
POV Ibu
Pagi ini saat aku sedang duduk menyeruput teh hangat di samping rumah, aku melihat Rania dan Galih seperti sedang berbicara serius. Karena aku kelewat ingin tahu jadi aku putuskan untuk mengintainya. Tapi sayang suaranya tak cukup jelas aku dengar. Aku berpikir keras supaya bisa mendekat ke arah mereka. Aku melihat ada sapu lidi di pojokan parkiran, ada ide brilian yang aku siapkan.
Aku mendekat ke arah mereka sambil memegang sapu lidi, nanti kalau ketahuan aku ada disana kan aku bisa beralasan kalau aku sedang menyapu. Benar saja aku mendengar percakapan mereka. Rania meminta Galih supaya menemaninya memeriksakan kehamilan di bidan desa. Rania ini apa-apaan sih, pake acara buang-buang duit segala. Dasar menantu bodoh, padahal kan periksa ke Puskesmas jauh lebih murah, paling bayar administrasi aja 9.000 perak. Obatnya juga pasti sama kan. Kudu di didik nih anak.
Setelah Galih pergi berangkat kerja aku menghampiri Rania, sebenarnya maksudku kan baik. Mengingatkan dia sebagai istri jangan terlalu boros, harus bisa mengelola uang yang diberikan oleh suami dengan baik, syukur-syukur bisa disisain ditabung. Selain itu juga sebagai istri itu jangan manja, apa-apa suami, dikit-dikit suami. Istri juga bisa mandiri.
Tapi sepertinya menantuku ini sudah mulai berani ngeyel terang-terangan di depanku. Banyak alasan a i u e o di buatnya. Dari pada aku kesal sendiri mending aku tinggal pergi saja. Buang-buang tenaga saja bicara sama Rania.
"Daripada ngomong sama Rania yang ada malah emosi, darah tinggiku naik nanti. Mending aku ke rumah jeng Esih aja, kemarin kan habis narik, kira-kira uangnya buat beli apa ya?" aku bertanya-tanya.
Aku pergi ke rumah jeng Esih, jangan-jangan kemarin uang tarikan arisan dia belikan emas, wahh waah bisa kalah saing aku nanti dengannya.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Rumah Bu Esih
"Assalamualaikum, jeng Esih" basa basi aku ucapkan salam nan amat ramah.
"Waalaikumsalam" jawab jeng Esih dari dalam sambil berjalan keluar menuju pintu depan.
Dari kejauhan aku sudah melihatnya dengan saksama, mataku dengan tajam menatap ke arah lengan tangan, kemudian pindah jemari tangan kanan kiri, bergeser naik ke atas mengamati telinganya, lalu terakhir turun ke lehernya. Aku mengernyitkan kening, tak ada sesuatu yang baru menempel disana. Aman, koleksi emasku tak akan ada yang menyaingi. Karena satu-satunya pesaingku dalam hal koleksi emas di kampung ini hanyalah si Esih ini. Aku menghembuskan nafas dengan lega.
"Eee jeng Atun, monggo mlebet, tumben pagi-pagi udah main" balas jeng Esih.
"Owh iya jeng sekalian mampir, tadi habis dari rumahnya Ratih ada perlu sebentar. Lewat sini jadi ya sekalian aja mampir. Di rumah juga g ada kerjaan to jeng."
"Ayo sini masuk jeng, sini duduk."
Aku mengikuti jeng Esih mendekat ke kursi tamu, akupun duduk, tapi mataku tak berhenti melihat ke sekeliling. Aku masih penasaran dengan uang tarikan yang di dapetkan kemarin dipakai buat apa. Aku perhatikan juga tak ada barang baru di ruangan ini atau jangan-jangan dia menyimpannya di dalam sana ya. Aku masih penasaran.
"Tunggu sebentar ya saya ke dalam dulu" kata jeng Esih berpamitan mau ke dalam sebentar.
__ADS_1
Jeng Esih masuk ke dalam sepertinya dia mau membuatkanku minuman, ah orang ini sungguh pengertian dengan tamunya.
