
Sebenarnya, pembagian lantai yang ada pada Restoran Lao Bao sangat ‘lah sederhana. Lantai pertama diisi oleh rakyat biasa yang ingin mencoba makanan enak tanpa harus membeli dalam jumlah banyak. Lantai kedua biasanya diisi orang-orang berpengaruh atau bangsawan-bangsawan kaya. Dan lantai tertinggi atau lantai ketiga hanya diisi oleh pemegang token unik yang hanya disediakan sebanyak sepuluh dan hanya berlaku dalam satu dekade.
Yang jelas para pemegang token itu adalah orang-orang dengan kekayaan, kekuasaan, dan kekuatan yang berada di dunia yang sangat berbeda. Salah satu dari mereka adalah Raja Zhijiu, dia merupakan salah satu dari pemilik token. Seorang raja dengan kekayaan yang tidak kurang dari kakaknya, sang Kaisar.
Selain itu, pelayan-pelayan yang melayani pelanggan juga tidak seperti pelayan-pelayan yang ada di restoran pada umumnya. Di sini, pelayan-pelayan yang bekerja memiliki tingkat kultivasi yang cukup tinggi. Terlebih yang paling lemah di antaranya adalah pelayan yang berada di ranah foundation stabilization, pelayan tersebut akan diberi tugas untuk melayani pelanggan-pelanggan yang berada di lantai satu.
Di suatu tempat, di lantai tertinggi Restoran Lao Bao.
Aroma persik menguar memenuhi ruangan yang memiliki sebuah lampu kristal sebagai penerang satu-satunya. Namun itu lebih dari cukup untuk menerangi ruangan itu secara keseluruhan. Cahaya itu menampakkan suasana mewah ruangan tersebut. Warna kuning keemasan yang mendominasi menghiasi separuh dinding, sementara lantai berkilaunya yang terbuat dari giok.
Nampak seorang pria dewasa dengan jubah beludru berwarna sebiru malam yang melindungi bahunya. Ia duduk dengan anggun di atas kursi kayu sambil membaca buku tebal yang terlihat kuno. perawakannya yang nampak sempurna. Rambut merah menyala menjuntai hingga menutupi tengkuknya. Iris berwarna hijau zamrud itu menyorot datar buku itu. Serta tulang wajah yang sempurna dapat menunjukkan kesan elegan pria itu.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Pria itu menoleh, nampak rahang tegasnya naik dan turun beberapa kali. “Masuklah.”
Nampak seorang pria dengan pandangan hormat membungkuk dan melapor. “Lapor kepada Tuan, Tuan Muda Yun dan Tuan Ye telah tiba dan sekarang berada di lantai dua.”
“Katakan lebih jelas,” pria itu melirik acuh.
“Tapi orang-orang yang berasal dari Akademi Heaven’s Star mencoba memprovokasi mereka. Apakah saya harus menghentikan mereka?” Balasnya datar.
Pria itu tau diri, dia adalah pelayan pribadi Tuannya, oleh karena itu dia harus menunjukkan sikap yang tegas dan hormat ketika berbicara dengan majikannya. Tetapi saat mendengar Tuannya terkekeh tanpa sebab yang tidak ia ketahui, ia tidak dapat menahan diri untuk terus membungkuk.
“Mereka benar-benar berani memprovokasi anak itu, Yun Liangfan. Tuan ini tidak tau identitas aslinya, tetapi sepertinya dia berada di tingkat kultivasi yang tidak jauh dari gurunya, Ye Chao.”
Pelayan itu merasakan sepercik rasa kagum dari dalam hatinya ketika mendengar dua suku kata nama yang dikenal sebagai legenda oleh banyak kultivator di Benua Liuxing. Ye Chao, pria pertama yang berhasil mencapai controlling nature pada usianya yang ke-30 tahun. Tetapi siapa pemuda itu? Yang tingkat kultivasinya setara dengan orang terkuat dari Benua Liuxing? Kelihatannya pemuda itu belum berusia 20 tahun. Jenius atau monster?
“Tidak, bahkan mungkin tingkat kultivasi pemuda itu lebih dari itu.” Sang Tuan mengelus dagunya sambil mengungkap senyum.
Jenius legendaris!
__ADS_1
Murid surga!
Dalam beberapa kalimat itu, sang pelayan tercengang. Ia mulai merapalkan nama itu baik-baik, nama orang yang paling tidak boleh ia provokasi sama sekali. Ia mengingatkan baik-baik pada dirinya sendiri untuk tidak mengganggu pemuda itu sama sekali.
“Sebentar lagi Tuan ini akan turun. Tolong aturlah mereka untuk sementara waktu,”
“Baik.”
• • •
Suasananya semakin tegang. Atmosfernya pun telah turun beberapa derajat dari sebelumnya. Tetapi nampaknya kedua pria itu tetap keras kepala untuk tidak mengindahkan permintaan kasar dari pemuda-pemudi yang kaya itu.
