
“Hm? Kalian menolak memberikan hasil taruhan yang telah dijanjikan?” Rong Muxiu memiringkan kepalanya malas ketika menatap kerubungan orang yang memasang tampang penuh permusuhan.
Lantas dia memasang wajah cemberut dan berseru, “Janji adalah janji, kalian tidak bisa mengingkarinya, orang tua! Aku sekarang merasa seperti anak kecil yang sedang ditindas oleh kalian semua. Jahat!”
Orang-orang itu terdiam, mereka tidak langsung melakukan apa-apa ketika melihat tingkah Rong Muxiu yang menurut mereka tidak masuk akal. Lagipula kenapa mereka harus memberikan hasil taruhan mereka kepadanya? Hak apa yang dia miliki untuk memaksa mereka?!
“Kenapa kami harus mengikuti perkataanmu , gadis kecil?! Jikalau kami menang sekalipun, apa kau akan menyerahkan cincin kristal ungu itu kepada salah satu dari kami? Jangan berbicara omong kosong!” Seru salah seorang pria dengan wajah kasar yang kemerahan akibat marah.
Rong Muxiu memasang wajah dingin dengan senyum tipis, “Aku akan memberitahu kepada Ayahku bahwa kalian telah menindasku! Aku akan memberitahukannya!”
Rong Muxiu menangis tersendu-sendu sambil menyeka tangisnya itu dengan kedua tangannya. Dalam hati Rong Muxiu meledakkan tawa, orang tua konyol itu, apakah mereka akan percaya?
Membual kepada orang-orang bodoh ternyata lebih menyenangkan daripada yang dia kira!
“Jangan menangis, gadis kecil. Kami akan memberikan satu taruhan lagi jika memang itu diperlukan. Baiklah, kita akan bertaruh lagi. Jangan menangis!” Seorang wanita tua dengan wajah yang kusam berjalan mendekati Rong Muxiu.
Itu terdengar baik dan manis, tetapi Rong Muxiu dapat dengan mudah menebak motif asli wanita tua itu. Jika saja dia adalah anak yang naif sejak awal, pasti dia akan sangat mudah untuk dijebak oleh mereka.
Saat wanita tua itu baru saja menyentuh pipinya, gadis kecil itu menepis tangannya dengan pandangan dingin. Wanita itu terpana melihat tingkah Rong Muxiu yang keterlaluan kepada dirinya yang lebih tua.
“Tidak sopan! Saya bahkan lebih tua darimu, anak kecil!” Rong Muxiu terkekeh sebagai respon.
“Sebaliknya, kalian yang bermasalah di sini.” Rong Muxiu menjauh beberapa langkah dan menyapu pandang orang-orang itu. “Aku ingin menghormati kalian sebagai orang yang lebih tua, tetapi kalian tidak menghargaiku sebagai yang lebih muda. Apakah aku salah?”
“Jelas-jelas kami semua di sini menghargaimu, kurang ajar!” Seru seorang remaja yang Rong Muxiu taksir berusia 18 tahun atau lebih.
“Hei kak, aku bicara kepada orang yang lebih tua di seberang sana bukan kepadamu.” Rong Muxiu mengerjap bingung.
“Kau!” Ia mengerang emosi, tetapi teman-teman di belakangnya menahan dirinya.
Gadis kecil itu tidak akan menjadi gadis dengan latar belakang yang begitu sederhana. Jadi bagi mereka, ini tidak sepantasnya mengumbarkan amarah miliknya dengan gamblang.
Di sisi lain, Rong Muxiu berpikir dalam diam lalu menoleh dengan tatapan cerah. “Baiklah, nek! Mari lakukan taruhan lagi! Tapi jika aku menang kalian akan memberikan kepadaku hasil taruhan sebelumnya dikali dua, oke?”
Orang-orang itu mengangguk serentak, namun bising masih terdengar kala itu juga. Demikian Rong Muxiu memilih mengutarakan kesepakatan lain yang menguntungkan dirinya.
“Tapi aku tidak yakin. Jadi serahkan perkamen dan kuas yang telah kuberikan sebelumnya, tolong?” Rong Muxiu tersenyum manis sembari menengadahkan tangannya ke depan.
“Kenapa kami harus memberikan itu kepadamu?!” Pemuda impulsif yang lain.
“Jangan berisik!” Balas seorang gadis dengan perawakan dewasa sambil membawa tumpukan kertas perkamen yang diberikan Rong Muxiu sebelumnya.
Sejenak, kata ‘impulsif’ itu kembali mengingatkan dirinya akan pemilik sebelumnya. Tetapi dia tidak berbicara sama sekali, alih-alih meraih kertas dari tangan gadis itu.
