Mertuaku Sayang

Mertuaku Sayang
Mulai Judes


__ADS_3

Seperti biasa saat adzan subuh berkumandang, mas Galih selalu menyempatkan diri untuk jamaah ke masjid. Rasanya pagi ini aku malas sekali bangun, mataku sudah terbuka tapi aku masih bersembunyi di balik selimut. Aku membalikkan badan, aku lihat posisi bantal di sampingku tak berubah. Apakah mas Galih semalam tak tidur disini ya? Lalu tidur dimana? Di kamar ibu?


Aku memaksakan untuk bangun, menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu, melewati ruang yang biasa digunakan untuk mneonton televisi. Ada bantal dan selimut yang tergeletak disana masih belum di bereskan, ternyata suamiku semalam tidur disini.


Ah sudah lah! Tak perlu aku pusingkan masalah itu, bodo amat! Kamu sebagai suamiku harusnya bisa merasakan mas, tapi kali ini kamu sungguh keterlaluan, membela Ibumu yang jelas-jelas mengada-ada.


Aku melanjutkan langkahku, mengambil wudlu dan segera menunaikan sholat subuh.


"Ya Alloh, kuatkan hatiku dalam menghadapi segala cobaanMu. Engkau tahu pasi aku tak melakukan hal buruk itu. Sadarkanlah Ibu mertuaku, lembutkanlah hatinya. Ya Alloh, kembaikan suamiku seperti yang dulu, ingatkanlah dia ketika berada di jalan yang salah, tuntun dia kembali dimana seharusnya tempatnya untuk berpulang, Aamiin." doaku selepas sholat subuh hari ini.


Hatiku lebih terasa lega setelah mengadukan segala keluh yang aku rasakan pada sang Khalik.


"Raniaaaaaaa!" suara teriakan Ibu suri ikut berdendang.


"Astaghfirullah, ada apa lagi sih pagi-pagi gini udah teriak-teriak." gumamku yang masih berada di atas sajadah.


Segera aku lepaskan mukena dan melipatnya dengan rapi, lalu menuju kemana sarang dari suara itu.


"Iya bu, ada apa?" tanyaku sopan.


"Masih tanya ada apa! Ini jam berapa? Itu kompor belum nyala!" sergah Ibu sewot.


"Maaf bu, Rania baru selesai sholat barusan. Kalau udah selesai tanpa Ibu perintah juga bakalan kesini." kilahku tak terima.


Aku sudah bosan rasanya setiap hari harus mendengar omelan-omelan yang tak jelas dari Ibu. Dpikirnya aku ini babunya apa, yang setiap saat bisa ia perlakukan sesuka hatinya. Apalagi aku sekarang sedang hamil tua, tentu gerakanku sudah tak akan se gesit dulu waktu perutku belum buncit kaya gini.


"Sekarang udah pintar bicara ya, udah bisa bantah ya Ran, bagus!" balas Ibu semakin kesal.


Aku hanya diam, tak ingin ku hiraukan ucapan Ibu. Aku berlalu menuju dapur segera memulai aktifitasku seperti biasanya.


"Nah kan, kalau orangtua lagi bicara gak di dengerin malah nyelonong pergi gitu aja! Dasar mantu ngeyelan!" ujar ibu dengan nada yang semakin tinggi.


"Bodo amat!" balasku lirih, tentu saja Ibu tak akan mendengarnya.


Aku segera memasak untuk sarapan pagi ini. Tak ku hiraukan Ibu yang terus mengoceh di belakang sana.


"Sayang, udah bangun belum? Kamu dengar nenekmu pagi ini sudah mengoceh kaya burung beo lagi kelaparan, lucu kan nak? Hehehe." aku mengusap-usap perut buncitku. Perut yang sudah tiga hari ini tak disentuk oleh suamiku yang sedang marah denganku.


Aku berkomunikasi dengan bayi di dalam sana yang masih terlihat diam tak menunjukkan gerakannya, mungkin dia masih tidur.


Melantunkan sholawat untuk si jabang bayi sambil memasak, asyik sekali. Hatiku hari ini benar-benar sudah bisa aku kuasai, tidak seperti kemarin yang bergejolak memikirkan nasib rumah tanggaku akan seperti apa.


Hari ini rencananya aku akan pergi jalan-jalan memanjakan diri. Tentunya setelah Mas Yuda berangkat ke kantor dan pekerjaan rumah selesai.


"Assalamualaikum." suara Mas Galih terdengar.


