Miraculous Princess

Miraculous Princess
Ch. 15 - Festival


__ADS_3

Matahari telah pun terbit dari ufuk timur ditandakan dengan semilir udara segar yang berhembus dari arah yang sama. Sementara langit biru perlahan dihangatkan oleh matahari yang memberikan sinarnya.


Rong Huang menghentak-hentakkan kakinya di atas paviliun kayu. Dia menoleh ke sana ke mari dengan raut kesal. Ia bertanya-tanya sedari tadi, berapa lama bocah itu pergi? Kenapa dia tidak pulang malam sebelumnya?!


Lantas ia berjalan mendekati pintu kayu yang menjulang jauh lebih tinggi darinya. Dia mengetuk-ngetuk pintu itu, berharap pesannya tersampaikan. Sayangnya setelah beberapa waktu menunggu itu tetap tidak menemuk Rong Muxiu keluar dari sana.


Dia mengendus dan bergumam kesal, “Seharusnya kemarin aku memberikan kepadanya batas waktu!”


Tiba-tiba terdengar suara decitan, Rong Huang buru-buru berbalik dengan harapan kali ini Rong Muxiu ‘lah yang benar-benar muncul dari balik pintu. Syukurlah! Itu benar-benar Rong Muxiu!


Rong Muxiu meringis kala jitakan kecil mendarat di atas ubun-ubunnya. Dia pun mendongak dengan tatapan tidak terima. Ternyata Rong Huang memiliki tatapan yang lebih parah darinya lebih parah darinya, gadis itu melotot marah lalu membentak:


“Kau pikir kau bisa tinggal di sini selamanya, hah?!” Rong Muxiu menatap malas sambil menyumbat sepasang telinganya dengan jari kelingking.


“Kembali sana, jika perlu janganlah menginjakkan kakimu ke luar!”


Rong Muxiu tersenyum semanis mungkin, “Huang jiejie, aku benar-benar menyesal karena terlalu lama berada di sana. Dan sebagai gantinya aku telah menghafal isi buku seluruh perpustakaan itu. Jadi jangan berisik, oke?”


Rong Muxiu menepuk lembut pundak Rong Huang, tapi Rong Huang menepisnya kasar. Tepisan kasar itu mengakibatkan tangannya terluka dengan warna kemerahan. Namun tidak seperti hari-haru sebelumnya, Rong Huang kali ini sama sekali tidak mempedulikan cedera Rong Muxiu.


“Apa-apaan itu?!”


“Kata orang kalau Huang jiejie masih marah seperti ini, kakak akan cepat tua. Percayalah padaku.”


“Tidak bisa dipercaya! Karenamu aku bahkan harus melewatkan peristiwa penting!”


Rong Muxiu bertanya dengan kepala yang sedikit miring, “Apa?”


“Jangan mengalihkan topik pembicaraanku denganmu sebelumnya!”


Respon itu mendapatkan tanggapan kesal dari Rong Muxiu. Gadis itu berdecak dengan alis yang perlahan bertaut.


“Apa yang kau inginkan?”


“Ganti rugi,” balas Rong Huang singkat sambil menengadahkan tangannya di hadapan Rong Muxiu.


‘Ganti rugi’, kata yang paling membekas dalam pikiran Rong Muxiu. Saat dia mendengar kata itu dia tidak bisa membantu, tetapi memijit keningnya pening.


“Apa? Berapa yang harus kubayar?”


Rong Huang mengangkat senyum senang, “Temani aku pergi ke festival yang akan diadakan malam ini,”


“Kau bercanda?” Rong Muxiu mengernyit kala menatap Rong Huang dengan senyum yang tidak mencapai matanya.


“Tentu saja! Karena kau aku tidak bisa bertemu dengannya sebelum dia berangkat ke ibukota Kekaisaran Rong. Itu pasti akan membuatku menjadi bahan olok-olokan di depan kakak laknat itu.” Rong Muxiu tidak habis pikir jika Rong Huang akan mengata-ngatai Rong Shi sampai ke tingkat itu di hadapannya.


“Kalau aku tidak mau melakukan itu untukmu?” Rong Huang sontak mendelik.


“Lakukan!”


“Tidak mau. Jika kau ingin aku ikut bersamamu maka minta maaf ‘lah dan aku akan mengabulkannya.” Rong Muxiu menggangguk dan menatapnya dengan kilatan licik.


“Baik, aku minta maaf!” Rong Muxiu berjuang menahan tawa saat itu juga.


Setelah menetralkan ekspresinya dia menanggapi Rong Huang malas, “Jika kau tidak meminta maaf dengan baik, aku tidak akan mau melakukannya.”


