
I am back.... 😀😀😀😀
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Setelah ibu berlalu, aku kembali duduk, menenangkan hati. Menghela nafas panjang, lalu menghabiskan sisa teh manis yang sudah berubah jadi dingin. Masih tak habis pikir dengan sikap ibu mertuaku yang seperti itu terhadapku.
Aku mendengar suara langkah kaki dari arah dalam menuju teras. Ngapain si nini-nini kesini lagi, batinku. Baru juga pergi udag balik lagi.
Ternyata aku salah, bapak mertua lah yang datang. Ya Alloh maafkan aku, sudah suudzon terhadap ibu, hehe.
"Kenapa Ran, bapak dengar dari belakang kaya ada ribut-ribut" tanya bapak masih berjalan menuju teras.
"Eh bapak. Itu... Anu... G ada apa-apa pak, hehe" aku mengelak.
"Kenapa ibumu Ran?" bapak kayanya sudah hafal betul apa yang sedang terjadi.
"Rania lupa nyetrika baju ibu pak, hehe" jawabku sedikit tertawa supaya suasana tak tegang.
Bapak menghentikan langkah kakinya, lalu berdiri di tengah-tengah pintu depan.
"Jangan di ambil hati ya omongan ibumu. Dia memang suka kaya gitu. Anggap aja angin lalu" bapak tersenyum ke arahku.
"Iya pak g apa-apa kok. Cuma salah paham aja, hehe" aku menjelaskan singkat saja.
"Ibu semalem bilang kalau kmau lagi hamil, benar itu Ran?" tanya bapak penasaran.
"Alhamdulillah, iya pak".
"Syukur Ran, jaga baik-baik ya kandungannya. Bapak g bisa kasih apa-apa, cuma bisa doain semoga semuanya lancar sampai nanti lahiran. Anak dan ibunya sehat, tak kurang satu apapun"
"Iya pak makasih ya doanya" aku tersenyum ke arah bapak.
Aku sungguh terharu dengan ucapan bapak, meneduhkan hati. Beda sekali sama ibu yang sepertinya memang tak menginginkanku hamil. Bahkan selama aku tinggal di rumah ini, belum sekalipun bapak menyuruhku melakukan sesuatu untuknya, hanya sekedar membuatkan teh atau kopi. Bapak selalu melakukannya sendiri. Kadang aku menawarkan diripun pasti bapak menolaknya.
Bapak melanjutkan langkahnya, mengambil sandal di depan teras. Sepertinya bapak mau bepergian.
"Bapak mau kemana? Kok bawa senter gitu?" tanyaku kepada bapak yang kelihatannya akan pergi.
"Bapak mau ronda dulu Ran, malam ini gantian bapak yang ronda"
"Owh hati-hati ya pak, eh pak tahu mas Galih kemana g? Dari tadi belum pulang dari masjid" tanyaku.
"Lhoh belum pulang to. Bapak juga g tau Ran. Mungkin mampir waeung di depan ngopi sama temannya kali" jawab bapak.
"Ya sudah pak kalau gitu, hati-hati ya"
__ADS_1
"Ya Ran, bapak pergi dulu ya, Assalamuallaikum"
"Waalaikumsalam"
Bapak berjalan ke depan menuju gardu pos ronda. Aku memandangi punggungnya sampai diujung jalan hinggal tak terlihat lagi. Tubuhnya yang semakin renta, terlihat dari guratan-guratan kerutan yang mulai tampak banyak di wajahnya. Rambutnya yang mulai memutih. Juga cara berjalannya yang tak setegak dulu. Aku jarang berinteraksi dengan bapak mertuaku ini, karena kesibukannya di sawah jadi jarang berada di rumah lama-lama.
Apalagi hubungan bapak dengan mas Galih memanglah tidak begitu baik. Mudah-mudahan dengan tahu kalau aku sedang mengandung calon cucunya hati bapak akan luluh. Semoga Alloh melembutkan hati mereka berdua. Bagaimanapun hubungan ayah dan anak tak akan pernah putus. Tidak ada mantan anak ataupun mantan orangtua. Apalagi cuma gara-gara harta, yang bisa dicari lagi bersama-sama.
