Miraculous Princess

Miraculous Princess
Ch. 9 - Paksaan


__ADS_3

Rong Muxiu menatap kesal tangannya yang ditarik seenaknya oleh Rong Huang. Ini tidak bisa diterima! Kenapa gadis ini harus bersikap kasar kepadanya?! Dia mengantuk! Ingin tidur!


“Kenapa kau terus menarik tanganku? Aku mengantuk!” Rong Huang berdecak. Ia menolak mengindahkan permintaan Rong Muxiu, alih-alih karena perkataan itu Rong Huang semakin keras kepala untuk terus menarik lengan Rong Muxiu kuat-kuat.


“Ah, sakit!” Rong Huang terkejut dan berbalik melihat kondisi lengan Rong Muxiu yang dicengkeram olehnya. Lalu dengan risau dia bertanya, “Apakah itu sakit?”


Di saat itu, di saat Rong Huang lengah, Rong Muxiu berlari menjauhi Rong Huang dengan kecepatan semaksimal mungkin. Sementara Rong Huang dengan kesal menginjak-injak tanah kosong. Setelah kekesalannya memudar, dia pun mendongak dan tersenyum kecil, “Lihat saja, aku akan menemukanmu segera.”


“Heheheh, akhirnya bebas juga.” Rong Muxiu menghela nafas lega. Lalu melihat sekelilingnya, rupanya dia kini berada di gang sempit yang jarang dilalui orang.


Gang ini juga terlihat agak kotor dan jorok. Rong Muxiu mulai menduga bahwa ada orang-orang tertentu yang tidak bertanggung jawab tinggal dan mengotori gang ini. Menjijikkan, wajah Rong Muxiu menunjukkan tatapan jijik.


Rong Muxiu tidak tau harus ke mana. Lebih tepatnya, dia tidak tau di mana letak pohon ternyaman dan tertinggi yang bisa ditempati. Dan lagi, pohon itu harus rindang — memiliki banyak daun — agar dia bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan.


Andaikan dia memiliki sepeser perunggu, selali pun begitu dia pasti akan bisa bertahan hidup. Lebih baik lagi jika dia berhasil mendapatkan buku yang bermanfaat untuk dibaca. Itu setidaknya akan mengurangi penderitaannya.


Rong Muxiu menoleh ke kiri dan ke kanan, dia berharap tidak menemukan sesuatu yang mengganggu selama perjalanannya, terutama Rong Huang. Rong Huang terus membuatnya kesal dengan sikap serampangan gadis itu.


Namun hidup ini tidak pernah berjalan sebaik yang dia pikirkan. Terdengar jeritan wanita dari dalam gang saat ia menendang batu kerikil dengan kesal. Bukannya tidak berani untuk masuk, dia hanya merasa jika dia ikut serta membantu, maka dia akan terkena masalah.


Jujur saja, dia bukanlah orang yang gemar membantu, murah hati, atau semacam itu. Dia adalah orang yang agak tamak. Jika itu tidak menguntungkan dirinya sama sekali, maka dia tidak akan menyentuh hal tersebut.


Sekali lagi, harapannya ditolak mentah-mentah oleh takdir. Mereka datang ke arahnya. Wajah mereka nampak sangar dengan goresan-goresan kasar di pipi, dahi hingga dada mereka yang tidak tertutupi pakaian. Rong Muxiu berdecih pelan dengan dahi yang mengkerut.


Kenapa nasib terlalu .. baik seperti ini?!


“Permisi, paman-paman. Apakah kalian tau apa yang ada di seberang sana?” Rong Muxiu berupaya untuk bersikap senatural mungkin. Berpura-pura menjadi gadis kecil yang lugu.


Nampak seringaian lebar terbentuk di wajah mereka, sekilas itu mengingatkan Rong Muxiu pada seekor kera besar di kehidupannya yang lalu. “Paman, jangan tersenyum seperti itu! Itu sangat menakutkan!”


Mereka terlihat tidak mencurigai Rong Muxiu sama sekali, dan salah satu dari mereka hanya berkata: “Adik kecil, jangan menangis. Paman akan mengantarkanmu keluar dari sini, jadi tenang saja.”


“O-oke.”


Rong Muxiu pun berjalan mengekori keempat orang itu. Sampai ia melirik empati tubuh seorang wanita yang terduduk tak berdaya dengan punggung yang gemetar di pinggir gang.

__ADS_1


“Apa yang terjadi padanya?” Jari telunjuknya yang ramping mengarah menunjuk tubuh wanita itu.


“Dia mengantuk.”


Penipu yang payah! Kau pikir hanya karena tubuhnya kecil kau bisa menipu dirinya?!


Singkat cerita, Rong Muxiu benar-benar dianggap sebagai anak kecil. Tubuh Rong lebih kurus dan pendek dari anak-anak seumurannnya karena karena tubuhnya jarang diberikan asupan nutrisi. Meskipun pemilik sebelumnya memiliki status sebagai putri di istana, dia sangat jarang mendapatkan makanan yang layak. Lantaran saudari ketiganya terus menindas pemilik sebelumnya.


