Mertuaku Sayang

Mertuaku Sayang
Acara 4 Bulanan


__ADS_3

Acara 4 bulanan


Hari minggu ini adalah hari H acara 4 bulanan kehamilanku. Jujur aku bahagia sekali karena seumur-umur tinggal disini baru kali ini ibu mengiyakan permintaanku. Entah hal apa yang membuat ibu bisa langsung menyetujuinya, inintak seperti biasanya. Tapi aku tak mau tahu, yang penting acaraku bisa terlaksana dengan lancar dan yang tak kalah penting lagi adalah aku tak merugikan ibu masalah dana yang aku pakai untuk acara ini. Karena kalau ada embel-embel ibu ikut sumbangsih pastilah beda urusannya.


Sore ini akan diadakan pengajian ibu-ibu PKK RT. Acara akan diselenggarakan selepas Ashar. Acara pengajian selesai dilanjutkan pembagian bingkisan lalu pulang. Aku sengaja mengatur acara sesederhana mungkin, karena yang terpenting adalah do'a untuk si jabang bayi. Hari ini aku dan mas Galih sengaja memakai pakaian couple biar terlihat lebih mesra dan enak dipandang. Gamis warna coklat muda berbahan velvet di padukan dengan baju koko mas Galih berwarna senada. Aku ingin terlihat romantis di depan banyak orang.


Ibu-ibu PKK RT satu persatu sudah mulai berdatangan. Dengan penuh keramahan aku mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah. Mas Galih dan bapak juga sudah berada di depan untuk menyambut tamu yang datang. Aku melihat ke sekeliling sudut ruangan, mencoba mencari keberadaan ibu, tapi aku tak menemukannya. Dimana dia? Kenapa belum juga nongol. Akupun mencoba mencari ke kamarnya.


Tok tok tok.


"Bu, apa ibu di dalam? Itu para ibu-ibu PKK nya udah pd datang."


"Iya sebentar. Ibu lagi dandan" sahut ibu dari dalam kamarnya.


Ibu ternyata masih di dalam kamarnya. Entah dandan yang bagaimana sampai lama sekali. Karena tak biasanya ibu bisa berlama-lama dandan seperti ini.


Ibupun membuka pintu kamarnya.


"Bagaimana? Pantes kan Ran? Kalung ibu bagus kan. Ini juga gelangnya mewah banget kan? Ini baru kmren ibu beli."


Mulutku masih ternganga terperanjat melihat ibu mertuaku ini layaknya toko emas yang sedang berjalan. Gelang, kalung, dan juga cincin yang melingkar di ke enam jari-jarinya.


"Bu, apa ini g berlebihan? Masak semuanya dipakai?"


"Halah kamu tuh diem aja. Kamu gak tahu urusan orang tua. Eh jangan-jangan kamu iri sama ibu ya Ran, kan kamu gak punya banyak emas kaya ibu. Hayo ngaku" ucap ibu memojokkanku.


"Astaghfirullah bu. Ya gak lah. Untuk apa aku harus iri. Aku cuma sekedar mengingatkan aja, kalau gak mau ya terserah ibu saja."


"Ya sudah gak usah banyak cakap."


Ibu menutup pintu kamarnya dan pergi begitu saja. Aku cukup menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ibu mertuaku itu lalu mengelus perutku. Jangan kau tiru perilaku nenekmu ya nak. Jadilah anak yang apa adanya, sederhana, pandai bersyukur dan tak banyak menuntut. Akupun menyusul berjalan di belakangnya, mengikuti langkahnya menuju ruang depan.


Begitu ibu keluar semua mata terbelalak tertuju kepadanya. Ya iya lah macam emas berjalan gitu kok. Tak ayal ibu-ibu lainnyapun saling berbisik. Ada yang merasa kagum melihat ibu dengan hiasan emasnya karena semuanya serba keluaran model terbaru yang belum ada seorangpun diantara ibu-ibu lainnya yang memilikinya, tapi tak banyak juga yang memandang sinis karena dianggap hanya pamer semata. Apalagi bu Esih, salah satu musuh bebuyutan dalam hal pamer. Aku lihat mukanya tak senang melihat kearah ibu. Begitu juga dengannibu, tak ada rasa risih ataupun kikuk di wajahnya. Dia semakin lantang berjalan. Aku lihat dia malah seperti sangat senang menjadi pusat perhatian seluruh mata yang ada di tempat itu. Yah, semua mata tertuju padanya.