Aku menengok ke belakang, benar saja suamiku sudah pulang dari masjid dan menuju dimana Ibu sekarang lagi menikmati acara televisi di pagi hari. 'Aa dan teteh, curhat dong' acara favorit ibu kala pagi hari. Suka lihat pengajian tapi kelakuannya sama sekali tak mencerminkan perilakunya yang baik. Trus fungsinya nonton itu apa? Hih! Upatku dalam hati.


Aku memang tak sengaja memyapanya. Kali ini aku tak mau baper cuma gara-gara di diemin sama suamiku. Aku gak salah kok.


"Eh Lih, hebat yo si Ranti udah jadi PNS. Gak nyangka Ibu lho. Kalau saja dulu jadi nikah sama kamu ya. Eh ini malah dapetnya cuma angrem di rumah saja, gak berpenghasilan." Ibu membuka obrolan, roman-roman sindiran itu ditujukan kepadaku.

__ADS_1


"Ibu mulai lagi deh, gak usah bahas Ranti!" Mas Galih nampak tak suka. Entah tak suka beneran atau hanya pura-pura karena masih ada aku disini.


Eh bu, aku begini juga karena dinikahin sama anakmu. Kalau saja aku belum nikah tentu karirku sebagai seorang guru juga bakalan moncer. Setelah menikah anakmu sendiri yang ngelarang aku untuk bekerja. Gini-gini aku tuh lulusan sarjana pendidikan, kuliah di salah satu Universitas Negeri terbaik di Jogja, lulusan cumlaude dengan IPK 3,85. Gerutuku kesal dalam hati.


"Sekarang juga cantik, putih badannya juga langsing lho lih. Mbok sekali-kali ajak main kesini, sulaturahmi gitu." ujar Ibu yang semakin nyinyir saja bibirnya.


Aku sedikit sebal sebenarnya, tapi tak boleh aku tunjukkan di depan mereka. Apalagi ini Ibu nyuruh Mas Galih ngajak mantan tunangannya datang ke rumah ini, kan ada aku istrinya Mas Galih ada disini, gak bisa jaga perasaan orang.


"Ya Ibu aja coba yang ngajak, Galih kan gak pernah ketemu sama dia." ucap Mas Galih.


Ih Mas Galih, apa maksudnya nyuruh Ibu kaya gitu. Seperti ngasih kesempatan supaya hubungan keluarga ini dengan Ratih bisa terjalin kembali. Makin kesal aja hatiku.


"Beneran ya Lih? Nanti Ibu coba main ke rumahnya trus ajak dia kapan-kapan main kesini juga. Wuahh udah lama Ibh gak ngobrol sama dia, pasti bakalan seru nanti kalau bisa ketemu ya." sahut Ibu antusias.


"Terserah Ibu lah." ucap Mas Galih singkat.


"Baiklah Lih, Ibu akan atur waktunya." sahut Ibu dengan senyum sumringajnya.


"Rania, tolong buatin teh panas ya!" perintah Mas Galih tiba-tiba.


"Oh iya Mas sebentar." jawabku dari kejauhan.


Tumben Mas Galih menyapaku, apa hatinya sudah melunak? Ah biarkan saja lah.


"Tuh jadi istri aja ndak peka, harusnya sebelum suami minta iti udah disiapin sama istri. Ini mah disuruh dulu baru paham!" kompor Ibu mulai di sulut kembali.


Itu nini-nini pagi-pagi udah mancing bikin ribut aja. Kalau gak ada Mas Galih udah aku layani dari tadi.


"Ini Mas tehnya." aku meletakkan secangkir teh manis hangat di depan Mas Galih.


"Makasih ya Ran." ucapnya tanpa menatapku.


"Tuh kan kalau menantu ndak tahu sopan santun. Ini jelas-jelas ada Ibu disini bikin tehnya cuma satu." sergah Ibu sewot.


Yapp! Sesuai prediksi. Ibu bakalan komentar. Maaf ya bu, aku memang sengaja hahaha.


"Owh jadi Ibu mau juga? Sebentar Rania buatkan ya." ujarku manis di depan Ibu.


Aku segera kembali ke dapur membuatkan teh Manis untuk Ibu. Lihat saja bu hehehe. Otak jailku muncul.


"Ini bu tehnya, silahkan diminum!" ucapku ramah.


Aku membalikkan badan, baru beberapa langkah aku berjalan, satu, dua, tiga!


"Beahhh!" Ibu menyemburkan teh manis yang baru saja diminumnya, "Apa-apaan ini Rania, panas sekali beahh!"


