
Pikiranku berkecamuk, bertanya-tanya, tak biasanya mas Galih mau memboncengkan wanita lain selain aku dan ibu. Apa mungkin? Ah tidak! Tidak mungkin mas Galih setega itu denganku. Kami memang sedang bertengkar tapi bukan berarti suamiku akan menghianati semua yang telah kami jaga. Aku percaya dia adalah pria baik, apalagi aku sekarang sedang mengandung anaknya, tak mungkin dia melakukannya. Mungkin wanita itu adalah satu teman kantornya yang meminta bantuan padanya. Iya, itu hanyalah temannya, tidak lebih.
Aku kembali mencoba menenangkan hatiku, beristighfar sebanyak-banyaknya, alhamdulillah hati ini tenang.
Hujan sudah mulai terang, aku mencoba berselancar mencari driver online untuk mengantarkanku pulang. Alhamdulillah aku mendapatkannya.
5 menit aku menunggu kedatangan si driver, mobil apanja hitam masuk ke dalam pelataran rumah praktek budan Rahmi, akhirnya taksi onlineku datang juga.
Aku segera berdiri mendekati mobil. Kaca terbuka, sang driver bertanya.
"Mbak Rania?"
"Iya saya mas."
Si driver segera turun dari mobilnya dengan membawa payung, dia mendekatiku dengan payungnya. Memayungiku agar tak terkena air hujan.
"Silahkan mbak!" seru drivernya.
"Makasih ya mas." ucapku padanya.
"Iya sama-sama mbak."
Aku segera masuk ke dalam mobil. Segera pintu mobil di tutupnya lalu kembali masuk pintu depan mobil lalu menjalankan stirnya. Hujan yang tadinya sudah reda tiba-tiba deras kembali. Kabut kembali menyelimuti jalanan, jarak pandang hanya terbatas 5 meter saja. Mobil melaju dengan sangat pelan.
"Maaf ya mbak, jalannya pelan, kabutnya tebel banget." ujar si sopir.
"Iya mas gak papa, yang penting selamat sampai rumah." sahutku.
Perjalanan kami tempuh jadi lebih lama, 45 menit untuk bisa sampai ke rumah. Jujur dalam hatiku masih ada tanya yang belum tuntas, masih terpikir siapa tadi yang bersama suamiku.
Mobil sudah menepi di depan gerbang rumah, dengan cekatan si driver keluar lagi untuk membukakan pintu untukku dan memegangi payung melindungiku dari hujan, mengantarkanku sampai dalam teras.
"Makasih ya mas, maaf ngrepotin banget hehe," ucapku pada mas drivernya.
"Ah gak papa mbak, sudah menjadi tugas saya melayani penumpang supaya nyaman naik kendaraan saya." sahutnya.
Aku merogoh dompet dan mengambil uang untuk membayarnya.
"Ini mas, kembalinya buat mas aja ya."
"Lhoh mbak ini masih banyak banget kembaliannya."
"Gak papa ambil aja, buryan masukin saku, keburu ada yang nyamber nanti."
Aku melihat ibu mertuaku keluar, kalau dia tahu aku memberika tips buat driver nya ini pasti lah diomelin gak ada habisnya, yang katanya pemborosan lah, yang katanya manjain tukang ojeknya lah, ah banyak alasan yang akan dia keluarkan nantinya.
"Ya sudah makasih ya mbak, saya permisi." pamit si driver.
"Iya mas, terimakasih udah dianterin sampai sini, hati-hati ya." sahutku.
Si driverpun meninggalkan teras rumah, menuju mobilnya dan melaju kembali menerjang derasnya hujan. Kasihan sekali masnya, hujan-hujanan demi mencari nafkah untuk keluarganya, semoga pendapatannya hari ini bisa mencukupi kebutuhan keluarganya Ya Alloh, aamiin.
"Ehm ehm, enaknya yang habis naik taksi ya Ran, sok punya duit." seloroh ibu tiba-tiba.
__ADS_1
"Hujan deras sekali bu, kalau gak ujan ya aku udh naik ojek biasanya," jelasku pada ibu.
"Halah alesan aja kamu tuh, bilang aja pengen naik mobil to, bisa ditebak. Manja!" celoteh ibu.
"Terserah ibu lah mau bilang apa."
"Galih ngasih kamu uang itu buat dipakai seperlunya aja, yang kira-kira gak penting itu ya dihindari Ran, gitu aja kamu gak tahu, bisanya kalau ada uang aja dihambur-hamburin gak jelas. Kasihan suamimu kerja banting tulang, setiap hari lembur tapi istrinya malah ngabis-ngabisin bisanya!" seru ibu.
