
Kali ini aku sudah bertekad untuk meminta mas Galih menuruti apa yang kumau. Aku ingin pergi dari rumah ini. Aku ingin mencari ketenangan. Aku ingin ada energi positif yang dirasakan juga oleh anakku. Sungguh penat rasanya aku terkurung disini. 4 bulan bagaikan 4 tahun, menyiksa sekali.
Hari ini adalah jadwal aku kontrol ke bidan, aku ingin mengajak mas Galih menemaniku kali ini. Aku sengaja tak pergi ke Puskesmas biasanya aku periksa. Kali ini rencananya aku akan periksa ke bidan desa saja. Buka prakteknya kan sore hari, jadi pas dengan waktu mas Galih pulang kerja. Untung saja suamiku ini mau menurutiku. Tak lupa sebelum berangkat kerja aku berpesan agar segera pulang ketika jam kerja sudah usai.
"Mas nanti jangan lupa ya, selesai kerja langsung pulang, kan hari ini mau anterin aku periksa" aku mengingatkan mas Galih.
"Iya sayang, bawel amat si istriku ini" sahut mas Galih sambil menowel-nowel pipiku.
"Hehe, kan cuma ngingetin mas. Selama ini kan mas jarang nemenin aku kontrol, sibuk mulu sih" ledekku ke mas Galih.
"Iya sibuk kan buat nyari duit sayang, nyari duit buat kalian, kamu dan juga kamu nak" mendekatiku lalu menunjuk wajahku diikuti mengelus-elus perut buncitku.
Akupun hanya tersenyum haru. Sampai saat ini perlakuan mas Galih masih sangat hangat kepadaku. Setidaknya perlakuan manisnya akan menutupi rasa kesalku terhadap tingkah polah ibunya yang super menggemaskan itu. Rencananya nanti sepulang dari kontrol aku akan mengajaknya pergi sebentar ke taman kota, sekedar melepas penat menikmati udara malam kota Malang. Sekalian aku akan membicarakan niatku yang ingin memisah dari rumah ibu. Semoga saja mas Galih menyambut baik niatku ini.
"Ehemmm, udah sana buruan berangkat, nanti telat lih. Udah jam berapa ini" sewot si ibu mertuaku.
Entah sejak kapan aku tak menyadari ada ibu yang sedang berdiri memegang gagang sapu lidi di dekat garasi, tumben sekali. Padahal setiap hari aku juga yang selalu menyapu halaman depan setelah selesai urusan yang berkaitan dengan perdapuran di dalam sana. Ada yang merasukinya sepertinya kali ini dia mau memegang sapu. Atau jangan-jangan cuma ingin kepo aja dengan urusan kami berdua.
"Iya bu, ini juga mau berangkat kok" sahut mas Galih.
"Ya udh mas berangkat dulu ya Ran, jangan capek-capek ya, dada sayangnya ayah" mas Galih mengelus perutku lagi.
"Iya mas, hati-hati ya."
Seperti biasanya setiap mas Galih akan berangkat kerja, aku selalu mengantarkannya sampai teras, menyalaminya lalu melihatnya berlalu dengan seped motornga sampai ujung jalan sana hingga tak tampak lagi raganya.
Tiba-tiba ibu berjalan menujuku yang masih berdiri di depan garasi. Aku hanya menatapnya dari kejauhan yang pelan-pelan dia mulai mendekat ke arahku.
"Halah Ran, pakai acara periksaan ke bidan segala. Harusnya ke Puskesmas aja tadi pagi. Bisa hemat biaya. Uang 50.000 buat ke bidan kan mending di pakai buat beli lauk sama sayuran to. Lagian kan obat nya juga sama aja" lagi-lagi si ibu ini turut campur atas urusanku.
Sudah ku duga, dia keluar cuma pengen kepo aja. Ternyata sedari tadi wanita tua ini mendengar percakapanku dengan mas Galih. Dasar tingkat keingintahuannya terhadap orang lain sungguh tinggi.
"Iya bu, sekali-kali ingin mengajak mas Galih biar dia tahu bagaimana perkembangan anaknya" jawabku tak ingin bertele-tele.
"Laki-laki itu tugasnya nyari duit Ran, jadi ya biarin aja dia fokus kerja, siapa tahu nanti ada lemburan kan lumayan buat tambah-tambah keperluan rumah juga to" mulai nih nini-nini.