“Aku minta maaf!”


“Terlalu keras.”


“Aku minta maaf,” dengan geram Rong Huang menggigit bibirnya.

__ADS_1


“Bagus,”


Rong Huang mengangguk lega. Tapi itu tidak memperbaiki keadaan setelah Rong Muxiu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


“Ada apa denganmu?”


“Bodoh,” ucapnya di sela tawa yang dibuatnya.


Rong Huang mencoba Menganalisa maksud Rong Muxiu saat tawa itu terus terdengar. Setelah beberapa saat, akhirnya dia mendapat cahaya baru.


“Kau membodohiku! Harusnya ‘kan kau yang mengganti rugi padaku!” Wajah Rong Huang memerah padam, Rong Muxiu tau Rong Huang malu karena dia telah dijebak olehnya.


“Iya, iya aku minta maaf, hahahah.”


“Astaga!” Seru Rong Muxiu.


Rong Huang menarik pakaiannya kasar, seakan-akan dia adalah anjing yang dibawa-bawa oleh Rong Huang. Rong Muxiu tidak bisa menahan tawanya sepanjang jalan.


• • •


Festival perayaan hari ulang tahun Kota Bao. Sesuai namanya, festival ini diadakan setiap setahun sekali dalam rangka merayakan hari terjadinya peristiwa yang paling historis di kota ini.


Peristiwa historis itu sendiri adalah peristiwa di mana sang Ratu, Xia Xiaxue berhasil mengalahkan orang-orang luar dan mengambil Alih wilayah kekuasaan pertamanya di daerah ini. Peristiwa itulah yang menjadi tonggak berdirinya Kerajaan Xiaxue.


Festival ini juga membukakan kesempatan bagi para pedagang untuk membuka dan mempromosikan usahanya, sebab festival ini adalah festival yang paling ramai di Kota Bao.


Misalnya One Thousand Treasure Trade yang membuka pelelangan kecil-kecilan di sana. Hanya saja, demi keamanan informasi mengenai perdagangan ilegal yang mereka lakukan. One Thousand Treasure Trade pun hanya menjual beberapa barang yang terbilang normal.


Sayangnya, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perayaan di tahun ini Raja tidak bisa menghadiri festival ini karena Raja menghadiri rapat mendadak di Kekaisaran Rong bersama pejabat-pejabat dan Raja-Raja yang lain. Dan ketidakhadirannya itu digantikan oleh sang wali kota, Bai Ru.


Tapi tetap saja pengaruh ketidakhadirannya itu tidak akan menjadi begitu dangkal sebab banyak bangsawan-bangsawan yang tidak menghargai jabatan sang wali kota. Dengan alasan bahwa latar belakang wali kota sebagai petani biasa di masa lalu.


Demikian pengaruhnya sebagai wali kota sangatlah kecil. Jalankan anaknya, dirinya sendiri saja masih sering dimanfaatkan dan ditindas oleh bangsawan-bangsawan Kota Bao.


Namun penampilan anggun mereka sama sekali tidak berpengaruh meskipun bulir-bulir keringat itu mengalir di atas tubuh mereka. Justru karena itu keanggunan mereka ditingkatkan beberapa poin.


Rambut hitam legam Rong Muxiu yang dibuat dengan gaya seindah mungkin dan diikat dengan pita, hanfu lebar berwarna putih-hijau yang terbuat dari kain artus melapisi tubuhnya yang kurus, serta wajahnya yang diberikan sedikit polesan. Gaya yang elegan dan alami. Tentunya itu tidak akan terjadi jika tanpa campur tangan Rong Huang.


Rong Huang pun tidak jauh berbeda. Dia telah mewarnai rambutnya dengan ramuan yang telah dibuat oleh dirinya sendiri. Manik ungunya yang berkilauan ditutupi oleh energi mental, itu membuat orang-orang hanya melihat iris matamu berwarna hitam.


Rong Huang juga mengenakan hanfu yang serupa dengan Ring Muxiu. Bedanya, hanfu milik Rong Muxiu berwarna putih-hijau sedangkan dia berwarna merah menyala. Itu sangat menyilaukan di tengah kerumunan, terlalu menonjol. Rong Muxiu bahkan sempat mengajukan protes saat melihatnya mengenakan hanfu berwarna itu.


“Hei Rong Muxiu, kenapa ekspresimu menjadi lenih aneh daripada biasanya?” Ring Muxiu menoleh kepada Rong Huang yang menatap wajahmu intens.


“Hah?”


