
Keesokan harinya Rong Muxiu tidak bisa bangun pagi karena semalam dia menghabiskan waktu menemani Rong Huang berbelanja di toko alkimia yang terus disebutkannya itu. Dia benar-benar lelah, semalam gadis itu terus menjadikan dirinya sebagai pajangan untuk dibawa ke mana-mana.
Rong Muxiu menguap, menatap sayu kamar yang ditempatinya. Kamar ini sepertinya tidak jauh berbeda dengan kamar yang dimiliki oleh Rong Huang sendiri. Sangat luas, bahkan melebihi luas kamarnya sendiri.
Setelah bersiap dengan pakaian yang berasal dari lemari kayu kamar ini. Kemudia Rong Muxiu menyempatkan diri untuk berjalan mengitari taman bunga yang ditunjukkan oleh Rong Huang.
Terdapat satu pun bunga yang dapat diidentifikasi oleh Rong Muxiu di sini. Tetapi memiliki beberapa kemiripan dengan bunga yang berada di kehidupan sebelumnya.
Ia memetik setangkai bunga yang agak mirip dengan bunga mawar. Tetapi kelopak bunga itu memiliki warna kehitaman dengan putik serta benang sari yang berwarna putih.
“Jangan menghirupnya!” Seru seorang wanita yang berlari tertatih-tatih ke arahnya dengan raut panik.
Berbeda dengan istana di Ibukota, istana di sini tidak dipisahkan satu sama lain. Kemungkinan karena Ratu dan Selir tidak menjalin masalah atau mungkin lebih dekat daripada yang dia pikirkan. Oleh karena itu dia tidak tau siapa orang yang memperingatkannya saat ini. Apakah itu Ratu ataukah Selir, yang pasti dia bukanlah pelayan karena pakaiannya tampak mewah.
“Jangan menghirupnya, jika kau menghirup itu kau akan teracuni!” Wanita itu meraih tangannya dan melempar bunga itu jatuh ke tanah.
“Kenapa?” Rong Muxiu memiringkan kepalanya penasaran.
Wanita itu tertegun sejenak lalu mengulum senyum lembut, “Apakah kau yang dipanggil Muxiu oleh putriku, Rong Huang?”
“Anda bisa yakin Yang Mulia,” Rong Muxiu membalas sopan.
“Bunga itu bernama bunga dark moon. Bunga yang memiliki dua manfaat yang berlawanan, mengobati dan mencelakai. Kelopak bunganya dapat menyembuhkan berbagai jenis racun yang merusak fungsi kerja otak. Dan putiknya dapat membunuh orang yang menghirupnya dalam waktu 1 hari. Apalagi jika itu kau yang menghirupnya, hidupmu hanya akan bertahan selama 5 jam saja.”
“Saya mengerti, Yang Mulia. Terima kasih atas saran Anda.”
Rong Muxiu menerima beberapa informasi baru. Sang Ratu adalah dengan pikiran yang paling tajam dalam menilai orang lain. Jadi jika Rong Muxiu membuat permusuhan dengannya, dia pasti akan dirugikan meskipun sedikit.
“Jika Anda tidak memiliki sesuatu yang ingin dikatakan kepada saya, saya mohon undur diri dulu.” Rong Muxiu berjalan pergi.
Dia telah menghafal rute istana secara keseluruhan, sehingga dengan mudah ia dapat menemukan jalan keluar. Tetapi sama seperti sebelumnya, masalah datang menghadang kehidupannya yang nyaman.
Nampak seorang bocah lelaki berparas tampan berlari menabraknya hingga dia terpental ke belakang. Bocah itu menangis. Itu menarik perhatian banyak pelayan. Sedangkan dia hanya terpasung menatap kosong. Kenapa adegan ini terlihat familiar?
“Hua..! kakak itu menggangguku bibi, dia menabrakku!” Dengan tangis yang sangat berisik.
Tidak ada pelayan yang dapat menghentikan tangisnya. Bocah itu hanya menangis dan menangis sambil menunjuk-nunjuk Rong Muxiu yang terpatung. Dia tidak mengerti. Apakah bocah ini memiliki bakat akting yang menandingi Rong Huang?
