
Pagi itu sebelum mas Galih berangkat ke kantor aku mencoba berbicara tentang rencana syukuran 4 bulan kehamilanku. Jujur aku kurang yakin dengan rencana ini karena pasti akan ditentang mati-matian oleh ibu mertuaku dengan berbagai alasan.
Mas Galih baru saja selesai mandi, dia berdiri di depan lemari dan bercermin disana. Sedang menyisir rambut hitamnya yang mulai memanjang.
"Mas rambutnya udah panjang itu, mbok di potong" sapaku basa-basi sebelum berbicara ke yang inti.
"Hehe iya ini, g ada waktu dek. Aku kan pulangnya sekarang malem terus, sampai rumah capek to" balas mas Galih.
"Bagaimana kalau aku yg potong aja mas?" aku menawarkan diri.
"Kamu dek? Gak gak. Mending gondrong seumur-umur daripada nanti rambutku kamu botakin, hahaha" canda mas Galih.
"Kan buat kelinci percobaan mas" aku melanjutkan.
"Emoh dek, gahhh" kekeh menolak.
"Hahaha ya sudah kalau g mau mas. Oiya mas sebentar lagi kan usia kehamilanku sudah 4 bulan. Kira-kira mau ada acara syukuran g mas?" tanyaku dengan penuh hati-hati.
Mas Galih menoleh ke belakang, ke arahku.
"4 bulanan? hemmm harus ya dek?" mas Galih bertanya serius kepadaku.
"Heemmm ya g harus si cuma kan itu tanda syukur kita, sudah Alloh beri kepercayaan kepada kita, karena kan g semuanya bisa merasakan apa yang kita rasakan ini mas" aku menjelaskan kepada mas Galih.
"Kalau ada uangnya si gak papa Ran, cuma kalau harus maksain aku pikir mending g usah. Nanti kita syukuran sendiri sekeluarga" bujuk mas Galih.
"Uangnya ya ada mas, paling kan syukuran kecil-kecilan aja acara pengajian ibu-ibu kampung sini, trus pulangnya bawa makanan gitu. 2 jutaan lah mas" aku menjelaskan lagi.
"Ya sudah kalau ada uang aku sih g masalah dek, kamu yang atur ya" mas Galih menerima rencanaku.
"Iya mas makasih ya sudah ngasih izin untuk acara ini" aku memeluk suamiku tercinta.
"Iya istriku sayang" mas Galih mengecup keningku. "Trus mau diagendakan kapan acaranya?" lanjut mas Galih.
"Kalau sesuai kalender si pas 4 bulannya itu besok hari rabu mas, gimana?" tanyaku meminta pertimbangan mas Galih.
"Hari rabu ya, kalau diundur hari minggu bisa g dek? Kan biar mas bisa ful di rumah bantu-bantu juga. Kalau pas hari kerja mas takutnya pulangnya telat. Kan tahu sendiri suka ada urusan dadakan di kantor kalau hari kerja gini."
"Benar juga si mas. Ya sudah nanti acaranya hari minggu aja ya."
"Ya sudah dek aku setuju."
"Eh mas tapi ibu gimana?" aku memandang ke atas, ke wajah mas Galih.
Mas Galih melepaskan pelukannya, sejenak berpikir.
"Iya ya dek, gimana ya dengan ibu? Ah sudah lah kamu g usah mikirin kesana, nanti aku yang akan bicara ke ibu" kata mas Galih menenangkan.
"Baiklah mas kalau gitu, aku bisa sedikit tenan."
__ADS_1
Alhamdulillah rencanaku akan berjalan lancar dengan seizin suamiku. Tapi masih ada 1 kendala lagi. Siapa lagi kalau bukan ibu mertuaku yang tersayang itu. Heuuhh nafasku mengendus kasar. Tapi mas Galih yang akan membereskan urusannya dengan ibu, biarlah aku serahkan semuanya ke mas Galih untuk menghadapi ibunya.
"Ya sudah mas berangkat dulu ya, ada acara meeting pagi hari ini di kantor."
"Lhoh g sarapan dulu mas? Aku udah masak sayur asem itu sama goreng asin" bujukku ke mas Galih.
"Di bungkusin aja ya dek, nanti takut telat, nanti aku sarapan di kantor aja."
