
Pov Ibu
Pagi ini aku sedang berduduk santai di teras depan, aku sedang menunggu Rania yang pergi berbelanja sayur ke warung si Yanti.
"Rania! Lama sekali belanjanya. Gak tahu apa aku ini lagi pengen banget makan jeruk!" gerutu kesal, menunggu Rania yang tak kunjung pulang.
Seperti orang yang sedang ngidam, aluamahku ingin sekali memakan buah jeruk, membayangkan rasanya yang segar membuat tenggorokanku menjadi kering.
"Eh jeng Atun duduk sendirian saja. Lagi nungguin siapa sih jeng?" tanya Suti mengagetkanku.
"Oalah Suti! Bikin kaget aja kamu ini. Ini aku lagi nunggu Rania, cuma belanja sayur ke warungnya Yanti aja lamanya minta ampun!" seruku kesal.
"Yo sabar to jeng. Mbak Rania kan lagi hamil besar, mungkin jalannya agak lambat." ujar Suti.
"Halah, aku dulu hamil besar malah masih bantuin bapaknya Galih jemur padi, angkat padi juga, biasa aja masih sak set kok, mantuku aja itu yang manjanya kelewatan."
"Ya namanya juga anak jaman sekarang to jeng, ya dimaklumi saja!"
"Eh kamu mau kemana Sut? Pagi-pagi gininjuga udah mau ngelayap." ketusku.
"Mau ke rumahnya jeng Esih nih, katanya kemarin habis beli kalung baru, eh yang terbaru maksudku jeng." ujar Suti bersemangat.
"Owh si Esih beli kalung baru to. Halah paling juga cuma kaya gitu aja." sahutku menyepelekan.
"Eh jangan salah jeng, itu kalungnya lebih besar dari pada yang jeng Atun beli itu, pokoknya buaguuss banget, top markotop, mau ikutan gak jeng? Kalau iya ayo bareng kesananya." ajak Suti kepadaku.
"Ah males, ini nanti aku juga mau ke pasar beli gelang, udah bosen soalnya pake yang kemarin."
"Lhoh bukannya baru sebulan yang lalu ya jeng belinya?" tanya Suti heran.
"Iya, tapi dari pada duitku nglumbruk to, ya mending buat beli emas lagi."
"Ya sudah saya tak kesana dulu ya jeng." Suti pergi meninggalkanku.
Benar saja si Suti mau ke rumah si Esih itu. Dia menyebrang ke jalan lalu masuk ke gang dimana rumah Esih berada. Gak bisa di biarin ini. Aku gak boleh kalah dari Esih. Aku segera masuk ke dalam menuju kamarku. Membuka kotak yang terbuat dari kayu, tempat dimana aku menyimpan emas perhiasannku. Aku memilihi emas-emas yang sudah jarang aku pakai, rencananya ingin aku tukar tambahkan. Aku memghitung uang yang akan aku dapat kan atas penjualan emas ini. Setelah aku hitung dengan teliti ternyata untuk membeli gelang yang beratnya 15 gram itu masih kurang. Sekitar 400 ribuan. Mana Galih belum gajian pula. Kemana aku akan mencari uang tambahannya nanti. Pokoknya paling lambat aku besok harus ke pasar beli gelang titik.
Aku memasukkan kotak harta karunku ke dalam lemari lalu kembali ke depan menunggu Rania pulang.
Belum aku dapati tanda-tanda Rania akan pulang. Dasar lelet! Ngapain aja sih jam segini belum pulang. Rania, menantu ngeyel yang selalu membuatku naik pitam setiap harinya. Ada saja kelakuannya yang membuatku meradang.
"Nah, panjang umur itu anak, baru saja aku memakinya sekarang udah kelihatan batang hidungnya dari ujung jalan sana." gumamku sendiri.
Rania perlahan mulai mendekati rumah, dengan berjalan bak siput kekenyangan. Lenggat lenggot kaya gak punya semangat untuk hidup saja.
"Mana titipan ibu?" tanganku menengadah, meminta buah jeruk.
"Owh ini bu, tadi kata bu Yanti harganya naik 1000, harganya jadi 26.000 sekilonya." Rania mengambil buah jeruk yang masih berada di dalam tas belanjaannya lalu menyerahkannya padaku.
