Miraculous Princess

Miraculous Princess
Ch. 5 - Gadis yang Malang


__ADS_3

Di suatu tempat, tempat yang tidak dijelaskan keberadaannya. Seorang gadis merintih, rintihan yang sepintas terdengar seperti ringisan sedih. Sosok itu bangkit dan menatap sekelilingnya, manik gelapnya terlihat sayu sekaligus sembab ketika ia melirik secercah cahaya yang menyelinap masuk di antara celah-celah pintu.


Tenggorokannya terasa sangat kering ketika ia ingin mengatakan sepatah kata. Kedua murid itu membelalak lebar saat menyoroti genangan darah yang perlahan mengering membasahi lantai kayu yang ia pijaki. Air matanya menerobos keluar, mengalir bersama potongan-potongan gambar yang terproyeksi dalam benaknya. Tubuhnya bergetar hebat.


Sulit baginya untuk menerima mentah-mentah peristiwa yang baru terjadi semalam. Seakan-akan hidupnya telah berakhir malam itu juga, malam di mana seluruh keluarganya — guru dan saudara-saudari se-pergurannya — dibunuh dengan keji. Ia tidak dapat membantu tetapi membenamkan diri dalam tangis.


Jika bukan karena dirinya, saudara-saudari se-perguruannya, guru terkasihnya, bahkan semua orang yang berada di perguruan yang sama dengannya pasti masih bisa bernafas hingga saat ini. Jika sebelumnya dia lebih giat dalam berkultivasi ...


Pasti dia akan cukup kuat untuk melindungi mereka!


Kakinya terseok-seok saat ia melangkah dengan tatapan tak dapat dijelaskan. Derit lantai kayu bergema diiringi bunyi percikan dari darah yang menggenang. Tepat sebelum ia terjatuh ke dalam genangan itu, refleks dia menggunakan qi untuk mengembalikan keseimbanganya.


Dia telah berhasil mencapai ranah core formation sebelumnya, tetapi itu masih belum cukup untuk menghadapi orang-orang itu. Belum cukup untuk membalaskan dendamnya!


Dadanya terasa sesak saat ini, kepalanya juga terasa sangat pening sampai ke titik ia bisa dengan mudah memuntahkan isi perutnya sampai habis. Ia lantas mendongak sembari memegang perutnya. Tatapan kosong itu menangkap kabut merah yang perlahan mengepul bersama dan membentuk bayangan samar.


Bayangan seorang wanita yang mengenakan hanfu merah menyala. Bayangannya terlihat sangat nyata di mata gadis itu, sehingga satu-satunya bukti bahwa dia bukanlah manusia adalah kabut merah yang terus mengikuti dirinya. Wanita itu tersenyum lebar seraya memandangi gadis yang menatap kosong ke arah dirinya.


Belum sempat gadis itu bereaksi. Segera, wanita itu muncul di belakangnya sambil memegangi pundak gadis itu dengan tatapan prihatin.


“Hei, apa kau merasa marah?”


Tiba-tiba wanita itu mengambil dagu gadis itu dengan tatapan licik. “Benar-benar menyedihkan. Manusia yang tidak berguna!”


Menatap wajah gadis itu. Wajah yang terlihat putus asa. Rambut dan mata gelapnya yang menyatu dengan kegelapan. Kedua murid itu hanya bisa melayangkan tatapan tak berjiwa ketika mereka saling bersitatap. Tapi jika Rong Muxiu berada di sini dia pasti akan terkejut.


“Tahukah kau kenapa mereka semua berakhir menjadi genangan darah seperti ini? Mengapa? Ya, itu karena keberadaanmu. Eksistensimu merusak mereka semua, kesalahanmu dari awal adalah kelahiranmu yang merugikan orang lain! Kau juga merugikan keluarga biolongismu, karena itu mereka lebih memilih membuangmu.”Suara bangga itu bergema kala ia merentangkan tangannya dengan dagu yang terangkat.


“Dewi ini adalah kebencian yang mereka pendam kepadamu sejak lama, wujud yang menjadi ungkapan rasa benci mereka kepadamu! Sejak dulu, saudara se-perguruan yang paling dekat denganmu, Yang Jian, dia adalah murid yang paling berbakat. Sampai ketika gurumu itu membawa dirimu ke sini.“


“Baginya kau seperti matahari yang bersinar di antara bintang-bintang. Dia merasa iri kepadamu, itu sebabnya dia ingin berteman denganmu dan menghambat tingkat kultivasimu! Dengan terus mengajakmu berinteraksi dengannya meskipun ia tidak menginginkannya.” Wanita itu lalu tertawa terbahak-bahak.


“Ini benar-benar lolucon! Pantas saja orang-orang itu memburumu! Lalu mereka tidak ingin memberikan dirimu kepada orang-orang itu. Tapi jangan senang dulu! Itu mereka lakukan untuk menjaga dirimu yang mereka klaim sebagai harta mereka.”


“Tapi. Dewi ini akan memberikanmu bantuan, karena kau terlihat .. begitu menyedihkan.” Gadis itu tersadar dan mengalihkan kerja otaknya untuk menatap wanita itu.

