
Pov Naina
(Nai, Maafkan aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini, ternyata menjelang detik-detik pernikahan ini aku semakin tidak yakin akan Perjodohan yang sudah diatur orang tua kita, mungkin ini terdengar egois tetapi beruntung aku menyadarinya Sebelum terlambat. Maafkan aku Nai..! )
Tanganku bergetar hebat, saat membaca pesan dari Mas Azka, tanpa ku sadari ku menjatuhkan ponsel di tanganku. Gaun pengantin yang menjuntai indah sudah tidak lagi bisa membuatku tersenyum seperti beberapa menit lalu. Awalnya aku juga berat menerima perjodohan ini. Tapi, melihat keluargaku sangat berharap aku menikah dengan Mas Azka. Aku pun mencoba menerima taqdir, menerima perjodohan dengan Mas Azka.
Pernikahan indah yang kubayangkan seketika hancur bersama sebuah pesan yang ku dapati. Mas AZa calon suamiku dengan tega mengirimkan sederet kalimat melalui pesan WA Untuk membatalkan pernikahan ini, pada detik-detik terakhir menjelang acara. Entah apa alasannya Aku tak mengerti.
Sesak menyeruak air mata tanpa kompromi lagi berjatuhan menyapu polesan make up yang sudah sejak setengah jam lalu selesai dilakukan oleh MUA. Aku masih berharap ini sebuah mimpi atau hanya pesan prank yang biasanya Mas AZka lakukan untuk mengerjai ku
kupungut ponselku yang terjatuh lalu kutekan nomor Mas Azka kembali nomornya berdering, tetapi tidak diangkat.
[Mas Kamu bercanda kan,? kamu nggak mungkin kan membatalkan pernikahan kita.] ku tulis sederet kalimat dengan hati yang sudah kacau tangan gemetar dan dunia seolah berhenti berputar.
Pesan yang ku ketik segera kukirimkan. Centang dua berubah warna biru dalam artian dia sudah membacanya, namun tidak juga ada balasan. Aku kembali menghubunginya, telepon tersambung tetapi kembali seperti tadi, tidak ada yang mengangkatnya.
Aku sudah begitu lemas, ku dudukan bokongku di tepi ranjang yang sudah dihias Indah. Ranjang pengantin untuk kami malam ini. Ku ketik kembali sederet kalimat meminta penjelasan darinya tentunya dengan hati berharap jika Mas Azka hanya bercanda dan semua akan baik-baik saja.
[Mas kenapa seperti ini kenapa kamu egois bagaimana orang tua kita menanggung malu atas semua kekacauan yang kamu lakukan Mas Azka?]
dengan tangan gemetar Aku mengetik pesan pada aplikasi hijau namun pesanku kembali hanya centang dua tidak ada balasan setelahnya.
__ADS_1
Kudengar derit pintu kamar terbuka bersamaan dengan itu muncul wajah kedua sepupuku. Ada senyum menghiasi wajah mereka, mungkin mereka turut bahagia atas hari indahku. Mereka tampak cantik dan anggun dengan balutan gaun berwarna Sage, keduanya mendekat ke arahku, yang tertunduk lesu di tepi ranjang
"Nai, kok mau nikah malah nangis? Kata Tante Wardah, suruh cepetan hubungi Azka. Soalnya penghulunya sudah datang." Ujar Kak Putri dan Diva. Putri dari pamanku.
Deg
Hatiku mencolos seketika. Bagaimana aku menjelaskan semua ini pada Mama. Aku mengangkat wajah dan menatap Kak Putri dan Diva secara bergantian
"Kak Mas Azka nggak datang!" lirihku dengan tatapan kosong ke depan. Air mata terus mengucur dengan deras membasahi pipi yang kini sudah kuyakini sudah pucat, sepucat pucatnya.
"kamu jangan bercanda Nai?" wajah Kak Putri tampak kaget si kaget-kagetnya
Aku menggelengkan kepalaku lemah, air mata sudah tidak bisa terbendung lagi, terus berjatuhan walau sudah kucoba untuk menahannya.
"Iya sayang, kamu tenang ya. Kakak akan panggilkan tante." Ujar Kak Putri dengan wajah paniknya.
"Iya kak." Sahutku lemah.
Tidak berapa lama, pintu kamar kembali terbuka tampak wajah mama sudah pucat pasi ada. Ayah juga yang nampak tegang datang bersamanya.
"Sa, sayang ada apa dengan Azka?" Mamaku bergegas menghampiriku dan duduk di sisi ku.
__ADS_1
Kedua bola matanya menatap lekat diriku, terlihat sangat mengkhawatirkanku sangat mendalam.
Aku tak sanggup menatap ibu. Ku menunduk, tangan berusaha menepis air mata yang terus saja mengucur deras.
"Mas Azka membatalkan pernikahan ini Ma." Aku langsung memeluk wanita yang sangat kucintai ini. Ibu sangat cantik dengan balutan gamis panjang dan kerudung lebar di depanku. Isak yang sejak tadi kutahan kini tumpah membasahi kerudungnya. Mama merangkulku erat seolah hendak menguatkan jiwa yang rapuh ini.
"Apa-apaan ini? dari tadi aku juga sudah curiga. Karena rombongan pengantin pria tak kunjung datang." Ujar Ayah lemas, ikut duduk di sebelah ibu.
"Ayah, tolong hubungi Pak Ridho. Tanyakan kejelasan masalah ini. Kenapa disaat hari pernikahan malah dibatalkan. Kenapa gak seminggu lalu?" ujar ibu sedih. Ibu akhirnya menitikkan air mata. Kami berpelukan erat satu sama lain, saling menguatkan.
Ayah memungut ponselku yang terjatuh di lantai.
"Gak diangkat!"
Nyeess
Hatiku semakin hancur. Tak ku sangka Perjodohan ini, akan membuat nama baik keluarga kami akan tercemar. Tak bisa dipungkiri, setelah ini, keluarga kami akan bahan gosipan sepanjang masa.
Ayah bangkit dari duduknya dengan lemas. "Kamu harus kuat. Ayah tak mau kamu mikir yang macem-macem. Mungkin inilah yang terbaik." Ujar Ayah tegas. Pria paruh yang sangat kusayangi dan cintai ini, tetap saja sok hebat di depan anaknya. Padahal bisa ku pastikan. Ayah tak kalah hancurnya saat ini.
***
__ADS_1
Tersambung