Aku mendengar suara deru motor mas Galih. Aku mengambil hp di meja, melihat jam menunjukkan pukul 20.06. Kemana aja jam segini baru sampai rumah. G kasih kabar juga, aku patut curiga. Mas Galih memasukkan motornya ke Garasi, lalu menghampiriku di teras dan langsung duduk di kursi sebelah meja.
"Assalamualaikum" mas Galih mengucap salam
"Waalaikumsalam, sekarang jadwal sholat isya di masjidnya jam 20.00 ya mas, jam segini baru sampai rumah" celetukku.
"Hehehe, maaf Ran, tadi mas mampir dulu ke rumahnya Zainal. Kebetulan tadi papasan di masjid pas mau pulang, eh dia malah ngajak mas mampir ke rumahnya. Ya udah mas g enak" kilah mas Galih.
"Owhh kirain" jawabku singkat.
"Kirain apa hayoo?"
"Kirain di jalan ketemu sama mantan, trus...." belum selesai aku bicara keburu di potong sama mas Galih.
"Trus apa? Trus mas ngobrol sama dia, trus kilas balik deh masa-masa indah dulu, gitu maksudmu?" mas Galih terkekeh.
"Ya siapa yang tahu mas" aku melengos mengalihkan pandangan ke jalan raya.
"Hihh amit-amit" bibirku manyun 15cm ke depan.
"Kamu pikir aku nih pria jelalatan apa? Wong udah punya istri cantik, sabar, penyayang gini masak masih tergoda sama yang lain" nampaknya mas Galih mencoba merayuku.
"Syukur lah kalau masih ingat sama yang rumah, hehe"
Mas Galih memang punya mantan terindah di kampung halamannya ini. Ditambah kabarnya beberapa bulan yang lalu mantannya itu udah berubah status menjadi janda. Akn tambah was-was dibuatnya. Dahulu mereka sempat pacaran lama, bahkan sudah tunangan juga. Menurut ceritanya si dulu sudah hampir mau menikah, tapi g jadi. Entah karena apa aku juga tak mau tahu terlalu dalam, biarkan itu jadi masa lalu mereka. Karena sekarang masa depan mas Galih adalah aku dan calon anak kami ini.
"Nah kamu tumben, nyantai di teras? Sendirian pula" sambung mas Galih.
"Suntuk di dalam, trus mau ngajak mas juga g pulang-pulang tadi. Ya udah ngeteh sendiri deh"
"Hehee maaf sayang. Hemmm trus itu kenapa muka di tekuk?" tanya mas Galih.
"G kenapa-kenapa mas, capek aja"
"Masa jangan bohong, mas tahu kalau kamu lagi capek juga g bakalan kaya gini amat, kenapa hayo, cerita sama mas"
Aku melihat ke arah mas Galih, antara ragu ingin bercerita atau tidak. Aku takut kalau aku cerita nanti di sangka ibu mertuaku aku tukang ngadu sama suami. Tapi tak apalah pikirku, aku keluarkan aja unek-unekku ini. Daripada kesal sendiri.
__ADS_1
"Itu lho ibu, dari tadi uring-uringan g jelas. Cuma gara-gara aku lupa belum nyetrika bajunya aja sampe ngomel-ngomel kaya gitu" aku kesal.
"Walah, ibu to. Kaya g hafal aja tabiat ibu. Dia kan emang kaya gitu. Hal kecil aja dibesar-besarin" bela mas Galih pada ibunya.
"Iya mas, tapi kan aku nih capek. Semua pekerjaan di rumah ini aku yang ngerjain kan? Salah kalau aku ngerasain capek?" nada bicaraku mulai agak meninggi.
Jengkel aku mas Galih bukannya belain aku malah belain ibunya. Padahal kan ibunya yang salah. Dasar anak mami.
"Ya udah g usah diambil hati ya Ran, ibu kan memang begitu. Semakin tua juga sifat orang tua itu berubah jadi kaya anak kecil lagi. Kita yang mudalah yang harus bisa memakluminya"
"Ya tapi kan aku...." belum selesai bicara, lagi-lagi mas Galih menyelanya.