“Sama-sama,” ucap Rong Muxiu kemudian melanjutkan dengan pertanyaan. “Kalian sudah memutuskannya? Siapa yang akan kalian pilih, aku akan mengikut saja, memilih yang menjadi lawan dari yang kalian pilih.”
Gadis itu menatap Rong Muxiu dengan tatapan kompleks, “Kenapa? Kau kelihatannya begitu yakin?”
“Karena kalian bodoh,” balas Rong Muxiu ringan. Itu membangkitkan amarah banyak orang.
Gadis itu mengalih pandang acuh untuk melihat raut orang-orang yang berada di barisannya. Saat melihat wanita tua sebelumnya mengangguk dengan isyarat tertentu. Dia pun memutuskan.
“Kami akan memilih pria di seberang sana,” Rong Muxiu mengikuti arah tunuk jari tertunjuk gadis itu.
__ADS_1
Oh, itu hanyalah seorang pria berotot biasa dengan kemampuan spritual yang minim.
“Diterima,” dia tersenyum lebar.
Pertandingan pertama setelah pertandingan sebelumnya — pertandingan yang mereka pertaruhkan — rupanya telah berakhir. Kini Rong Muxiu menangkap sosok yang familiar berdiri di atas panggung dengan punggung yang tegak dan dagu yang diangkat ke atas. Benar-benar penampilan yang sangat kuat.
Sementara di sisi lainnya, nampak seorang pria berbadan kekar yang bertelanjang dada memamerkan otot-ototnya. Jujur saja, itu terlihat begitu menggelikan bagi Rong Muxiu.
“Semangat, Huang jiejie!” Seru Rong Muxiu dari kejauhan melambai ke arah Rong Huang yang tengah melakukan pemanasan.
Rong Huang berbalik dengan tatapan tajam lalu tersenyum dengan senyuman yang tak dapat dibaca. Dia .. bergidik ngeri?
Tidak mungkin!
“Selanjutnya pertarungan antara Huang’er melawan Ouyang Zhou!”
Semua orang selain Rong Muxiu berteriak semangat. Bukan karena pertarungan yang akan berjalan seru, melainkan karena Rong Muxiu yang mengumumkan taruhan sebelumnya.
Apakah ada yang berpikir anak kecil berusia 12 tahun seperti Rong Muxiu akan memenangkan pertaruhan untuk kedua kali?
Tidak akan
“Siapa yang akan menjadi pemenangnya?! Apakah Huang’er?! Ataukah Ouyang Zhou?! Siapapun pemenangnya, dia ‘lah yang akan mendapatkan tempat untuk bertarung dengan sang Raja Nalan Wang!” Seru wasit itu menggebu-gebu.
Mendengar tempo, nada, serta perkataan sang wasit membuat Rong Muxiu mengernyit samar lalu terkekeh pelan. Dia tidak percaya jika orang-orang di kehidupan masa lalunya akan ia lihat secara langsung di masa depan.
“Baik! Kita mulai pertandingannya!”
Setelah hitungan ketiga, pertarungan dimulai. Berbeda dengan Ouyang Zhou, Rong Huang sama sekali tidak memasang kuda-kuda dari awal hingga akhir. Dia hanya menatap Ouyang Zhou dengan tatapan meremehkan.
Benar kata orang, seseorang tidak dapat dinilai dari penampilan saja. Buktinya, Ouyang Zhou yang memiliki tubuh berotot tidak melakukan gaya yang mengandalkan kekuatan dan serangan yang eksplosif, melainkan gaya yang gesit dan setiap serangannya yang masih dinilai efektif.
Ouyang Zhou melantingkan tendangan ringan lantas memutar tubuhnya saat Rong Huang membalas dengan tinju. Kekuatan yang diberikan ke dalam tinju Ouyang Zhou semakin kuat dan kuat. Itu membuat Rong Huang terlihat semakin terpojok pula.
“Hei, apa kau benar-benar berpikir jika gadis itu akan menang?” Gadis sebelumnya mendekati Rong Muxiu seraya menunjuk sisi di mana Rong Huang berada.
“ Oh, tentu. Aku sudah pasti yakin dengan orang yang kupilih, aku ‘kan tidak pernah salah.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin.” Gadis itu tidak bisa membalas kali ini.
Tetapi saat Rong Muxiu melanjutkan perkataannya, gadis itu mengernyit aneh, “Kau sendiri kenapa? Tidak yakin dengan pilihanmu?”
“Tidak,” dia pun menggeleng ringan dengan senyum tipis.
Tidak ada yang tau, apakah di masa depan mereka akan bertemu atau tidak? Sebagai kawan atau lawan?
Pertarungan semakin sengit. Karena gerakan gesit dan efektif yang dilakukan oleh Ouyang Zhou membawa dampak yang tidak baik bagi Rong Huang. Dia benar-benar terpojok karena belum menunjukkan keterampilannya, dia terpojok karena meremehkan Ouyang Zhou.
