
Jangan lupa like n comment, jangan bosan ya π
Happy reading...
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Keluar dari Puskesmas aku merasa lega, walaupun sebenarnya si belum lega sepenuhnya, karena aku masih harus memutar otak untuk memberikan nutrisi buat anakku, tapi setidaknya kamu akan tertolong oleh vitamin-vitamin yang mama dapet dari bu bidan puskesmas tadi. Selama ini kan kamu g pernah makan makanan yang bergizi nak.
Menurut perhitungan bidan, usiamu kini sudah 8 minggu nak, masih muda sekali. Kata bu bidan setiap bulan kamu harus mama bawa kesini, harus kontrol, supaya tahu perkembanganmu nanti. Lebih baiknya si di USG, supaya benar-benar bisa melihat.
Semoga nanti mama ada rejeki lebih, ayah kamu juga sudah punya kerjaan, biar kamu bisa mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan. Sehat-sehat selalu ya sayang.
Coba kalau ayahmu tadi mau ikut mama kesini, ikut mendengarkan apa yang bu bidan katakan, barang kali aja dia juga akan bahagia seperti mama ini nak.
Aku terus berjalan, menyusuri jalan searah dengan pangkalan angkot, sebelum sampai disana aku melewati kios buah-buahan.
Wah kebetulan sekali, aku sedang ingin membeli buah. Uang yang pakdhemu kasih lebih dari cukup untuk membeli ini semua. Kamu akan makan enak sayang.
Baiklah, mama ingin makan pir, jeruk, juga alpukat. Masing-masing beli 1kg. Untuk persediaan selama beberapa hari rasanya cukup.
Selesai membayar aku langsung menuju ke sebuah supermarket yang berada di sebelah kios buah, yang hanya berjarak beberapa meter saja.
Aku sengaja membeli buah di kios emperan saja karena harganya akan jauh lebih miring dibanding jika aku membelinya di supermarket. Hemat dikantong istilahnya mah.
Aku memasuki kawasan berbelanja tersebut, segera aku menuju ke tempat dimana bahan-bahan makanan berada. Mama mau beli sayur-sayuran, sawi, wortel, brokoli, kacang panjang, hemm apalagi ya, pikirku.
Aku menambahkan labu siam dan taoge. Oke aku pikir udah cukup, mari kita pindah tempat sayang. Kamu mau beli apa lagi? Mama akan menurutinya.
Mataku mulai melihat-lihat, mengintai apa saja keperluan yang harus mama beli, mumpung uangnya masih cukup. Kapan lagi bisa kesini kalau g sekarang.
Aku mulai berjalan lagi, menuju tempat dimana ada ikan segar terpampang jelas dari kejauhan. Aku memilih-milih. Mataku terbelalak melihat label harga tang tertera disana. 250gr ikan tuna Rp. 35.450,-.
Tapi ini semua demi kamu nak, tak apa, mama tetap akan mengambilnya. Kandungan gizi yang terdapat pada ikan sangatlah penting untuk perkembanganmu nanti. Biar nanti kamu jadi anak yang pintar.
"Baiklah sayang, kita akan makan ikan nanti, nyam nyamm kamu pasti suka". Aku mengelus perut sambil berbisik, supaya tak ada orang yang melihat, kalau aku berbicara sendirian.
Aku kembali berjalan mencari dimana daging ayam berada. Nah ketemu. Harganya cukup murah dibanding harga ikan tuna tadi.
"1 kg daging ayam segar Rp. 35.375,-. Ini aja aku ambil, lumayan juga bisa buat makan sekeluarga nanti". Aku lanjut memasukkannya di dalam keranjang belanja.
__ADS_1
Untuk sayur dan lauk nampaknya sudah cukup. Apalagi yang harus ku beli? Aku kembali berjalan menyusuri etalase, barang kali ada sesuatu yang harus ku beli lagi.
