
Aku menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan hati yang berkecamuk. Jengkel rasanya aku yang jadi tertuduh atas hilangnya uang ibu. Padahal aku tak tahu apa-apa. Ibu tega sekali memfitnahku seperti itu. Selepas dzuhur aku memilih berdiam diri saja di dalam kamar, aku sengaja tak keluar karena memang ingin menghindari ibu. Yang ada nanti aku malah akan semakin sakit hati mendengar segala ucapan-ucapan yang keluar dari mulut pedasnya.
Saat suasana hati sedang kacau seperti ini tiada lagi tempat berkeluh kesah kecuali dengan ibu atau kak Ardi. Akupun memutuskan untuk menelpon salah satu diantara mereka. Tapi kalau jam segitu kayanya kak Ardi masih sibuk di kantor. Aku urungkan niatku. Lalu aku segera membuka layar ponsel kemudian mencari kontak ibu.
"Assalamualaikum Ran," sapa ibu di seberang sana.
"Waalaikumsalam bu, ibu lagi apa? Sehat-sehat kan bu?" tanyaku pada ibu.
"Alhamdulillah Ran ibu sehat, kamu gimana? Kandunganmu juga sehat kan nak??" ibu balik bertanya.
"Iya bu sehat semua alhamdulillah. Bu aku kangen, pengen pulang," suaraku sedikit gemetar, air mataku jatuh tak tertahan.
"Lho lho kangen kok pake nangis gitu to nduk. Kamu baik-baik aja kan? Gak biasanya kamu sampai nangis kaya gini."
Aku memang kangen dengan ibu dan keluargaku yang lain tapi air mata ini jatuh lebih tepatnya karena rasa sakit hatiku atas perlakuan ibu mertuaku terhadapku.
"Aku kangen bu, kangen banget. Aku suntuk disini, gak bisa kemana-mana." kilahku.
"Sabar nduk, nanti 2 bulan lagi kalau sudah lahiran ibu jenguk kamu ya, pasti ibu kesana kok nduk."
"Iya bu. Masih lama ya bu 2 bulannya. Tapi beneran ya bu, nanti aku lahiran ibu harus kesini." ucapku merengek.
"Iya nduk pasti. Sing sabar yo nduk. Tapi kamu baik-baik aja kan disitu? Gak ada masalah kan?" tanya ibu menelisik.
"Gak ada bu, semua baik-baik aja," jawabku berbohong.
Andai engkau tahu bu, hatiku sakit sekali dituduh sebagai seorang pencuri. Dan kalau engkau tahupun pasti hatimu akan jauh lebih sakit dibanding apa yang aku rasakan sekarang. Tapi aku tak mungkin menceritakan masalah ini kepadamu, aku tak ingin nantinya malah memperkeruh hubungan kedua belah keluarga. Biar aku menyimpannya sendiri, semoga masalah ini tidak berlarut-larut dan segera ketemu titik terangnya.
Kamipun lama ngobrol panjang lebar, tak terasa sudah lebih dari 60 menit kami bersua dalam telepon.
"Ya sudah kalau gitu bu, ngobrolnya disambung besok lagi ya bu. Ternyata udah 1 jaman lebih kita ngobrolnya hehehe. Trimakasih sudah mau mendengarkan keluh kesah Rania," ucapku pada ibu.
"Ya sudah nduk, ini ibu nuga mau siap-siap arisan bulanan RT. Kamu pokoknya jaga diri baik-baik ya disitu. Kalau ada perlu apa-apa tinggal bilang sama ibu ya nduk. Gak usah pekewuh."
"Iya bu, makasih ya bu. Pokoknya ibu the best deh hehe. Ya udah Rania tutup ya telponnya ya bu. Assalamuallaikum."
"Iya nduk waalaikumsalam."
Terimakasih bu dengan mendengarkan suaramu hatiku menjadi lega. Setidaknya bisa menentramkan pikiran kalut yang aku rasakan saat ini.
%/%/%/%/%/%/%/%/
__ADS_1
Pukul 17.00
Aku mendengar suara deru sepeda motor mas Galih. Akhirnya suami yang ku tunggu-tunggu dari tadi siang pulang juga. Aku senang sekali, setelah seharian aku merasakan kegabutan gara-gara ulah ibu mertuaku.
