
Tin.....
Tin..............
Ia bunyikan klakson motornya dengan kuat dan tempo yang lama, dari parkiran. Suara bising itu, membuat orang-orang yang ada di tempat itu menoleh padanya. Termasuk Sky dan Marwah.
Sky cukup terkejut melihat sang istri yang seperti banteng marah di tempat parkiran. Mukanya menyeringai, wajah cantik itu terlihat kusut. Ditambah tatapannya masih tajam ke arahnya. Sky yang sedari tadi bersikap cengengesan menghadapi guru piket, auto bersikap serius dan patuh.
"Bu Naina..?!" Ujar Marwah dengan tercengang. "Koq Bu Naina sudah masuk kerja?" Bisik Marwah, menyenggol lengan nya Sky. Sky tak memberi respon atas ucapan Marwah.
"Marwah... Kalau gurunya sedang bicara, kamunya harus diam. Hargai guru yang bicara. Kamu, sejak pacaran dengan Sky, jadi gak sopan." Ujar Bu Lidya dengan nada marah. Bu Lidya adalah guru piket hari selasa.
Marwah pun terdiam. Ia lirik Sky, yang juga terkejut mendengar ucapan sang guru piket.
"Kalian berdua di hukum bersihkan toilet, yang ada di kantor guru!" titah Bu Lidya.
Sky dan Marwah pun bergegas menuju ruang guru.
Dan saat ini Naina pun hendak ke ruang guru. Tapi, langkahnya ditahan oleh Bu lidya dan Pak Doni, guru piket itu.
"Waahh.. Naina... Kamu koq sudah masuk kerja. Bukannya sudah ajukan cuti" celoteh Bu Lidya dengan suara sedikit meninggi, karena ia terkejut melihat Naina yang sudah masuk kerja. Padahal Bu Naina baru juga menikah kemarin. Biasanya pengantin baru, akan menambah cuti untuk libur. Lah, ini malah belum habis masa cuti sudah masuk.
Naina tersenyum tipis pada rekan kerjanya itu. Ia sambut sejenak rengkuhan Bu Lidya. "Iya bu, aku duluan ya ke dalam!" Naina pun mengurai rengkuhan tangan Bu Lidya.
"Ooohh.. Iya Nai." Sahut Bu Lidya dengan herannya. Terlihat jelas sikap Naina yang bete, yang akhirnya membuat Bu Lidya, tak melanjutkan ocehannya.
Naina dengan perasaan kesal, memperhatikan Sky dan Marwah yang ada di hadapannya. Mereka akan sama-sama menuju ruang kantor guru. Marwah selalu menoleh kebelakang, guna melihat sang ibu guru, yang mukanya berlipat itu.
Marwah menyenggol lengan Sky, kemudian menoleh sekilas lagi kebelakang. "Itu bu Naina, kenapa ya? Mukanya kecut dan masam. Kecapean kali malam pertama." Ujar Marwah dengan suara pelan.
Sky tak semangat lagi untuk bercanda, karena ia lihat sang istri sudah menunjukkan muka masam. Jadi, ia tak menanggapi ucapan Marwah.
Sedangkan Naina, tahu betul kalau Marwah dan Sky tengah membicarakannya. Ia percepat langkahnya. Sehingga tumit sepatunya yang beradu dengan lantai, terdengar sangat jelas. Dan ia bisa mendahului kedua siswanya itu. Dan saat masuk ke dalam ruang guru. Guru-guru yang ada di kantor guru itu dibuat heran, dengan kehadiran Naina di sekolah.
"Naina....!" Dua orang guru perempuan menyambut kedatangan Naina. Mereka memperhatikan lekat, Naina yang menampilkan ekspresi wajah dipaksa ceriah. "Bukannya kamu masih cuti?" tanya Bu Guru yang bernama Bella. Masih menilik dalam wajah Naina yang pura-pura terlihat bahagia itu.
"Hehe.. Iya bu Bella." Sahut Naina berjalan ke meja kerjanya.
__ADS_1
Sedangkan Sky yang sedang dihukum membersihkan kamar mandi, berusaha menguping pembicaraan Bu Naina dan guru-guru lainnya.
Naina mendudukkan bokongnya di kursi meja kerjanya. Tapi, matanya selalu melirik ke arah kamar mandi. Sangat penasaran, apa yang dibicarakan Sky dan Marwah saat menjalani hukuman terlambatnya.
"Ngapain kamu kesini Nai, kamu kan lagi cuti?" tanya Bu Bella dengan penasarannya.
"Emmm... Cuti nya ku batalkan bu. Nanti aku cutinya, tunggu suamiku busa libur juga. Rencananya kami mau bulan madu ke luar Negeri."
"Aaarrgggkkk..... Sky... Matikan kran nya. Aku basah Sky..!"
Marwah heboh di kamar mandi, karena Sky tanpa sadar mengarahkan selang air ke arahnya. Karena terkejut mendengar celoteh istri nya Naina. Yang mengatakan akan bulan madu ke luar negeri.
"Sky.... Kamu kenapa siram si Marwah..?" Bu Lidya guru piket hari ini, berang kepada Sky, di depan pintu kamar mandi guru.
Marwah terlihat menepis-nepiskan bajunya yang basah, karena kena cipratan air dari selang yang kini masih dipegang oleh Sky.
"Gak sengaja bu." Jawab Sky datar.
"Kamu, kamu hukumannya tambah berat." Tegas Bu Lidya.
Sky hanya diam, terserah mau diapain. Bodoh amat, pikirnya.
