
"Ternyata dia sekarang sudah berpisah dari suaminya, janda Lih." ujar Bapak.
"Wahh coba Galih belum nikah ya pak, bisa balikan lho Lih. Sayang sekarang....."
Belum selesai aku berbicara, Galih sudah memotong pembicaraanku.
"Sudah lah Bu. Kita sudah punya kehidupan masing-masing! Gak usah di bahas lagi lah" galih kesal.
"Hehe iya Lih maaf!"
Kami bertiga mengubah topik pembicaraan, berbica sampai larut. Sudah lama sekali rasanya kami tak berkumpul sehabagia ini. Semua gara-gara menantuku yang ngeyel itu, waktu Galih habiskan untuk dia seorang.
Next 🔜
Stay here ya my readers. I'll back soon. 😘😘😘😘😘😘
__ADS_1