MISI BERBUAH JODOH

MISI BERBUAH JODOH
Pengantin pengganti


__ADS_3

Di dalam kamar, Naina yang sedih tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh hangat sang ibu. Ibu dan anak itu terlihat saling menguatkan. Walau sesekali sang ibu menyalahkan dirinya, yang ngotot menjodohkan putrinya dengan Azka. Azka dan Naina adalah sepupuan.


"Sudahlah Ma, tak ada yang harus disalahkan. Sudah takdir Naina seperti ini." Ujar Naina lirih, terlihat jadi sang ibu yang lebih terpukul, karena merasa bersalah.


"Iya sayang, tapi apa kata orang-orang tentang kamu nantinya. Tentang keluarga kita ini." Ujar sang ibu, mengelus lembut punggungnya Naina yang ada dalam dekapannya.


"Kalau kita dengar ocehan orang-orang, ya gak akan selesai Ma." Sahut Naina lemah.


Ceklek.


Suara pintu dibuka, membuat Naina dan sang ibu menoleh ke pintu. Terlihat sang ayah menghampiri mereka dengan ekspresi wajah penuh harap.


"Apa tamu sudah pada pulang ya?" tanya sang ibu lirih pada suaminya.


Pak Jalal, Ayah nya Naina menggeleng lemah. Pria itu menatap lekat sang putri. Naina yang melihat keseriusan di wajah sang ayah mengurai pelukan ibunya.


"Apa Mas Azka, sudah datang Yah?" tanya Naina dengan semangatnya wajahnya yang murung kini sedikit berbinar.


"Tidak!" Pak Jalal kembali menggeleng dan Naina seketika lemas.


"Nak, untuk menyelamatkan nama baik keluarga kita. Apakah kamu mau menikah dengan pria lain?"


"Apa...?" Naina dibuat kaget sekaget nya, mendengar ucapan sang ayah yang terdengar hati-hati itu. Kedua mata membola dengan mulut menganga. Sungguh Naina tak habis pikir dengan ucapan sang ayah.


"Iya nak! kalau kamu tak jadi menikah. Mau ditaruh di mana muka kita. Kita akan jadi bahan cerita orang-orang." Ujar sang ayah lirih.

__ADS_1


Naina yang bingung, dibuat makin pusing dengan ekspresi wajah sang ayah yang terlihat frustasi.


"Emangnya siapa yang mau jadi pengantin penggantinya Pak?" tanya sang ibu, menatap sang ayah dengan penasarannya.


Pak Jalal terdiam, hal itu membuat sang ibu semakin penasaran. "Pak, jangan nikahkan Naina dengan pria sembarangan, hanya untuk menutupi rasa malu." Pungkas sang ibu.


Hhufftt..


Pak Jalal menarik napas panjang. "Dari penilaian pertama bapak sih anaknya baik bu."


"Siapa orangnya pak? kita perlu tahu seluk beluknya. Jangan gara-gara mau selamatkan nama baik keluarga. Naina nantinya menderita pak!" Ujar sang ibu tegas.


"Anaknya baik bu. Kata Bang Sopyan, kita gak akan kecewa jika dia jadi mantu kita."


Pak Jalal menatap sang putri yang terlihat frustasi itu. "Nak, kamu mau kan nikah dengan pria yang bapak bilang!" meraih tangannya Naina yang ada di atas pahanya. Tatapan sang ayah sangat sendu dan penuh harap. Naina tak tega untuk menolaknya. Karena, Naina anak yang berbakti pada orang tuanya. Apapun yang dikatakan orang tuanya, ia akan nurut.


Naina merangkum tangan keriput itu. Ia balas tatapan sang ayah dengan sendu. "Aku percaya pada ayah. Bahwa ayah tak mungkin mau menjerumuskan putrinya." Sahut Naina lirih.


Graapp..


Sang ayah memeluknya cepat. Begitu juga dengan sang ibu. Mereka bertiga berpelukan dengan erat, sambil menangis. Ya, keluarga ini sangat kompak, selalu bisa menyelesaikan masalah dengan penuh kasih sayang.


Setelah pelukan itu terurai. "Apa kamu mau melihat siapa calon suami penggantimu nak?" tanya sang ayah dengan lembut pada Naina.


Naina menggeleng lemah. "Gak usah Yah, aku yakin pria itu pasti baik." Jawab Naina lirih, ia cona menarik sudut bibirnya, berusaha bahagia, walau hatinya hancur saat ini. Gimana tak akan hancur, ia akan menikah dengan pria yang tak ia kenal sama sekali.

__ADS_1


***


Kini Naina memasuki ruang tempat diadakannya acara akad nikah. Ia yang tertekan dan sedih itu, benar-benar tak mau tahu siapa pria yang akan menikahinya saat ini. Rasanya sudah malas untuk mengetahui sosok pria yang duduk di hadapannya. Mungkin inilah jalan hidup yang harus ia jalani. Hidupnya ia dedikasikan untuk orang tuanya. Karena ia yakin, orang tua tak akan menjerumuskan anaknya. Walau ia hampir saja menikah dengan pria, yang dijodohkan sang ayah juga. Naina percaya, semuanya akan baik, jika dapat restu orang tua.


Naina yang galau itu, sungguh sedikitpun tak konsentrasi. Ia tak bisa dengar apapun yang dikatakan pak penghulu, karena otaknya terus saja berfikir keras tentang kehidupan yang akan ia jalani kelak, dengan seorang pria yang sama sekali tak ia kenal.


Bahkan disaat sang ayah mulai menikahkannya. Ia tetap menundukkan kepalanya. Dengan sesekali menyeka air mata yang keluar tanpa henti. Hingga ia pun tersadar dari lamunannya, disaat ia mendengar suara calon suaminya yang menjawab ijab sang ayah.


Kenal dengan suara itu, Naina pun mengangkat kepalanya cepat. Dengan dadanya yang bergemuruh hebat, setelah tahu siapa pria yang akan menikahinya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Naina Zahra Binti Jalaluddin dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai!"


Sah...


Jawab saksi dengan lantang.


Braakkk..


Seketika Naina ambruk.


***


Bersambung


Readers kasih masukan. Apakah judul novel ini perlu ku ganti. Kalau ia, kasih saran ya say.

__ADS_1


__ADS_2