Mertuaku Sayang

Mertuaku Sayang
Rencana Syukuran Kehamilan


__ADS_3

Hari Jum'at


Hari ini aku merasa bersemangat sekali. Hari minggu nanti aku akan menggelar acara 4 bulanan anakku. Tapi sejujurnya masih ada sedikit rasa yang mengganjal di hati, apa lagi kalau bukan soal izin ibu mengenai acara itu. Aku berharap mas Galih sudah membicarakannya baik-baik dengan ibu. Lagian kan ibu g akan kehilangan sepeserpun uangnya, karena semua biaya akan memakai uang kami, tidak meminta ke ibu atau bapak. Semoga saja kali ini ibu mau mengerti.


Hari ini aku sedang berada di dalam kamar, karena hari-hariku kebanyakan memang aku habiskan di dalam kamar. Setelah selesai membereskan pekerjaan rumah aku akan kembali ke kamarku. Aku lebih nyaman berada di ruangan kecil berukuran 3m x 3m ini. Aku bisa melakukan apapun yang aku suka, tanpa di komentari ataupun sampai di larang sama ibu terutama.


Drutt... Drutt... Drutt. Ponselku bergetar. Aku mengambil ponsel yang sedari tadi aku letakkan diatas kasur.


[Trx Rek. 664511224355537 : Transfer IBNK ARDI MAULANA TO RANIA MAHESWARI Rp. 3.000,000.00 23/06/20 11:40:09]


Mataku terbelalak melihat angka yang tertera dalam laporan IBankingku. 3 juta masuk ke dalam rekeningku. Katanya kemarin ibu mau ngasih 2 juta aja. Ini kok malah dilebihin banyak gini sih. 2 juta itu menurutku sudah terlalu banyak ini malah masih di tambah lagi. Padahal kan bisa buat tambah-tambah untuk membeli kebutuhan ibu bapak disana.


Aku mengambil ponsel yang ada di ranjang, aku cari kontak mas Ardi lalu aku segera menelfonnya.


"Assalamualaikum Ran, lapo?" tanya langsung mas Ardi.


"Mas kok transfernya banyak banget? Kemarin ibu bilangnya 2 juta, ini kok masuknya malah 3 juta to mas" tanyaku protes.


"Lhah kamu tuh dikasih banyak kok malah protes si Ran, wong aneh. Harusnya ya bersyukur dikasih lebihan" jawab mas Ardi.


"Bukannya g bersyukur mas tapi kan kasihan ibu. Uangnya kan bisa buat nambah-nambah beli beras kek atau apa kebutuhan disitu. Kan aku jadi g enak mas. Nanti yang 1 juta aku transfer balik aja ya?" sambungku dengan perasaan g enak.


"Lhah wes di trima aja ya. Itu rejekine si jabang bayi kok. Ibu memang ngasihnya 2 juta Ran, selebihnya dari pakdhe Ardu untuk calon ponakannya hehehe" kata mas Ardi.


"Lhoh jadi itu sisanya uangnya mas Ardi to?" tanyaku.


"Iyo lah, lumayan buat nambah-nambah beli yang lain."


"Ya udah kalau itu dari mas Ardi, g jadi protes aku hahaha."


"Wooo dasar."


"Iya soalnya duitnya mas Ardi kan masih banyak, wong cuma ngurusi diri sendiri kok, belum ngurusin anakke orang, hahahahaa" ejekku pada mas Ardi.


"Oooo nyindir ni critanya."


"Hahaha makanya to mas gek nyari cewek. Biar ada yang masakin, ada yang nyuciin baju, ada yang nemenin."


"Gampang itu mah urusan belakang. Wes lah Ran mas lagi sibuk iki, lagi di jalan mau ke tempat proyek."


"Owh ya udah mas, sekali lagi makasih ya pakdhe Ardi hehehe."

__ADS_1


"Eh eh eh g jadi protes? G jadi dibalikin? Hahahaa" ledek mas Ardi.


"Gaaaakkkk mas. Yo wes hati-hati ya mas, Assalamualaikum."


"Iya Ran, Waalaikum salam."