Aku bersiap-siap menyambutnya di dalam kamar, sengaja aku tak keluar karena aku masih malas berhadapan dengan ibu mertuaku diluar sana.
Aku menunggunya sudah cukup lama, lebih dari 15 menit. Suamiku tak kunjung masuk kamar. Kemana mas Galih? Aku bertanya-tanya. Aku beranjak dari tepi ranjang menuju jendela kamar, membuka gorden yang bisa menembus melihat teras depan. Terang saja aku melihatnya sedang duduk bersebelahan dengan ibu. Sedang membicarakan apa mereka? Yang aku lihat mereka berdua sedang berbicara serius, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi dari mimik wajah ibu yang kelihatannya nampak kesal, berbicara meledak-ledak menunjukkan bahwa ibu sedang emosi.
Hemm, aku langsung menebak-nebak. Apa jangan-jangan ibu mengadu ke mas Galih tentang uangnya yang tadi pagi raib? Ibu memang benar-benar kelewatan. Sampai hati juga dia mengadukannya pada mas Galih. Tapi aku yakin mas Galih bisa melihat mana yang benar dan mana yang mengada-ada. Aku tak mungkin melakukan hal sehina itu.
Mas Galih dan ibu berdiri, sepertinya pembicaraan mereka telah selesai. Aku kembali menutup gorden jendela dan berjalan mendekati ranjang, duduk ditepian menunggu mas Galih masuk kamar. Terang saja mas Galih membuka pintu kamar, aku melihat wajah murungnya terpampang jelas di hadapanku. Tak ada ucapan salam yang setiap hari jadi kebiasaannya. Aku tak berani menatap wajahnya berlama-lama. Sepertinya tebakanku benar, pasti di depan tadi ibu sudah menceritakan tentang kejadian kagaduhan pagi tadi di rumah ini. Aku percaya mas Galih pasti bisa berpikir jernih, bisa memilah-milah mana yang benar mana yang tidak.
Mas Galih segera menutup pintu, sedikit dibanting lalu meletakkan tas kerjanya di atas meja. Aku belum berani menyapanya, tak sepatah katapun aku ucapkan. Hatiku semakin derdegub tak karuan.
"Apa semua itu benar Ran?" tanya mas Galih langsung.
Aku sudah paham kemana arah pertanyaan mas Galih.
"Kamu percaya mas?" tanyaku balik. Aku tetap tak berani menatap wajahnya. Masih terdiam duduk dibl tepi ranjang.
"Selama ini ibu tak pernah berbohong!" seru mas Galih.
Degh! Hatiku berdesir. Apa ini artinya mas Galih lebih percaya sama ibu? Aku tak percaya kalau memang sampai itu terjadi.
"Untuk apa kamu melakukannya Ran? Kalau kamu butuh duit kamu bisa bilang, nanti bisa aku kasih lebih!" serunya.
"Mas!"
"Aku tak tahu Ran, kenapa kamu bisa melakukan hal serendah ini, aku kecewa."
Mas Galih mengeluarkan dompet yang berada di sakunya, lalu mengambil 5 uang lembaran merah di dalamnya.
"Ambil ini, segera berikan ke ibu!" perintah mas Galih sambil menyodorkan uang yang ada digenggamannya kepadaku.
"Aku gak mau. Bukan aku yang mengambil uangnya."
"Masih keras kepala kamu Ran."
"Aku bukan pencuri!" sorot mataku tajam melihat ke arah mas Galih.
"Baiklah, aku sendiri yang akan membayarnya ke ibu. Ayo ikut, segera minta maaf padanya!" perintah mas Galih.
__ADS_1
"Mas! Aku kau suruh mengakui hal yang tak pernah aku perbuat? Lelucon macam apa ini? Aku gak mau!" seruku tak kalah garang dari mas Galih.
"Sejak kapan kamu berani membangkang seperti ini Ran? Aku tak pernah mengajarkannya padamu. Apalagi membangkang pada ibu." ujar mas Galih.
"Aku bukannya membangkang mas, aku bicara apa adanya. Sampai hati kamu mas melakukan ini padaku," kilahku membela diri.
