
Marwah berhasil diringkus oleh anak buah gengster Felix. Membawa anak SMA itu ke markas gengsters Felix. Sedangkan Sky telah dihajar habis-habisan oleh para penjahat yang jumlahnya tak wajar itu. Ia jelas kalah, karena lawannya sangat banyak. Bahkan Sky telah pingsan. Dan saat itu, para penjahat meninggalkan Sky di tempat, karena mengira Sky telah mati.
Sementara di sebuah gedung, markas gengster Felix, telah hadir ayahnya Marwah. Pak Zuan. Di markas itu, telah banyak anak buahnya Felix yang berjaga dengan senjata api. Berdiri dengan siap siaga di setiap sudut tempat itu. Sungguh aura tempat itu, saat mengerikan.
"Lepas... Aku bisa jalan sendiri..!" Tegas
Pak Zuan, mengibaskan tangannya sehingga tangan para penjahat yang membelit lengannya terhempas.
Pook
Pook
Pook
Terlihat bos gengsters, Felix berulang kali bertepuk tangan. Ia senang, anak buahnya yang berkhianat itu menyerahkan diri juga.
"Selamat datang Zuan..!" Ujar Felix dengan senyum devilnya. Ia julurkan tangannya untuk menjabat Pak Zuan, ayahnya Marwah. Tapi, pak Zuan tak menyambut uluran tangan itu.
"Mana putriku..?" tanya Pak Zuan dengan rahang yang mengeras. "Aku tak menyangka, kamu bermain licik. Apa kamu gak yakin sanggup menangkapku, sehingga kamu memanfaatkan anakku yang tak tahu apa-apa..!" Ujar Pak Zuan dengan penuh amarah.
"Hahahaha... Tenang... Tenang...!" ujar Felix, menirukan nada bicara yang sedang viral di media sosial.
Ciiihhh..
Zuan meludah di hadapan Felix. Hal itu membuat Felix geram. Mukanya berubah sudah seperti monster.
"Berani kamu..!" tangannya Felix menjulur ke arah lehernya Zuan. Tapi, Zuan menahan tangannya Felix dengan kuat. Felix pun menurunkan tangannya dari lehernya Zuan.
Puukk...
Puukk...
Puukk..
"Bawa putrinya ke sini!" titah Felix dengan nada penuh amarah. Harga dirinya telah diinjak injak Zuan. Karena Zuan meludah di hadapannya.
Marwah Putriku! "
__ADS_1
"Heeii...!" Felix menahan langkah kakinya Zuan. Dengan menyandungnya." Mau berkumpul dengan putrimu? langkahi dulu mayatku!" ujar Felix menatap sangar Zuan. Felix yang memang memiliki paras yang mengerikan, tampak semakin menjijikkan disaat Felix bicara yang ditemani hujan lokal dari mulutnya yang terlihat jorok, karena pria itu punya kebiasaan mengunyah sirih.
"Ayah.... Aku baik-baik saja ayah!" ujar Marwah kuat. Ia terlihat sangat tegar.
Zuan menganggukkan kepalanya lemah. Tatapannya terlihat penuh kekhawatiran.
"Hahaha... Kamu dan putrimu bisa bebas dari kejaranku. Bahkan semua hartaku, akan ku serahkan padamu." Felix mendekatkan wajahnya ke wajahnya Zuan. Matanya yang juling melotot tajam pada Zuan. "Asal kamu bisa mengalahkanku. Tapi, jika kamu kalah. Putrimu akan jadi milikku. Hahahaha.. Bagaimana?"
Zuan menantang tatapan tajamnya Felix. Ia tak gentar dengan tawarannya Felix. Apalagi mereka beradu otot one by one.
Kedua pria paruh baya itu pun kini berada di ring tinju. Zuan terlihat sangat waspada. Ia tak boleh kalah dalam pertengkaran itu.
Di tempat lain. Tapi, masih diwaktu yang sama. Sky yang pingsan, dihampiri seorang pria, yang datang dengan mengendarai sebuah mobil sport. Ia membangunkan Sky, menggoyang kuat tubuhnya Sky. Sky pun tersadar.
"Ka, kamu siapa?" tanya Sky dengan penasarannya.
"Aku, anak buahnya Bos Zuan." Sahut pria itu tegas. "Kita selamatkan Bos dan putrinya."