Aku menutup teleponku, ah lagi-lagi dapet rejeki dari mas Ardi. Masku yang satu ini memang dari dulu sayang sama aku. Semenjak dia bekerja sering kali aku di berikan uang jajan yang lumayan banyak. Atau sekedar membelikanku baju-baju merk distronan, tas atau sepatu. Dia memang royal dengan keluarganya. Sayangnya sampai saat ini belum menemukan jodoh yang pas menurut versinya.


"Tuh nak lihat, yangti sama pakdhe Ardi tuh baik banget, sayang banget sama kita. Mau bantuin kita saat susah gini, g kaya nini sama akimu. Boro-boro bantuin kasih sedikit duit, yang ada malah uang gaji atahmu diminta sama dia, heuhhh" aku menggerutu kesal sambil mengelus-elus perut buncitku.


"Nanti kalau kamu sudah lahir dan besar sayangi mereka ya nak. Mereka orang-orang terbaik yang selalu ada buat kita."


Aku melihat jam dinding yang menempel di atas lemari pakaian. Pukul 16.00, waktunya memulai peperang di area perdapuran. Aku meninggalkan kamarku menuju dapur. Aku membuka kulkas dan melihat-lihat ada apa disana yang bisa aku eksekusi untuk makan malam nanti. Ada kangkung, tauge dan tak ketinggalan si tempe yang selalu menemani makan kami sehari-hari.


Baiklah, hari ini aku akan masak ca kangkung dan tauge, ditemani lauk tempe goreng. Alhamdulillah aku bersyukur masih bisa diberikan kesempatan memakan makanan ini. Diluaran sana masih banyak orang yang kekurangan dan tak bisa makan seenak ini.


Semenjak kejadian beberapa bulan yang lalu saat aku memborong berbagai bahan sayuran dan buah-buahan itu sampau detik ini aku tak pernah mengulanginya. Takut di semprot lagi sama ibu suri. Sesekali mas Galig membelikanku buah-buahan yang aku pesan sebelum dia berangkat kerja. Dan tentu saja itu tak akan aku masukkan ke dalam kulkas. Semuanya aku simpan du dalam kamar, biar g ketahuan sama ibu. Dan ini semua adalah ide gilanya mas Galih karena dia juga g mau ribut-ribut sama ibu cuma gara-gara masalah makanan. Padahal kan kalau dipikir ini juga untuk tambahan gizi anak dalam perutku ini. Tapi begitulah ibu yang selalu mempermasalahkan apapun yang aku lakukan.


Baru aku menutup pintu kulkas dan hendak ku bawa ke meja dapur untuk dibersihkan, datanglah sang ibu suri yang paling baik hati se dunia ini ke dapur. Sebenarnya aku malas harus berhadapan dengan ibu, tapi bagaimanapun juga aku tak boleh seperti itu. Dia tetaplah mertuaku, orangtua yang harus aku hormati. Walaupun sering juga setelah dia berhenti mengomel dan pergi meninggalkanku, aku mengupat sepuasku. Hahaha tak bedanya bedanya.


"Mau masak apa Ran?" tanyanya tiba-tiba.


"Ini bu mau masak kangkung sama goreng tempe.


Aku mengernyitkan kening. Tapi daripada aku membantah perkataannya dan dikatain mantu durhaka, lebih baik aku diam dan mengiyakan setiap omongannya.


"Oh iya kalau gitu bu, nanti Rania masaknya dikit aja" jawabku mengiyakan permintaan ibu.


"Ini juga kangkungnya separuh aja Ran, sayur asem yang tadi siang masih itu di lemari makan, itu diangetin aja biar kemakan nanti malam" pintanya lagi.


Aku menghela nafas panjang. Lagi-lagi aku harus mengiyakan permintaan ibu mertuaku ini.


"Oh iya bu" jawabku singkat.


"Jadi istri itu pokoknya harus pandai mengatur keuangan, jangan boros-boros, ya?" kata ibu dengan sengaja mendekatkan mulutnya ke dekat telingaku.


Setiap hari yang selalu aku dengar adalah kata-kata jangan boros, sampai bosen aku mendengarnya. Aku sadar kali ibu sedang mengintimidasiku. Tapi aku sudah cukup kebal dengan segala yang ibu omongkan. Masuk dari telinga kiri dibuang ke telinga kanan. Gitu aja kok repot.