Aku melihat minyak goreng, aku ambil kemasan 1 liter sebanyak 3 pcs, cukuplah untuk persediaan 2 minggu kedepan, jadi ibu tak perlu membelinya lagi. Biar dia tak mengomel terus, minyak cepet habis lah, beras cepet habus lah, dan lainnya. Kuping terasa panas sering mendengar itu semua. Coba mas Galih punya penghasilan, kan g kaya gini. Tidak akan merepotkan bapak ibu. Aku pikir sudah cukup belanjanya. Aku menuju ke kasir untuk membayar.
Keluar dari supermarket aku merasa sedikit lelah, aku mengeluarkan gawaiku, melihat jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Ternyata aku di dalam suoermarket lama juga. Aku segera menuju ke arah pangkalan amgkot, cukup 3 menit berjalan sudah sampai.
Aku menenteng belanjaan cukup banyak juga, seperti kalap belanja. Iya karena aku tak pernah seperti ini sebelumnya, maklum saja tak ada uang juga.
Sampai di pangkalan angkot aku langsung masuk dan duduk di belakang. Sudah banyak penumpangnya ternyata. Sebentar lagi berangkat, tak perlu menunggu angkot penuh terlalu lama.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
POV Ibu
Pagi ini aku ada acara arisan di tempat bu Hasan. Berharap yang keluar tarikan minggu depan adalah aku, kan lumayan besar juga tarikannya. 5 juta bisa aku gunakan untuk menambah koleksi simpanan emasku.
Tapi namanya belum rejeki, ternyata yang keluar untuk narik minggu depan adalah bu Esih. Aku jadi tak bersemangat.
Acara selesai akupun langsung pulang, biasanya aku akan berlama-lama ngobrol dengan ibu-ibu yang lain, membicarakan segala sesuatu dari A sampai Z, dari hal yang g penting sampai ke hal yang g penting banget, tapi kali ini selera ghibahku lagi menurun, jadi ya aku putuskan pulang saja.
Langkah kaki terasa gontai, lemah lunglai gara-gara belum bisa narik. Mukaku bak selimut kumel yang berabad-abad tak di basuh. Sesampainya di rumah pun aku langsung masuk ke dalam kamar. Aku ingin tidur.
Aku keluar kamar, ternyata di ruang tv aku dapati menantu satu-satuku sudah duduk disitu, tapi TV nya aku lihat belum menyala. Ngapain Rania duduk disitu kaya patung. Aku bertanya-tanya.
Aku menyapa Rania, lalu mengajaknya nonton sinetron di TV. Tapi sepertinya Rania tak tertarik. Ah masa bodo, aku akan tetap menikmati acara nonton sinetron kesukaanku.
Tiba-tiba Rania berbicara padaku, ragu-ragu. Dia berniat untuk meminjam uang padaku. Menurut penjelasannya si dia sedang tak enak badan, lalu ingin periksa ke Puskesmas tapi uangnya tak cukup.
Dasar anak jaman sekarang manja-manja. Baru masuk angin kaya gitu aja langsung minta di periksa dokter. Padahal minum jamu perasan kunyit lalu dipake istirahat sebentarpun akan segera pulih.
Aku pernah muda seperti Rania, masuk angin itu hal yang lumrah. Tapi aku tak pernah membesar-besarkannya. Karena aku bukan wanita yang manja.
Enak saja minjem-minjem duit cuma untuk hal yang g terlalu penting kaya gitu. Terang saja aku menolaknya, aku beralasan kalau uangku habis untuk arisan tadi, ide yang bagus bukan? Dan Raniapun percaya, aman lah uangku, hatiku plong.
Karena tidak berhasil meminjam uangku, Rania berpamitan pergi, katanya sih mau nyapu ruang depan. Dasar anak malas, jam segini baru mau nyapu. Harusnya kan tadi pagi sudah selesai. Sekalian saja aku suruh untuk mengepelnya juga, untung saja ini dia anaknya nurut, jadi ya langsung mengiyakan apa perintahku. Aku melanjutkan menikmati sinetron favoritku.