Pemilik sebelumnya memang sudah mengajukan protes, sayangnya protes yang diajukannya itu terlalu blak-blakan sehingga tidak ada yang dapat mempercayainya sama sekali. Citra gadis itu, saudari ketiganya di mata Kaisar memang luar biasa.


Langkah pria-pria itu terhenti, dia mendongak dengan tatapan tak berdaya dan bertanya, “Kenapa kita berhenti?”


“Adik kecil, bisa buka bajunya?” Salah satu dari mereka yang memiliki rambut amburadul membungkuk menyamakan tinggi miliknya dengan milik Rong Muxiu.


“Kenapa aku harus buka baju, paman?” Tatapan berair itu mencipratkan rasa bersalah ke dalam hati mereka. Tetapi sikap itu tidak mempan sama sekali.


“Paman, kalau aku buka baju di sini nanti aku terkena kotoran dari sini, kita bukanya nanti saja, ya?”


“Tidak,” Rong Muxiu mengerucutkan bibirnya yang mengungkap tangis sendu.


“Ketemu,” Rong Muxiu berdecih.


Dia menoleh dan mendapati Rong Huang yang berdiri di atas atap sambil menatapnya jenaka. Kemudian gadis itu turun dan dengan santainya berjongkok mengambil batu kerikil. Ia terkekeh dan berkata:


“Muxiu aku — Huang jiejiemu — tidak menyangka akan menemukanmu berada si dalam gang gelap bersama pria-pria tua bangka yang menakutkan seperti mereka,” tuturnya sambil melempar-lempar batu ke atas, memainkannya.


Sedangkan Rong Muxiu berpikir lain, dia tidak mengerti mengapa Rong Huang yang belum lama dia temui bahkan akan peduli kepadanya seperti ini. Padahal dia tidak pernah mengharapkan seorang pun untuk melakukan hal yang seperti itu kepadanya.


“Siapa kau?!” Seru salah satu dari pria itu.


“Manusia,” balas Rong Huang.


Lalu tangannya bergerak melempar batu kerikil itu hingga mengenai pria yang belum lama ini membentaknya. Orang-orang itu mulai paham jika mereka telah menyinggung orang yang salah. Tetapi saat mereka beranjak pergi, Rong Huang mengangkat tangannya dan menghentikan langkah mereka.


Tangannya dilapisi oleh selaput kabut tebal berwarna jingga dengan cahaya yang berkelap-kelip. Rong Muxiu terpukau akan keindahan cahaya itu. Apakah itu yang disebut energi mental?

__ADS_1


“Sebelumnya tidak ada yang pernah berani melawan Putri ini. Orang rendahan seperti kalian tidak boleh mengetahui nama Putri ini. Jika kalian tau, maka matilah!”


Orang-orang itu terangkat bersamaan saat Rong Huang mengangkat tinggi-tinggi tangannya ke udara. Orang-orang itu tercengang, mereka tidak bisa bergerak. Terlebih Rong Huang bahkan bisa mengendalikan detak jantung mereka. Saat Rong Huang memutar tangannya perlahan, ritme jantung mereka terhenti. Mereka pun mati di atas sana.


Rong Huang melepaskan kekuatannya lalu menepuk-nepuk tangannya elegan. Dia melirik Rong Muxiu yang berniat menjauh darinya, dia tersenyum.


“Muxiu, kau tidak bisa kabur dariku, aku telah memasangkan energi mentalku kepadamu. Jadi aku akan selalu menemukanmu di mana pun itu.”


“Rong Huang kenapa kau terus menggangguku. Aku ingin tidur! Biarkan aku pergi untuk mencari tempat yang nyaman!” Bentak Rong Huang tidak terima.


Ia bergerak menjauh begitu pun Rong Huang yang mengikutinya dari belakang.


“Jangan mengikutiku!” Dia mengernyit sembari menatap tajam Rong Huang.


Tetapi gadis itu tidak terintimidasi, “Menurutmu kemanakah seorang gadis ‘kecil’ yang tidak memiliki qi di kota ini? Aku ingin tau!”


“Muxiu, ayo ikut aku. Ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikutilah aku. Ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikutilah aku. Ikut aku, ikut-“ Rong Muxiu memotong dengan air muka yang menggelap.


“Hentikan itu!”


“Muxiu ayo ikut aku, ikut aku-“


“Diam!” Rong Huang tetap melanjutkan dengan tangan yang terlipat di depan dada tanpa melirik Rong Muxiu.


“Ikutilah aku, Muxiu. Ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku-“


“Cukup!”


“Ikutilah aku, ikut aku, ikut aku, ikut aku ...”


Rong Muxiu memijit kepalanya yang terasa pening, “Baiklah! Baiklah! terserah kau!”


“Oke,” dengan senyum lebar Rong Huang menarik lengan Rong Muxiu sekali lagi dan berjalan meninggalkan gang.


[ To Be Continued ]

__ADS_1


__ADS_2