"Ya kan tadi Rania bilangnya sesekali bu, artinya ya g setiap kontrol aku minta mas Galih nemenin, lagian kemarin bidan Puskesmas juga nyaranin supaya suaminya diusahakan ikut pas kontrol, jadi tahu perkembangan bayinya seperti apa, yang harus dilakukan oleh suami tuh apa aja" jelasku kepada ibu. Walaupun sebenarnya itu hanya akan membuang waktu dan tenaga saja. Karena ibu sudah punya paradigma sendiri dalam hal apapun.
"Halah kebanyakan alasan aja kamu itu Ran. Emang dasarnya manja. Dikit-dikit suami, apa-apa suami. Mbok yo jadi istri itu usahakan bisa menghandel apa-apa sendiri."
__ADS_1
"Bukannya begitu bu....."
"Nanti kan kalau dapet uang lembur kamu juga yang kebagian to" sahutnya.
Dengan sigap ibu memotong pembicaraanku.
"Iya, ibu nanti juga dapet kok" aku menimpali. Sengaja aku bilang seperti itu.
"Ya iyalah, ibu ini kan ibu kandungnya Galih, jadi wajar kalau Galih memberikan sedikit hasil keringatnya untukku, untuk ibu kandungnya" ibu menekankan kalimat terakhirnya.
Aku tak mau terlalu lama meladeni si nini tua ini, bisa-bisa malah aku sendiri yang emosi dibuatnya. Segera aku berbalik badan, berniat masuk ke dalam rumah. Niatnya si ingin rebahan sebentar. Karena dari semalem sebenarnya aku merasa agak tak enak badan. Tapi karena mertuaku ini jadi aku enggan bilang ke mas Galih. Nanti ada yang salah persepsi lagi. Di tuduhnya lah aku si tukang ngadu.
"Eh eh eh, mau kemana?" tanya ibu cepat-cepat.
"Mau masuk" jawabku singkat sambil telunjukku menunjuk ke arah dalam.
"Enak aja, ini selesaiin dulu" ibu menyerahkan gagang sapu lidinya ke padaku.
"Lhoh bukannya ibu yang mau nyapu?"
"Ibu ada kerjaan lain" lalu melengos pergi.
"Bukan urusanmu juga" kata ibu sambil terus melanjutkan langkahnya.
"Haishh, nini-nini tukang ghibah" upatku lirih.
Tiba-tiba ibu berhenti, lalu menengok ke belakang. Aku pikir dia mendengar upatanku tadi. Haduh mati lah aku, bakalan kena semprot lagi ini sepertinya.
"Ran, kamu itu sekarang kok sudah berani bantah-bantah perkataan ibu to, mau jadi mantu durhaka kamu ya?" mata ibu mendelik tajam menatapku.
"Astaghfirullah bu, kenapa ibu berpikiran seperti itu, aku........"
"Wes wes g perlu penjelasanmu, memang kamu ini susah diatur, susahnya diarahin sama orangtua, ngeyelan kok" tanpa menunggu penjelasanku ibu langsung pergi begitu saja.
Ibu lagi-lagi memotong pembicaraanku. Hobi kok motong pembicaraan, heuh
Aku hanya bisa mengucap banyak-banyak istighfar, kelakuan ibu mertuaku ini semakin hari semakin menyesakkan hari dan pikiran saja. Tapi untungnya dia g mendengar upatanku tadi, hehe masih aman. Sana lah kalau mau ghibah, diterus-terusin aja, dosa juga ditanggung sendiri.
"Sabar ya nak, jangan dengerin kata-kata nenekmu barusan. Semoga nanti kamu tak mewarisi sifat nya ya nak, hehe" sambil mengelus-elus perut aku mencoba berbicara dengan janin yang ada di dalam sana.
__ADS_1
Aku segera melanjutkan menyapu di halaman depan. Tiba-tiba ada bu Marni yang lewat di samping rumah, sepertinya dia dari berbelanja di warung depan. Bu Marin ini adalah salah satu teman ghibah ibu mertuaku, sekakigus ratu bigos di kampung sini. Segala sesuatu yang sudah mampir ke telinganya dengan sekejap bisa langsung sampai ke saentero jagat kampung sini. Entah kapan dia menebar berita tiba-tiba sudah terdengar di ujung kampung sana. Heuuhh namanya juga ratu bigos.
