
POV Galih
Hari ini aku pulang lebih awal, karena sudah tak ada lagi pekerjaan di kantor. Aku segera membereskan meja kerjaku dan ingin segera sampai di rumah.
"Langsung mau pulang lih?" tanya Satria yang kebetulan lewat di depan ruanganku.
"Iya Sat. Sudah kangen sama yang di rumah hehe" gurauku.
"Hemmmm, ngeledek. Mentang-mentang punya yang di rumah" sahutnya kesal.
"Hahahaaa, makanya Sat buru nyari pasangan. Kamu nih nunggu apaan to? Karir jelas udah mapan gini, wajahmu yo g jelek-jelek amat. Nanti keburu anakku brojol trua udah gede kamunya masih asyik sendiri" ledekku lagi.
"Kampret koe Lih, nyumpahin po? Mbok ya doain yang baik-baik kenapa sih. Atau bantuin nyari juga gak papa, nanti tak kasih persenan wis" kata Satria memelas.
"Wooo ngarang, kirain nyari apaan pake acara persenan segala."
"Hahahahaaa" Satria terkekeh.
"Ya wes aku balik dulu yo. Sudah kangen sama istriiiiii terrrcinntaahhhku" sengaja aku berbica seperti itu pada Satria supaya dia tambah panas.
"Iyo iyo sek ndue bojo" selorohnya kesal. (Iya iya yang punya istri).
Akupun meninggalkan ruanganku dan segera melaju ke rumah. Sampai di tengah perjalanan tak lupa aku sempatkan membeli sedikit buah-buahan untuk oleh-oleh istriku. Bagaimanapun Rania dan juga anakku butuh asupan makanan yang bergizi. Tentu tanpa sepengetahuan ibu. Aku sengaja menyuruh Rania menyimpan buahnya di dalam kamar saja. Karena kalau di simpan di kulkas yang ada nanti ceritanya malah jadi panjang kali lebar. Kalau ibu sampai tahu malah bisa-bisa Rania jadi bulan-bulanannya ibu. Jadi untuk cari amannya lebih baik sementara ini menyimpannya di dalam kamar adalah cara terbaik.
Aku membeli buah apel dan pir kesukaan Rania. Dia suka sekali dengan 2 macam buah ini. Pernah aku membelikan 2kg buah apel dan pir dihabiskannya dengan sekejap.
Selesai aku membayar aku segera melanjutlan perjalanan menuju rumah. Tak sabar ingin segera menyerahkan oleh-oleh ini untuk Rania, dia pasti sangat senang.
Sesampainya di rumah segera aku memarkirkan motor di garasi lalu menuju pintu depan.
"Assalamualaikum" ucapku.
"Waalaikumsalam" suara ibu menyambutku dari dalam.
Untuk buah-buahan tadi masih aku taruh di dalam jok sepeda motor. Karena aku sudah antisipasi sebelumnya. Jikalau aku masuk rumah dan berpapasan dengan ibu, bisa gawat urusannya. Buah-buahan nanti akan ku ambil setelah gelap malam tiba, ketika ibu sudah masuk ke dalam kamar. Biasanya aku akan mengendap-endap keluar seperti maling si rumah sendiri. Ibu memang keterlaluan, ilmu pengiritannya memang sudah di luar batas.
Aku menyalami ibu yang baru datang dari dalam.
"Rania kemana bu? Kok g ada sepertinya?" aku basa basi saja menanyakan keberadaan Rania.
"Tadi sih ibu lihat pergi ke warung. Lih mbok kamu sebagai suami itu nasihatin Rania. Jadi istri itu jangan boros. Harus bisa hemat dalam segala hal, biar uangnya bisa ditabung. Jangan mentang-mentang suaminya sudah kerja trus bisa seenaknya buang-buang duit buat belanja. Ndak usah lah beli-beli yang g penting. Tadi ibu lihat dia habis beli daster lagi. Dasternya kan sudah banyak. Lagian beli daster 3 biji ibu g sekalian di beliin. G pengertian sama mertuanya" ibu mulai mengoceh.
Jujur dari sekian ocehan ibu aku tak mendengarnya serius. Cukup dengan menjawab iya saja, toh nanti ibu juga akan diam dengan sendirinya.
"Lih, Galih. Kamu ini diajak ngomong ibu kok cuma diam saja to. Dipikir ibu patung apa." ibu nampak sewot.
"Lah Galih suruh ngomong apa?" sahutku.
"Ya ngomong apa kek."
"Iya ibu kalau mau beli daster juga ya tinggal beli to? Ngapain pakai acara uring-uringan kaya gini?"
"Sayang duitnya lih, bisa ibu tabung buat beli emas" jawab ibu.