"Ya udah mas tunggu bentar ya aku ke dapur dulu."
Segera aku bergegas ke dapur membungkuskan bekal untuk mas Galih. Sedangkan mas Galih menuju keluar manasin motor siap-siap melaju ke kantornya.
Aku menuju ke teras, aku lihat mas Galih sudah berada disana, sedang memakai sepatu pantofel hitam yang tadi sudah aku semir supaya kelihatan bersih.
"Ini mas bekalnya" aku menyerahkan kotak bekal makanan yang sudah aku masukkan ke dalam totebag warna hijau muda, lengkap dengan sebotol air putihnya.
"Terimakasih Rania, istriku tercinta. Ayah pergi berangkat kerja dulu ya nak" mas Galih mengusap-usap perutku tak lupa diapun berpamitan dengan anaknya.
Lalu aku menyalaminya membiarkannya pergi menunaikan kewajibannya mencari nafkah demi keluarganya. Aku bersyukur Alloh telah melunakkan hati suamiku. Mengubah pikirannya yang sedari dulu tak pernah bisa aku sentuh. Aku berdo'a mas, semoga kelak jika Alloh memberikan kesempatan untukmu bisa berwiraswasta sendiri, aku akan mendukungmu penuh. Aku berjanji.
Melihat mas Galih berlalu aku segera masuk ke dalam lagi, menyelesaikan tugas-tugas negara kerumah tanggaan. Masih ada cucian segunung menumpuk di belakang. Untuk sudah ada meain giling yang bisa meringankan pekerjaanku. Aku juga bisa sambil mengerjakan pekerjaan lain selagi mesin masih dalam proses menggiling.
Aku mulai memasukkan 1 persatu pakaian basah yang sudah siap untuk aku giling ke dalam mesin cuci. Tiba-tiba seseorang datang dari belakang, tak ada suara menggema disana, berarti bukan iby yang datang, lalu siapa?
Aku menengok ke belakang, aku melihat bapak disana sedang berjalan menjinjing ember yang nampaknya pakaian kotornya.
"Bapak mau nyuci, sini biar sekalian aku masukin ke dalam mesin pak" pintaku ke bapak.
"Gak papa pak, udah jadi tugasku mencuci pakaian di rumah ini, sekalian capeknya kan pak, hehehe" aku mencoba mengajak bapak bergurau. Tapi nampaknya bapak dingin-dingin saja, tak ada ekspresi di wajahnya.
Hemmm salah bicara nampaknya aku. Gumamku dalam hati. Akupun terdiam, hanya melihat bapak yang sedang sibuk mengisi air dalam embernya untuk merendam beberapa baju kotornya.
"G usah di cuciin ya Ran, biar bapak sendiri yang ngerjain nanti pulang dari sawah" pesan bapak kepadaku.
Aku hanya mengangguk tanda setuju, seketika bapak langsung pergi. Dadaku sesak tak dapat berucap. Merasakan sakit yang begitu hebat, lebih sakit dibandingkan dengan segala omelan ibu yang setiap hari aku terima. Entah aku merasa bapak seakan tak suka padaku. Semenjak aku menapakkan kaki di rumah ini. Aku memang tak pernah menceritakan ini kepada mas Galih. Aku tak mau membenaninya dengan pikiran-pikiran negatif. Apalagi hubungan mas Galih dengan bapak masih dingin. Aku tak mau mereka terlibat konflik yang akan semakin membuat mereka menjauh satu sama lain.
Aku sudah sering kali merasakan perasaan seperti ini, tapi selalu aku tepis dengan berbagai macam persepsi. Tapi dilain hari perasaan itu muncul kembali. Apa salahku pak? Sampai sedingin ini engkau denganku. Apakah rasa sakitmu terhadap mas Galih juga akan kau tumpahkan kepadaku? Apakah datangnya calon cucumu ini tak bisa sama sekali mengobati hatimu yang lara terhadap mas Galih?
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Selesai menyelesaikan tugas negara aku menuju ke kamar. Aku merasakan badanku terasa sangat capek. Alu akan beristirahat sejenak sampai waktu dhzuhur nanti. Lumayan masih ada sisa 1 jam untukku istirahat dengan tenang tanpa gangguan-gangguan beban pekerjaan yang belum terselesaikan.