"Ini tadi karena beneran hujan bu, kalau gak hujan kan aku juga pakai ojek biasanya itu, bahkan bisa jadi kalau cuaca terang aku jalan kaki sekaian dari rumah bidannya." celetukku kesal.
"Bagus itu kalau mau jalan kaki, biar sehat kamu juga sama anakmu itu. Nanti lahirannya lancar." sahut ibu mengiyakan. Padahal tadi aku niatnya cuma mau nyindir aja sih.
"Trus nanti kalau uangnya habis sebelum waktunya mau gimana? Nyolong lagi? Kamu itu juga harus nabung buat persiapan lahiran, gak sedikit duitnya. Harus beli popok, bayar biaya persalinan, rentetan-rentetan kebutuhan yang tak terduga lainnya juga menanti. Awas aja nanti kalau kekurangan kamu minta sama ibu, gal bakalan ibu kasih!" serunya kembali.
"Astaghfirullah, aku gak pernah nyolong dari siapapun bu, sama sekali tidak pernah!" seruku sedikit melototkan mata ke arah ibu. "Aku di didik dengan benar oleh kedua orangtuaku. Untuk kebutuhannlahiranku nanti tak perlu ibu ajari aku, aku sudah tahu apa yang harus aku persiapkan nanti." lanjutku.
"Owh sekarang berani kamu ya sama ibu, main melotot gitu matanya!" sentak ibu.
"Ibu yang memulainya. Ya sudah bu permisi aku mau ganti baju, sedikit basah ini." ucapku pada ibu. Sebenarnya gak basah-basah amat sih bajuku, hanya saja aku malas berlama-lama berhadapan sama ibu.
"Kamu itu kalau di nasihatin sama orangtua sukanya malah kaya gitu! Bamtah terus! Pantas saja Galih marah denganmu, jangan salahkan kalau nanti suamiku berpaling pada wanita lain yang lebih baik dan nurut dari kamu!" seru ibu kepadaku.
Apa maksud ibu berbicara seperti itu? Ah aku tak peduli, tak mau ambil pusing, aku tetap berjalan menuju kamar tanpa menghiraukan ocehan ibu.
Brakk. Aku membanting pintu kamarku. Sengaja biar ibu dengar sekalian.
"Dasar nini nini bisanya bikin panas keadaan aja. Boro-boro jadi penengah antara anak sama menantunya, ini malah jadi kompor." gerutuku.
Tiba-tiba perutku ditendang kasar oleh bayiku.
"Kenapa sayang? Mama berisik ya? Maaf sayang ya, jadi gangguin bobonya adek." aku tersenyum melihat tingkah anakku di dalam sana.
////////////////////
Pukul 21.00
Aku sedari tadi sudah menunggu kedatangan suamiku. Kemana sampai jam segini belum pulang. Ingin meneleponya tapi aku gengsi, tapi mengabaikannyapun membuat hatiku juga semakin tak tenang.
"Kemana kamu mas? Biasanya paling telat juga pulang abis isya', ini jam segini belum sampai rumah juga." gumamku sendiri.
Aku berinisiatif menelepon Satriya, kebetulan aku juga menyimoan nomernya. Ake mencari kontak satriya, ketemu! Segera aku mengirim pesan padanya.
[Malem Sat, maaf mengganggu. Ini aku Rania istri mas Galih, apakah malam ini ada lembur? Kok belum sampai rumah ya] send.
Aku menunggu beberapa saat. 5 menit berlalu, belum ada tanda-tanda balasan pesan dari Satriya, mungkin mereka memang lagi lembur, buktinya Satriya tak membalas pesanku.
Drut drut! Pesan dari Satriya masuk
[Ada lembur tapi cuma sampai jam 5 tadi. Kenapa memangnya Ran?]
Lembur cuma sampai jam 5? Lalu kenapa mas Galih belum juga sampai rumah? Pikiranku semakin kacau. Tak mungkin aku mengatakan pada Satriya aku sedang menyelidiki keberadaan suamiku. Aku harus punya alasan sendiri.
[Gak papa Sat, tanya aja. Aku sedang berada diluar, kebetulan mau lewat kantor, kalau masih ada mas Galih mau sekalian antar makanan. Kalau gak ada ya sudah aku bablas pulang. Makasih ya Sat] send.
__ADS_1
[Siap Ran] balas Satriya.