Naina hanya diam. Suasana hatinya masih sangat buruk. Ia sebenarnya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Hatinya sedang terguncang. Ditinggal nikah sang calon pengantin, dan malah menikah dengan anak SMA. Mana anak SMA yang menikah dengannya, kelakuannya sangatlah tidak baik. Baru seminggu sekolah sudah buat masalah terus di sekolah.
"Sana kalian diproses sama wali kelas kalian." Ujar Bu Lidya kepada Sky dan Marwah.
Sky dan Marwah kini terlihat menghampiri Bu Naina, selaku wali kelasnya. Naina yang kesal melihat sang suami yang gak jaga jarak dengan wanita lain, tetap menunjukkan wajah kesal pada Sky.
Marwah kembali menyikut Sky yang berdiri sejajar dengannya. Tingkah Marwah yang sok akrab pada Sky, membuat Bu Naina semakin panas.
"Marwah, kamu boleh masuk kelas." Ujar Naina tegas menatap tajam Marwah. Kemudian menoleh ke arah Sky. "Dan kamu Sky tetap di sini." Masih menatap masam Sky, yang terlihat tegang di hadapannya.
Pria itu tak berkutik sedikit pun di hadapan sang wali kelas. Gak apa-apa, di sekolah ia jadi anak didiknya, harus patuh dan hormat pada sang wali kelas. Tapi, nanti malam, di rumah. Lihatlah, Sky akan menunjukkan kekuasaannya sebagai suami pada Naina.
Sky menganggukkan kepalanya lemah. Seekor harimau, kini berubah jadi kucing anggora. Terlihat tak bernyali di hadapan sang wali kelas.
"Sky, aku duluan ya." Naina berbisik kepada Sky.
__ADS_1
Tingkah Marwah semakin membuat Naina muak.
"Kamu cepat masuk kelas!" Ketus Naina pada Marwah.
"Iya bu." Marwah ngacir dari tempat itu. Ia akan masuk kelas. Tapi, terlebih dahulu ia ke pos satpam, untuk mengambil tas nya.
Sepeninggalannya Marwah dari ruang guru. Demi apapun atmosfer ruangan tersebut sudah berubah semakin panas, membuat Sky keringat dingin. Sungguh, kali ini dia benar-benar gugup dan takut akan sikap Bu Naina, sang istri yang seperti hantu itu. Tatapannya tajam, dengan rahang yang mengeras.
"Seorang siswa itu, harus tahu disiplin. Jangan cuma pas apel ke rumah pacar doang yang disiplin. Sekolah yang bagus, agar masa depanmu cerah." Ujar Naina, masih menatap tajam Sky, yang sedikit menunduk.
"I, iya Bu." Sahut Sky sedikit tergagap. Ia sebenarnya malu saat ini. Karena Guru-guru lainnya yang ada di ruangan itu, ikut mengawasinya.
"Belajar yang bagus ya Nak Sky. Jangan pacaran mulu kerjamu. Lihatlah, kamu yang asyik pacaran terus. Ke sekolah pun terlambat datang. Kami sudah sepakat, semua guru di sini, akan men D.O kamu, jika dalam minggu ini, kamu telat datang ke sekolah lagi. Sebelum namamu di daftar calon pengikut ujian nasional, kamu bagus-baguslah yang sekolah." Kini Bu Lidya, malah ikut menasehati Sky.
"Iya bu." Sahut Sky mengulum senyum. Ngapain lagi dia mau ikut ujian nasional. Dia saja seorang polisi.
"Dinasehati malah senyam senyum. Sepele kamu sama guru-guru mu di sini?" Tanya Naina kesal. Ia tersinggung dengan sikap Sky yang terlihat sepele pada nasehat Bu lidya.
"Gak Bu, maaf." Jawab Sky sopan. Ia menundukkan kepalanya. Dengan berusaha menahan tawa. Seandainya, para guru itu tahu dia siapa, reaksinya bagaimana ya?
"Maaf, bilang maaf cepat kali. Tapi, tetap buat salah." Ujar Naina nyolot.
"Iya Bu, maaf. Aku boleh masuk ya bu!" pinta Sky, ia tak mau pisah sedetik pun dengan Marwah. Anak itu, harus ia awasi dengan ketat.
"Gak, kamu kena hukum lagi. Kamu harus bersihkan gudang di belakang " Titah Bu Lidya.
"Apa...? ya ela bu, kenapa sih hukumannya pada jadi cleaning service semua. Tadi bersihkan WC. Dan Sekarang bersihkan gudang." Jawab Sky dengan muka masamnya.
"Siapa suruh kamu telat datang ke sekolah. Setiap siswa yang melanggar aturan sekolah, harus dapat punishment." Jelas Bu Lidya tegas.
"Hukumannya jangan itu dong bu. Bersihkan perpus aja." Tawar Sky, ia lirik Bu Naina, yang sedari tadi memilih diam. Tapi, menampilkan ekspresi masam padanya.
"Ya sudah, bersihkan perpustakaan. Buku-buku harus kamu rapikan di rak!" perintah Bu Lidya.
"Iya bu " Sahut Sky lemas, ia pun menyeret kakinya dari ruang kantor itu. Ia menaiki tangga menuju lantai dua. Tentu saja, ia akan diawasi oleh Bu Lidya, saat menjalani hukumannya.
***
__ADS_1
Bersambung.
Like, komentar positif dan jangan lupa di subscribe ya guys. klik titik 3 di pojok kanan atas. Lalu klik subscribe ya say.