Mertuaku Sayang

Mertuaku Sayang
Siapakah Wanita itu?


__ADS_3

Pagi ini aku sengaja bangun lebih awal, sebelum subuh aku sudah bangun dan segera mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya. Memasak untuk sarapan, menyapu dilanjutkan mengepel seluruh ruangan sudah aku rampungkan. Aku melongok ke kamar mandi, melihat ember tampungan pakaian kotor belum nampak menggunung, masih aman, hari ini aku bisa libur mencuci dulu. Aku menuju ruang tengah untuk beristirahat. Duduk di kursi sofa mahal ibuku yang baru dibelinya kemarin. Ah ibu, baru juga mendengar kabar kalau bu Esih akan membeli kursi baru segera dia ikutan membeli duluan. Aku berpikir sejenak, berarti ibu itu aslinya punya banyak uang, tapi kalau ditanya jawabnya pasti gak punya dengan berbagai macam alasan dikeluarkannya. Huh dasar nini-nini medit, upatku dalam hati. Seketika aku merasakan perutku bergoncang, bayiku menendang-nendang dari dalam diikuti suara keroncongan khas perut lapar. Anakku minta makan.


"Kamu lapar ya nak? Pagi-pagi gini udah pengen makan sayang?" ujarku pada si jabang bayi, sambil mengelus-elus perut yang masih nampak bergerak-gerak.


"Oke lah, kita ke dapur cari makan ya. Tadi mama udah masak banyak, ada sambel tomat terasi kesukaanmu."


Akupun menuju ke dapur mengambil makanan. Terpaksa pagi ini aku makan duluan sebelum mertuaku. Maafkan kami ya, si jabang bayi sudah meronta-ronta kelaparan. Akupun lahab menikmati tumis kangkung dan tempe goreng yang aku masak sendiri, ditambah sambel tomat terasi kesukaanku menambah nikmatnya sarapan di pagi buta ini.


"Akhirnya kenyang juga kita nak, kamu kenyang gak?" aku coba berbicara lagi dengan anakku. Perutkupun bergoncang kembali, tanda anakku didalam sana juga mengiyakan apa yang aku rasakan.


"Anak mama hebat, makannya sampai lahab gitu tadi ya, enak ya sayang masakan mama. Sekarang udah kenyang trus bobok lagi ya sayang." ujarku pada anakku.


Sepertinya dia mengerti perintah ibunya ini, perutkupun kembali tenang tanda dia di dalam sana sedang tidur. Aku melihat ke arah jam dinding, pukul 04.15. Sebentar lagi waktu subuh tiba, aku berniat ke kamar melihat mas Galih, apakah sudah bangun atau masih molor.


Aku berjalan pelan-pelan, lalu membuka pintu kamar perlahan takut suara reotannya terdengar mas Galih dan membangunkannya. Tapi alangkah kagetnya saat mataku tertuju ke arah ranjang yang sudah kosong. Mas Galih sudah tak ada disana. Kemana dia? Ke kamar mandi? Rasanya tak mungkin, harusnya dia melewatiku saat aku sedang di ruang tengah tadi. Saat aku di dapurpun harusnya aku tetap bisa melihat kalau ada orang yang hendak ke kamar mandi. Tapi aku sama sekali tak melihatnya.


Aku melihat ke arah meja dimana sajadah dan sarung suamiku selalu terlipat disana, sudah tak ada. Berarti suamiku sudah berangkat ke masjid lebih awal. Tapi kenapa dia tak berpamitan padaku? Pergi begitu saja. Dia benar-benar marah padaku. Tega kamu mas, apa aku ini benar-benar terlihat sebagai seorang pencuri? Sakit hatiku mengingatnya kembali.


//////////////////////\\\\\\\\\


Sore ini selepas ashar aku memutuskan untuk pergi kontrol kandungan ke bidan sendirian. Cuaca nampak mendung seperti hatiku yang saat ini juga tengah diselimuti kesedihan.


"Baiklah nak, kita kan udah terbiasa sendiiri, jadi kali ini jangan sedih ya. Kita berangkat berdua aja." ujarku pada si jabang bayi di dalam sana.


Aku keluar dari kamar, menghampiri ibu yang sedang duduk menikmati tontonan sinetron kesayangannya.


"Bu, aku pamit sebentar ya, mau periksa ke bidan." izinku pada ibu.


"Ya." jawabnya singkat tanpa menoleh ke arahku.


Akupun segera pergi keluar rumah, ojeg online langgananku yang aku pesan sudah menungguku di depan pagar.


"Mari mbak Rania," sapanya dengan ramah lalu menyerahkan helm warna hitam bertuliskan nama sebuah perusahaan otomotif ternama di negeri ini.


"Iya mas, maaf ya agak menunggunya."