Dan begitu pula Rong Huang muncul dengan heroiknya menenangkan bocah lelaki itu. Sementara Rong Muxiu masih tidak bisa mencerna bulat-bulat situasi konyol yang barusan diakibatkan oleh seorang bocah.
Rong Huang menertawai Rong Muxiu sambil menenangkan bocah lelaki itu, “Hahahah, ini adalah takdirmu untuk selalu menerima kesialan tiap kali kau tidak menungguku Rong Muxiu!”
__ADS_1
Lalu Rong Huang tersenyum manis kembali tersenyum kepada bocah lelaki itu. “Ah, adikku sayang, kerja yang bagus! Kau memang adalah adikku yang paling terbaik di alam semesta ini.” Anehnya bocah lelaki itu tertawa membalas Ring Huang.
Apakah itu semua karena Rong Huang?!
Rong Muxiu menngembalikan ekspresinya. Dia menatap datar Ring Huang yang perlahan bangkit dan menatapnya penuh ejek.
“Aku tidak percaya tentang apa yang terjadi dari tadi ada tanpa alasan. Sepertinya ini karenamu.” Rong Huang Menatap Rong Muxiu tidak setuju.
“Tidak sopan! Aku ‘kan adalah kakak sepupu perempuan pihak ayahmu, harusnya kau menghormatiku!”
Rong Muxiu menatapnya aneh, “Kenapa aku harus mengikuti apa yang kau katakan. Pantas dari mana aku memanggilmu jiejie.”
“Sudahlah, jika kau terus berbicara omong kosong, kita akan terlambat.”
Sebelum Rong Huang berhasil mencapai lengan Rong Muxiu, Rong Muxiu buru-buru mengambil tangannya kembali tepat sebelum gadis itu berhasil menyentuh tangannya.
“Jangan sentuh aku!”
Rong Huang berdecak, “Tanganku tidak sekotor itu,”
“Bukan kotor, Huang Jiejieku yang idiot. Cengkaramanmu itu sakit,”
“Oh, maaf, aku lupa. Ternyata Muxiu meimeiku yang irasional ini ternyata tidak dapat berkultivasi. Maaf, maaf aku benar-benar lupa.”
“Ayo.”
Nampak tinggi keduanya terpaut cukup jauh. Jika bentuk tubuh Rong Muxiu dan Rong Huang dibandingkan satu sama lain, itu akan terlihat seperti seorang anak kecil yang berjalan bersama ibunya. Hal itu yang menyebabkan pandangan orang-orang kepada mereka agak berbeda dari yang lain.
Setelah berjalan cukup lama. Tanpa menggunakan kendaraan, karena Rong Huang serta Rong Muxiu tidak ingin muncul secara Mencolok. Keduanya tiba di pusat kota sambil bergandengan tangan.
Pusat kota cukup ramai. Banyak orang yang berlalu-lalang dan terkadang menyempatkan diri untuk berada dalam percakapan kecil. Suasananya sangat ramah, hal itu membuat Rong Muxiu tidak bisa menahan senyum kecil. Ini mengingatkannya pada kehidupannya yang lalu.
“Jadi, Huang jiejie, di mana perpustakaan yang kau maksudkan itu?” Dia menoleh menatap Rong Huang yang tidak berbicara sedikit pun sedari tadi.
“Sana,” Rong Muxiu menunjuk bangunan yang paling ramai dikunjungi.
Rong Muxiu benci keramaian, makanya dia berkedut lalu berdecih dengan sumpah serapah yang terngiang dalam benaknya. Ini sangat menyebalkan!
“Oke, tunggu apalagi? Atau haruskah aku yang menarikmu ke sana, Rong Muxiu?” Senyum sarkas menghiasi busur Rong Huang.
“Rong Huang yang diam benar-benar sangat menakutkan,” gumam Rong Muxiu.
__ADS_1
“Tentu saja? Rong Huang yang Agung ini tidak akan menurunkan dirinya sendiri untuk berbicara dengan orang yang irasional dari lahir. Juga dia tidak dapat mengolah qi, impulsif, juga dia itu agak bodoh dalam bersosialisasi. Tentu saja Rong Huang yang Agung ini tidak akan berbicara dengannya.”
