MISI BERBUAH JODOH

MISI BERBUAH JODOH
Tegas


__ADS_3

Marwah mengalami cidera cukup parah. Tulang Kaki kanannya patah. Kepala yang terbentur ke aspal juga mengalami luka cukup serius. Ditambah luka-luka lainnya di sekujur tubuhnya.


"Ya Tuhan.. Kasihan Marwah bang." Ujar Naina sedih. Naina sekarang sudah kembali ke rumah. Ia harus mengganti pakaiannya yang berlumur darahnya Marwah, karena Naina lah yang menemani Marwah ke rumah sakit mengguna kan mobil ambulance. Karena ketepatan sekali sekolah nya Naina memiliki mobil ambulance.


"Iya." Sahut Sky lemas tak bersemangat. Ia seperti itu, karena kepikiran dengan keadaan Marwah. Saat dalam keadaan kritis. Bisa-bisanya Marwah ngigau memanggil-manggil namanya terus, setelah sadar dari pingsannya, sesaat setelah sampai di rumah sakit.


Bahkan saat ingin di operasi, Marwah menolak. Karena ia mengatakan ingin mati saja. Ia tidak mau hidup lagi, kalau Sky tetap menjauh dari nya.


"Ayo bang kita ke rumah sakit lagi!" Naina sudah rapi di hadapan Sky, yang sejak tadi duduk dengan tidak semangatnya di tepi ranjang mereka.


Naina tersenyum tipis menatap sang istri. Ia tarik tangan Naina sehingga wanita cantik itu ambruk ke pangkuannya. Naina dibuat baper dengan tatapannya Sky, yang teduh dan dalam itu. Tatapannya penuh dengan cinta.


"Aku tidak mau, gara-gara Marwah. Nantinya ada kesalahpahaman dalam hubungan kita. Sekali lagi, abang tekankan. Bahwa Abang tidak ada rasa pada Marwah." Ujar Sky lembut.


"Koq ngomong gitu? emang nya, aku ada bahas soal ocehan Marwah?" tanya Naina mengulum senyum. Ia senang, mengetahui fakta. Kalau suaminya gitu menjaga perasaannya. Belum dibahas, sudah bahas terlebih dahulu.


"Sekarang adek gak bahas, tapi nanti juga akan adek bahas. Apalagi jika terus menerus kita ikut campur urusan keluarganya Marwah." Ujar Sky serius.


"Bukan saatnya bahas itu bang. Ayo kita ke rumah sakit!" Naina bangkit dari pangkuan Sky. Tapi, Sky menahan tubuhnya Naina.


"Ini terakhir kalinya aku ikut ke rumah sakit. Aku gak mau memperpanjang masalah." Ujar Sky tegas.


"Abang kenapa sih. Koq jadi takut gitu?" tanya Naina heran menatap sang suami yang tidak tenang.

__ADS_1


"Aku tidak mau memperpanjang masalah sayang. Gak lihat kamu tadi, saat dia mau dibawah ke ruang operasi. Dia gak mau di operasi, kalau aku gak nungguin dia selesai dioperasi. Kita gak boleh dekat-dekat dengannya. Makin banyak urusan kita nanti."


"Ya ampun suamiku, koq tidak punya rasa empati sih? Marwah lagi sekarat. Dan dia butuh perhatian dari orang yang dia sayang. Dan saat ini, dia butuh abang. Jadi, abang harus support dia." Jelas Naina merangkum jemari sang sumi. "Aku percaya padamu sayang!" ia kecup jemarinya Sky. Naina terharu, akan sikpanya Sky yang sangat waspada.


"Bukan tidak punya rasa empati. Aku seperti ini, karena menjaga perasaanmu." Sahut Sky menilik tajam Naina. "Ka, kamu koq gak cemburu sih sayang?" tanya Sky sedih.


"Hahahaha... Ngapain cemburuin anak ingusan. Mana dia anak penjahat. Aku yakin, abang itu otaknya cerdas. Mana mungkin pilih Marwah banding aku yang semok ini." Naina melenggokkan tubuhnya di hadapan Sky. Bahkan Wanita itu mencondongkan buah dadanya, menggoda Sky.


"Eemmm... Ayo kita buat anak!" Sky menarik kuat tubuh sang istri. Mereka pun akhirnya ambruk di atas ranjang.


"Sayang.. Kamu mau apa?" protes Naina, disaat Sky sudah melucuti pakaian sang istri.


"Buat anak!" Jawab Sky dengan napas berat.


"Hoo oh...!" Sahut Sky, pria itu kecanduan sudah dengan tubuh moleknya sang istri. Rasanya ingin 3 kali sehari melakukannya sebagai ekspresi cintanya yang besar pada Naina.


Dert


Dert


Dert


Ponsel yang ada di tas nya Naina yang tergeletak di atas ranjang bergetar tanpa henti. Tapi, pasangan pengantin baru itu, tidak mau mengangkatnya, permainan sedang panas-panas nya. Naina yang tadinya tidak semangat untuk bermain, jadi ketagihan. Karena Sky lihai memberikannya kenikmatan. Jadilah dia yang paling heboh dalam permainan itu.

__ADS_1


Setelah 45 menit


Permainan selesai, Kedua nya pun bergegas ke kamar mandi untuk bersih bersih. Naina dan Sky senyam senyum memperhatikan tubuh satu sama lain. Seperti nya mereka masih merasa malu dengan diri sendiri, yang dalam keadaan polos di hadapan masing masing.


Mereka yang belum menunaikan sholat isya itu, memutuskan mandi wajib di malam hari. Karena mereka mau melaksanakan sholat Isya.


"Siapa yang nelpon sayang?" tanya Naina melirik Sky, yang kini sudah mengambil ponselnya Naina dari tas nya.


"Agung dek." Sahut Sky lembut. Ia pun mengangkat panggilannya Agung.


"Pak Sky, kenapa ponselnya gak aktif?" tanya Agung pada Sky, dalam sambungan telepon.


"Ouuww.. Lagi dicas pak Agung." Jawab Sky melirik Naina yang sedang berhias di depan cermin.


"Ooh.. Pak, bisa datang sebentar ke rumah sakit!" pinta Agung dengan lembut.


"Eemm.. Maaf Ya bapak Agung. Malam ini, aku tidak bisa datang ke rumah sakit." Jawab Sky tegas.


"Eemm.. Sebentar saja pak, Marwah ingin bicara."


"Gak ada yang ingin dibicarakan pak. Bapak harus tegas pada Marwah. Maaf malam ini, aku gak bisa ke rumah sakit." Tolak Sky sopan.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2