Kalau lembur cuma sampai jam 5 ya wajar, tadi aku kan melihat mas Galih melintas di dekat tempat praktik bidan Rahmi kan memang sekitar jam segituan. Lalu kemana perginya? Bersama wanita itu kah? Tidak! Aku tak boleh berpikiran macam-macam, barangkali memang suamiku sedang ada keperluan di luar. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri.
Klekk! Pintu kamar terbuka. Alhamdulillah baru saja aku memikirkannya, mas Galih sudah sampai rumah.
"Baru pulang mas?" tanyaku mendahului.
"Ya." jawabnya singkat.
Tak ada salam terucap dari mulutnya. Tak ada sapa manja untukku bahkan anaknya. Ya Alloh suamiku masih murka. Baiklah kali ini aku yang akan mengalah. Aku juga tak mau berlarut-larut diam dalam kondisi seperti ini, yang ada setan semakin bertepuk tangan melihat sepasang suami istri memendam perasaan saling membenci. Aku mencoba membuka percakapan untuk mencairkan suasana.
"Aku tadi habis kontrol," ujarku. Berharap suamiku akan bertanya lebih.
"Iya. Trus?"
"Ya sehat bayinya, cuma tensiku agak tinggi, gak boleh kepikiran yang macem-macem, nanti ngaruh juga ke bayinya." terangku pada mas Galih.
"Syukur kalau sehat." sahutnya singkat.
Tak ada pertanyaan lain seperti biasanya. Dia benar-benar mengabaikan kami. Aku melihat matanya, seperti tak ada sorot cinta disana, masih ada amarah tersirat.
"Kok tumben mas pulangnya telat banget. Ada lemburan?" tanyaku memastikan.
"Ya, tadi ada lembur, pekerjaanku banyak." jawabnya datar.
"Sampai jam segini?" tanyaku lebih detail.
"Ya," jawabnya singkat.
Suamiku berbohong. Sebenarnya aku ingin segera bertanya kemanakah dia hari ini setelah pulang kerja, tapi aku urungkan. Situasi masih belum memungkinkan.
"Capek mas? Aku buatin teh hangat ya." aku beranjak dari ranjang ingin ke dapur.
"Gak usah. Ibu sudah membuatkanku tadi."
"Owh ya sudah. Kalau gitu segera mandi saja mas, aku siapkan air hangatnya ya." aku melanjutkan langkahku ke dapur untuk menuangkan air hangat ke dalam ember. Aku sengaja sudah memasak air hangat yang aku isikan ke dalam termos besar, supaya nanti kalau mas Galih pulang aku tinggal memindahkannya ke ember.
Baru aku membuka tutup termos, lalu mas Galih melewatiku memasuki kamar mandi. Segera aku tuangkan ke dalam ember, membawanya ke depan pintu kamar mandi.
"Mas ini air hangatnya!" seruku.
Tak ada jawaban darinya. Lalu terdengar suara jeburan air yang di siramkan ke badan. Mas Galih mandi tanpa air hangat. Ingin menangis, suamiku benar-benar mengabaikanku. Air hangat sengaja aku letakkan di samping pintu lalu aku meninggalkannya begitu saja. Aku menuju kamar, mengambil selimut lalu tenggelam memejamkan mata. Tidak tidur hanya ingin menenangkan diri saja.
Terdengar suara pintu dibuka, mas Galih sudah selesai mandi. Aku masih memejamkan mata, akupun tak ingin berbicara sepatah katapun malam ini. Tak selang berapa lama lagi mas Galih keluar kamar, aku membuka mataku lalu beranjak ingin tahu kemanakah tujuannya. Aku melihatnya menuju ruang tengah dimana bapak dan ibu masih menikmati tontonan televisi. Aku lihat mereka bertiga sedang mengobrol, ada canda disana. Suamiku yang tadi sama sekali tak menampakkan senyumnya untukku, kini aku lihat dia sedang tertawa lepas bersama bapak ibunya.
Kamu jangan cemburu ya nak, ayahmu sedang tak ingin di ganggu oleh kita. Biarkan suasana hatinya membaik dulu. Aku mengelus perut buncitku, berkomunikasi dengan jabang bayiku. Aku kembali ke kamar, aku ingin segera tertidur, lalu bangun esok pagi.
Next 🔜
Semarah inikah Galih dengan Rania? Benarkah cuma gara-gara uang ibu yang hilang kemarin atau ada hal lain yang membuatnya berubah seperti ini. Stay tune ya gaes, ikuti terus ceritanya. I'll back soon.
🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈
__ADS_1