
Lanjut ya readers tercinta....
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Setelah perjalanan sekitar 30menitan, akhirnya aku tiba di rumah, aku mengucapkan salam tapi tak seorangpun menyahut. Kemana mas Galih dan ibu? Kenapa tak ada orang di rumah? Aku bertanya-tanya. Segera aku masuk saja, menuju ke dapur, meletakkan barang-barang belanjaanku. Aku ganti baju dulu baru setelah itu membereskan belanjaanku ini.
Aku berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian, aku mendapati mas Galih disana sedang memandangi sebuah album foto. Aku masih berada di muka pintu, belum sempat masuk ke dalam. Album foto pernikahan kami dulu dilihatnya lekat-lekat.
"Dari mana Ran?" tanyanya padaku. Mas Galih mengarahkan pandangannya padaku.
"Dari Puskesmas mas, maaf ya tadi aku berangkat sendiri, g pamitan juga. Tadinya aku mau membangunkanmu mas, tapi aku lihat tidurnya pules banget, g tega mau banguninnya" sahutku dengan cepat.
Aku takut nanti jadi salah lagi karena pergi tanpa izin darinya.
"Gak papa Ran. Sini duduk sebelah mas" tangan mas Galih menepuk-nepuk kasur disebelah dia duduk. Menyuruhku duduk di sebelahnya.
Aku segera menghampirinya, lalu duduk disebelahnya, seperti yang dia minta. Hatiku sungguh tak karuan. Aku yakin mas Galih bakalan mengomeliku lagi, tapi aku sendiri juga belum menemukan jawabannya, kenapa mas Galih bisa semarah ini. Aku sudah pasrah apapun yang akan dilakukan mas Galih terhadapku.
"Ada apa mas? Apa hari ini aku melakukan kesalahan lagi?" aku bertanya dengan penuh khawatir.
"Tidak sayang" jawab mas Galih sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Maafin aku ya Ran, maaf sudah mengabaikanmu selama ini, maaf sudah tak peduli denganmu dan calon anak kita" mas Galih memegang tanganku mengiba. Menatapku dengan berkaca-kaca.
Aku melihat sorot mata mas Galih mengisyaratkan bahwa ada penyesalan disana. Jujur aku kaget, ada apa tiba-tiba suamiku seperti ini? Apa dia lagi ngelindur ya? Aku masih bertanya-tanya dalam hati. Sulit untuk percaya, karena tak pernah aku mendapati mas Galih bersikap seperti ini. Lebih dari 4 tahun aku mengenalnya, dia tak pernah begini.
Lalu dia menyentuh perutku, mengusap-usap perut yang masih terlihat rata ini. Semakin membuatku merasa aneh. Aduh, jangan-jangan suamiku ini lagi kesambet. Setan mana yang berhasil memasuki raganya ini gusti. Ketakutanlah yang aku rasakan, takut setan yang merasuki mas Galih menyakitiku. Keringat mulai bercucuran, aku mulai membaca ayat-ayat yang aku bisa dalam hati, sungguh rasanya aku ingin segera lari dari tempat itu tapi aku tak bisa. Rasa lemas dikakiku, tak mampu menopang tubuh ini. Ya Alloh, lindunginaku dan bayiku.
"Kamu mau maafin suami yang tak berguna ini Ran?" mas Galih bertanya lagi.
"Kamu ini ngomong apa si mas? Istighfar mas istighfar, nyebut mas" aku menggoyang-goyangkan badan suamiku ini. Lalu memegangi wajahnya dengan kedua tanganku.
"Ran aku serius, aku tak sedang bercanda, aku ingin memperbaiki semuanya Ran, sebelum terlambat" mas Galih mencoba menegaskan kembali.
Aku semakin tak mengerti dengan ucapan-ucapan mas Galih. Sungguh ini bukan suamiku.
"Ran, Rania...." mas Galih sedikit berteriak karena melihatku yang masih bengong tak percaya dengan semua ini.
"Mas lagi g kenapa-kenapa kan? Mas baik-baik aja?" aku bertanya penasaran.