"Naik? Halah itu paling akal-akalan si Yanti aja mau dapet untung lebih banyak. Padahal 2 hari yang lalu juga sudah naik." ucapku sewot.
Aku yakin ini hanya akal-akalan si Yanti saja dalam mempermainkan harga. Coba saja aku bisa naik sepeda motor, aku sudah pergi dari tadi ke warung buah di pasar sana. Harganya lebih murah. Bisa jadi selisih 3 ribu dari harga yang di oatok oleh Yanti.
"Ya mana Rania tahu bu, tanya aja sendiri aja nanti sama bu Yanti." jawab Rania sekenanya.
__ADS_1
Rania main nyelonong pergi begitu saja setelah menyerahkan 1 kg buah jeruk kepadaku. Dasar mantu tak tahu etika.
"Eh eh eh, mana kembaliannya? Tadi kan ibu kasih uangnya 30.000, masih ada sisanya 4.000 kan. Sini kembalikan sama ibu."
Dasar Rania mau ngembat uangku, enak saja.
"Oh iya maaf bu, Rania lupa." Rania meletakkan tas belanjaan di lantai dan merogoh dompet yang ada di saku kanannya.
"Lupa lupa apaan, mau di korupsi ya? Enak aja." ucapku sewot.
"Astaghfirullah bu, ngapain Rania korupsi duit 4.000 perak, gak ada untungnya." balas Rania nyolot.
Rania menyerahkan 2 lembar uang 2.000an kepadaku. Lamgsung saja aku ambil tanpa basa-basi. Enak saja mau di korupsi uang jatah jajanku.
"Sini. 4000 kalau dikumpulin juga dapetnya banyak, bisa buat beli emas Ran. Uang 1 juta kalau gak ada yang 4 ribu juga gak jadi 1 juta to namanya." terangku pada Rania.
Rania nampak tersenyum kecut mendengar penjelasanku barusan. Seperti meremehkan kekuatan uang 4.000 yang wajib aku minta.
Rania meninggalkanku yang masih berdiri di teras rumah. Menuju dalam tanpa sekalipun menengok ke belakang lagi. Dasar anak tak tabu adat. Sekarang dia lebih berani bicara dengan nada tinggi kepadaku.
Aku kembali duduk di kursi, masih memikirkan tambahan uang 400 ribu untuk membeli gelang baru. Aha! Tiba-tiba ide brilian muncul di kepalaku.
Aku langsung masuk ke dalam rumah, mondar-mandir, berlagak kelihatan seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Sengaja, supaya Rania risih lalu pasti akan menegurku.
"Maaf bu, ibu nyari apa?" tanya Rania.
Yap! Jebakan berhasil, kena kamu Ran hahaha. Girangku dalam hati.
"Masak ada tuyul bu? Lupa naroh mungkin bu." sahut Rania nampak heran.
"Iya tuyulnya berkeliaran setiap hari disini. Dasar tuyul kurang ajar!" sentakku sambil melihat Rania.
Harusnya Rania sadar sari ekspresi wajahku yang kesal ditambah tatapan mata sengit terhadapnya. Aku swcara tak langsung menuduhnya lah yang nyuri.
"Coba di cari lagi bu, siapa tabu nyelip, jangan asal nuduh si tuyul, kasihan dituduh tanpa bukti." sanggahnya.
"Kemarin itu ibu selipkan di saku baju kuning ini tapi kok gak ada, aneh kan?" aku terus menatapnya sinis, mengintimidasi.
Ayo Ran, marahkan, marahlah. Kmau harusnya gak terima ibu tuduh mencuri gini.
"Lumayan itu uang 500 ribu bisa buat beli emas lagi." ucapku masih sinis menatap mata Rania, aku semakin mencoba memanas-manasinya.
"Sabar bu, coba di cari lagi ya. Rania bantuin." Raniamasih mencoba berbicara dengan tenang.
Hebat juga ini anak masih belum terpancing emosinya. Di sela-sela aku dan Rania sibuk mencari uangku yang pura-puranya hilang ini, tiba-giba bapak muncul.
