Miraculous Princess

Miraculous Princess
Ch. 6 - Provokasi Tak Pantas


__ADS_3

“Apa kau yakin ingin pergi ke sana, Muxiu?” Rong Huang memiringkan kepalanya menatap Rong Muxiu yang terdiam di hadapannya.


Keduanya berada di lantai dua Restoran Lao Bao. Sembari menyantap makanan dan mengisi perut hingga penuh, keduanya berbincang dengan akrab satu-sama lain. Rong Muxiu merasa jika Rong Huang agak menyebalkan, namun cukup baik untuk membuatnya nyaman.


Selain itu, Rong Huang telah memilih kursi yang berada di pojokan. Di samping jendela tanpa kaca yang membiarkan hembusan sejuk angin masuk begitu saja. Rong Huang juga telah memesan bihun dengan daging di atasnya, manisan, dan beberapa cemilan lainnya. saat mereka datang, mata Rong Muxiu dipenuhi cahaya antusias. Tetapi dia tetap mengendalikan dirinya untuk tetap tenang.


Dia melirik jendela tanpa kaca yang mengungkapkan jarak antara lantai yang mereka huni dan tanah lapang di bawah sana dengan tangan yang perlahan bergerak meraih bihun dan daging menggunakan sumpit yang tersedia lalu menyeruputnya. Bihun kenyal itu berpadu dengan daging tersebut. Selain itu, kuahnya juga dipenuhi oleh rempah-rempah. Matanya bersinar. Tidak menunggu lagi, dia dengan lahap menyantap hidangan itu sampai habis. Sangat menyegarkan!


“Enak!” Serunya serentak meletakkan kembali mangkuk kayu berisi bihun berkuah itu.


Rong Huang mendengus dan berkata, “Kau terlihat sangat menyedihkan, memangnya sudah berapa hari kau tidak menyentuh makanan?”


“Khaw myungkun lebwih tao tengtak Ittuh dali padah diriku.” Dengan mulut yang dipenuhi oleh roti Rong Muxiu berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.


Rong Huang memutar matanya, “Setelah aku menceritakan itu kepadamu, kau terus bersikap seperti ini padaku. Itu salahmu, kenapa kau harus marah padaku.”


“Itu bukan amarah. Aku sama sekali tidak marah kepadamu, kakak sepupuku yang manis.” Sontak Rong Huang menatapnya jijik.


Merasa bosan, Rong Muxiu memilih untuk membenamkan kepalanya ke dalam lipatan tangan di atas meja, tetapi telinganya masih setia mendengarkan ocehan sepupunya. Sebelumnya, ia tidak yakin jika dia akan mampu mengisi perutnya hari ini. Andai kata traktiran ini adalah mimpi, tolong jangan bangunkan dia sampai besok.


“Ngomong-ngomong, apa kau yakin untuk mengikuti event itu?” Rong Huang menopang dagunya.


“En.”


“Saran dariku, lebih baik kau mengikutiku ke Istana Xiaxue saja. Di sana ada perpustakaan yang tidak kalah besar dengan perpustakaan umum cabang Akademi Heaven’s Star.”


“Aku tidak ingin merepotkanmu.”


Kalimat itu separuh benar dan separuh bohong. Rong Muxiu bukannya tidak ingin menyulitkan Rong Huang, tetapi dia tidak ingin ada banyak pihak yang mengetahui keberadaannya. Akan sangat memalukan bagi dirinya yang jenius ini ditertawakan karena identitas dan kebodohan pemilik sebelumnya.


Rong Huang menyesap tehnya dengan dahi yang mengkerut. “Itu tidak terlihat seperti yang kau katakan.”


“Terserah,” Rong Muxiu mengungkap wajahnya dengan dagu yang bertopang pada lengannya yang masih terlipat.

__ADS_1


“Pemalas,” cibirnya.


Tiba-tiba terdengar hiruk pikuk dari arah lain. Keriuhan itu membangkitkan minat mereka berdua beserta orang-orang yang berada di lantai yang sama dengan mereka. Tepat saat Rong Muxiu memincingkan matanya malas. Ia melihat rombongan orang yang berjalan memasuki lantai kedua ini dengan dagu terangkat.


Rombongan itu terdiri atas lima orang, 3 orang lelaki remaja dan 2 orang gadis cantik. Paling mungkin jika mereka adalah bangsawan, itu ditunjukkan oleh pakaian mewah yang mereka kenakan. Rong Muxiu tidak habis pikir, mengapa segerombolan orang kelas atas tanpa otak itu berjalan menuju meja lain dan mengelilingi dua orang pria beda umur yang kelihatan lebih lemah dari mereka. Seorang pemuda yang mengenakan topeng dan seorang kakek tua yang mengenakan topi jerami.


“Ya, seperti itu. Mereka adalah pembuat onar yang berasal dari perpustakaan milik akademi yang akan kau tuju, Akademi Heaven’s Star. Akademi itu mengembangkan basis kurikulum yang mengizinkan siswa-siswinya untuk mengembangkan kekuatan di luar. Seperti menantang kekuatan orang lain.


Tetapi mayoritas dari mereka menggunakan kebebasan itu untuk menindas orang yang lebih lemah dari pada mereka. Terutama kelompok yang ada di sana. Kelima orang itu, Geng Smoldering Agles.”


“Pft,” Rong Muxiu yang mengunyah manisan yang baru dibawakan oleh pelayan tersedak, lalu terbatuk-batuk. Segera, ia meraih segelas air dan meminumnya dengan tangan yang bergetar.


“Judul yang sangat mengagumkan,” ia memberikan acungan jempol lalu terbahak sekali lagi.