Melihat bahwa Rong Muxiu tidak menjawab tetapi hanya mengernyit, Ring Huang pun mengulang kalimatnya. “Ekspresimu tidak se-kompleks biasanya, kenapa?”


“Aku? Ekspresiku biasa saja, wahai Huang jiejieku yang cantik.” Rong Muxiu menjawab dengan senyum.


“Bohong,” balasnya datar.


“Ngomong-ngomong ternyata festival ini cukup ramai, ya?” Rong Muxiu memandang langit malam yang dihiasi bintang.


“Taktikmu tidak bisa digunakan dua kali.”


“Taktik apa?”


Rong Huang tidak buru-buru menjawab, ia mendongak menatap langit sama seperti yang dilakukan Ring Muxiu sebelumnya. “Aku tau kau itu irasional, tapi jangan berpura-pura bodoh seperti ini.”


“Aku tidak bodoh sama sekali, aku juga tidak irasional. Sebaliknya kau adalah kakak sepupu perempuan pihak ayah yang paling menyebalkan dan bodoh,” elak Rong Muxiu.

__ADS_1


“Narsis,” cibir Rong Huang.


“Apa?”


“Tidak ada.” Rong Huang yang berbalik tanpa persiapan membuat Rong Muxiu cema Lin curiga.


“Aku tidak seperti yang kau pikirkan.” Ring Muxiu memandang kakinya yang terus melangkah ke depan.


“Memang apa yang aku pikirkan?”


“Mungkin kau berpikir bahwa aku adalah orang yang narsis atau semacamnya. Aku benar, ‘kan?”


“Kau mendengarnya?” Rong Huang melanda Rong Muxiu dengan rasa keingintahuan.


“Tidak, aku baru tau setelah kau bertanya seperti itu.” Rong Muxiu membala tatapan Ring Huang dengan gelengan pelan.


Rong Muxiu terus terdiam tanpa suara. Dia hanya berjalan lambat sehingga Rong Huang sudah lebih dulu berada jauh di depannya. Tetapi Rong Muxiu sama sekali tidak peduli, dia masih tenggelam dalam pikirannya.


“Ayolah! Jangan buat suasana menjadi suram seperti ini!” Sentak Rong Huang berteriak di dekat telinga Rong Muxiu.


“Kau .. siapa?” Rong Muxiu mendongak dengan cahaya yang berbeda.


“Tunggu, jangan bercanda seperti ini Rong Muxiu!”


“Kau siapa?” Gadis itu mundur perlahan dengan tatapan takut.


“Kenap-“


“Jangan ganggu aku!” Rong Muxiu berjongkok memeluk lututnya dengan punggung yang bergetar.


“Rong Muxiu, ada apa denganmu? Aku minta maaf jika aku salah, sungguh!” Rong Huang memeluk tubuh Rong Muxiu yang bergetar. Entah dari mana asalnya perasaan khawatir ini, namun dia tetap memeluk tubuh Rong Muxiu.


“K-kakak siapa?”


“Rong Huang, kau bisa Memanggilku Rong Huang yang paling cantik di dunia ini. Gadis paling cantik di atas Benua Liuxing!” Balas Rong Huang.


Tubuh Rong Muxiu di bawah pelukannya tiba-tiba bergetar hebat. Rong Huang buru-buru melepas pelukannya dan bangkit berdiri. Bocah ini! Dia menipunya lagi!


Rong Muxiu mengungkap gelak tawa yang tidak bisa ia tahan sedari tadi. Ini adalah rencana licik sekaligus konyol yang dia rancang belum lama ini. Setelah menghapus air mata yang berada di sudut matanya dia pun bangkit.


“Kenap kau menipuku?!”


“Tidak ada. Aku hanya penasaran, bagaimana jika aku berpura-pura lupa ingatan di depanmu, apa yang akan kau lakukan? Ternyata aku tidak menyangka jika kau akan menjadi se-narsis itu, hahahah.”


Rong Huang tidak menahan diri lagi, dia menghentak-hentakkan kakinya sekali lagi. Tindaka itu berhasil membangkitkan tawanya sekali lagi.


“Jawab pertanyaanku yang sebelumnya!” Pinta Rong Huang jengkel.


“Aku hanya merasa bahwa hari ini berbeda dari biasanya, itu saja.”


“Tidak ada yang lain?”


“Ya,”


“Kau yakin?”


Rong Muxiu menatap sengit Rong Huang, “Jangan tanyakan jika kau tidak yakin.”


“Jawablah,”


“Aku hanya merasa hangat, sekian.”

__ADS_1


Terdiam


[ To Be Continued ]


__ADS_2