"Eh mbak Rania, tumben mau nyapu halaman mbak, nyapu di dalem aja juga g mau to. Kemana ibu?" tanya bu Marni tiba-tiba.
Sebenarnya aku sudah mencoba membuang muka dengan pura-pura tak melihatnya. Supaya dia juga tak menegurku duluan. Malas berurusan sama orang satu ini. Jangan ada oerbincangan yang terlalu lama, karena apa yang kita bicarakan dengan mudahnya bisa dipelintir sedemikian rupa oleh orang ini.
"Ah bu Marni ini bisa aja bercadannya ya. Yang nyapu semua isi dan juga halaman ini kan setiap hari juga saya bu" jawabku dengan basa-basi.
"Lhoh masak si mbak? Kata ibunya mbak Rania ini kan lagi hamil muda, jadi sementara semua pekerjaan rumah digantiin dulu sama ibunya, mbak Rania disuruh full istirahat."
Akupun langsung berpikiran, sepertinya ibu mertuaku ini sudah mulai ketularan bu Marni ya, suka berbicara mengarang bebas. Padahal kerjaanya selama aku disini kan tinggal makan tidur aja. Jelas-jelas semua pekerjaan rumah aku yang menyelesaikan. Kapan dia pernah memegang sapu semenjak aku ada disini.
"Ibu mertuaku mungkin sedang bercanda bu berbicara seperti itu, hehe" candaaku ke bu Marni.
"Bercanda gimana si mbak Ran, wong tiap arisan itu yang di omongin ya cuma kamu itu, menantu kesayangannya to" timpa bu Marni.
Seketika bola mataku rasanya mau keluar, mataku mendelik mendengar ucapan bu Marni. Menantu kesayangan dari mananya. Tiap hari bisanya ngomel-ngomel aja, nyutuh ini itu, belum selesai udah nyirih lagi.
"Iya, mertuamu itu suka bilang kalau kamu tuh g dibiarin kerja yang berat-berat, masak, nyapu, nyuci bahkan sampai nyetrika dia yang melakukannya. Mertuamu emang penyayang ya mbak Ran, hehehe."
"Owh ibu saya suka bercerita seperti itu ya bu, hehe" aku pura-pura bersikap biasa aja.
"Iya mbak Ran, semangat banget kalau nyeritain kamu mah. Tapi kasian lho mbak Ran, jangan sering-sering ibumu itu dikasih pekerjaan yang banyak, sudah tua. Reumatiknya nanti kambuh kalau sering kecapekan."
"Hehehe iya bu Marni makasih ya udah ngasi tahu saya. Soalnya ibu itu orangnya ngeyel. Dikasih tahu jangan kerja tapi tetep aja g mau diem, semuanya dia kerjain."
"Iya mbak Ran, kalau bisa yang namanya lagi hamil gitu kan malah dibanyakin geraknya, biar anaknya di dalam juga sehat ikutan gerak."
"Iya bu ini juga diusahakan kerja setiap hari. Sebisa mungkin g ngrepotin orang lain" aku sengaja berbicara intonasi yang sedikit keras.
"Ya sudah mbak, saya tak pulang dulu ya, mau masak sayur ini keburu bapaknya anak-anak pergi, pamit nggeh mbak."
"Nggeh bu, monggo" jawabku singkat.
Hemmmm, ternyata selama ini seperti itu kelakuan ibu mertuaku di belakang. Dia sengaja mengumbar cerita seperti itu supaya orang tahu kalau dia itu menggambarkan sosok mertua yang baik dan penyayang sama menantunya, padahal mah kejamnya melebihi ibu tiri. Trus orang lain pasti akan menganggap aku ini menantu yang tega sama mertua. Disuruh kerja yang berat-berat sampai badannya sakit gitu. Dasar nini-nini bisa aja mengarang dengan indah. Kelamaan temenan sama bu Marni si, jadi ketularan pintar mengarang bebas.
Aku segera menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda gara-gara meladeni si ratu bigos barusan. Semoga aku tak bertemu lagi dengannya di lain waktu, asli males banget.
Next 🔜
__ADS_1