“Omong kosong,”
Rong Huang mengatakan seperti itu namun itu tidak benar seperti yang terpikirkan oleh pendengarnya. Bagi Rong Muxiu, Rong Huang itu agak konyol dan konyol. Dia suka mempermainkan situasi tapi tidak bisa bertahan ketika berdebat dengannnya. Dia juga tidak bisa menggunakan teknik pengobatan dengan lancar tanpa bantuan yang diberikannya.
Sebagai gantinya Rong Huang memberikannya perasaan kekeluargaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Di kehidupan sebelumnya, karena Rong Muxiu adalah anak tunawisma dia harus berjuang untuk mendapatkan posisinya. Bahkan bermain siasat licik kepada orang-orang yang ia anggap sebagai saudara ataupun saudari kau sebelum itu dimulai.
Rong Muxiu terkekeh, “Ya, ya, ya. Aku percaya, jadi tenang saja.”
“Sama sekali tidak terlihat seperti itu, orang rendahan!”
“Iya, iya, Putri Raja.”
“Apa kau menyinggungku karena kau adalah Putri Kaisar?!” Rong Huang mencondongkan wajahnya ke arah wajah Ring Muxiu.
Rong Muxiu refleks mundur beberapa sehingga secara tidak sengaja dia membuat orang yang berada di belakangnya terjatuh. Orang itu lantas meringis lalu bangkit dan menatap sengit Rong Muxiu.
“Aduh, Rong Huang, kau membuatku mendapatkan masalah lagi.” Rong Muxiu memandang orang itu tanpa niatan untuk membantu.
Ide licik tiba-tiba terbesit dalam pikirannya.
“Huang jiejie, tidakkah kau melihat orang itu? Seingatku dia memiliki kelompok yang hebat dan kaya itu! Sangat mengagumkan! Waktu aku melihat mereka berjalan bersama rasanya darahku berdesir semakin cepat.” Dia menarik pakaian Rong Huang dengan senyum cerah.
“Kakak, maaf aku membuatmu jatuh. Aku benar-benar tidak sengaja.” Rong Muxiu menunduk meminta maaf.
“Tapi, kak! Aku sangat kagum sama kakak!”
Ketika mendengar pujian-pujian yang dilontarkan oleh Rong Muxiu, ia tidak dapat membantu tapi membungsungkan dadanya bangga. Sedangkan Rong Muxiu yang melihat bahwa lelaki itu telah melupakan bahwa dia ‘lah yang menyebabkan lelaki itu terjati dia tidak bisa menahan senyum.
“Ngomong-ngomong, di mana teman kakak yang lain? Ada dua yang cantik dengan pakaian elegan, terus ada 2 orang lagi yang sama tampannya seperti kakak.” Rong Muxiu memain-mainkan jarinya lalu mendongak.
“Apakah mereka telah diserang oleh penjahat?” Mata berair yang Rong Muxi buat benar-benar terlihat alami, terkadang fakta itu membuat Rong Huang merasa mual.
“Ya, mereka diganggu oleh orang-orang jahat.” Lelaki itu berjongkok untuk menyamakan tinggi karena tingginya yang lebih 50 cm daripada Rong Muxiu.
“Eh? Tapi waktu itu, waktu aku tanya ke pelayan-pelayan di sana katanya Kakak ‘lah yang telah mengacaukan restoran mereka.”
Lelaki itu mulai memiliki pikiran bahwa Rong Muxiu adalah anak pemilik Restoran Lao Bao, Long Haoran. Ini membuat celah besar bagi Rong Muxiu untuk menyerang lelaki itu dengan kata-katanya.
Sewaktu meminta maaf dengan lelaki itu sebelumnya, dia telah memperhatikan bahwa ada banyak orang yang mengawasi tindakan yang dia lakukan. Tetapi tujuan mengawasi itu tidak lain adalah karena mereka murni membenci lelaki itu.
__ADS_1
Apakah dia menyadarinya?
[ To Be Continued ]