"Duhhh jeng baru semuanya nih ye." celetuk bu Rum pada ibu.


"Halah jeng biasa aja lah. Ini baru kemarin lho belinya." sahut ibu sambil memamerkan cicin di jemarinya kepada bu Rum.


"Wah wahh makin banyak aja ya jeng koleksinya." bu Rum kembali bersuara. Kali ini sambil melihat ke arah bu Esih.


"Iya dong jeng, daripada duitnya nganggur kan jeng, sayang gitu lho, ya mending buat beli-beli ini." sahut ibu tak kalah keras bersuara. Sengaja buat manas-manasin bu Esih.


"Itu kemarin beli yang berapa gram bu?" tanyanya bu Rum lagi.

__ADS_1


"Ini semua berapa ya, kalung sama liontin semua 15 gram, gelang 7 gram, cincin beli 4 biji, 1 bijinya 3 graman lebih. Ada lah 25 graman ini jeng." jelas ibu ke bu Rum.


"Ya ampun jeng banyak juga ya duitnya, mbok kemarin tak pinjem aja heheh" ada bu Darmi yang ikutan nyaut.


"Walah jeng Darmi ini lho, wong duitnya situ sampe njamur-njamur to malah mau minjem segala hehehe." ibu bercanda menimpali.


"Alah jeng bisa aja lho ngomongnya." balaa bu Darmi sambil tertawa renyah.


"Ini yang berapa karat jeng?" si kompor meledul bu Rum kembali bertanya.


"Yang 24 karat to jeng. Malu lah beli emas muda. Nanti kalau dijual lagi g laku banyak to."


"Hebat jeng Atun, 24 karat semua lho emasnya ini. Eh jeng Esih kapan mau nambah koleksi, masak kalah sama jeng Atun hehehe."


Wuah kali ini makin memanas aja suasana di dalam rumah. Memang kompor nih bu Rum.


Sesekali aku melihat ke arah mas Galih dan bapak. Akupum tak tahan dibuat geli melihat wajah para bapak-bapak yang sepertinya shock melihat kelakuan-kelakuan para ibu kalau sudah berkumpul. Sesekali mas Galih hanya menggaruk-garuk leher bagian kanannya begitujuga demgan bapak tak henti-hentinya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan aku hanya bisa ikutenikmati pertunjukan yang ada, karena bagiku hal seperti ini sudahlah hal yang biasa bagi kaum wanita.


"Aku belum sempet aja pergi ke toko emas. Duit sih ada, kemarin baru saja dikirim 10 juta sama anakku. Nanti tanggal 20an juga bakalan dikirim lagi 10 juta lagi. Rencananya si mau aku beliin emas juga." bu Esih bersuara juga tak mau kalah.


"Wahh 20 juta buat beli emas semua ya jeng Esih, mantap lah." ucap bu Rum sambil melirik ibuku.


"Iya lah jeng. Kemarin habis aku belikan motor baru nah besok mau aku belikan emas aja."


Benar-benar nih bu Rum si kompor meleduk. Aku lihat wajah ibu seketika memerah, sepertinya kepanasan sih mendengar bu Esih mau beli emas pakai duit 20 juta. Aku pikir persaingan macam ini hanya terjadi di ibu-ibu muda saja, eh ternyata nini-ninipun gak mau kalah juga. Bu ibu.


"Maaf ibu-ibu ini karena semuanya nampaknya sudah hadir jadi mari saja segera kita mulai acaranya ya, biar gak kesorean." mas Galih mencoba memecah perseturuan yang ada.


"Iya nak Galih. Mari ibu-ibu silahkan duduk kembali di tempatnya masing-masing." kali ini ibu RT yang berperan sebagai komandan memimpin acara pengajian sore ini.


***********


Acara telah selesai dan alhamdulillah berjalan dengan lancar sesuai dengan keinginanku. Walaupun di awal tadi ada sedikit insiden dimana ibu lah yang jadi pusat perhatian, itu bukanlah masalah untukku, biarlah ibu dengan segala tingkahnya.


Aku dan mas Galih bersama-sama membereskan sisa-sisa makanan yang masih tercecer di ruang depan. Kalau tak segera di bersihkan apalah nanti kata ibu mertuaku tersayang.