"Oiya Ran, kemarin Galih bicara sama ibu kalau besok minggu akan ada acara syukuran 4 bulanan kehamilanmu ya?" ibu bertanya padaku.


"Owh iya bu, mas Galih sudah bicara sama ibu? Rencananya memang seperti itu bu, ibu mengizinkan?"

__ADS_1


"Memangnya kamu punya duit? Kalau punya ya silahkan saja Ran" tanya ibu seperti tak yakin.


"Insha Alloh ada bu" jawabku singkat.


"Ya bagus lah, pakai aja itu uangmu sendiri ya, karena ibu g bisa bantu apa-apa, ibu lagi g punya duit, kemarin habis ibu belikan gelang 6 gram."


"Iya ibu tenang aja, sudah dapet kiriman dari ibuku di Jogja, semua kebutuhan syukuran ditanggung sama ibuku, seeemuuuuaaanyaaaa" aku sengaja menekankan kata-kataku.


Mata ibu membelalak, seperti merasa tersindir. Jadi seperti salah tingkah. Tahu rasa kamu nini nini pelit. Bikin jengkel aja.


"Ya bagus lah, buat ngurangin beban biaya yang harus kamu keluarkan, jadi uangmu bisa kamu tabung untuk lahiran nanti" ibu mencoba berbicara bijak.


"Iya jelas dong bu, nenek kakeknya di Jogja g akan perhitungan sama calon cucunya. Apalagi ini cucu pertamanya" aku berkata sambil mengelus perutku.


"Owh ya bagus lah, minta saja sana sama ibumu yang kaya itu" celetuk ibu tak mau kalah.


"Iya pasti lah bu, kaya dan g peliiitttt" kembali aku sengaja berkata seperti itu di hadapan ibu mertuaku.


"Jadi kamu anggap bapak sama ibu disini pelit? Begitu maksudmu Ran?" ibu mulai meninggikan suaranya.


"Siapa yang bilang gitu bu? Tadi kan Rania cuma bilang kakek neneknya yang di Jogja itu g pelit, ya terserah ibu mau mengartikan seperti apa."


"Semakin hari kamu itu kok semakin berani sama ibu to Ran?" kata ibu sambil memandang sengit ke arahku.


Ibu nampak semakin sewot tapi dia berusaha menyembunyikannya.


"Ya sudah sana kelarin masaknya, keburu Galih sama bapak pulang makanan belum matang" ibu mengalihkan pembicaraan.


"Ibu mau bantuin?" tanyaku.


"Masak segitu aja suruh bantuin. Ibu mau ke rumah bu RT ada perlu" sahut ibu ketus.


"Owh ya sudah" balasku.


Lalu ibu pergi meninggalkan dapur. Akupun membuang nafas dengan kasar. Gusti, punya mertua kok kaya gitu. Udah medit, ngeyelan, g mau kalah pula. Ibu ibu untung saja yang jadi menantumu itu aku, kalau yang lain jangan harap bisa betah berada di dalam rumah ini. Aku memuji diriku sendiri.


Jujur akupun merasakan hal yang sama, tak betah. Tapi bagaimana lagi, aku masih melihat suamiku. Aku tak ingin suami dan juga keluarganya terlihat jelek di mata keluargaku. Makanya masalah dengan mertua ini sama sekali tak ada yang tahu. Bagaimana sikapnya padaku, bagaimana perlakuan mereka selama ini, cukup aku yang tahu dan merasakan. Entah sampai kapan aku bisa menahannya, aku sendiri tak akan pernah tahu.


Terserah lah apa kata ibu barusan, yang penting acara hari minggu besok sudah fix akan terlaksana, tak lupa aku ucapkan terimakasih pada ibu mertuaku.


Akupun segera melanjutkan aktifitasku di dapur, menyelesaikannya segera, berharap ketika nanti ibu sudah pulang dari acara ghibahnya akupun sudah berada di kamar sambil menunggu kepulangan suamiku.

__ADS_1


Next 🔜


__ADS_2