Tak selang berapa lama pun keluar. Benar saja jeng Esih membawa nampan berisi teh panas 2 gelas keluar, lengkap beserta camilan tempe mendoannya yang sepertinya masih hangat dan sangat menggoda. Kelihatan dari aromanya yang sangat wangi.
"Walah jeng kok le repot-repot lho, aku kan cuma mau mampir sebentar" kataku basa basi.
"Halah ndak papa jeng, kebetulan tadi bikin camilannya kebanyakan" jeng Esih meletakkan nampan di atas meja, lalu mengeluarkan satu demi satu isinya.
"Monggo jeng diunjuk" lanjut jeng Esih.
"Iya jeng terimakasih ya."
Kami mulai asyik mengobrol tiba-tiba terdengar suara motor. Ada si Almas yang kelihatannya habis dari luar, melaju menuju teras rumah ini. Walaupun terhalang kaca pembatas antara ruang tamu dan teras tapi aku bisa melihatnya dengan jelas. Tepat di seberang aku duduk sekarang Almaz anak bungsu jeng Esih memarkirkan motor matic warna putih bersih, ada tulisan yang nampak mencolok yang melekat di motor itu, 150cc. Almaz segera masuk ke dalam melewati kami yang ada si ruang tamu.
"Assalamualaikum" Almaz mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam" kami menjawab serempak.
"Iya budhe abis dari kuliah ini, tapi dosennya g masuk jadi teman-teman juga memilih pulang aja, ya udah Almaz ikutan pulang juga hehe" jawab Almaz dengan senyum ramahnya.
"Sudah sana sarapan dulu maz, tadi berangkat kan kamu g sempet sarapan to" perintah jeng Esih ke Almaz.
"Iya bu, ya sudah saya ke belakang dulu ya budhe, mau sarapan. Budhe udah sarapan belum ayo sekalian saja barengan" Almaz menawarkan.
"Owh iya jeng monggo kalau berkenan, sarapan bareng Almaz, kalau saya si udah tadi sarapannya" jemg Esih menambahi.
"Walah g usah jeng maz, tadi juga udah sarapan di rumah, makasih" aku menolaknya.
Walaupun sebenarnya aku juga ingin tapi aku menahannya, gengsi lah masa iya aku numpang makan disini. Yang ada nanti jeng Esih woro-woro ke orang sekampung, sudah jelas mereka pasti akan menertawakanku. Juragan padi kok bisa-bisanya numpang makan di tempat orang. Mau ditaruh mana mukaku.
"Ya sudah budhe saya ke belakang dulu ya" kata Almaz.
Dari tadi aku merasakan ada hal yang aneh tapi aku belum menyadarinya. Almaz pergi ke belakang, kami melanjutkan obrolan dengan riang. Tapi jangan salah, mataku tetap bergerilya mencari sesuatu yang aneh di rumah ini. Seketika mataku berhenti berkeliling, ada sesuatu yang baru disana, iya dan benda itu kelihatan masih kinyis-kinyis. Seketika ubun-ubun terasa panas, mukaku memerah. Pantesan g beli emas ternyata si Esih membelikan ini to dari hasil narik kemarin. Iya, aku melihat benda baru di situ, benda baru yang masih ditempeli plat berlatar warna putih bertuliskan merah. Sepeda motor yang dikendarai Almaz tadi ternyata masih baru.
__ADS_1
Sepertinya jeng Esih memperhatikanku, dia tahu kalau aku sedang tertegun memperhatikan motor barunya itu.
"Eh jeng tahu g kemarin abis narik itu aku langsung belikan motor matic baru lho, tuh yang dipakai Almaz tadi" jeng Esih menunjuk ke arah sepeda motor di luar dengan bagga.
"Owh motor baru ya jeng, waah berapa harganya itu?" aku pura-pura menanyakannya. Padahal aku juga paham motor yang kaya gitu kurang lebih harganya ya 20jutaan.
"21juta jeng, belinya keeessss lho" menekankan kata terakhir.
"Wahh banyak duit ya jeng" sahutku singkat.