Wkwkwkwkkk kena kau Bu. Lahian jadi mertua julid amat sih sama menantunya. Ada aja hal sepele yang disalahkannya, kalauoun gak ada ya dicari-cari sampai mengada-ada untuk menjatuhkan kredibilitasku sebagai menantu.


"Eh kenapa bu?" tanya Mas Galih khawatir.


"Panas Lih, panas banget. Lidah Ibu sampai mrentul-mrentul ini." sahut Ibu yang sedang kepanasan merasakan lidahnya diguyur teh yang sangat panas.

__ADS_1


"Ibu tahu itu tehnya panas kenapa langsung diminum? Malah nyalahin Rania." kilahku.


"Ya harusnya kalau bikin teh ya dicampur airnya, setengah teh panas untuk mencairkan gulanya, lalu setengahnya lagi kasih air dingin supaya terlihat hangat-hangat kukuh, gitu aja gak bisa, menantu go**ok! Awas kamu ya Ran!" upat Ibu.


"Hus sudah sudah Bu. Harusnya Ibu hati-hati juga, kan udah kelihatan tehnya panas." ucap Mas Galih yang tak mau ikutan menyalahkanku.


"Kamu ini pie to malah belain istrimu yang ndak becus itu, harusnya kamu bela Ibu. Ibu yang melahirkanmu, apapu itu kamu harus mebela Ibu, biar gak jadi anak durhaka." oceh Ibu. Lagi-lagi bawa-bawa anak durhaka segala.


Baguslah Mas, kamu tak ikutan memojokkanku. Aku tersenyum kecil, puas melihat Ibu mertuaku yang pagi ini berhasil ku bikin ngamuk. Aku biarkan saja ocehannya nyaring bersuara, kau tak memperdulikannya. Aku lanjutkan membuat sarapan yang tinggal menggoreng tempe beberapa biji saja.


////////////////////


Mas Galih sudah pergi ke kantor, rumah sudah sepi. Tinggal aku dan Ibu mertua yang masih merasakan sakitnya lidah terkena guyuran air panas yang baru saja mendidih. Aku puas!


Mulai bergelayut manja pikiran-pikiran curiga yang mengarah ke suamiku. Tiga hati ini sikapnya memang aneh. Setelah kejadian uang Ibu yang hilang itu, semakin kesini sikapnya berubah drastis. Sikapnya yang dingin, bahkan tak peduli dengan anaknya sendiri. Apakah ini harus aku selidiki? Tapi bagaimana caranya? Tak mungkin aku membuntutinya selama dia keluar rumah, apalagi aku bawa bayi yang tak mau lepas dari perutku ini. Ruang gerakku akan terbatas. Aku mencari ide!


"Nanti saja di jalan aku pikirkan, sekarang kita bersenang-senang aja dulu ya nak, kita pergi ke taman kuliner kota, beli jajan sepuasnya. Uang dari eyang sama pakdhe Ardi mari kita habiskan hehehe." ucapku pada anakku di dalam sana.


Terimakasih Ibu dan kak Ardi yang sudah sayang sama Rania. Terimakasih setiap bulan selalu mengirimkan sedikit rejeki kalian untuk Rania dan anak Rania.


Perutku bergerak macam gelombang, anakku menendang kuat tanda dia menyukainya.


"Anak mama hebat, kalau masalah makanan mah semangat ya nak, kaya mama hehehe. Ayo kita berangkat."


Beuhhh! Begitu membuka pintu kamarku sudah terpajang jelas muka Ibu suri disana, tepat di depan pintu kamarku.


"Eh Ibu, ada apa?" tanyaku sok ramah.


Ibu memperhatikanku dari bawah kaki sampai ujung kepala. Mataya mendelik melihat tiap jengkal dari tubuhku.


"Mau kemana? Keluyuran aja."


"Ya periksa kandungan bu." jawabku bohong.


"Periksa? Bukannya beberapa hari yang lalu kamu sudah periksa?" tanya Ibu tak percaya.


"Yah kan sekarang usia kamdungan Rania udah masuk 7 bulan, jadi haris sering-sering diperiksa, begitu Bu." jelasku pada Ibu.


"Halah paling juga alasan kamu mau keluyuran saja!" Ibu tak percaya begitu saja.


"Ya terserah Ibu mau percaya apa gak. Apa mau ikut? Ayo!" tantangku pada Ibu.


"Malas! Ya sudah sana pergi."


"Iya bu permisi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Next 🔜


Rania semakin berani ya gaes! Rania mulai membuktikan bahwa dirinya bisa melawan ketidakadilan yang selama ini dia terima.

__ADS_1


__ADS_2