“Sebaiknya kau patut bersyukur.”


“Kenapa?” Ia menyeka air mata di sudut matanya.


“Apabila mereka mendengar tawamu itu, mereka pasti akan mendatangi meja kita. Syukur ada aku yang membuat mereka tidak memperhatikan kita sama sekali,” sinis Rong Huang melirik sekelompok orang tersebut.


“Astaga, aku lupa. Kau adalah Putri Keempat yang lebih baik untuk tidak ada.” Gaya bicara itu membuat Rong Muxiu menatapnya datar.


“Energi mental adalah energi selain qi yang tersimpan dalam otak. Energi mental yang dimiliki oleh setiap orang berbeda satu sama lain. Bisa dikatakan jika perbedaan yang paling nyata antara satu sama lain adalah warna dan intensitas awal sebelum orang-orang menguasai energi tersebut.”


“Energi mental memiliki wujud nyata?”


“Ya, jika seseorang memiliki qi yang mencukupi di dalam lautan qi-nya, maka seseorang dapat mewujudkan energi itu dalam satu warna. Bahkan sampai ke tingkat tertentu itu dapat mengangkat gunung yang masih utuh.”


Rong Muxiu mulai paham, rupanya selain qi, manusia juga memiliki energi mental. Mungkin maksud energi mental di sini adalah kecerdasan intelektual manusia pada umumnya.


“Energi mental itu mirip seperti sarana yang menjadi tolak ukur kecerdasan manusia, ya.”


“Hampir benar. Lebih tepatnya, intensitas awal energi mental ‘lah yang menjadi tolak ukur sejati dari kecerdasan bawaan seorang manusia. Banyak sekte-sekte dan perguruan-perguruan di luar sana yang melakukan hal yang sama. Selain itu, energi mental juga digunakan untuk menguji hal lain, misalnya bakat atau tingkat kultivasi yang telah dicapainya seseorang. Berbeda dengan mereka, manipulator.”

__ADS_1


“Ada pembagian atau tingkatan dalam penguasaan energi mental tersebut?”


“Ada. Seseorang yang mampu mengendalikan energi mental sepertiku disebut sebagai manipulator. Tingkat penguasaannya sendiri dibagi menjadi 5 tingkatan. Spirit warior, spirit luff, spirit general, spirit king dan terakhir spirit emperor. Masing-masing dibagi menjadi 3 bagian, awal, menengah, atas. Dan bagian itu terbagi lagi menjadi 5,6, 7, 8, 9 tingkatan.”


“Terdengar rumit.”


“Kau pikir kau pantas berada di sini pria tua?!” Bentakan itu memotong pembicaraan keduanya.


Rong Muxiu berbalik dan kini dia dapat melihat dengan jelas seorang pemuda bertopeng perak dan seorang pria tua dengan penampilan ekstrentik. Dua orang itu duduk di meja dengan 5 buah kursi yang saling berhadapan. Pantas saja. Ternyata mereka yang dari awal berniat memancing sekelompok orang berotak udang itu.


Awalnya kedua orang itu memang mengacuhkan kelompok tersebut. Namun, tidak lama kemudian, mereka mulai kesal dengan perilaku tak sopan yang makin menjadi-jadi dari sekelompok orang itu.


“Enyahlah,” tatapan dingin dilayangkan oleh pemuda itu dari balik topengnya. Rong Muxiu tidak dapat menebak ekspresi macam apa yang pemuda itu dibuatnya dari jarak ini.


Sejenak mereka terpaku dengan suara dingin yang diluncurkan dari mulut pemuda bertopeng itu. Tapi salah satu pemuda dengan tampang aristokrat menetralisir ketegangannya dengan tertawa terbahak-bahak.


“Terlihat seperti badut,” gumam Rong Muxiu yang dapat didengar oleh Rong Huang.


Rong Huang menggangguk menyetujuinya, “Mereka telah memprovokasi orang-orang yang tidak seharusnya mereka provokasi. Orang-orang itu ... tidak sesederhana yang terlihat.”


“Hei, anak muda. Tidakkah kalian lihat, kami adalah orang yang pertama kali menempati meja ini. Yang pertama datang, yang pertama dilayani.” Pria ekstrentik itu akhirnya memutuskan untuk membuka suara.


“Pria tua, kau telah duduk di tempat yang salah. Meja ini lebih baik ditempati oleh orang-orang yang mencukupi. Kalian hanya terdiri dari 2 orang, sedangkan kami ada 5 orang.” Yang lain membalas ucapan pria tua itu dengan senyum.


“Tidak sopan! Lihatlah,” pria tua itu menunjuk meja yang berada di sekitar mereka. “Semua meja telah penuh, apa kau tidak melihatnya sama sekali?!”


“Itu tidak penting, milik kalian adalah milik kami. Kalian tidak boleh sok berkuasa di sini. Kami berasal dari keluarga bangsawan Kerajaan Xiaxue.” Seorang gadis dari kelompok mereka berkata dengan sombong.


“Apa hubungannya?” Balas pria tua itu.


Wajah mereka satu persatu menggelap. Merasa muak, salah seorang dari mereka menggebrak meja kedua orang itu dengan sombong. Pemuda dengan topeng itu mendongak. Rong Muxiu berpikir jika pemuda bertopeng itu tengah melayangkan tatapan dingin hingga suhu di sana turun beberapa derajat.


“Enyahlah, sampah.” Dari jauh saja, Rong Muxiu dan Rong Huang bergidik ketika telinga mereka menangkap gelombang suara itu.

__ADS_1


[ To Be Continued ]


__ADS_2