"Lah kalau sayang ya udah diam aja. Rania beli dasternya juga pakai duitnya sendiri kan? G minta ke ibu."
"Iya tapi kan itu duitmu lih, kamu yang ngasih kok."
"Ya Galih suaminya bu. Sudah sewajarnya Galih memberikan uang ke Rania"
__ADS_1
"Dan kamu anak ibu."
"Semua orang juga tahu bu."
"Ya maksudnya kamu juga harus memperhatikan ibu to lih."
"Kan ibu juga udah Galih kasih jatah tiap bulannya, kurang?" tanyaku kesal.
"Yaaa..... "
"Nanti bu kalau gaji Galih udah gede, pasti Galih juga g lupa sama ibu. Galih janji. Tapi untuk sekarang ini Galih belum bisa menjanjikan apa-apa untuk ibu, tolong mengertilah bu" aku memelas di hadapan ibu.
"Ya sudah, tapi janji ya nanti kalau kamu sudah naik gaji, jatah bulanan ibu di tambah" tekan ibu.
"Iya Galih janji" jawabku singkat.
"Ya sudah ibu ke belakang dulu ya lih. Kamu masuk kamar sana trus mandi biar seger ya."
Aku mengangguk sambil melihat wajah ibuku. Nampak secercah pengharapan melekat di wajahnya. Harapan aku akan menambah uang bulanannya.
Ibu memang selalu tak bisa merasa puas, selalu saja kurang. Apalagi kalau tetangga ada yang beli barang-barang baru. Matanya tak bisa berkedip sedikitpun, pastu esok hari dia juga akan membelinya dengan merk yang harganya jauh lebih tinggi. Katanya si demi meningkatkan gengsinya di depan para ibu-ibu geng arisannya.
Mungkin aku juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan ibu, kenapa ibu bisa bersikap seperti ini. Dari dulu ibu memang sudah terbiasa hidup mengirit. Aku anak semata wayang yang notabennya anak orang yang beradapun masih ingat betul kenangan-kenangan pahit semasa kecilku dulu. Untuk sekedar membeli mainan saja aku harus menunggu berbulan-bulan untuk bisa membelinya, tentunya aku harus menabung sendiri. Menyisihkan dari uang sakuku yang ibu berikan untuk bekal ke sekolah. Bukan karena ayah ibu tak punya uang, tapi memang mereka yang tak mau membuang-buang uang hanya untuk sekedar membeli mainan.
Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Sedangkan semua keuangan sepenuhnya yang mengatur adalah ayahku. Ibu hanya di beri jatah 10.000 per hari. Itu juga yang 2000 diberikan kepadaku untuk bekal ke sekolah, sisanya untuk memenuhi kebutuhan dapur. Makanya sampai sekarang ini ibu sudah terbiasa demgan kehidupannya yang lalu. Menu makananpun tak pernah mewah, nasi sayur saja atau nasi lauk saja. Harus memilih salah satunya karena uang 8.000 tak cukup untuk membeli keduanya. Lalu uang hasil padi yang berton-ton itu kemana? Semua di pegang ayah. Kalau sudah terkumpul uangnya akan di belikan sebidang tanah. Sepertilah kehidupanku di masalalu, selalu kurang walaupun sebenarnya lebih dari cukup kalau ayahku tak seperti itu.
Akupun beranjak dari kursi ruang tamu, berjalan menuju ke kamarku untuk beristirahat sebentar.
*************
Selepas maghrib aku duduk-duduk di teras depan rumah. Menunggu Rania yang tadi aku perintahlan untuk membuatkanku kopi dan juga pisang goreng sebagai pelengkapnya.
"Ini mas kopinya" Rania meletakkan secangkir kopi hitam panas diatas meja.
"Helehh zheyeng zheyeng segala, gombal" sahut Rania sambil mencibirkan bibirnya. Walaupun sebenarnya dia berbunga-bunga aku panggil sayang, itu terlihat dari wajahnya yang tiba-tiba memerah, tapi dia gengsi mengakuinya.
"Lhohh mau kemana lagi zheyeng?" tanyaku ke Rania yang masih berdiri dan kembali berjalan ke belakamg lagi.
"Itu pisang gorengnya baru di goreng, nanti gosong, mau pisang goreng gosong?"
"Hehehe ya sudah sana, cepetan di bawa kesini ya zheyeng" godaku lagi ke Rania.
"Iyo iyoooo" jawab Rania sambil melengos ke dalam.
Baru saja Rania berjalan ke dalam tiba-tiba gantian ibu yang keluar menghampiri. Tumben saja ibu mau menemaniku duduk di depan, biasanya juga dia asyik nonton sinetron di tv lambang ikan terbang itu.