"Ada apa to bu kok ribut-ribut kedengaran dari luar itu lho." sahut bapak yang berjalan menuju tempat keributan kami.
"Iki lho pak duitku ilang, ada yang nyuri." ujatku.
"Nyuri? Sejak kapan ada pencuri berani masuk sini bu? Ada-ada saja kamu ini." sahut bapak heran.
"Ya mana ibu tahu, yang jelas sekarang uang ibu gak ada, hilang!" jawabku kesal.
__ADS_1
"Ya sudah dicari dulu yang teliti siapa tahu jatuh apa lupa naroh gitu bu." ucap bapak mencoba menenangkanku.
"Iya bu, di cari lagi dulu ya, siapa tahu ketemu." sahut Rania ikut menimpali ucapan bapak.
"Halah gak usah basa basi gitu Ran." sentakku.
"Maksud ibu apa?" Rania seperti kaget mendengar ucapanku barusan.
"Jangan-jangan kamu yang ambil uang ibu. Hayo ngaku kamu Ran. Iya kan?" serangan kembali aku lancarkan.
"Ya Alloh ibu, kok bisa ibu bilang seperti itu." Rania kali ini menunjukkan eskpresi yang tak suka, kaget bukan kepalang.
"Ya mana ada maling mau ngaku, nanti penjara penuh." sewotku terus jadi kompor.
"Demi Alloh Rania gak tahu bu." Rania sedikit meninggikan suaranya.
"Gak usah bawa-bawa Alloh, gak takut azab kamu Ran?" pekikku dengan suara keras pula.
"Bu, ibu jangan asal nuduh gitu donk, itu namanya fitnah." kilah Rania membela diri.
"Trus siapa lagi yang ambil? Baru kali ini lho ibu kehilangan uang, dulu-dulu ibu gak pernah. Dan ini terjadi saat kami tinggal disini. Trus siapa lagi?" aku semakin memojokkannya.
"Ya sudah kalau ibu tak percaya, terserah ibu. Alloh yang jadi saksi bu, Rania gak ngambil sepeserpun uang ibu." tegas Rania padaku. Anak itu membalikkan badannya, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda akibat perdebatan ini.
Bapak hanya diam melihat kami berdua beradu mulut. Tak ada yang dia bela.
"Heh sudah sudah ini kok malah pada saling nuduh gini sih. Malu teriak-teriak didengerin tetangga." sentak bapak kesal.
"Ya pie iki pak duitku lho ilang. Awas aja kalau sampai ketemu itu duit, tak bejek-bejek itu yang nyuri." ancamku.
"Sudah bu! Wes ndang di cari dulu sana. Rania kamu lanjutkan pekerjaanmu saja." perintah bapak.
"Iya pak." jawab Rania singkat.
Bapak pergi meninggalkan kami dengan geleng-geleng kepala.
"Lhoh mau kemana pak?" tanyaku.
"Mau ke sawah nengokin padi. Daripada disini berisik." jawab bapak tetap melaju dengan langkahnya.
"Bukannya bantuin nyari malah ditinggal pergi. Pie to bapak ni." gerutuku pura-pura kesal.
Aku memutar otak kembali, apa yang harus aku lakukan? Pokoknya aku harus dapat uang 500 ribu itu. Yah, aku akan mengadukannya pada Galih. Galih itu anak yang sangat nurut denganku. Lagian selama ini aku tak pernah berbohong padanya. Galih akan lebih percaya kepadaku.
"Nanti Galih pulang dari kantor aku bilang ke dia. Ternyata istrinya yang cantik ini bisa juga berubah jadi pencuri." ucapku dengan nada keras, menyindir Rania.
"Ya silahkan saja bu, bilang aja sama mas Galih. Rania benar-benar gak tahu uang ibu." balas Rania tak kalah keras.
Akupun juga tak kalah menunjukkan rasa kesalku pada menantu ngeyel itu, aku segera menuju kamar, membuka pintu lalu membantingnya sekeras mungkin, berharap Rania akan menjadi gentar atas intimidasiku barusan.
Next 🔜
Ternyata dalang kerusuhannya sudah ketahuan ya gaes. Gimana kalau kalian punya mertua macam bu Atun ini. 😂😂😂😂
__ADS_1