__ADS_1


“Hei, a-apa Anda bisa membantu saya untuk .. menghabisi mereka?” Suara serak gadis itu terdengar di antara ruang gelap.


“Tentu saja,”


“B-bagaimana? Apa Anda bisa .. melakukannya? Membuktikan kekuatan Anda?” Tatapan cerah ia lemparkan kepada wanita itu.


“Dewi ini akan membuktikan padamu kekuatan yang sebenarnya jika kau menerima syarat yang akan diberikan.”


“Saya akan melakukan apa pun! Jika perlu, saya akan mengorbankan jiwa saya untuk membalaskan dendam ini!”


“Itu tidak diperlukan. Kau tidak perlu mengorbankan dirimu, kau hanya perlu menjadi wadah bagi jiwa Dewi ini untuk sementara waktu sampai Dewi ini menemukan apa yang dia cari.” Gadis itu mengernyit dengan tatapan bingung.


“Kenapa?” Wanita itu menatapnya balik.


“Saya .. hanya merasa sedikit aneh. Kenapa Anda ingin menempati tubuhku untuk sementara waktu?”


“Itu bukan bisnismu. Karena konstitusimu yang unggul lebih dari cukup untuk untuk memenuhi persyaratan.”


Gadis itu menggaruk pipinya canggung, “Bukan itu, saya hanya berpikir kenapa Anda hanya menempati tubuhku untuk sementara waktu. Kenapa tidak untuk selama-lamanya? Saya kira Anda adalah wujud kebencian yang mereka miliki padaku.”


“Balas dendam yang sangat nekat. Padahal mereka tidak menyukaimu sama sekali dan tidak menganggap dirimu adalah salah satu dari mereka.”


“Saya tidak terlalu peduli.” Gadis itu menunduk dengan manik yang perlahan meredup. “Selama mereka baik kepada saya, bukankah sebagai manusia saya harus membalas kebaikan itu? Dan apakah saya harus mempercayai Anda — sosok yang baru saya temui — bukannya mereka yang telah tinggal 7 tahun lamanya bersama saya?”


Wanita itu tersenyum, “Menarik,”


“Ternyata Anda adalah orang yang baik, ya.” Senyum lembut terungkap di kedua sudut bibir merah mudanya. Tetapi kata-kata itu tidak didengar oleh wanita itu.


“Dengarkan jiwamu, dengan begitu kau akan tau bagaimana balas dendammu akan dimulai.” Gadis itu terkejut sejenak ketika menyaksikan kabut itu perlahan lenyap.


“Sadarlah! Jika Dewi ini tinggal lebih lama, maka jiwa Dewi ini akan melebur dengan pesona yang dipasang oleh perguruanmu. Kau harus menemukan benda itu secepatnya.”


Suara itu terdengar nyaring dalam pikirannya. Ia telah menoleh ke sana ke mari untuk mencari sumbernya.


Tiba-tiba kepalanya menjadi kosong. Kakinya bergerak maju. Ia tidak tau ke mana tujuannya, tubuhnya bergerak tanpa komando. Ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.

__ADS_1


Saat ia sadar, ia telah berada di suatu tempat yang terang-benderang. Dipenuhi oleh kristal-kristal berwarna-warni. Gadis itu tidak tau harus melakukan apa. Ia mengingat kembali pesan yang diberikan oleh wanita dengan hanfu merah itu.


Tutup matamu.


Dengarkan jiwamu ...


Dengan begitu kau akan tau bagaimana balas dendammu dimulai?


Dengarkan jiwamu ...


Dengan begitu kau akan tau, apa yang kau inginkan.


Mendadak, tempat itu dipenuhi oleh suara melengking. Kristal-Kristal bergetar satu sama lain. Gadis itu pun menduga bahwa getaran itu ‘lah yang telah menghasilkan suara melengking itu. Tetapi ketika itu memasuki telinganya suara itu tidak dapat memecahkan gendang telinganya, entah apa sebabnya, suara itu ternetralisir.


“Maju, dan berikan kepada benda itu setetes darahmu,”


Rupanya terdapat sebongkah kristal merah yang sewarna dengan darah yang telah mengering. Ia melangkah maju. Lalu menggigit kuat-kuat jari telunjuk kanannya hingga mengeluarkan darah. Saat bongkahan kristal itu menyentuh jarinya. Bongkahan itu bersinar terang. Lebih terang daripada sinar yang lain.


Selayaknya makhluk hidup yang serakah, bongkahan kristal itu menyedot habis darah gadis itu. Hingga ia akhirnya jatuh pingsan.


“Kesepakatan berhasil,”


Kabut merah itu membawa tubuh gadis itu melayang di udara. Lalu menghilang seketika.


Terang bulan di depan pembaringan,


Laksana embun di pelataran.


Menengadah menatap bulan purnama,


Tertunduk teringat kampung halaman.


—Renungan Malam Sunyi, Li Bai—


[ To Be Continued ]

__ADS_1


__ADS_2