Aku melihat Rania bendandan rapi, aku heran mau kemana anak ini. Aku tanya dia, ternyata mau ke Puskesmas. Jadi juga dia pergi kesana. Berarti dia tadi bohong ingin meminjam uangku. Katanya kan uangnya tidak cukup, tapi ini tetap berangkat. Udah pintar berbohong ternyata menantuku ini. Aku kesal dibuatnya.
Tapi Rania beralasan kalau ternyata dia masih punya simpanan. Ah mana percaya aku dengan alasan yang kesannya kok dibuat-buat. Rania Rania, ibu ini udah berpengalaman, bisa bedain mana yang bohong mana yang jujur.
__ADS_1
Sudah coba aku ingatkan untuk tidak pergi tapi ngenyel sekali anak ini. Malah terkesan dia tak memghiraukan nasihatku. Ya sudah lah aku tak peduli. Namanya juga ngeyel.
Rania menyalamiku kemudian berlalu menuju pangkalan angkot di pertigaan sebrang rumah. Aku masuk ke dalam rumah dengan rasa kesal, karna aku sebagai mertua merasa tidak dihormati.
"Sama mertua kok kaya gitu, g ada sopan-sopannya. Dikasih tahu malah ngeyel. Padahal kan niatku baik. Daripada uang dihamburin g ada gunanya gitu. Lagian cuma masuk angin aja pake dibawa ke Puskesmas segala, dasar manja".
Aku segera masuk ke dalam rumah, mencari Galih yang dari tadi entah kemana tak aku lihat batang hidungnya. G anak g menantu sama saja kelakuannya. Bikin ibunya naik darah.
"Galih, lih, Galih". Aku memanggil galih, tapi tak ada yang empunya nama menyahutnya.
"Kemana ini anak, apa jangan-jangan masih molor ya". Aku mencoba menebak-nebak sambil terua nyerocos tak henti.
Aku menuju kamar Galih, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, aku langsung membuka saja pintunya. Mataku terbelalak. Nahh terang saja anaknya masih enak-enakan molor disini.
Ubun-ubunku terasa nyeri melihat tingkah polah anakku sendiri. Usia sudah 30 tahun tapi kok g punya rasa tanggung jawab sama sekali. Apa-apa kok masih ngandalin bapak ibunya. Segera aku masuk membangunkannya.
"Galih galih, bangun lih, ini jam berapa masih saja molor". Aku menggoncang-goncah tubuhnya.
Galih mengucek-ucek mata. Berusaha membuka matanya yang masih berat nampaknya.
"Apaan si bu, teriak-teriak g jelas, pusing ini kepalaku kaget dengar teriakan ibu". Aku gantian mengomel.
"Galih bangun, ayo keluar ibu mau bicara". Aku meninggalkan kamar galih menuju ruang tengah.
Galih membututiku segera, lalu duduk bersebrangan denganku. Masih kelihatan mata merahnya tanda dia masih mengantuk. Tapi aku harus benar-benar keras terhadap anakku ini. Dia harus sadar arti tanggung jawab.
"Galih, kamu ini sudah besar kan, sudah punya istri. Harusnya kamu bisa berpikir lebih dewasa lagi. Ada anak orang yang harus kamu nafkahi". Tegurku oada anak kesayanganku ini.
"Iya bu Galih tahu, tapi gimana lagi belum ada kerjaan yang pas buat Galih bu. Ibu juga tahu sendiri cari kerjaan itu g mudah". Sanggah ku yang melihat muka ibu bak garangan sedang kelaparan, siap menerkam mangsanya kapan saja.
"Ya kamu nyari to le, kerjaanmu tiap hari aja tidur, ngopi, ngrokok mana bisa dapet kerjaan. Sudah sekarang sana cuci mukamu itu, bantuin bapakmu masukin padi ke gudang".
Aku segera pergi meninggalkan anakku satu-satunya itu. Membiarkannya berpikir supaya terbuka hatinya, menyadari tanggung jawab yang seharusnya ada dipundaknya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Maaf ya readers, 2 hari off. Karena sedang ada urusan mendadak di rumah. Jadi g bisa konsen nulisnya. Tetap setia baca karyaku ya dears....
ππππππππ
__ADS_1