
Happy reading....
πππ
POV Galih
Adzan berkumandang membangunkan tidur kami, aku membuka mata membangunkan Rania yang masih terlelap. Istriku ini memang sedikit pemalas. Dia kalau tidak dibangunkan pasti akan bangun nanti jam 7. Setelah memastikan Rania membuka matanya, aku bersiap-siap menuju masjid untuk sholat berjamaah.
Sepulang dari jamaah subuh di masjid aku tak mendapati Rania di kamar, mungkin dia ke kamar mandi atau ke dapur pikirku. Aku duduk di tepi ranjang sambil memainkan handphone ku. Melihat-lihat grup Lowongan Pekerjaan. Tapi belum juga ada yang pas di hati. Entah kenapa aku sama sekali tak tertarik bekerja di tempat orang lain, apalagi nanti aku akan diperintah oleh atasan. Itu sangat tidak enak. Aku tidak suka.
Sebenarnya aku punya potensi mendapatkan pekerjaan yang lumayan begengsi. Dengan predikat lulusan S1 Sarjana Ekonomi, tentu akan banyak link pekerjaan yang bisa dengan mudah aku masuki. Bisa ke bank, admin, bisa jadi TU. Cuma aku tak pernah tertarik dengan itu semua. Aku ingin punya usaha sendiri, aku bisa leluasa melakukan apa yang ingin aku lakukan. Aku bisa mempekerjakan orang, bukan dipekerjakan orang. Tidak terikat kontrak dengan perusahaan, sehingga aku bisa dengan leluasa mengambil libur kapan saja, tanpa harus dipersulit izin. Bisa kumpul dengan keluarga kapanpun aku mau.
Tiba-tiba saja Rania datang dengan muka yang berbinar-binar, senyum yang mengembang. Sepertinya dia sedang bahagia. Istriku ini cantik sekali ternyata. Aku terlambat menyadarinya. Rania memberitahu kalau ternyata dia positif, iya hasil tespek menunjukkan 2 garis merah. Rania menunjukkannya padaku.
Entah harus senang atau sebaliknya. Jujur aku belum siap menerimanya. Dengan kondisi ekonomiku saat ini. Pekerjaan tak ada, persediaan uangpun menipis. Mau makan apa nanti kamu nak? Belum lagi mamamu juga harus ayah kasih asupan makanan yang bergizi selama hamil, supaya kamu di dalam sana juga tetap sehat, terlahir dalam kondisi yang normal dan lengkap. Nanti juga kalau mama ngidam, minta makan yang aneh-aneh tapi ayah tak bisa membelikannya. Ayah g tega melakukan itu semua pada kalian.
__ADS_1
Aku bingung, hatiku bergejolak. Ingin rasanya aku menyuruh Rania untuk menggugurkan kandungannya, usia belum 4 bulan, Allohpun belum meniupkan nyawa pada janin itu, aku pikir tak ada salahnya. Dari pada nanti anak itu terlahir dalam sebuah kekurangan orangtuanya. Sepertinya itu ide yang bagus, tapi apakah Rania akan menyetujuinya?
Tidak, aku mengurungkan niatku, aku tak sanggup menghancurkan kebahagiaan istriku. Rania sangat menginginkannya. Rania begitu bahagia menyambut kehadiran calon anak kami. Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Secepat inikah Kau mempercayai kami dalam kondisi yang carut marut seperti ini? Apakah kami nanti mampu menjaga amanahMu ini Tuhan. Hatiku terus bergejolak. Bukannya ayah tak menginginkanmu nak, sungguh. Ayah juga bahagia, tapi ayah hanya takut nanti kamu akan hidup serba kekurangan. Ayah tak mau. Ayah tak akan tega melihat orang-orang yang ayah sayangi hidup dalam kesusahan.
Malam itu disaat kami makan malam, dengan soto seharga 5.000, kami makan dengan lahabnya. Dengan uang 5.000 saja kami sudah bisa kenyang. Tapi sebenarnya dalam hatiku menangis melihat Rania hanya aku kasih makan ala kadarnya seperti ini, bukan makananan bergizi ala ibu hamil. Tapi sedikitpun Rania tak pernah protes. Jujur istriku ini memang tak pernah mengeluh. Selalu menerima segala kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam rumah tangga kami.
Rania menanyakan lagi tentang masalah pekerjaan, jujur aku sedikit tersinggung dengan pertanyaaan itu. Seolah Rania menyepelekanku karena aku belum juga mendapatkan panggilan. Bukannya aku tak berusaha, tapi aku sudah berusaha semaksimal mungkin, memasukkan lowongan dimana-mana tapi belum juga ada hasilnya. Tidakkah bisa kau bersabar Rania, jangan kau tambah pikiranku dengan rengekan tiap harimu yang selalu menanyakan masalah pekerjaan, lagi dan lagi.
Tapi nampaknya Rania tak menyadari kalau pertanyaan-pertanyaannya itu sangat membuatku tidak nyaman. Setiap waktu dia selalu menanyakannya. Aku bosan mendengarkannya. Dia berdalih bahwa itu bentuk dukungan semangat yang bisa dia lakukan untukku. Tapi tetap saja kalau setiap hari seperti itu rasanya jengkel sekali hati ini Ran. Mengertilah sedikit. Suamimu ini juga tengah berusaha. Untukmu dan untuk calon anak kita.