"Ran, dunia kaum ibu-ibu itu seperti itu ya?" tanya mas Galih tiba-tiba.


"Lhoh emang kenapa mas? Heran ya?" aku sedikit tersenyum melihat raut muka suamiku yang nampak bingung itu.


Mas Galih menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya dia tak habis pikir dengan kelakuan para ibu-ibu tadi.


"Padahal kan udah nini-nini masih aja kelakuannya kaya anak-anak TK. Saling pamer lah, saingan ini saingan itu, heuhhhh pusing lihatnya Ran."

__ADS_1


"Hahaha kaya anak TK? Termasuk ibu kan?" celetukku lirih.


"Hehehe iya Ran. Malu-maluin aja si ibu ya."


"Ehemm ehemmm, lagi pada ngomongin apa sih kok ketawanya renyah kaya gitu?"


Tiba-tiba ibu keluar dari dalam, sepertinya dia kerasa kalau sedang di ghibahin anak sama menantunya.


"Owh ini lho bu, tadi Satria tuh katanya nembak cewek tapi ditolak mentah-mentah. Kan kasian hehehe." mas Galih mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Satria temenmu yang sekarang jadi bosmu itu kan Lih? Padahal kan seumuranmu ya kok belum mau nikah juga. Padahal kan sudah mapan hidupnya, kerjaannya sudah jelas, wajahnya juga gak jelek-jelek amat. Apanya yang kurang coba?"


"Yah namanya juga belum ketemu sama jodohnya bu, mau gimana lagi."


"Eh Lih apa kita comblangin aja sama anaknya budhe Ndari, si Indri. Dia kan juga belum punya pacar, siapa tahu cocok, coba deh tanya ke si Satria." Ibu menawarkan gagasannya.


"Iya juga ya bu. Si Indri juga anaknya baik dan cantik. Kayanya si pas sama si Satria. Besok deh kalau di kantor coba Galih omongin sama Satrianya."


"Betul itu, nanti kalau jadi beneran siapa tahu kamu langsung bisa naik jabatan to Lih, kan berkat kamu juga Satria dapet jodoh, ya gak? Bener to ibumu ini."


"Udah deh bu gak usah kebanyakan ngarep kaya gitu. Kita kan niatnya nolongin teman bukan yang lain. Kalau kaya gitu namanya ya gak ikhlas to, ada pamrihnya kok."


"Ya kan siapa tahu tadi ibu bilangnya. Sudah lah ndang di beresin ini jangan lupa di pel sekalian ya Ran, tuh lihat banyak sisa-sisa kue nempel di lantai. Yang bersih ngepelnya. Wes ibu mau ke belakang dulu."


Ibupun pergi ke belakang, aku dan mas Galih melanjutkan beberes melipat tikar yang masih terbentang.


"Udah Ran, aku aja yang beresin, kamu istirahat aja di kamar ya. Pasti capek banget dari tadi pagi kamu udah kerja." perintah mas Galih kepadaku.


"Gak papa mas, aku kan udah biasa."


"Iya itu mukamu pucet gitu kok. Aku g mau kamu kecapekan ya."


"Mas, trus mas pikir kalau yang beresin ini semua mas urusannya bakaln selesai gitu? Kaya g hafal sama ibu aja kamu ini."


"Ya kan ibu gak ada, tuh lagi ke belakang hehehe."


"Nanti kalau tiba-tiba nongol disini gimana? Mau tanggung jawab?"


"Ya udah kamu disini aja tapi aku aja yang ngerjain, nanti kalau ada suara ibu datang kesini kamu pura-pura aja lagi beres-beres, ya kan?"


"Eh tumben cwrdas mas heheheh. Ya wes aku duduk sini ya mas, selamat bekerja suamiku, aku bantu do'a ya hehehe."


Akupun berjalan ke kursi untuk duduk. Enaknya bersandar meluruskan badan. Jujur memang aku sangat lelah, tapi tak mungkin juga aku mengeluh. Tahu sendiri kan nanti ibu suri bisa ngomel 7 hari 7 malam. Belum juga 5 menit aku meletakkan bokong di kursi, terdengar panggilan alam berkumandang.

__ADS_1


"Ran.... Rania.... Sini sebentar."


Next 🔜


__ADS_2