"Gak papa mbak, santuy hehehe."


Ojegpun menuju ke tempat bidan Rahmi, bidan yang menangani kehamilanku kali ini. Bidan Rahmi ini orangnya baik banget, penuh kesabaran dalam menghadapi pasien yang beraneka ragam sifatnya, begitu juga denganku.


Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Biasanya aku akan mengobrol dengan mas ojolnya tapi kali ini entah aku tak ingin bicara apapun.


"Mbak e kok diem wae to dari tadi. Ada apa mbak e?" mas Roni si tukang ojek langgananku memulai bertanya padaku.


"Lagi sariawan mas," jawabku singkat.


"Owh lagi satiawan to, ya sudah hehe." ujar mas Roni.


Diapun tak berani mengajakku berbicara lagi. Terus melajukan sepeda motornya pelan-pelan karena yang dibawanya ini adalah ibu hamil.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah praktik bidan Rahmi. Sudah nampak beberapa antrian pasien di ruang tunggu, sama seperti ku ini, oara ibu hamil yang ingin memeriksakan kandungan mereka.


Aku segera turun dari sepeda motor, lalu mengambil uang 1 lembar warna hijau dari dalam dompet untuk kuserahkan pada mas Roni.


"Ini mas, makasih ya." ucapku pada mas Roni.


"Iya sama-sama mbak Ran. Eh ini bentar kembaliannya," sahut mas Roni sambil mengambil dompet untuk mengambil kembalian.


"Eh gak usah mas, ambil aja kembaliannya, buat jajan es teh hehe." sahutku.


"Walah mbak Ran makasih banyak lho ya, alhamdulillah gusti." serunya bahagia.


Aku ikut tersenyum melihat mas Roni begitu bahagia meneruma fee dariku yang sebenarnta tak seberapa.


"Ya udah saya lanjut jalan ya mbak, permisi." pamit mas Roni padaku.


"Iya mas hati-hati ya."


Mas Roni sudah pergi meninggalkan pelataran rumah bidan Rahmi, akupun berjalan menuju ruang resepsionis untuk mengambil nomer antrian.


"Sore bu Rania, silahkan ambil nomer antrian dulu!" perintah mbak Nara, salah satu asisten bidan yang bekerja di tempat bidan Rahmi.


"Sore juga mbak Nara, trimakasih."


Akupun memencet mesin guna mengambil nomer antrian. Nomer 17, aku melihat struk antrian yang baru saja aku ambil dari mesin tersebut. Masih 3 lagi, ini baru sampai nomer 13.


"Silahkan ditunggu dulu ya bu, silahkan mencari tempat duduk yang kosong." sahut mbak Nara dengan ramahnya.


"Ah ibu ini bisa aja," balas mbak Nara dengan senyum ramah khasnya.


Akupun mencari tempat duduk yang masih kosong. Aku melihat disekeliling ruang tunggu. Melihat ibu hamil yang selalu di dampingi oleh suami-suami mereka setiap kali periksa. Begitu beruntungnya mereka mempunyai suami-suami yang siaga, tak sepertiku yang harus periksa sendiri karena suamiku sibuk bekerja. Tak apa karena itu juga demi menafkahi aku dan anak ini. Akupun mencoba membesarkan hatiku sendiri.


Tiba-tiba si jabang bayi menendang-nendang keras. Aku dibuat kaget oleh rasa tendangan yang makin hari makin kencang saja. Apa mungkin kamu tahu mamah sekarang lagi sedih nak? Kamu protes dan gak mau mamah sedih ya? Anak baik bikin hati mamak meleleh deh. Aku kembali mengelus-elus perut buncitku.


Hari semakin mendung, nampak awan hitam menyelimuti langit di atas sana. Apakah akan hujan? Please hujannya nanti aja dulu ya Alloh, nantinkalau aku sudah sampai rumah aja. Aku lupa tak membawa payung ataupun mantol. Hatiku mulai khawatir.


"Ibu Rania, silahkan masuk!" seru mbak Nara yang jaga di depan ruang periksa.


Akupun berjalan menuju ruang periksa.


Ruang Periksa


"Silahkan bu Rania, sini baring dulu ya," bu bidan dengan lembut nan ramah memintaku untuk naik ke ranjang guna di periksa.


Akupun segera naik ke ranjang dan merebahkan diri, terlentang. Asisten bidan mengambil sebuah alat untuk mengecek tensi darahku.


"Oke kita cek dulu tensi darahnya ya bu," ucap mbak Meta, asisten budan yang bertugas membantu bu bidan di dalam ruang periksa.


"Iya bu," jawabku singkat.

__ADS_1


Aku lihat bidan Meta sedang duduk di mejanya mencoret-coret buku KIA ku.