"Iya dong jeng, kemarin kan narik 5juta to, trus masih ada simpenan yang setiap bulan di transfer sama anak sulungku si Arya itu jeng, yang kerja di Pertamina, ya sudah sekalian aja dibelikan yang baru dan keesssss. G suka saya kalau yang second, takut mesinnya sudah jelek kan bisa rugi nanti, apalagi model kredit-kreditan gitu, halahhh malah jadi pikiran tiap bulannya. Punya duit buat beli yang keeeasss ngapain malah kreditan" jeng Esih tertawa puas seperti sedang meledekku. Apalagi setiap mengucapkan kata kes (cash) selalu penuh dengan penekanan. Bilang aja mau pamer.
Hatiku makin tak karuan berlama-lama disitu, pikiranku panas. Apalagi mulutnya jeng Esih ini terus aja nyerocos ngomongi hartanya, makin panas kupingku mendengar ocehannya. Lebih baik aku pulang saja. Dengan alasan masih ada keperluan lain akhirnya akupun pamit sama jeng Esih.
"Ya sudah jeng kalau gitu saya pamit dulu ya, udah jam 10 ini, takut kesiangan. Tadi ada janji juga sama menantuku si Rania mau ke Pasar mau lihat-lihat harga emaaasssss yang terrrrrbaruuu, soalnya udah bosan sama yang lama, pengen ganti yang baruuuu" aku berpamitan dengan jeng Esih.
Aku ikut-ikutan menekankan kata emasss ke jeng Esih. Dikiranya cuma dia apa yang bisa beli barang baru. Lihat aja nanti arisan bulan depan aku bawa kalung, gelang, serta cicin emas terbaru. Bakalan kelabakan kamu nanti jeng. Awas aja, lihat pembalasanku.
"Owh ya monggo bu, hati-hati di jalan ya, jangan lupa minta uang sama anaknya buat beliin motor baru ya bu, hehehe bercanda bu biar awet muda to hehehe."
Sepertinya si Esih ini sengaja mengejekku. Dia ingin menunjukkan kalau anak sulungnya sudah sukses. Memang si Arya anak sulungnya ini sudah bekerja mapan di salah satu perusahaan BUMN dengan gaji yang fantastis. Setiap bulan selalu mengirimkannya untuk biaya kebutuhan orangtuanya serta biaya kuliah adiknya si Almaz. Sedangkan dia tahu anakku satu-satunya si Galih hanya bekerja sebagai karyawan biasa, itu juga dapat kerjaannya baru-baru ini.
Aku dan jeng Esih ini kalau di luar memang kelihatan akrab, sering saling mengunjungi rumah, sering ngobrol bareng, tapi di dalam kami ini sebenarnya seperti perang, kami tak mau kalah dengan apa yang kami punyai. Kalau aku membeli sesuatu yang baru beberapa hari kemudian pasti dia akan mengikutinya, begitu juga denganku kalau dia membeli barang baru pastilah aku juga akan membelinya.
Aku segera keluar dari rumah itu, berjalan menuju rumah. Jam 10 yang sudah mulai terasa terik matahari menyengat bagian-bagian kulitku, sama halnya seperti hatiku yang juga sedang panas terbakar cemburu, cemburu dengab apa yang bisa dimiliki oleh jeng Esih.
"G bisa dibiarin ini, g bisa. Aku harus meminta Galih memberiku uang lebih dari biasanya. Paling g ya separuh dari gajinya. Bisa kalah saing aku nanti sama jeng Esih. Turun pamorku nanti sebagai ibu terhits di kampung ini" aku menggerutu sendirian disepanjang jalan.
Next 🔜
Kompor meleduk kompor meleduk. Apalagi yang akan dibuat mertua Rania ya kira-kira. Apa dia akan merengek-rengek minta Galih membelikan sepeda motor kaya punya nya bu Esih? Atau apa kira-kira ya pemirsa??? Tunggu lanjutannya ya.
💘💘💘💘💘💘💘💘💘💘💘
__ADS_1