"Minum kopi ya lih? Segernya" tanya ibu basa basi lalu dia meletakkan bokongnya di atas kursi sampingku duduk.
"Ibu mau? Aku suruh Rania buat bikinin 1 lagi" sahutku.
"G usah, ibu tadi udah minum teh manis kok di belakang" jawab ibu.
"Oiya Lih, kemarin ibu main ke tempat jeng Esih, dia beli motor baru lho, platnya aja masih putih gitu. Bagus e lih" lanjut ibu.
"Trus" sambungku singkat sambil menyeruput kopi hitam kesukaanku.
"Iya itu yang beliin anak sulungnya yang kerja di Pertamina itu. Hebat ya lih" lagi-lagi ibu mulai menjurus.
"Iya pantas bisa beliin motor baru, kan kerja di Pertamina" kataku tak mau terlalu menanggapi.
__ADS_1
"Ya masak kamu g pengen beliin motor juga kaya anaknya jeng Esih. Itu salah satu tanda sayang sama orangtua lho" ibu sedikit melirik kepadaku.
"Hahh? Apa bu? Ibu masih ingat g sih pembicaraan kita tadi siang? Ibu ini ada-ada aja" sahutku.
"Iya kalau g bisa langsung beliin, uang jatah bulanan ibu ditambah ya?" ibu kembali mengajukan syarat yang tadi siang aku menolaknya.
"Ya Alloh bu, ibu ingat kan tadi siang Galih bilang apa. Ibu lihat sendiri kan Rania lagi hamil, kami butuh menabung buat persiapan lahiran besok. Apalagi besok minggu akan ada acara syukuran kehamilan 4 bulan Rania. Udah deh ibu tuh g usah aneh-aneh. Kalau mau beli motor tinggal jual aja padi 4 ton tuh di gudang, cukup itu bu buat beli motor baru."
"Lhoh itu kan padinya bapak, sayang to lih kalau harus ambil 4 ton, nanti bapakmu juga bisa ngamuk-ngamuk sama ibu. Eh itu tadi kamu bicara apa lih? Mau ada acara syukuran 4 bulanan kehamilan Rania? Rencana dari mana itu? Gak gak gak, ibu gak setuju, buang-buang duit aja"
"Itu pakai duit Rania sendiri bu, g minta ke ibu kok."
"Tetep saja itu juga duitmu lih" sanggah ibu.
"Ya beda lah bu, itu duit dari dia nabung sendiri kok." aku membela Rania.
"Gak, pokoknya ibu g setuju."
"Buuuuu...." aku memelas.
"Hemmm ya sudah, kalau gitu kita tukeran aja lih, gimana?" tawar ibu.
"Tukeran? Tukeran apaan sih bu?" aku bertanya-tanya.
"Besok minggu Rania boleh menyelenggarakan acara syukuran 4 bulanan" kata ibu.
"Hah? Yang benar bu?" sahutku girang.
"Ya bener to, tapi........."
"Tapi? Ada tapinya?"
Perasaanku mulai tak enak. Jangan-jangan ibu punya permintaan yang aneh-aneh ini. Aduh ibu.
"Rania boleh menyelenggarakan acara syukuran 4 bulanan asalkan kamu juga menambah uang jatah bulanan ibu sebesar 500.000, gimana? Adilkan?" ibu tersenyum puas.
"Apa? Ibu? Ibu kok tega banget sih sama Galih? Ini acara kan sama sekali g meminta sepeserpun dari ibu. Ini murni uang Rania" aku kesal.
"Tapi ini kan rumah ibu, ibu yang berhak menentukan segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah ini" ucap ibu.
"Bu....."
"Kalau kamu keberatan ya sudah gak papa, gak masalah buat ibu. Acara besok minggu gagal deh" ancam ibu.
"Bu, jangan begitu lah. Sama anak sendiri lho" aku memelas sama ibu.
"Terserah kamu lih."
Akupun tak habis pikir, darimana ibu mendapatkan ide gila ini. Sungguh keterlaluan ibuku ini.
"Itu tidak bisa turun lagi bu?" aku mencoba menawar dengan muka memelas.
Ibu melihatku dengan saksama. Semoga saja dengan melihat mukaku yang memelas ini bisa merubah keputusannya. Syukur-syukur g jadi atau setidaknya bisa turun setengahnya.
"Hemmm, ya sudah tambahnya 250 ribu juga gak papa" ucap ibu.
"Ya sudah lah bu, sepakat" jawabku lemas.
"Salaman dulu lih, sebagai tanda persetujuan" ibu menyodorkan tangannya.
__ADS_1
ππππππππππππππ
Nextπ