Awalnya, mereka merasa gentar akan tatapan beku yang dikirimkan oleh pemuda dengan topeng itu tanpa akhir. Mereka tidak tau ekspresi dingin apa lagi yang menanti di balik topeng pemuda itu. Mungkin jika melihatnya, sekelompo itu akan jatuh berlutut.
Lain halnya dengan suasana tegang yang berada di meja itu. Nampaknya Rong Muxiu tetap tenang dan memandangi jendela, itu menarik perhatian Rong Huang untuk mencari tahu.
“Aku tidak perlu takut karena ada kakak sepupu yang kuat dan berani yang akan selalu melindungiku.” Seketika pandangan Rong Huang menjadi sinis.
“Heh, percaya diri sekali. Bagaimana jika aku tidak melindungimu sama sekali?” Rong Huang Menopang dagunya menatap Rong Muxiu yang meraih segelas air.
“Hm? Aku akan pergi dari sini bagaimana pun caranya, meskipun aku akan membuat masalah baru bagi diriku sendiri.” Ia melirik malas Rong Huang. “Aku juga tidak terlalu peduli akan pertarungan tersebut, toh aku tidak akan mendapatkan uang dengan menyaksikan atau ikut serta ke dalam mpertarungan tak imbang mereka sama sekali.”
“Tidak bisa dipercaya,” Rong Huang menggeleng kepalanya tak habis pikir.
Gadis di hadapannya ini terlalu percaya diri. Terkadang, setiap kali dia mengingat rumor yang beredar, dia akan memastikan ulang dan secara keseluruhan itu disebabkan oleh Rong Muxiu.
“Terima kasih.”
Sememtara situasi yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Semakin panas dan dingin. Panas karena tatapan intimdasi kelompok bangsawan itu ketika mereka berhadapan langsung dengan pemuda bertopeng.
__ADS_1
Tetapi pria tua ekstrentik itu nampak tidak tertarik dengan provokasi atau pertarungan yang akan dimulai itu sama sekali. Tapi sekali-kali dia melirik meja tempat Rong Muxiu, tatkala ia menatap Rong Muxiu yang hanya menguap malas ketika bersitatap dengannya. Dia tersenyum.
“Hei, Huang jiejie. Aku merasa ada seorang pria tua aneh yang menatapku. Menurutmu apa yang harus kulakukan?”
“Maksudnya?”
Rong Muxiu menunjuk pria tua aneh yang menatapnya dengan mata berbinar, “Itu, mengherankan bukan?”
“Eh .. ah, aku setuju.”
Sekelompok pemuda-pemudi bangsawan itu mengintegrasikan qi ke dalam tubuhnya. Membuat udara berfluktuasi menjadi cepat, tapi itu belum cukup untuk membuat cemas pemuda bertopeng tersebut. Dia tetap menunggu dengan tenang tanpa melihat mereka sedikit pun.
“Kau bersikap sok keren dengan memakai topeng itu?! Kau kira dengan begitu kau dapat menutupi identitasmu, hah?! Supaya kami tidak dapat menemukanmu ketika kami ingin menghajarmu?!”
“Benar! Lepaskan topengmu itu dan lakukan kowtow di hadapan kami!”
Pemuda bertopeng itu mendongak menatap datar. Karena mereka ‘lah dia dan pria tua di seberang sana tidak mendapatkan makanan. Karena dia ‘lah dia tidak bisa duduk dengan tenang.
“Enyah,” ulangnya, angin yang berderu kencang itu pun dihentikan dalam sekali jentikan.
Namun kelompok itu tetap tidak terima akan balasan pemuda bertopeng itu. Mereka pun mencoba membentaknya dengan menggebrak dan membalik meja yang digunakan oleh ‘nya. Karena pada dasarnya memang terdapat 2 meja yang diletakkan bersambung di sini. Jadi meskipun ia mengacaukan meja yang ditempati sang pemuda bertopeng, itu sama sekali tidak berpengaruh bagi meja pria tua itu.
Alih-alih merasa cemas atau marah, pria tua itu anehnya tersenyum. Tetapi tidak ada yang memperhatikan senyum itu sama sekali.
Saat meja itu dibanting oleh mereka. Tiba-tiba mereka merasa bahwa tangan mereka telah ditindis oleh ribuan meja yang sama beratnya dengan meja yang mereka banting sebelumnya. Lalu mereka jatuh berlutut. Lantas mereka mendongak, saat itu juga mereka mendapati bahwa pemuda itu menatap mereka intens. Setelah berdiri dari kursinya, pemuda itu sepertinya ingin memberikan pelajaran kepada sekelompok remaja tak sopan ini.
“Berhenti!”
[ To Be Continued ]
__ADS_1