"Aku sadar Ran, kamu pikir aku ni main-main apa. Aku ingin memperbaiki semuanya Ran, aku g mau kamu ceraikan" mas Galih mulai ngomong yang gak gak lagi.
"Hehh mas, siapa yang mau nyeraiin mas tuh? Siapa? Kamu ini aneh-aneh aja deh" sahutku mulai gemas.
__ADS_1
"Ran pokoknya aku minta maaf ya, aku minta maaf sama kalina berdua. Sudah membuat kalian susah. Habis ini dan seterusnya aku akan berusaha jadi suami yang baik, dan juga ayah yang baik untuk calon anak kita ini" mas Galih memegang perutku dengan binar-binar bahagia yang terpancar dari sorot matanya.
Alhamdulillah ya Alloh, Kau mendengar doa-doaku. Akhirnya suamiku sadar juga. Aku sebenarnya masih tak percaya. Aku tak menyangka semuanya secepat ini. Aku berkaca-kaca, lalu kami saling berpelukan. Erat, dan tak ingin terpisahkan.
"Mulai besok dan seterusnya aku akan selalu menemanimu pergi ke Dokter Ran. Aku juga ingin tahu perkembangan anak kita di dalam sana".
"Beneran mas? Janji ya?"
"Iya janji sayang" mas Galih mengecup keningku.
"Makasih ya mas atas pengertiannya, aku seneng banget".
Masalah satu telah selesai, bahagia sekali rasanya aku hari ini. Berlipat-lipat kebahagiaan menghampiri. Dari mulai di kasih uang sama mas Ardi, bisa belanja buat si jabang bayi, dan sampai rumah dikejutkan oleh suamiku yang sudah menyadari kesalahan-kesalahannya selama ini.
"Oiya Ran, sebenarnya kemarin Satrio menghubungiku, dia minta bantuan untuk mengelola salah satu anak perusahaan miliknya yang ada di Tasik".
Aku melepaskan pelukan, penasaran apa lagi yang akan di kabarkan mas Galih kepadaku.
"Satrio? Aku kok lupa ya sama teman mas yang satu ini".
"Itu lho yang dulu teman kuliah mas, yang anaknya juragan garam dari Jepara".
"Oalah, iya iya aku ingat mas. Yang anaknya tinggi hitam itu ya. Trus mas jawab apa?"
"Iya yang itu. Apa mas coba saja ya, UMR sana lumayan lho Ran, belum lagi bonus-bonus kalau bisa melebihi target, gimana menurutmu?" mas Galih mencoba meminta pertimbanganku.
"Mau Ran, bagaimanapun sekarang ini aku sudah jadi seorang suami dan sebentar lagi akan jadi seorang ayah. Aku harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang memang seharusnya aku lakykan dari dulu. Dulu aku berjanji pada bapakmu, aku akan membahagiakanmu. Apa jadinya kalau bapak melihat anak perempuannya ternyata semenderita ini, bisa di potong kepalaku nanti" canda mas Galih.
"Bapakku g sehoror itu mas" aku mencubit perut mas Galih.
"Aduhhh, sakit Ran, sini gantian tak cubit".
Kamipun asyik bercanda di dalam kamar. Rasanya sudah ribuan abad kami tak segembira ini. Gelak tawa memenuhi ruangan kamar ini.
"Aku sih ikut kamu aja mas. Kalau kamu yakin mau ambil pekerjaan itu dan tentunya kamu merasa mampu, ya g apa-apa diambil aja. Aku hanya bisa ngasih dukungan semampuku".
Aku mencoba menyemangati mas Galih yang baru saja siuman dari tidur panjangnya. Dan sebenarnya juga sedikit berharap mas Galih mau menerima tawaran Satrio.
"Ya udah kalau gitu, aku coba hubungi Satrio lagi ya, siapa tahu masih bisa".
Mas Galih buru-buru mengambil HP yang disimpannya di atas nakas, segera dia mencari kontak Satrio.
"Mudah-mudahn masih jadi rezeki kita ya mas" aku berkata dengan penuh harap.
Baru saja aku merasakan beberapa menit kebahagiaan, tiba-tiba dari arah luar ku dengar suara langkah kaki ibu gedebak gedebuk seperti terburu-buru, menuju ke arah kamar kami.