"Lalu maksudmu ibu yang berbohong?" seru mas Galih.
"Yang jelas bukan aku yang berbohong. Demi Alloh, demi anak yang sekarang aku kandung saat ini," balasku.
"Jangan bawa-bawa Alloh demi menutupi kebohonganmu, aku tak suka!"
"Seberapa lama kamu mengenalku mas? Apakah kali ini aku terlihat sedang berbohong?" aku menyunggingkan senyumku.
"Baiklah kalau kau tak mau meminta maaf pada ibu, aku yang akan meminta maaf mewakilimu," ucap mas Galih.
Mas Galih segera meninggalkan kamar menuju ibunya dengan uang yang berada di genggamannya. Aku tak habis pikir, apa yang ibu bicarakan pada mas Galih hingga dia begitu percaya dengan semua omongan yang ibu sampaikan ke dia. Tak pernah aku jumpai suamiku semarah ini padaku.
Dengan meminta maaf itu berarti aku mengakui akulah yang salah. Oh tidak bisa! Itu artinya akulah yang mengambil uang ibu. Aku masih berdiam diri di dalam kamar, tak sudi aku harus meminta maaf atas kesalaham yang sama sekali tak pernah aku buat.
Aku masih menunggu mas Galih masuk kembali ke kamar. Hingga adzan maghrib berkumandang tak jua aku lihat batang hidungnya kembali. Suamiku benar-benar marah?
Ya Alloh, apa yang harus aku lakukan. Baru saja beberapa bulan ini aku merasakan hari-hari bahagia bersama suamiku, kali ini sudah harus menelan pil pahit kembali atas segala tuduhannya teehadapku. Baru saja aku berdiri hendak keluar mencarinya. Gangang pintu kamar sudah terbuka, mas Galih kembali.
Hatiku sedikit lega melihatnya kembali memasuki kamar ini. Aku lihat mas Galih sepertinya sudah mandi. Terlihat dari handuk yang melilit di pundaknya. Tapi sama sekali dia tak menegurku, sedangkan aku juga enggan menegurnya duluan. Aku tidak salah!
Seperti biasa, mas Galih bersiap menuju masjid untuk berjamaah. Dia kenakan baju koko putih dengan sarung warna coklat sudah rapi membalut pinggangnya. Dia pergi begitu saja tanpa pamit. Hatiku semakin perih, belum kering luka yang ibu mertuaku tanamkan tadi pagi, kini aku juga harus mendapati suamiku sendiri memperlakukan hal yang sama kepadaku, menuduhku tanpa bukti.
Baiklah mas, kamu yang memulainya. Bukan salahku kalau aku hanya mengikuti arah alurmu. Aku juga tak mau kalah, egoku semakin meninggi. Aku masih berpegang pada kenyataan yang sebenarnya, aku tidak salah, aku tidak mengambil uang ibu. Kalau kau masih tetap percaya dengan yang ibu sampaikan, itu terserah kau.
"Akhirnya uangku ada yang ganti juga, kalau rejeki mah tak akan kemana." terdengan ocehan ibu di luar sana. Suaranya keras sekali, apa dia sengaja supaya aku bisa mendengarnya.
"Ternyata ya cantik-cantik kok hobi nyuri, mana lagi bunting pula, duh amit-amit jabang bayi." cibirnya lagi.
Suara ibu kian lantang. Kali ini aku yakin dia memang sengaja berniat menyindirku.
"Sabar ya sayang, kali ini nenek dan ayahmu sedang gelap mata," ucapku lirih sambil mengelus-elus perut buncitku yang sudah 7 bulan kini usianya.
Malam ini kami lewatkan dengan saling mendiamkan. Tidur saling memunggungi. Tak sepatah katapun terucap dari bibir kami. Padahal besok adalah jadwal kontrolku ke bidan, terpaksa aku merubah rencana. Aku tak akan meminta mas Galih menemaniku, aku akan berangkat sendiri. Aku sudah terbiasa melakukannya tanpa mas Galih. Kita lihat saja mas, sampai kapan kamu akan terus bersikap seperti ini.
%%%%%%%%%%%%%%%
__ADS_1
Next 🔜