"Iya, pasti." Sky bangkit. Rasanya semangatnya berkobar hebat. Apalagi ia punya teman saat ini. Walau dia jago bela diri. Tapi, 1 lawan 30 orang. Tetap Sky akan kalah. Karena ia bukan pemuda India di film. Yang bisa kalahkan banyak musuh dengan seorang diri.
"Ayo...!" Pria yang tak dikenal Sky, masuk ke dalam mobil sport itu, yang diikuti oleh Sky. Dan saat mobil melaju Sky menghubungi bosnya.
Brruuggkk..
Zuan ambruk di lantai ring. Ia memegangi kakinya, sambil menatap tajam Felix yang kini tertawa puas.
"Dasar licik....!" Teriak Zuan dengan penuh emosi. Ia hanya bisa menggeliat di lantai. Karena ia sudah tak bisa menggerakkan badannya.
"Hahahaha... Licik? apa kamu bilang.. Haahh....?!/licik...?" teriak Felix dengan menggila. Ia merasa puas, karena telah bisa menangkap Zuan. "Kamu harus mati, karena jika kamu hidup. Nyawaku akan terancam!"
Ppuukkk..
Satu tendangan kuat mendarat sempurna di perutnya Zuan. Tendangan itu sangat kuat, saking kuatnya tubuhnya Zuan sampai terhempas membentur pembatas ring.
Puukk..
Paakk
__ADS_1
Puukk
Paakk..
Zuan dihajar habis-habisan oleh Felix. Darah mengucur sudah dari mulutnya.
"AYAH....!" teriak Marwah, yang dalam bekukan para anak buahnya Felix. Keadaan ayahnya sudah sangat memprihatinkan.
"Nak.... Maafkan ayahmu...!" ujar Zuan dengan berurai air mata. Ia telah menunai hasil dari kejahatannya. Ya, semua yang kita lakukan di dunia ini, cepat atau lambat akan mendapatkan ganjarannya.
"Hahahaha... Ini tontonan yang menarik sekali. Kamu kalah Zuan. Anakmu akan jadi milikku. Tubuhnya yang mulus dan indah itu, akan ku cicipi setiap saat. Dan disaat aku bosan, aku akan jual dia. Hahahaha..!" ujar Felix dengan bangganya. Mukanya memerah, dan semakin terlihat mengerikan.
"Tidak....!" teriak Zuan menahan sakit disekujur tubuhnya.
"Hahahaha... " Felix tertawa kuat. Ia sangat puas dengan semuanya. Akhirnya ia bisa lolos, karena saksi akan ia lenyapkan.
Taakk..
Sebuah pisau tajam terlihat menantang di hadapan Zuan.
"Tidak... Jangan bunuh ayahku. Aku, aku rela jadi anak buahmu...!" Ujar Marwah dengan sesenggukan. Ia terus saja berontak, agar tangannya dilepas, anak buahnya Felix.
"Hahhahaa.. Sabar... Kamu akan jadi milikku.. Tapi, ayahmu harus menghadap Tuhannya!" Raut mukanya Felix semakin mengerikan. Matanya naik sebelah.
Jaapp..
"Aaarrrggkkkk..." Zuan berteriak. Pisau yang tajam itu telah menancap di perutnya. "laa ilaha illallah...!" Setelah mengucapkan itu, Zuan pun meninggal.
"Ayah... Ayah...!" tak bisa dibayangkan, betapa hancurnya Marwah saat ini. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ayahnya tengah di bunuh. "Ayah....!" teriaknya dengan tubuh bergetar hebat.
Felix memberi kode pada anak buahnya. Agar Marwah dilepas.
"Ayah...!" Marwah berlari kencang menghampiri sang ayah, yang sudah tak bernyawa. "Tidak. .. Tidak ayah...!" Ia raih jasad sang ayah. "Ayah....!" Ia peluk tubuh ayahnya itu. Air mata terus saja mengucur deras. Marwah tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia merasa tubuhnya tak berdaya lagi, apalagi ia menyaksikan saat ayahnya dibunuh oleh Felix. Pisau yang menancap di perut sang ayah, membuatnya geram. Ingin rasanya ia mencabut pisau itu dan menusukkannya ke Felix.
Tapi, itu tak mungkin ia bisa lakukan. Mentalnya tak sekuat itu. Ia masih anak gadis belia. Melihat sang ayah dibunuh saja, sudah membuatnya lemas tak berdaya.
***
__ADS_1
Bersambung