__ADS_1
"Ran, Rania....." teriak ibu.
Nah kan, benar saja. Suara ibu mertuaku memecah suasana kebahagiaan di kamar kami.
"Iya bu, ada apa?" aku berdiri ingin segera menghampiri ibu.
Baru berbalik akan berjalan keluar ternyata ibu sudah berada di tengah-tengah pintu.
"Itu kamu ngapain belanja sampai banyak begitu Ran? Itu kalau dimasukin kulkas sampai g muat kayanya" ibu nampak tak suka.
"Owh itu bu, iya aku sengaja belanja banyak sekalian untuk stok beberapa hari kedepan. Tadi juga kan sekalian keluar bu" aku membela diri.
"Iya tapi itu banyak banget, pemborosan namanya. Wong di rumah aja kalau cuma sayur juga banyak to, ada daun melinjo, daun singkong, kelor, tinggal petik g usah beli, gratis" menggebu-gebu sekali ibu bicaranya.
"Iya bu, Rania tadi pengen masak sayur yang beda, kan bosan juga setiap hari makan itu-itu melulu" sanggahku.
"Itu namanya kamu g bersyukur Ran, udah di kasih segitu ya udah g usah nyari yang g ada" ibu nampak semakin sewot.
Mas Galih langsung mengambil alih posisi, memecah ketegangan antara aku dan ibu.
"Sudah, sudah bu. Ibu ini kenapa si malah sewot kaya gitu. Rania kan cuma pengen masakan yang bervariasi bu, sesekali kan g apa, g setiap hari juga kan".
Yesss, mas Galih membelaku. Aku serasa punya pelindung yang siap pasang badan setiap saat untukku, tentunya dari serangan-serangan ibu mertuaku.
"Eh Galih, kamu ini malah belain istrimu ini. Pemborosan kok dibelain. Jadi istri itu harus bisa mangatur keuangan rumah tangga. G bisa seenaknya belanja kaya gitu. G bagus nantinya, jadi kebiasaan. Wong sudah ada kok masih beli yang lain. Apa namanya kalau bukan pemborosan?".
"Bukannya pemborosan bu, tapi ini kan juga penting buat asupan gizinya Rania, apalagi......"
Belum selesai mas Galih bicara ibu sudah memotong pembicaraan mas Galih.
"Apalagi itu pake acara beli daging ayam, ditambah juga ikan. Itu ikan seuprit gitu tadi ibu lihat harganya mahal banget. Apalagi itu kalau bukan pemborosan?" ibu kembali ngomel.
"Bu, lagian kan Rania belanja juga pake uang dia sendiri kan bu. G minta sama ibu kan?" mas Galih masih berusaha membelaku.
"Iya ibu tahu, tapi tetap saja harus dikasih tau istrimu ini. Belajar mengelola uang dengan benar. G benar kalau tabiat kalap belanja kaya gitu diterus-terusin" ibu masih saja ngegas bicaranya.
"Buuuu, Rania perlu makan makanan yang bergizi......."
Iya lih, ibu juga tahu. Semua orang juga butuh makanan yang bergizi. Tapi juga ndak perlu semuanya dibeli. Itu lagi beli buah segala. Sok-sokan kaya orang kota aja, makan buah-buahan". Lagi-lagi ibu memotong omongannya mas Galih.
"Buuuuuu... Kalau cuma makan yang ibu sebutkan tadi itu tidak akan cukup bu. Rania sekarang lagi hamil" mas Galih berusaha membuat ibu mnegerti.
Seketika itu juga ibu terdiam, mata ibu terbelalak, dari ekspresi raut wajahnya yang aku tangkap, beliau kaget mendengar kabar yang disampaikan oleh mas Galih.
Iya bu, sebentar lagi ibu akan punya cucu. Cucu pertama untuk keluarga ini juga keluargaku. Tak bisa bayangin betapa rumah ini akan semakin hangat dengan hadirnya anak kami nanti di tengah-tengah keluarga ini. Dan aku berharap akan bisa menyatuka bapak dan mas Galih lagi. Setelah sekian lama hubungan mereka sedikit merenggang.
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Next π