Aku merebahkan badan ke ranjang. Lalu mengambil ponsel yang aku letakkan sedari tadi di atas meja samping ranjangku. Aku melihat ke layar ponsel, ada beberapa notifikasi panggilan dari ibuku. Tadi memang aku sibuk dengan pekerjaan rumah sehinga tak sempat memegang ponsel.
"Ada hal sepenting apa sampai ibu menelponku. Sampai 5 kali panggilan pula, aku telpon balik aja lah" Aku segera menekan tanda telepon memanggilnya.
"Assalamualaikum Ran" jawab ibu.
"Waalaikumsalam bu, ada apa bu kok sampai 5 kali teleponnya?" Dengan nada khawatirku aku menunggu jawaban dari ibu.
__ADS_1
"Ndak papa Ran, ibu cuma kangen aja pengen ngobrol."
"Beneran bu?"
"Iya beneran nak, maaf ya sudah membuatmu khawatir hehe."
"Iya bu gak papa. Syukur lah kalau g ada apa-apa bu. Ibu sehat kan? Bapak juga?"
"Alhamdulillah nak, kami semua sehat-sehat semuanya. Kamu gimana? Kandungannya sehat to?"
"Alhamdulillah bu kami sehat-sehat semua."
"Syukurlah. Oiya Ran itu usia kandunganmu kalau ibu hitung-hitung sudah mau 4 bulan ya?"
"Lhoh ibu ngitung? Iya bu ini rencananya mau ada syukuran besok hari minggu. Mohon doanya juga ya bu, acaranya lancar."
Ibuku ini emang terbaik ya. Ternyata beliau juga menghitung usia kehamilanku. Aku jadi terharu bu. Coba kalau ibu mertuaku juga kaya gini, kan aku jadi semakin sayang sama dia. Ini mah boro-boro inget. Yang ada di kepalanya cuma nunggu waktu mas Galih gajian abis itu besoknya akan ke pasar membelanjakan emas. Aku tak bisa menghitung berapa gram sampai saat ini jumlah emasnya.
"Iya nak, semoga acaranya lancar sampai selesai, bayi dan ibunya sehat, lahir normal tak kurang suatu apapun, jadi anak yang sholeh maupun sholehan, aamiin."
"Aamiin, makasih yang uti."
"Oiya besok atau lusa ibu suruh masmu buat transfer ya buat bantu-bantu keperluan acara syukurannya."
"Halah ibu g usah repot-repot gitu. Ini aku sama mas Galih sudah ada uangnya kok. Uang ibu buat keperluan ibu saja." aku berusaha menolak.
"Ini udah niatan ibu nak, masak mau ikut ngasih buat kebutuhan cucunya g boleh to Ran" Suara ibu sedikit merajuk.
"Bukannya begitu bu. Tapi kan aku juga g enak. Aku ini harusnya ngasih ke ibu bukannya malah meminta kaya gini" aku mencoba memberi pengertian ke ibu.
"Siapa yang minta nak, ibu ini niat ngasih. Udah kamu banyakan protes. Ibu g ngasih kamu kalau gitu, ibu ngasih cucu ibu, wes titik" kembali ibu menegaskan.
"Ya ampun bu, ya sudah kalau itu sudah jadi keinginan ibu. Terimakasih banyak ya bu. Ibu selalu mengerti keadaanku lebih dari siapapun."
"Ya sudah kalau gitu sudah dulu ya, salam buat Galih sama kedua mertuamu. Kamu baik-baik ya nak disitu."
"Iya bu, nanti aku sampaikan."
"Assalamualaikum" tutup ibu.
"Waalaikumsalam bu."
Ibuku ini seolah selalu tahu dengan kondisiki sekarang disini. Aku memang tak pernah memberitahu ibu apapun yang menyangkut rumah tanggaku. Karena aku tak mau suamiku nanti dianggap yang tidak-tidak oleh keluargaku. Aku sengaja menutupinya demi menjaga martabat suamiku.
Ibu, sekali lagi terima kasih.
Next 🔜
Belum selesai konflik sama ibu mertua, Rania sudah di hadapkan kembali dengan konflik batin bapak mertuanya. Duhh kasihan sekali nasibmu Ran.
__ADS_1
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