Betapa murkanya bapak setelah tahu usahaku bangkrut, sumpah serapahpun muncul. Padahal itu hanya 5% dari jumlah tanah bapak yang aku jual. Masih banyak berpetak-petak tanah bapak, masih lebih dari cukup kalau hanya untuk makan, ditambah bapak kan g punya hutang sama sekali. Lagipula aku ini kan anak tunggal, toh nanti semua harya warisan itu juga akan jadi milikku, pikirku. Sejak saat itu hubunganku sedikit merenggang dengab bapak. Aku pernah mencoba meminta modal kepadanya lagi, tapi nihil yang ku dapatkan. Sepertinya bapak kapok, takut akan bangkrut lagi.
Stok tabungan semakin hari semakin berkurang, aku harus berputar otak lagi untuk mendapatkan tambahan pemasukan. Aku melihat-lihat barang yang sekiranya berharga dan laku untuk dijual. Dengan berat hati aku meminta Rania menjual tas seserahan yang dulu aku berikan untuknya. Malu sebenarnya, tapi mau gimana lagi, kami butuh makan. Raniapun mengikhlaskan tasnya untuk dijual demi menyambung hidup. Trimakasih Rania, kamu cukup mengerti dengan keadaan ini.
Pagi itu ditengah kami sedang sarapan, aku memutuskan untuk pulang ke rumah bapak ibu. Mengingat persediaan uang yang semakin menipis, sepertinya sudah tidak akan cukup untuk bertahan 1 bulan ke depan. Pagi ini saja kami hanya sarapan dengan memasak 1 bungkus mie instant. 1 untuk berdua. Rania sengaja memasaknya dengan menambah kuahnya lebih banyak lagi. Biar bisa menyeruputnya dan akan menambah kenyang. Sebenarnya aku tahu ini tidak sehat, apalagi Rania sedang hamil. Harusnya g boleh keseringan makan mie instant. Tapi mau apa lagi, kami hanya mampu sebatas ini. Lagi-lagi Rania tak pernah protes.
__ADS_1
Selesai sarapan Rania keluar entah kemana. Pikirku aku harus segera memberi tahu Rania tentang keputusannku. Aku keluar mencari Rania. Aku menuju dapur tak ada, terus berjalan ke kamar mandi, aku pikir dia sedang mencuci, pun juga tak ada disana. Aku menuju ruang depan, ternyata dia ada disana. Aku menghampirinya. Nampak dari belakang dia seperti sedang melamun, sedang memikirkan sesuatu. Apakah dia menagis? Pikirku. Benar saja, mengetahui kedatangannku Rania dengan cepat mengusap pipinya yang sudah basah dengan air mata. Aku pura-pura saja tak melihatnya. Karena kalau aku tanya pasti akan jauh kemana-kemana. Karena wanita selalu mendramatisir keadaan. Begitulah wanita.
Aku segera memberitahu Rania keinginannku itu. Pulang ke Malang dengan sepeda motor, karena aku pikir dengan motor akan lebih menekan biaya perjalanan. Paling juga hanya 3x isi bensin sudah sampai rumah. 25.000 x 3, hanya akan mengeluarkan dana 75.000, ditambah jajan di jalan paling habis 100.000an maksimal, bisa juga kurang dari itu. Biaya perjalanan yang kurang dari 200.000, mengingat uang simpanan kami yang sudah mulai pas-pasan.
Aku sudah terbiasa pulang pergi Jogja - Malang dengan motor. Tapi Rania berusaha menolak. Dengan alasan keselamatan janinnya. Alasan yang ***** bengek dibuat oleh Rania. Hampir kami bertengkar hebat karena masalah ini. Dia sungguh menolaknya dengan keras. Seperti yang aku katakan tadi, wanita memang selalu mendramatisir keadaan.
Sepertinya Rania ingin naik kereta, tapi biaya kereta jauh lebih mahal. Tentu saja aku dengan lantang menolaknya. Biaya naik kereta itu tidaklah murah Rania. Untuk 1 orang sajankita harus mengeluarkan 300.000 belum ditambah uang jajan di dalam sana. Kamu pikir jajanan di kereta itu murah. Untuk air mineral yang di warung seharga 3.000 saja di kereta bisa jadi 10.000 harganya. Belum lagi kalau mau nyemil po* mi* juga harus keluar duit lagi 10.000. Kalau lapar beli nasinya juga mahal 30.000. 2x lipat biaya yang akan kita keluarkan. Uang kita tinggal sedikit Ran. Pahamlah.
Sekarang ini memang aku jadi lebih sedikit perhitungan masalah uang, bukannya pelit, bukannya apa-apa. Tapi karena memang keadaan yang membuatku harus bertindak seperti itu. Keadaan tidak memungkinkan untuk sekedar menghamburkan uang yang tidak penting. Harus benar-benar mendahulukan yang sangat penting, yang bukan priorita minggir saja dulu.
Dengan perdebatan yang alot dan sengit akhirnya Rania luluh, pertahanannya berhasil aku tembus. Dengan sedikit berlinang air mata dia mengiyakan keinginanku, dia menurut apa yang aku minta. Pulang ke Malang dengan naik sepeda motor. Aku berusaha meyakinkannya, walaupun dalam hatinya sebenarnya dia meragu. Alhamdulillah istriku lagi-lagi mau memahamiku. Trimakasih Rania.
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Readers tercinta, jangan bosan membaca karyaku ya. Silahkan bagi yang akan menuliskan krisan. Tulis saja di kolom komentar ya. Itu akan sangat mendukung bagi perkembangan karya ini. Terimakasih. Jangan lupa like n comment ππ
__ADS_1