Tubuh Rong Huang mendadak berhenti, Ouyang Zhou yang tidak yakin bahwa gerakan itu sungguhan dan bukan jebakan. Dia pun memutuskan untuk mundur dari Rong Huang sejenak.
“Hei paman, kau takut? Padahal aku belum melakukan apapun.” Rong Huang mengangkat bahunya dengan tampang acuh.
__ADS_1
Ouyang Zhou tidak menjawab, Rong Huang lantas berbisik, “Tenang saja, aku akan mengalahkanmu dalam satu serangan,”
“Buktikan!” Seru Ouyang Zhou lalu mengarahkan serangannya ke arah titik-titik vital Rong Huang.
Sayangnya tindakan itu tidak berjalan sebaik yang ia pikirkan. Rong Huang tetap bisa menghindari serangannya yang gesit.
Tetapi otot-otot itu tidak bisa memberikan keuntungan bagi Ouyang Zhou. Karena itu tidak sesuai dengan gaya bela diri yang dilakukan olehnya.
Maka dari itu Ouyang Zhou memutuskan untuk menggunakan gaya bela diri yang sesuai dengan fisiknya.
Ouyang Zhou menyerang dengan serangan cepat yang beruntun. Rong Huang terus menghindarinya dengan gerakan yang lentur tapi tidak mencoba untuk membalas sama sekali.
Serangan Ouyang Zhou mencapai puncaknya ketika dia akan menutup serangan dengan tinju yang menargetkan tulang leher Rong Huang. Rong Huang yang berhasil menebak serangannya pun menyipitkan mata lelu tersenyum lebar.
Dia mengangkat telapak tangannya dengan kecepatan tinggi dan menghentikan itu tepat di depan telinga Ouyang Zhou. Gerakan itu menimbulkan bunyi berdengung hebat di telinga Ouyang Zhou.
Lantas Ouyang Zhou terpaksa berlutut untuk meludahkan darah segar dari mulutnya. Kemudian ia mendongak menatap Rong Huang tak percaya.
Rong Huang yang ditimpa sinar rembulan tersenyum lebar, “Kau kalah, paman!”
Tidak mendengar kemenangannya diumumkan, gadis itu pun menoleh dengan jengkel, “Aku menang!”
Wasit itu tertegu lalu merespon dengan terbata-bata, “Huang’er berhasil memenangkan pertandingan kali ini! Dan Ouyang Zhou digugurkan!”
Rong Huang melompat dari panggung pertarungan untuk menghampiri Rong Muxiu yang menatap bosan. Rong Huang tau bagaimana Rong Muxiu yang irasional telah membuat pertaruhan atas dirinya dan Ouyang Zhou karena dia mendengar percakapan itu dari atas panggung.
“Jadi kalian akan memberikan hasil taruhannya atau, tidak? Aku dan meimeiku ini ingin melanjutkan perjalanan kami!” Dengus Rong Huang menengadahkan tangan dengan dagu yang terangkat sombong.
“Sombong,” desis Rong Muxiu melirik Rong Huang.
“Cepatlah! Serahkan taruhan itu! Apa kalian ingin merampokku?” Rong Huang berbalik dan maju beberapa langkah dengan rahang yang mengeras.
“Apa-apaan itu? Betapa sombongnya kalian berdua! Tidak sopan!” Ujar wanita tua itu mewakilkan pernyataan yang ingin dinyatakan oleh orang-orang lainnya.
“Maka serahkan hasil taruhan yang telah dijanjikan!”
“Tunggu sebentar,” sahut gadis yang menemani Rong Huang berbicara sebelumnya.
Gadis itu mengambil kantong kain berwarna kecoklatan dari dalam lengan hanfu yang dikenakannya. Setelah itu, gadis itu melemparkan kepada Rong Muxiu yang refleks menangkapnya tanpa masalah.
“Refleks yang bagus,” puji gadis itu dengan senyum samar.
Setelah Rong Muxiu mengintip isi kantong kain itu, dia pun mengangguk mantap lalu menarik Rong Huang untuk meninggalkan orang-orang itu.
Wasit yang berada di panggung turun ketika melihat Rong Huang yang berjalan menjauhi arena pertarungan sambil berteriak, “Huang’er! Jangan tinggalkan tempat ini!”
Sayangnya, tidak ada dari keduanya yang sudi menggubrisnya sama sekali.
Di sisi lain, wanita tua bersama orang-orang di sekitarnya berlutut dengan khidmat. “Terima kasih telah membantu kami Nona! Kami, orang-orang rendahan ini amat sangat bersyukur.”
“Tidak biasa,” bisik gadis itu.
[ To Be Continued ]
__ADS_1