"Ya udh sekarang masuk aja yuk, dari pada tambah kesel" mas Galih berdiri lalu menarik tanganku.
Akupun akhirnya masuk ke dalam rumah. Menuju dapur meletakkan gelas ke dalam tempat cuci piring. Lalu aku ke ruang tengah mau mengambil baju-baju ibu. Tapi pas sampai disana tak aku jumpai keranjang baju ibu. Aku mengernyitkan keningku.
"Hemmm nini-nini gimana sih? Katanya suruh nyetrikain baju, katanya udah di taruh di sini, tapi mana g ada, dasar pikun" aku menggerutu lirih, takut yang di dalam kamar sana dengar.
Aku berpikir akan mengetuk pintu kamar ibu, mau menanyakan dimana baju-baju yang harus aku setrika. Apa mungkin sudah disetrika sendiri, batinku. Ah tapi kayanya g mungkin, itu kan tugasku. Tapi nanti kalau di ganggu malah tambah menjadi-jadi kesalnya sama aku. Hadeh.
Akhirnya aku memutuskan pergi ke kamar saja. Besok pagi aja aku tanyain sama ibu masalah bajunya. Kan besok bisa aku setrika sebelum dia berangkat kondangan.
Betapa terkejutnya aku ketika membuka pintu kamar. Disana aku melihat mas Galih tengah menyetrika baju ibu.
"Lhoh mas, kok baju ibu disini?"
"Iya tadi pas kamu ke dapur aku ambil aja kesini. Sengaja nyetrikanya di dalam kamar biar g ketauan sama ibu, hehe".
"Ya ampun suamiku ini so sweet banget sih" aku tersipu melihat kelakuan mas Galih.
"Kan tadi katanya capek, ya udah mas bantuin aja. Sini kamu tiduran aja di kasur. Jangan lupa kunci pintunya biar g ketahuan ibu"
"Siap pak bos, hehe"
Semenjak rasa penyesalannya kemarin, suamiku ini memang berubah drastis. Dia begitu perhatian denganku, benar-benar menjagaku. Kadang kalau aku lagi sibuk di dapur, dia yang bantuin cuci piring atau cuci baju. Tentu saja tanpa sepengetahuan ibu. Kalau ketauan pasti lah g akan terima melihat anak laki-laki satu-satunya diperlakukan seperti itu. Bisa habis aku dikata-katain dari A sampai Z.
Aku segera merebahkan tubuh ke atas kasur. Nyaman sekali rasanya tubuh ini. Badan rasanya remuk redam. Setiap hari pekerjaan rumah tak ada habisnya. Entah sejak kapan aku mulai tertidur, tiba-tiba saja mas Galih membangunkanku.
"Ran bangun, udah adzan ini. Aku ke masjid dulu ya" mas Galih menggoyang-goyangkan tubuhku.
Mas Galih meninggalkan kamar, aku mulai membuka mata, baru aku ingat baju setrikaan ibu. Aku melihat ke sekeliling kamar, mencari keberadaannya. Tapi aku tak menemukannya juga. Kemana baju-baju itu pikirku. Sudah selesai apa belum semalam mas Galih menyetrikanya. Waduh bisa kena semprot kalau belum selesai juga.
Aku langsung berdiri dari ranjang, mencari keranjang baju ibu mertua ke berbagai sudut kamar, tetap tak menemukannya. Aku bergegas keluar kamar, menuju ruang tengah. Ya Rabb, mas Galih hampir membuat jantungku copot. Ternyata baju-baju ibu sudah rapi. Aku menghela nafas lega. Trimakasih suamiku. Hati tenang g bakalan dapet omelan dari ibu ratu, pikirku.
Aku segera ambil air wudhlu ke belakang untuk menunaikan sholat subuh sebelum suamiku sampai rumah lagi.
__ADS_1
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Maaf ya telat posting. Lagi g bisa mikir. Kehabisan ide. Hehehee. Bolehlah readers memberikan krisan. Apalagi penulis ini masih new di bilang penulisan novel ini. Pasti masih banyak yang harus diperbaiki.