
Selamat pagi menjelang siang readers, I am back ya. Maaf agak telat postingnya, anaknya lagi dalam fase tidak enak badan, doakan semoga lekas membaik. 💓
Â
POV Galih
Selesai sarapan aku segera menuju kamarku lagi. Seperti itu pekerjaanku setiap hari, mungkin batin Rania sebenarnya kesal menjumpai pemandangan yang setiap hari dia lihat seperti itu. Mau bagaimana lagi. Di dalam kamarpun sebenarnya aku tak bisa tidur, gulang guling saja. Ingin tidur tapi tak bisa. Pikiran melanglangbuana entah kemana. Aku masih memikirkan hidupku bersama Rania ke depan. Aku harus bagaimana, nyari kerja atau usaha sendiri. Sepertinya aku akan berusaha sekali lagi meminta bantuan modal bapak. Mudah\-mudahan kali ini hatinya tergerak, apalagi Rania sedang hamil, pasti tak akan tega juga melihat calon cucunya dalam kesusahan.
Tiba\-tiba Rania datang, aku sebenarnya tahu Rania masuk ke dalam kamar, tapi aku pura\-pura tertidur pulas. Aku tak mau Rania memulai pembicaraan dan akan berakhir dengan perdebatan yang akan membuat kami bertengkar lagi.
Maafkan aku sebagai suami yang belum bisa bertanggung jawab sepenuhnya atasmu Ran, sungguh bukan inginku. Akupun juga bingung harus memulainya seperti apa. Aku sudah coba membuka hatiku untuk sekedar berniat mencari pekerjaan supaya kita tak merepotkan orang\-orang disekitar kita lagi, tapi hatiku seakan menolak, relung hati di dalam sana berontak.
Aku melihat Rania memakai pakaian sesuai dengan warna kesukaannya, hijau wardah. Aku nampak mencuri2 pandang, mengamatinya. Melirik dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ada sedikit perubahan dari penampakan luar yang aku lihat. Wajahnya sedikit kusam, tak seperti dulu saat masih pacaran. Ada benjolan jerawat segede pasir saja pasti langsung di binasakannya. Sekarang? Jangan ditanya. Walaupun tak banyak jerawat tumbuh subur di wajahnya, tapi aku melihat ada guratan\-guratan kelelahan dari sorot matanya, guratan kekecewaan yang ia pendam sendirian. Dia memang selalu begitu, tak pernah mau mengungkapkan apa yang jadi unek\-uneknya. Aku mengenalmu lebih dari 4 tahun Ran, aku tahu apa yang terjadi dalam dirimu. Maafkan aku Ran.
Aku memang terlihat tak peduli, tapi bukan itu Ran, bukan seperti itu, bukan seperti apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini. Aku hanya tak ingin memperkeruh suasana saja. Aku sudah bisa menerima atas kehamilanmu. Akupun juga mendambakannya. Aku juga ingin membahagiakan kaian. Tapi sekali lagi maafkan aku ya nak, ayahmu ini sungguh tak berguna.
Rania berjalan meninggalkan kamar, aku tahu dia nampaknya akan pergi ke Puskesmas sendirian, tapi dia dapat uang dari mana? Pikirku. Selama ini kan uang kami pas\-pasan, makan saja masih numpang sama ibu. Apa mungkin dia masih punya simpanan yang tak aku ketahui? Atau meminjam uang entah ke siapa? Entahlah, nanti setibanya di rumah akan aku tanya dia.
Baru saja aku memejamkan mata kembali, suara ibu bak iring\-iringan drum band rombeng bergema, memanggil manggil namaku. Tapi aku sengaja diam, aku sedang malas berhadapan dengannya, ahhh ibu mengganggu saja. Tapi bukan ibu namanya kalau tak seperti itu. Benar saja dia masuk ke kamarku, membangunkanku dengan omelan\-omelan yang volume suaranya cukup maksimal, 1 RT bisa mendengarnya. Nampaknya dia akan berbicara suatu hal yang penting baginya. Aku disuruhnya ke ruang tengah, mengikutinya.
Aku membuntuti ibu, terang saja dia masih melanjutkan omelannya. Mulai dari A sampai Z, balik lagi ke A. Sebenarnya aku malas sekali berdebat dengan ibu. Sama saja seperti Rania, yang selalu mempermasalahkan tentang pekerjaan. Menyuruhku segera mencari pekerjaan supaya bisa lebih sedikit mandiri.
__ADS_1
Belum lagi kata\-kata ibu yang menyudutkan Rania. Rania itu boros, kalau masak make bumbunya kebangetan. Padahal harga bawang lagi mahal, cuma harga cabe aja yang murah. Itu juga dikiranya beli bumbu dapur pakai daun saja. Lagian mau dikasih bumbu banyak juga rasanya sama saja kalau Rania yang memasak. Ibu terus saja nyerocos. Tambah pening kepalaku.
Ibu sudah berubah, dulu tak seperti ini. Walaupun sedikit pelit tapi kalau aku meminta sesuatu padanya, dia tak akan menolak. Ya walaupun pasti akan ngomel\-ngomel dulu tapi pasti akan diberinya. Tapi setelah aku menikah sikapnya jadi berubah drastis. Sering aku berusaha meminjam uang ke ibu tapi tak jarang juga dia menolak, dengan alasan ibu g punya uang atau akan beralasan kalau hasil panen cuma sedikit dan alasan\-alasan lain yang menurutku itu hanya sebuah bentuk penolakannya memberikan pinjaman kepadaku. Padahal aku tahu, tak mungkin ibu itu sampai tak pegang uang. Apalagi cuma 100.000 atau 200.000.