"Ibu kagi banyak pikiran kah? Atau sedang ada masalah bu? Ini tensinya termasuk tinggi ya bu, 150/100," kata asisten Meta menjelaskan.


"Owh tinggi ya mbak. Iya ini lagi kepikiran buat lahiran nanti mbak, kan baru pertama kali jadi banyak yang dibayangin hehe," kilahku sedikit berbohong.


"Yang rileks aja bu, nanti dede bayinya di dalem ikutan stres," sahut bidan Rahmi yang masih duduk di mejanya sambil mengamati asistennya dalam melayani pasiennya.


"Sekarang kita ukur dulu lingkar lengannya dulu ya bu," ucap mbak Meta.


"Iya mbak silahkan," aku sedikit merenggangkan lengan tanganku supaya mbak Meta bisa dengan leluasa mengukur lengan tanganku dengan meteran yang sudah ada di tangannya. Aku menyebut alat ukur itu dengan nama meteran hehe.


"Lingkar lengan bagus. Silahkan bu!" pinta mbak Meta pada bu bidan untuk mengecek bagian perutku.


Bu bidanpun berjalan menghampiriku. Lalu menyuruh untuk menyingkap kaosku agar beliau bisa memeriksa perkembangan bayiku dengan cara merabanya.


"Ibu pegang sebentar ya sayang, ibu pinjam dulu perut mamahnya." ucap bu bidan mencoba berkomunikasi dengan bayi yang ada di dalam sana. Sepertinya ini ritual setiap bidan ketika hendak memeriksa ibu hamil lainnya.


Setelah itu bu bidan mengambil dopler guna mengecek detak jantung bayi. Beliau oleskan semacam pelumas di ujung alat yang berbentuk seperti ulekan tapi kecil itu lalu menempelkannya ke perutku.


"Alhamdulillah semuanya bagus bu, bayinya aktif banget di dalam ini, cuma yang harus dijaga adalah pikirannya ya bu jangan sampai mikirin yang membuat hati jadi tidak tenang. Karena semua yang kita pikirkan bayinya juga ikut merasakan. Maka dari itu ibu hamil itu harus senang apapun alasannya, biar energi positifnya juga menylar ke bayinya."


"Ibu sudah pernah USG belum?" tanya bu bidan kepadaku.


"Belum bu," aku menggelengkan kepala.


"Kalau bisa nanti USG ya bu Rania. Bukan untuk mengetahui jenis kelamin si bayi, tapi lebih ke perkembangannya di dalam sana. Jadi kalau ada indikasi yang di luar jangkauan kita bisa segera diatasi," jelas bu bidan kepadaku.


"Apa kandunganku bermasalah bu?" tanyaku khawatir.


"Owh gak bu, ini bagus kok. Tapi kan seperti yang saya bilang barusan. Demi kebaikan juga kan bu, jadi nanti kalau ada kendala apa-apa langsung bisa di atasi." jelas bu bidan kembali.


"Iya bu nanti saya akan USG."


"Kalu terkendala masalah biaya nanti bisa ke puskesmas bisa dibuatkan surat rujukan USG oleh petugas. Oke sudah selesai bu."


Akupun bangun di bantu oleh asisten bidan yang masih standby di dalam sini.


"Hati-hati bu," ucap mbak Meta sambil membantuku bangun dari ranjang periksa.


"Makasih mbak Meta." sahutku.


Aku berjalan menuju meja bu bidan dan mengambil resep yang sudah disiapkan disana. Tiba-tiba petir menyambar, hujan turun dengan derasnya. Aku segera beranjak keluar karena pemeriksaan sudah selesai. Menata jauh keluar sana. Tak banyak yang bisa kulihat karena kabutpun turut menutupi pemandangan di depanku.


Bagaimana caraku agar bisa pulang, sementara waktu terus berjalan. Pake ojek mas Roni kayanya gak mungkin, hujan lebat gini. Taxi online ajalah.


Aku segera membuka aplikasi ojek online yang ada di ponselku, aku memilih menu crebcar. Dengan mobil aku kira akan lebih aman untuk sampai ke rumah. Sialnya tak satupun driver yang nyangkut. Apa karena hujan gini ya jadi penuh.


Waktu maghrib sudah tiba, aku belum juga mendapatkan drivernya. Aku masih duduk termangu menatap jalanan yang kian sepi. Tanpa sengaja aku melihat sekelebat sepeda motor milik suamiku, berjalan menyusuri derasnya air hujan yang mengguyur jalanan dengan derasnya, tapi kali ini di belakang ada sesosok wanita yang memboncengnya, siapakah dia?

__ADS_1


Next 🔜


Siapa kira-kira wanita itu gaes? Penasaran? Tetep stay here ya. Tunggu cerita selnajutnya.


__ADS_2