MISI BERBUAH JODOH

MISI BERBUAH JODOH
Marwah


__ADS_3

"Marwah..!" tegur Naina lembut. Sejak dari tadi, Naina menghayal di halte itu, setelah pak Satpam masuk kembali ke dalam area sekolah.


Marwah menoleh ke arah Naina yang berdiri di hadapannya. Ia tatap tajam Naina. Tatapan anak didiknya itu, tentu membuat Naina merasa heran. Tapi, seketika tatapan tajam itu berubah jadi menyedihkan. Mata melotot itu memerah dan berkaca kaca.


Hiks... Hiks... Hiks..


Air mata terlihat menggenang di pelupuk matanya Marwah. Naina jadi kasihan melihatnya. Ia dudukkan bokongnya di sebelah Marwah. Ia peluk anak didiknya itu dari samping dengan rasa empati yang tinggi.


"Kamu kenapa? kamu sakit?" Tanya Naina, tangannya menjulur mengecek suhu tubuh Marwah dengan menempelkan tangan nya di kening anak didiknya itu.


"Aku Gak sakit bu." Ia turunkan tangan sang ibu guru dari keningnya dengan lembut dan sopan.


Naina menatap lekat Marwah dengan penasarannya. Padahal saat tangannya mendarat di kening Marwah. Ia merasakan suhu tubuhnya Marwah panas


"Terus kamu kenapa Marwah?" merapikan rambutnya Marwah yang menutupi sebagian wajahnya.


Graapp...


Marwah memeluk Naina dengan isak tangisnya yang sangat menyedihkan itu. "A, aku harus tinggal di mana Bu? rumah kami telah disita Bank. Dan ibu sakit sakit an di kampung. Aku ingin selesaikan sekolah ku Bu. Satu bulan lagi sudah ujian nasional." Ujarnya dengan sesenggukan di dalam dekapan Naina.


Naina turut sedih mendengar curahan hatinya Marwah. Ia usap lembut punggung anak itu, guna menenangkannya. Hawa panas ia rasakan dari tubuhnya Marwah.


"Oouuww.. Jangan sedih lagi ya? ibu akan bantu kamu." Jawab Naina dengan lembut.


"Bantu, bantu yang bagaimana bu?" tanya Marwah dengan serius. Ia urai pelukannya dari sang ibu guru.


"Bantu cari kost an untukmu." Naina perhatikan lekat Marwah yang kini menunduk.


"Kost?" tanya Marwah, masih menunduk.


"Iya Marwah."


Marwah mengangkat wajahnya. Air mata yang lolos dari mata indahnya, ia lap dengan cepat. "Oohh.. Terima kasih banyak ya bu." Marwah menampilkan ekspresi wajah tak senang.


"Kamu pulang, karena apa? padahal baru saja masuk kelas?"

__ADS_1


Marwah memegangi kepalanya. Menatap lemas Naina.


"Kamu sakitkan?" Naina ambil surat keterangan pulang , karena sakit yang ada di genggam anak itu.


Marwah mengangguk lemas.


"Terus tadi kenapa bohong, bilangnya gak sakit?"


Hua... hua... hua..


Marwah malah semakin menangis histeris.


"Kenapa takdirku sekejam ini bu..?" ujarnya penuh ratapan.


Naina memperhatikan sekitar. Tak baik dia dan Marwah berada di sini. Di halte, tempat umum.


"Ayo, ibu antar kamu berobat dulu. Habis itu kamu ceritakan masalahmu. Ibu akan cari solusinya!" Naina menarik tangannya Marwah, agar bangkit dari duduknya.


Marwah pasrah, ia bangkit dari tempatnya. Naina menyetop angkutan. Mereka pun naik ke angkutan itu. Di dalam angkutan Marwah hanya diam, dengan muka sedih nya.


Saat Naina menelpon Bu Rose. Sky juga menelpon. Jadilah Sky dalam antrian tunggu. Tapi, Sky mematikan teleponnya


"Bu Rose, sudah dulu ya." Ujarnya dan berniat mengangkat telepon dar Sky. Tapi, seketika telepon dari Sky tertutup. "Koq dimatikan?" Baru juga wanita itu protes, kini Sky sudah melakukan panggilan video. Naina pun buru buru mengangkatnya.


"Lagi di mana ini sayang?" Wajah ganteng nya Sky terpampang jelas dengan penasarannya di layar hapenya Naina. "Kamu mau ke mana sayang?" melihat sang istri seperti di dalam sebuah angkutan, tentu membuat Sky jadi penasaran serta was was. Mau ke mana istrinya itu.


Hiks... Hiks.. Hiks..


"Sakit.. Kepalaku sakit..!" Perhatian Naina kini teralih kepada Marwah yang mengeluh kesakitan.


"Ini Honey, aku sedang di angkot. Mau antar Marwah berobat. Dia sakit." Jawab Naina dengan tak tenang. Apalagi para penumpang terus saja memperhatikannya.


"Oouuww.. Ya sudah. Kabar kalau ada yang penting ya? jam istirahat, aku ada waktu." Ujar Sky lembut, ter senyum manis pada sang istri.


Naina membalas senyum yang diberikan suaminya itu. Ia pun menutup telepon itu. Karena memang mereka sudah hampir sampai di klinik.

__ADS_1


"Ya ampun, Marwah. Panas tubuhmu sepertinya naik deh." Ujar Naina penuh kekhawatiran, memegang kening dan lengangnya Marwah.


"Itu tadi Abang Sky ya bu?" Marwah melirik lekat Naina.


Naina menganggukkan kepala cepat. "Iya."


"Abang Sky gak nanyain aku?" tanya Marwah penuh selidik.


Naina menautkan kedua alisnya. Heran juga dengan pertanyaan Marwah. "Tidak!" Jawab nya tegas.


Seketika mukanya Marwah lemas dan layu. Ia pun membuang muka.


Naina diamkan Marwah. Ia tahu apa yang dirasakan anak didiknya itu. Dari cerita Sky. Marwah itu, ada rasa dengannya.


"Ayo.. Kita sudah sampai." Ajak Marwah lembut,.menarik tangannya Marwah, agar mau turun dari angkutan umum itu. Dan kini Naina sudah turun dari angkutan itu.


"Gak bu. Aku gak mau berobat." Jawabnya, menolak turun. Padahal angkutan sudah berhenti.


"Marwah... Ayo turun!" Naina kembali masuk ke dalam angkutan, karena Marwah yang kesal tak mau turun.


"Heii.. Cepat turun, kalau mau turun." protes penumpang lainnya, keberatan dengan tingkahnya Marwah.


Marwah melotot kan matanya ke ibu ibu yang memarahinya, karena gak mau turun.


"Marwah.. Ayo...!" Naina memaksa Marwah untuk turun. Mau tak mau Marwah pun turun dari angkutan itu. Karena, jika ia pertahankan pun di dalam angkutan. Ia pasti kena marahi penumpang lainnya.


"Kamu kenapa sih? hidup jangan dibuat susah!" ujar Naina kesal menatap Marwah.


"Aku gak mau hidup, aku mau mati!"


"Eeeeeghh. Marwah.....!" teriak Naina, disaat Marwah yang lari ke tengah jalan.


Brruuggkk...


Marwah pun tertabrak mobil.

__ADS_1


***


__ADS_2