Belum lagi bapak yang semejak kebangkrutan usahaku yang pertama itu. Dia jadi lebih dingin terhadapku. Terlihat lebih tak ada pedulinya sama sekali denganku. Sepertinya dia memang masih menyimpan kekesalan terhadapku. Kebon yang di belinya dari jerih oayah semasa mudanya aku hamburkan sia\-sia, tak ada hasilnya, tak ada bekas tersisa.
Belum perlakuan yang aku terima setelah itu, ada sedikit kesalahan yang aky buat pasti bapak tak akan segan\-sega mengungkit hartanya yang telah diberikannya kepadaku. Uang beli motor, uang sekolah sampai aku jadi sarjana, tepatnya sarjana pengangguran. Begitu bapak selalu bilang kepadaku. Uang biaya pernikahanku, semuanya pasti akan diungkit. Itu terkadang yang membuatku merasa kesal sehingga pertengkaran tak terelakan. Tapi ibu selalu membelaku, selalu membesarkan hatiku.
Ibu terus memojokkanku, Rania dan ibu sama saja, ditambah bapak juga yg tak akan jauh berbeda, seperti mereka berdua. Semua salahku. Padahal kalau bapak mau memberiku modal tambahan lagi pasti tak akan seperti ini jadinya. Aku mulai menyalahkan bapak lagi. Aku kesal, udah ngantuk malah dapet omelan.
Puas mengomeliku, ibu bergegas pergi. Nampak kekesalan terlihat jelas di wajahnya. Aku tak menghiraukannya, entah akan kemana aku juga tak peduli. Yang aku tangkap dari omelan ibu intinya adalah dia berharap lebih kepadaku.
\[Mari kita mencontoh dari seorang lelaki, suami, dan ayah terbaik yang memperlakukan wanita dengan sikap terbaik. Rasulullah SAW senantiasa memberikan wasiat agar berbuat baik kepada kaum wanita. Lelaki hendaknya berlemah lembut serta berbuat baik kepada wanita sebab kondisi mereka. Terlebih lagi, seorang suami tak bisa lepas dari peran istri. Seorang yang bisa mengurus semua kebutuhan sang lelaki. Allah SWT berfirman, "Dan bergaullah dengan mereka secara patut \(dengan cara yang baik\)... " \(QS an\-Nisaa \[4\] :19\)\]
\[Para ulama dan fuqaha \(ahli fikih\) memandang masalah menafkahi istri sebagai salah satu pemicu keretakan biduk rumah tangga. Ulama terkemuka Syekh Yusuf al\-Qardhawi sangat menyesalkan jika ada suami yang enggan melaksanakan kewajibannya menafkahi istri dan anaknya\]
Degg. Aku terperanjat membelalakan mata, mulai serius mendengarkan tatkala seorang Ustadz dalam acara tausyiah tersebut dengan lantang berbicara seperti itu. Aku sedikit tersenggol. Kembali aku mendengarkan tausyiahnya dengan saksama.
Aku juga mulai memikirkan kata\-kata ibu. Aku mulai berpikir lebih dalam lagi. Aku tak boleh egois hanya memikirkan kenyamananku saja, sedangkan Rania dan calon anakku harus menahan derita akibat keegoisanku.
'\[Istri bisa mengajukan gugatan cerai kepada hakim apabila mengalami penderitaan terus menerus. Maka itu, dia boleh menuntut cerai\]
__ADS_1
Mataku nanar, hatiku tak karuan. Dadaku sesak, terlintas wajah Rania di mataku. Aku menahan buliran\-buliran air mata yang hampir jatuh.
\[Tidak memberi nafkah berarti tidak dapat mempertahankan istri dengan cara yang makruf. Meski begitu, lanjut Syekh Ibrahim Muhammad, dalam Islam perceraian adalah sesuatu yang boleh dilakukan, tapi sangat dibenci Allah. Sehingga, pada masalah ini hendaknya diketahui dulu penyebab suami tidak lagi memberikan nafkah\].
Ya Alloh, suami macam apa aku ini, lelaki tak berguna, lelaki tak tahu tanggung jawab. Aku tak bisa menahan air mataku yang mulai mengalir di pipi, tumpah tak terbendung lagi. Rania, Rania, Rania. Maafkan suamimu yang tak berguna ini.
Aku berdiri meninggalkan ruang tengah menuju kamar. Membuka lemari mengambil sesuatu berbentuk kotak, adalah sebuah album foto pernikahan kami 4 bulan yang lalu. Aku melihat satu persatu, lembar demi lembar kenangan indah masa itu. Terpancar kebahagiaan di wajah kami berdua, semua keluarga kami juga larut dalam kebahagiaan itu.
Tanganku berhenti membuka lembaran album foto ini, aku terpaku melihat sebuah foto dimana aku tengah menjabat tangan bapak mertuaku, meminta anak perempuannya untuk aku persunting, dan dengan keteguhan hati bapakpun percaya dengan menyerahkan anak perempuannya untukku. Dadaku semakin sesak.
Membayangkan betapa akan murkanya orangtua Rania ketika anak perempuannya sama sekali tak merasakan kebahagiaan ketika membina rumah tangganya denganku. Aku tak bisa memberikan apa yang seharusnya aku beri. Terlebih aku tak bisa memegang janjiku dulu kepada orang tua Rania, janji bahwa aku tak akan membuatnya bersedih, tak akan menyakitinya, berjanji akan selalu membahagiakan Rania. Alloh ampuni aku.
Tiba\-tiba suara Rania memecahkan lamunanku di kamar. Rupanya Rania sudah pulang dari Puskesmas.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Apa yang akan terjadi sama Galih ya? Apakah dia akan sadar dengan tanggung jawabnya sebagai suami? Ataukah hanya tobat sesaat saja. Ikutin terus ceritanya ya.
Next 🔜
Â
__ADS_1